Dalam rangka mengembalikan skill storytellingku yang kian hari makin menyusut itu, aku memutuskan untuk bercerita remeh-temeh sedikit di sini, hihi. Selamat Membaca!
Hidup itu bagai misteri yang membawa hal baru setiap harinya. Terkadang bingung, terkadang resah, terkadang senang, tidak ada yang tahu besok hidup akan seperti apa. Sudah hampir sebulan aku tinggal di Bintaro Lama. Lucu juga ya, tinggal di dekat tempat yang bahkan aku tidak berkuliah di sana alias STAN. Saat aku pertama datang kesini, mbak penjaga kos sampai bertanya, "Kenapa memutuskan tinggal di dekat sini?," dan aku hanya bisa balas tertawa saja, hehe, begitulah hidup yang lucu ini. Aku tidak memiliki ekspetasi tentang tempat ini, yang penting nyaman saja. Terakhir aku hidup sendiri itu adalah tahun 2023, 2 tahun yang lalu. It feels so nostalgic, bahwa aku harus mengulang ritme hidup sendiri untuk sekali lagi.
Sebagai orang yang sudah terbiasa hidup di luar rumah, tinggal di sini bukan hal yang sulit. Memasak? mudah. Mencuci? sudah biasa. Persoalan komunikasi? gampang, tukang batagor pun bisa aku ajak ngobrol. Kalau tidak mengerti ya bertanya saja, tidak usah malu. Lama tidak hidup sendiri, ternyata ada banyak hal yang lewat dari perhitunganku. Sebelum berangkat, aku sudah coba memperkirakan kebutuhanku, dan dengan percaya dirinya aku sudah merasa cukup. Ternyata, survival skill ini mulai tumpul, dan sekarang saatnya aku melatih kembali hal tersebut. Kenapa tidak pulang ke rumah saja? tidak, tidak bisa. Aku sudah bertekad untuk pulang ketika aku sudah menyelesaikan semuanya, not yet. Zona tersebut tidak membuatku berkembang, aku akan mencari jalan suksesku sendiri, dan kembali dengan keberhasilan; sebuah sikap kemandirian seorang perempuan berusia 24 tahun ini.
First impression tinggal di sini adalah, mahal. Kalau sudah pernah merasakan hidup di beberapa tempat, kalian akan mampu merasakan apakah tempat yang kalian tinggali ini money-friendly atau tidak. Kalau di ciputat, aku sudah tau semuanya shortcutnya, dan bahkan tidak sulit untuk menemukannya juga. Tapi di sini, sepertinya aku harus mencari tahu dengan cara khusus. Sebenarnya, jika aku memutuskan untuk full memasak, harusnya lebih murah, harusnya. Tapi, setelah aku hitung ulang jumlahnya, ternyata jauh lebih mahal. Kok bisa? tentu saja. Logikanya, masak itu dilakukan agar kita bisa menghasilkan banyak makanan dengan budget yang lebih compact. Masalah muncul karena masakan yang disajikan hanya untuk diriku sendiri. Memangnya sebanyak apa aku makan dalam sehari? jelas tidak banyak. Sudah banyak sisa, basi pula. Maksud hati ingin menghemat, tapi malah boros sendiri. Aku berkata seperti ini bukan berasal dari perkiraan dan prasangka saja, namun kenyataannya hal ini pernah terjadi di masa lalu. Saat dulu tinggal di ciputat, aku itu malas makan nasi. Karena malas, akhirnya stok beras pun tidak terpakai. Aku sudah berusaha menyimpannya dengan baik, namun tetap saja kutu beras tidak dapat dihindarkan. Berasnya tidak bisa dimasak, tapi sudah terlanjur dibeli, oh sangat mubadzir, Tuhan tidak suka orang yang mubadzir.
Apakah aku pusing? tentu tidak. Bukan aku namanya kalau tidak punya solusi. Akhirnya, aku mengeluarkan jurus pamungkas: jajan di warung pinggir jalan. Kenapa dari makan menjadi jajan? ada hubungannya. Dengan membeli jajanan di warung, secara tidak langsung aku membuka pintu komunikasi dengan akamsi, anak kampung sini sebutannya. Saat aku jajan, setidaknya ada abang penjaga warung, abang penjaga parkir, abang tukang bakso, bapak-bapak komplek, dan abang-abangan tidak jelas lainnya yang sedang duduk. Dengan santainya aku pun bertanya sembari memilih jajanan yang ingin dibeli, "Abang, warteg di mana ya?." Sontak abang penjaga warung menjawab, "Mau yang mana? yang di depan atau yang di belakang komplek?." Heh sudah kuduga, pasti ada shortcutnya.
"Kalau warteg yang di depan tinggal lurus saja, nah kalo warteg yang di belakang itu lurus terus belok kiri, abis itu belok kanan, nah abis itu belok kiri." Apakah kalian mengira aku mengerti dengan penjelasan tersebut? sama sekali tidak.
"Bang beloknya banyak amat." Sahutku dengan wajah bingung.
"Belok mah kalo ga kanan ya belok kiri neng." Abang penjaga warung balas menjawab.
Alamak, benar juga... Tawa kami pun pecah karena sama-sama ngawur. Satu hal yang pasti, kini aku tahu bahwa di belakang sini ada warung ytta, dan tugasku adalah mencari warung tersebut.
Pencarian Warteg Belakang
Besoknya aku pun eksekusi rencana tersebut. Jam menunjukkan pukul 3 sore; mulai adem, tapi masih ada sisa-sisa panasnya sedikit. Jalan di sini memiliki banyak sekali gang, beneran banyak sekali. Saking bingungnya, aku memutuskan untuk mencoba semuanya. Iya, semua belokan aku coba lewati, dan ternyata selalu berakhir buntu. Hanya ada satu jalan yang terus sambung-menyambung menjadi satu, dan aku memutuskan untuk "Jalan aja dulu, soal nyasar urusan nanti saja." Aku terus berjalan hingga bertemu warung (lagi). Dengan modal uang sepuluh ribuan, aku memberanikan diri untuk membeli satu donat sambil bertanya ala-ala,
"Pak, katanya di deket sini ada warung ya? Arahnya kemana ya?."
Dan lagi-lagi, abangnya memberi arahan yang tidak jelas... Ugh, sakit kepala rasanya. Untungnya, abang tersebut cukup peka dan mengetahui kalau aku bingung. Akhirnya dia menyarankan seperti ini, "Pokoknya ikuti saja plang yang menunjukkan arah masjid, wartegnya persis berada di dekat masjid, begitu saja."
Wow, sangat membantu, terima kasih. Dengan belokan yang sangat banyak ini, plang arah masjid ini benar-benar mengerucutkan perjalananku. Sebenarnya sedari tadi aku berjalan, memang ada arahan sekian meter, belok sebelah mana untuk menuju masjid. Dengan adanya plang tersebut, aku mengetahui bahwa ternyata aku tidak salah jalan, menarik. Dengan penuh keyakinan, aku akhirnya lanjut mengikuti arahan tersebut.
Belok kanan, lalu belok kiri lagi. Ini warteg ghoib kali ya? Tidak ada tanda-tanda warteg sepanjang jalan, langkah kakiku semakin meragu. Untungnya saat belok kiri, aku melihat ada pos satpam. "Pak, ini warteg di mana? Saya jalan ga nemu-nemu." Tanyaku. Satpam tersebut dengan santainya menjawab, "oh, ikutin aja arah masjid." Ya, ternyata kesabaranku yang setipis tisu ini memang harus diperluas. Aku berjalan lagi.... Hingga akhirnya... VIOLA!! Ada masjid terlihat dari kejauhan. Masjidnya ketemu, mana wartegnya?
Aku mencoba mendekat dan... ah itu dia.
Sang warteg ternyata 'nyempil' di sekitar jalan perkampungan.
Ternyata, warteg yang aku cari-cari itu terletak di jalan kampung persis bersebelahan dengan masjid. Aku bisa mengatakan jalanannya kecil, karena bahkan mobil tidak cukup untuk melaju di jalan tersebut. Ketika berjalan memasuki jalan tersebut bertemulah aku dengan warteg tersebut, akhirnya. Aku tidak menyangka perjalanan menuju warteg bisa selucu ini.
Aku masuk dan menemui warteg yang cukup serba ada. Dibanding warteg, sebenarnya aku lebih suka menyebut ini.. rumah makan(?). Memang apa bedanya dengan warteg? beda! kalau kalian suka makan warteg, kalian akan menemukan menu yang disajikan itu mirip-mirip, namanya juga warung tegal. Tapi kalau di sini, menunya cukup berbeda. Tetap ala rumahan, tapi tidak khas warteg, hmmm mungkin sekitar 50%?
Selain nasi dan pilihan lauk-pauknya, di sini juga ada pilihan mie dengan berbagai rasa. Tidak sampai di situ saja, aneka chiki dan snack juga tersedia. Aku memilih untuk memesan nasi setengah porsi dengan beberapa lauk. Ada kikil, ada tahu, dan sayur. Selain makanan, aku juga memesan es teh manis serta beberapa kerupuk. Porsi lauknya memang tidak sebanyak warteg depan, tapi soal harga jangan ditanya, jauh, jauh lebih murah. Dengan pilihan lauk yang cukup banyak dan pelengkap lainnya, ternyata aku hanya perlu membayar sebesar tujuh belas ribu, tidak sampai dua puluh ribu. Ibu dan bapaknya baik sekali. Aku sempat bertanya kemana arah jalan ini terhubung, dan bapak tersebut mengatakan bahwa jalan ini bisa tembus hingga Ciputat dan Pamulang. Aku pun kaget, "Hah??." Ya... sebenarnya secara logika memang bisa saja, toh jalan di sini memang bisa tembus kemana-mana. Tapi membayangkan perjuangan belok gang sana-sini sukses membuat kepalaku pusing.
Setelah makan, aku kembali dengan perasaan riang gembira, lalalalala~ Secara keseluruhan, aku merasa bahwa perjalananku tidak sia-sia, haha. Apalagi donat di warung yang aku lewati juga murah, hanya tiga ribu. Kalau beli dobah, harganya bisa empat kali lipat! Di warung tersebut aku paling suka donat berbentuk bulat dengan olesan coklat di atasnya. Bukan varian yang meises, tapi donat dengan selai coklat yang sudah membeku dan menyatu dengan donat. Memang, secara rasa & penyajiannya jelas beda. Tapi kalau sekadar mengisi perut dan menuruti keinginan makan manis sih ini juga sudah cukup, Enak! Supplier donat di sekitar sini itu sama, dan aku pernah melihat sang abang-abang sedang merefill donat tersebut, "Oh, jadi elooo..." ucapku dalam hati. Karena enak jadi aku cukup rajin membeli walau hanya satu setiap harinya. Aku senang, abangnya senang, semua senang!
Seri perjalananku di Bintaro tentu ada banyak, tapi untuk hari ini kita cukupkan pada pembahasan donat dan warteg, see you later~
0 Komentar