so-called night thinker
  • Home
  • About
  • #
  • #
    • #
    • #
      • #
      • #
      • #
      • #
      • #
    • #
    • #
  • #

 


    Beberapa hari yang lalu gua abis ngobrol sama Mba dan saudara gua. Topik waktu itu adalah "Apa yang ingin dilakukan kalian." Topik ini gak cuma bahas apa yang ingin dilakukan hari ini, sehari-hari, atau seminggu kedepan, tapi juga untuk seterusnya. Jujur aja, gua paling suka diskusi kaya gini karena terkadang gua emang butuh temen ngobrol untuk coba brainstorming dan eksplor banyak hal.

    Sepupu gua bilang kalau untuk saat ini dia mau coba ngegrab pake BYD karena setelah bikin skema hitung-hitungannya, ternyata masuk akal dan perputaran uangnya cepat. Asal lu rajin narik customer, 2-3x gaji UMR bisa ada di tangan lu dalam sebulan. Seburuk-buruknya order, UMR masih dapet. Selain itu, karena sodara gua juga lulusan IT dia jadi bisa nyambi kerjaan remote. Kalau lagi bosen liat laptop, dia ngegrab. Kalau bosen di jalan, dia balik lagi ngerjain kerjaannya di laptop. Menurut gua ini make sense dan possible karena grab itu sifatnya mitra, kita ga ada kewajiban dalam sehari harus kerja berapa jam.

    Lalu selanjutnya gua. Mba menyarankan gua untuk bangun agensi sendiri. Kalau memang job market di Indo lagi jelek, mending gua jalan sendiri dulu aja. Mba sendiri tidak pernah membatasi gua harus kerja formal, gua harus kerja 7-5, gua harus kerja di gedung tinggi, gak. Yang penting gua pinter cari uang aja. Mau kerja dari rumah, mau kerjanya keliling sana sini, bebas aja pokoknya. Alhamdulillah orang-orang di sekitar gua cukup open-mind terhadap perkara kerja dan cari uang ini jadinya gua juga bisa lebih kreatif nyoba banyak hal.

    Meski keliatannya lancar, tapi jujur aja di dalam hati gua rasanya berat. Awalnya itu gua pengen kerja paling gak 2-3 tahun sebelum akhirnya berdiri sendiri. Tapi kata mba gua, justru gua harus mulai sekarang biar nanti kalau udah kerja agensinya bisa gua manage dari kantor. Apalagi kalo bidangnya IT gua bisa aja kan ngesetting agentic AI biar tetep jalan 24/7, paling nanti harus bikin strategi biar jumlah token yang dipakai masuk budget bulanan gua.

    Agensi paling mantep itu ya sebenernya agensi jasa. Produk bisa aja sirna, produk bisa aja terlewat zaman, belum lagi kena perang harga dengan korporasi besar. Tapi jasa beda, jasa itu tergantung kualitas kerja lu. Kalau hasil kerja lu bagus, orang pasti bakal nyari. Semua orang bisa ngomong sana sini tentang AI, tapi ga banyak orang yang bisa utilize tools yang mereka punya untuk memaksimalkan jasa.

    Gua sendiri juga masih trial dan error dalam mencari apa yang sebenernya bisa jadi celah dan peluang gua untuk masuk. Waktu gua hadir di acara inkubasi itu, gua melihat bahwa yang potensial itu memang jasa. Itu juga kenapa orang berlomba-lomba bikin firma, bikin pusat research, bikin consulting. Mereka tau peluangnya.

    Gua tidak harus memulai sesuatu dari yang sulit dan langsung menargetkan hal besar. Sederhana aja, bisa gak lu bangun page sendiri sampai orang-orang punya awareness terhadap brand lu? bisa gak algoritmanya tembus dan sampai ke orang-orang yang memang membutuhkan. Sanggup gak gua bikin sesuatu yang memang orang butuhkan? sanggup gak gua memimpin sebuah tim yang bener-bener dibuat dari 0? sanggup gak? itu aja dulu.

    Bohong kalo gua ga takut, gua takut banget, gua takut gagal besar. Tapi lu tau? gua justru lebih takut lagi kalo gua gak maju dan gak ngelakuin apa-apa. Do it scared. 

     


Postingan ini merupakan tulisan lama yang baru gua publish buat kenang-kenangan, enjoy.


Pukul 04.00

    Pagi ini aku belum terlelap. Lucunya, kali ini aku terjaga bukan karena melakukan sesuatu yang "keren," melainkan karena baru saja menamatkan sebuah drama Korea. Ya, akhirnya aku kembali menonton setelah sekian bulan, sampai-sampai aku lupa kapan terakhir kali melakukannya. Jika ini terjadi di masa lalu, mungkin aku sudah dihakimi habis-habisan karena begadang untuk hal remeh-temeh. Untungnya, di sini tidak demikian.

    Aku baru menyadari bahwa selama ini otakku berada dalam mode bertahan hidup (survival mode). Hal itulah yang membuat otot dan otakku selalu tegang. Pola pikir yang mengukur harga diri dari produktivitas ternyata sangat beracun (toxic). Selama ini, rupanya aku begitu takut terlihat santai karena pola pikir ini telah tertanam dalam diriku selama beberapa tahun. Aku menjadi sangat keras terhadap diri sendiri jika dalam sehari tidak melakukan sesuatu. Sebenarnya, di Bintaro tidak ada yang memarahi, namun mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang aku lakukan itu begitu kuat, masih terbawa hingga ke sini. Buktinya, meski sudah beberapa bulan di sini, bisa dibilang baru belakangan terakhir inilah perkembangan diriku terasa signifikan. Saking tegangnya otot dan otak, aku bahkan pernah mengalami fase diam tak berkutik (freeze). Otak yang rusak sungguh sebuah bencana besar.

    Aku merasa bahwa dalam hidup ini aku harus selalu melakukan dan mencapai sesuatu, padahal nyatanya tidak harus demikian. Ternyata, aku juga manusia. Aku adalah human being, bukan human doing. Dengan segala kelebihannya, dengan segala kekurangannya. Ternyata, aku tetap berharga hanya dengan menjalani hidup sederhana; bernapas, menonton, tertawa. Boleh dibilang, kini akhirnya aku mengerti maksud Mbaku. Pantas saja selama ini aku selalu sakit kepala dan merasa pusing.

    Mba itu lucu. Alih-alih menyuruhku menyusun rencana ini-itu, dia malah menyuruhku untuk bersantai. Kalau sedang terlihat serius, aku malah disuruh bermain. Awalnya aku bingung, tetapi ternyata aku memang sudah mengalami kelelahan mental (burnout). Tiga menit lagi azan subuh berkumandang, dan aku malah menangis. Film atau serial yang kutonton tidak sedih, tetapi entah mengapa air mataku selalu jatuh, bahkan untuk adegan yang sebenarnya biasa saja. Kali ini aku tidak sedih, aku justru bahagia sekali. Mungkin selama ini aku lupa bahwa diriku apa adanya pun tetap berharga. Tanpa seluruh pencapaian (achievement) dan kemampuan itu, aku tetaplah Wilda yang asik dan baik hati. Ada hari-hari di mana aku tidak perlu berpikir keras dan memikirkan segalanya.

    Ibarat komputer, selama ini performa CPU-ku selalu berjalan 100%, bahkan dipaksa overclock sampai batas maksimal GHz-nya. Mba tidak butuh aku yang sempurna, tapi Mba butuh aku yang sehat dan bahagia. Mba percaya, ketika cache RAM-ku sudah tuntas bersih, nantinya aku bisa berjalan bahkan berlari sendiri. Setelah mengosongkan wadah tersebut, rasanya lega sekali. Hambatan mental (mental block) itu hilang, bahkan otakku bisa berpikir lebih jernih dari sebelumnya. Menurutku, ini bukan hanya persoalan fresh from the oven, tetapi aku sedang mengalami sesuatu yang disebut pertumbuhan pascatrauma (post-traumatic growth). Aku sendiri bahkan terkejut, "Apa iya dari dulu otakku selancar ini?" Mungkin aslinya iya, tetapi selama ini tertutup oleh panas berlebih (overheat) di otakku sendiri.

    Jadi begini, otak manusia itu sebenarnya adaptif. Selama ini, otakku fleksibel tetapi hanya untuk bertahan hidup. Atas segala kejadian buruk, tuntutan, dan ekspektasi, akhirnya aku memfokuskan otak untuk pemenuhan ekspektasi yang sebenarnya menghabiskan stok ketahanan mental. Secara fungsionalitas, otakku tetap bisa dipakai untuk berpikir, belajar, dan bekerja, tetapi tidak pernah maksimal. Itulah yang membuatku sering berhenti di tengah jalan. Hal itu juga yang membuatku "mandek" karena saat akhirnya sampai di tahap implementasi ilmu, otakku tidak sanggup. Selain alokasi energi yang sudah habis, energi tersebut ternyata tersedot untuk amigdala (amygdala). Akibatnya, aku terus-menerus mentok pada rasa traumatis, stres, minder, bingung, dan takut (stres kronis dan burnout berkepanjangan). Setelah aku memutuskan untuk mengosongkan semua memori tersebut (secara medis memori tidak dihapus, namun emosinya yang dilepas) akhirnya kini alokasi otakku sudah beralih menuju korteks prefrontal (prefrontal cortex).

    Ketenangan diri ternyata membuat kerja otakku lebih efisien. Kini, otakku akhirnya fleksibel digunakan untuk perkembangan hidupku sendiri, sebuah positive neuroplasticity. Sekaranglah saatnya bagiku untuk memberi stimulus, membentuk "jalan tol" baru di otak yang akhirnya siap digunakan kembali. Keren, ya? Ternyata gunanya belajar adalah untuk hal-hal seperti ini; aku memakai ilmu yang didapat untuk membenahi otak dan diriku sendiri.

    Akhirnya, aku benar-benar tersadar bahwa aku tidak pernah kurang apa pun; bahkan aku lebih dari cukup. Aku senang sekali, sungguh senang. Di hidup yang hanya sekali ini, aku ingin melakukan banyak hal seru. Meski hidupku selama ini sudah seru, aku ingin lebih seru lagi. Mungkin ini keserakahanku, tetapi aku lelah dibatasi ini-itu sampai di titik aku sendiri bingung harus melangkah seperti apa. Dari dulu aku adalah anak yang baik, tetapi aku hanya tertekan. Kalau Allah memberiku kesempatan untuk menikah nanti, aku ingin menjadi ibu yang bisa menjadi sahabat dan pendukung (supporter) terbaik bagi anak-anakku kelak.

    Minggu lalu aku ke kampus untuk bimbingan. Di sana, aku ditawari dosenku untuk ikut menonton dan menguji mahasiswa yang sedang mempresentasikan tugas besar mereka. Awalnya aku hanya menonton, tetapi kemudian aku memutuskan untuk ikut menilai dan memberi saran. Saat itu, aku mendapati bahwa tidak ada satu pun mahasiswa di sana yang benar-benar paham dengan apa yang mereka presentasikan. Akhirnya, aku maju untuk menguraikannya panjang lebar. Aku menjelaskan sampai di tahap, "Kalian tahu tidak, sebenarnya kalian sedang belajar apa?" dan mereka terdiam. Waktu itu mata kuliahnya adalah metode numerik. Singkatnya, metode ini adalah metode perkiraan. Dalam menghitung sesuatu, kita menggunakan berbagai pendekatan yang sifatnya "kira-kira." Perkiraan inilah yang membuat setiap algoritma di dalamnya punya masing-masing nilai error atau galat. Di metode numerik, masing-masing algoritma diuji untuk mengukur tingkat kecocokan antara algoritma yang dipakai dengan nilai galat yang dihasilkan, semakin kecil nilai galat maka presisinya juga semakin tinggi. Aku coba menjabarkan beberapa algoritma yang cukup familiar denganku karena memang pernah aku pakai untuk penelitian. Setelah selesai menjelaskan, aku benar-benar kaget melihat wajah mereka yang berbinar dan takjub. "Kak... keren banget..." ucap mereka. Awalnya aku mengelak karena menurutku itu biasa saja, tetapi setelah melihat kembali apa yang baru saja kulakukan, ternyata tidak semua orang bisa melakukannya. Andaikan ini film, adegan tadi akan menjadi sebuah momen realisasi (realization): apa yang menurutku biasa ternyata tidak biasa. Sebenarnya aku sudah lama tidak memegang teori itu, tetapi entah mengapa aku bisa menjabarkan semua rumus dan implementasinya dengan baik. Apakah aku tiba-tiba punya kemampuan baru? Tidak, karena sebetulnya itu adalah hasil usahaku bertahun-tahun yang sudah tersimpan di dalam diri sejak awal. Saking seringnya aku belajar, semua hal tersebut sekarang sudah tertata rapi di dalam diriku. Namun, meski tahu faktanya, aku sendiri tetap terkejut.

    Semakin aku jelaskan, mereka ternyata makin kagum. Kata mereka, "Sama Kakak kok jadi gampang, ya?" atau "Kak, jujur aku baru mengerti sekarang setelah dijelaskan sama Kakak." Aku sampai tak bisa berkata-kata (speechless) mendengarnya. Memangnya iya, ya? Masa, sih? Aku tidak percaya. Belakangan ini CV-ku selalu ditolak (yang ternyata sebenarnya banyak luput dari penglihatanku karena termakan stress), sehingga aku memiliki pola pikir bahwa aku ini kurang. Aku selalu merasa bodoh dan takut, sampai akhirnya banyak melewatkan kesempatan bagus. Padahal, yang harus dibenahi dariku adalah mental dan caranya. Aku sekarang mengerti kekuranganku sebenarnya apa. Bukan di ilmunya, melainkan cara menunjukkannya. Selama ini aku terlalu tertutup dan minder dengan diri sendiri. Aku takut kalau unjuk gigi (show off) dibilang sombong, tetapi kalau hobinya memendam potensi (gatekeeping) terus, kapan orang akan tahu? Lucu memang. Hal yang sulit dilakukan itu adalah menjadi rendah hati tanpa harus merendahkan diri, dan menunjukkan diri tanpa harus menyombongkan diri (balance). Susah, sampai detik ini aku juga masih berjuang. Aku sebenarnya kompeten, tetapi aku tidak bisa "menjual" kemampuan tersebut.

    Pulang dari kampus, aku sampai termenung sendiri. Wil... ternyata kamu bisa loh. Menurutku, orang jahat di hidupku adalah orang-orang yang mencoba menihilkan dan berusaha mengecilkan aku. Kalau mahasiswa-mahasiswa di kelas itu saja bisa tahu dalam sekali lihat, berarti seharusnya mereka juga tahu. Kalian tahu aku punya potensi, tetapi kalian malah mau mengecilkan hal tersebut dengan alasan ini-itu? Jahat. I can do something more than this. Aku sampai merasa terhenti sejenak (glitch) ketika mencoba mengingat memori dua tahun ke belakang ini. Maaf kalau aku masih mengungkit hal ini, tetapi jujur saja harga diriku (self-esteem) pernah serendah itu. Kerusakannya benar-benar parah dan sangat berdampak padaku. 

    Orang mungkin tidak paham, dan aku juga tidak mau meminta orang lain untuk paham. Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku 2 tahun terakhir itu adalah pembunuhan karakter. Selama ini aku sudah mendedikasikan hidupku untuk hal tersebut, blog ini menjadi saksi bisu bagaimana setiap harinya aku harus terus tekun dan konsisten, bagaimana aku harus selalu memupuk rasa semangat dan menjaga ritme tersebut. I was literally dedicating my whole life for that momentum. Hanya orang yang cinta mati pada impiannya yang akan merasa hancur lebur saat impian itu terancam. Rasa sakit ini adalah bukti seberapa besar dedikasi yang aku berikan, sebuah tanda kesungguhan. Tahun kemarin aku sempat tidak sanggup karena kehilangan banyak hal yang telah menjadi hidup dan perjuanganku, kalau bukan ini maka apa yang harus aku lakukan? dan pilihanku hanya tetap maju. Setidaknya aku merasa bahwa di sini adalah blogku, dan apa yang aku rasakan itu valid-valid saja haha. Dibanding melakukan emotional dumping dan melemparkan opini ke sosmed, aku rasa ini alternatif terbaik.

    Tapi itu kan sudah lewat. Dan aku juga sudah "sembuh." Maksudku menulis di sini adalah agar aku selalu mengingat fase apa saja yang aku lewati dalam hidup. Ini bukanlah sebuah peratapan kegagalan atau berlarut-larut dalam kesedihan. Tidak, memang ini sedang fasenya saja. Justru dengan memahami masa dan fase aku jadi lebih "merasa," bahwa sekarang aku adalah manusia yang hadir utuh di setiap kejadiannya. Aku berhasil melakukan sesuatu yang sulit: Menghadapi Masalah. Ada hari di mana aku kecewa sekali, atau marah sekali, atau malu sekali. Tapi fakta bahwa aku menerima masa sulit, hadir di saat tersebut, dan berusaha mencari jalan keluarnya; aku tidak lari, dan aku sudah dewasa. Suatu hari nanti ketika aku membaca kembali postingan ini aku akan tersenyum dan bangga dengan aku yang mampu menghadapi dan menyikapi permasalahan yang ada. Yup, i'm taking my time wisely. 

    Ternyata kemampuanku tidak ke mana-mana. Mimpiku masih ada di tempatnya, menunggu untuk kujemput dan kuperjuangkan lagi. Bahkan, hati dan jiwaku makin matang dalam melihat dunia. Setelah selama ini terus-menerus minder dan merasa rendah diri, mulai sekarang aku akan belajar dengan cara yang berbeda. Karena aku akhirnya sadar dengan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness) yang dimiliki, aku jadi tahu apa yang aku mau dan harus lakukan.

    Aku benar-benar masih sering memikirkan hari itu, saat melihat bagaimana anak-anak di kelas seantusias itu mendengarkan aku berbicara. Aku bahkan bisa santai saat menjelaskannya. Gila, rasanya otakku mengalir lancar sekali, semuanya terjadi tanpa beban (effortless). Dosenku bahkan mengatakan langsung di depan mataku, "Ibu tahu kamu bisa berkembang seperti apa kalau lingkungannya benar." Di situ aku kembali tersadar mengapa aku bisa suka belajar: karena aslinya memang semenyenangkan itu sebelum akhirnya pola pikir beracun menggerogoti diri. Selama perjalanan pulang dari kampus, aku hanya bisa tertawa getir di motor. Gila, rasanya seseru ini kalau diri yang asli sudah kembali. Just my two cents, dulu pernah ada masa di mana aku merasa semua ini percuma dan tidak ada artinya. Buat apa aku terus-terusan jadi ranking 1 kalau ternyata tidak pernah dianggap cukup? Buat apa aku punya hafalan sampai 20 juz di usia 18 tahun kalau ujung-ujungnya selalu dihakimi? Punya 7 publikasi di usia 23 tahun sebenarnya untuk apa? Buat apa aku melakukan semua itu bertahun-tahun kalau pada akhirnya aku saja tidak didengar, tidak punya kuasa, dan tidak punya kendali atas pilihan hidupku sendiri? Untuk apa aku ikut lomba sana-sini jika pada akhirnya aku tidak menghasilkan apa-apa? Aku kalut sampai meledak sendiri. Aku sekarang mengerti kenapa psikolog menyuruhku untuk membuat papan visi (vision board), karena dia juga sudah melihat hal itu.

    Aku ingin mengucapkan rasa syukur dan rasa terima kasih aku kepada orang-orang yang masih menyayangi dan mempercayai diriku hingga detik ini. Aku sangat bersyukur bahwa saat Aku terjatuh masih ada orang-orang yang hadir, mendukung dan mendoakan kesuksesan serta kebahagiaanku. Terima kasih karena telah menyadarkan bahwa terlepas apa yang pernah terjadi, aku adalah manusia yang pantas dihargai dan dicintai sepenuh hati. Aku bisa merasakan kebaikan yang diberikan seseorang terhadapku, dan hal-hal itulah yang membuat aku bisa kembali berjalan dan menata ulang semuanya. Aku itu suka mengingat hal yang baik apalagi membahagiakan. Bahkan meski postingan aku terkadang memuat kesedihan, tapi percayalah bahwa selalu ada titik rasa syukur yang aku rasakan dari tulisan-tulisan tersebut. Selain Allah Yang Maha Segalanya, kembalinya diriku juga tak luput dari kepercayaan dan kebaikan yang tersampaikan baik lewat kata atau perbuatan. Aku mengingatnya dengan baik, sangat baik, bahkan lebih baik dari yang orang-orang kira.


    Manusia itu pohon yang harus disiram agar tumbuh, bukan batu yang bisa dipahat sesuka hati. Kalau dia tidak sadar itu, siapa pun yang bersamanya akan berubah menjadi layu.


Update 30 April 2026:
    Hi Wilda, you must know that everything is getting better! Masalah itu sejatinya akan selalu ada, tapi di titik ini lu sudah lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi sesuatu. You don't have to worry, karena dalam setahun aja perubahan lu sudah sangat signifikan. Belakangan ini lu lagi banyak banget ngerjain hal keren dengan cepat! Gua juga ga bisa bohong bahwa yang namanya pressure dan beban itu pasti akan selalu ada, tapi inget satu hal wil: lu udah jauh lebih keren.

    Minggu depan, gua bakal ujian juz 25, hal yang mungkin ga akan lu sangka-sangka. Iya, gua udah muroja'ah 6 juz. Hal yang dulu menurut lu itu percuma ternyata sekarang lagi lu lanjutin lagi. Publikasi-publikasi yang selama ini lu kerjain juga ga ada yang percuma. CV lu udah lagi diproses di banyak tempat, ga usah takut. 2 Minggu yang lalu lu bahkan ikut playground CTF, hal yang pengen banget lu lakuin selama 3 tahun kebelakang. Untuk bisa menjadi orang keren, pertama-tama gua harus kuat dan tegak di atas kaki sendiri. Semua yang sudah lu lakukan ga ada yang sia-sia di mata Allah.

    Tau gak kenapa waktu itu Allah belum ngasih? jawabannya sederhana: karena lu belum siap, karena lu belum pantas. 1 Hal yang harus lu ingat adalah Allah itu Lebih Tahu dari pada lu. Kacamata Allah itu jauh lebih luas dari rencana-rencana lu itu. Gapapa wil, untuk menjadi orang yang siap, orang itu memang harus ditempa hingga pantas. Coba deh bayangin kalau saja Allah langsung memberi saat itu juga, emangnya sudah pasti lu bisa handle? belum tentu. Untuk mengemban tanggung jawab yang besar, mental lu juga harus baja. Kalau iman saja diuji, apalagi tekad lu.

    Sederhananya, apakah lu siap ketika doa-doa yang dipanjatkan itu beneran dikabulkan waktu itu dan saat itu juga? Belum tentu. Dengan diri gua yang sekarang aja gua terkadang masih kewalahan, apalagi waktu itu. Allah itu tidak salah dalam mengabulkan doa. Apa yang menjadi takdir lu, pasti akan datang ke diri lu dengan segala cara. Semua kejadian yang menghampiri, semua orang yang datang kehidupan lu, itu semua adalah garis takdir, pasti ada hikmahnya.

    Kenapa sekarang? karena lu sudah mulai punya kapasitas untuk menerima jawaban dari doa-doa lu itu. Gapapa wil, hidup memang seperti itu. Segala tragedi, penolakan, bahkan delay itu sejatinya adalah sebuah persiapan. Allah sedang memantaskan lu. 

    Tetap konsisten ya, tetaplah berprogress. Sesulit apa pun keadaannya nanti, semoga selalu Allah mudahkan dan lancarkan. Masa depan itu sesungguhnya milik orang-orang yang berdedikasi dan konsisten, dan salah satu orang itu adalah lu. Di dunia ini lu cuma punya satu opsi: Maju. Reach that goal.

   


    Setelah mengalami banyak kejadian yang bikin gua garuk-garuk kepala, akhirnya gua balik lagi ke rutinitas mingguan gua: pergi ke cafe, minum kopi, sambil lanjutin kerjaan gua. Jadi ceritanya gua abis "berantem" sama saudara gua yang kebetulan cukup seumuran (he's 2 years younger). Jujur aja, pas lagi panas-panasnya gua sempat kelepasan. Gua, yang kata orang sangat regulated ini ternyata bisa kelepasan juga walau sesaat. Masalahnya sepele, tapi jadi besar karena disampaikan secara meledak-ledak. Saat itu kepala gua bener2 sakit, detak jantung gua kenceng banget, dan rasanya merinding sendiri.

    Sebagai orang yang katanya cukup dewasa, gua berusaha memahami bahwa semua ini ada sebabnya. Saat lahir manusia itu seperti kertas putih polos kan? lalu orang tua, lingkungan, serta pengalaman lah yang membentuk orang tersebut. Di hidup ini, gua gak bisa benci siapa-siapa. Bahkan saat puncaknya, gua terus berusaha memahami bahwa orang tersebut emang lagi meluap-luap aja mengungapkan emosi dia sendiri. 

    Orang lain melihat gua sebagai orang yang cukup keren karena tidak terbawa emosi, bahkan tetap lembut dan baik sampai akhir. Mba bahkan sempat memuji bahwa cara gua marah itu justru cara yang benar. Kita tidak harus mengungapkan kekesalan dengan mencaci maki, tidak perlu sampai banting kursi, tapi cukup diutarakan bahwa kita tidak suka diperlakukan seperti itu sambil memberikan alasannya. Memang rasanya terlihat keren, tapi badan gua gak bisa bohong.

    Gua masih ingat saat dibilang "lebay" karena sempat diomong "baru juga digituin udah muntah aja." Padahal, muntah itu juga bukan kehendak gue. Kalau bisa gak mual, gua akan pilih gak mau ngerasa mual. Tapi apa boleh buat, gua juga manusia yang punya hati. Gua mungkin bisa menahan amarah dan meregulasi perasaan gua sebaik mungkin, tapi gua gak bisa menahan reaksi tubuh gua sendiri saat merasa gak aman atau bahkan terancam. Mulut gua bisa bilang, "iya gapapa kok." Tapi lambung gua nolak dan berusaha membuang hal-hal negatif tersebut. Ibaratkan tubuh gua seperti sedang ngeflush otomatis. Ya lu bayangin aja, gua udah mengakui kesalahan, gua gak membela diri sama sekali, dan bahkan gua udah minta maaf berkali-kali, tapi amarahnya ga reda-reda bahkan sampai ngespam chat segala macam hal yang cukup ngetrigger. Padahal ini bukan hari penghakiman, tapi dosa gua rasanya kaya diabsen satu-satu, sakit banget. Tapi dari semua itu, hal yang menyakitkan justru omongan bahwa gua sudah 25 tapi ga dewasa di saat gua sendiri sedang mati-matian untuk memantaskan diri gua. Itulah puncak mual gua.

    Paham kok, dunia kerja itu berat. Hidup itu keras. Tapi gua juga gak bisa bohong sama diri gua sendiri kalau itu sakit. Bahkan sampai detik gua duduk dan ngetik postingan ini rasanya masih pusing. Untungnya, mba bilang bahwa semuanya ga harus selesai sekarang. Mba kindly encourage me to take my time. Orangnya merasa bersalah karena sempat lepas kontrol dan minta maaf juga, tapi jujur aja mualnya masih ada banget di gue. Gak, ini tuh bukan karena gua gak maafin dia atau bahkan memendam rasa benci ke dia, gak ada sama sekali. Alasan kenapa gua tetap butuh waktu itu karena harus mengisi lagi energi gua yang udah kosong. Gak cukup dengan istirahat atau tidur, tapi gua harus mengisi diri gua dengan tekad, motivasi, dan rasa positif.

    Gak semua orang mampu menghadapi hal sulit, gak semua orang seberani itu untuk berbicara menyelesaikan masalah dari mata ke mata. Karena itu juga gua sebenernya salut sama diri gua sendiri karena meski sambil dilewatin dengan pusing dan segala macam tapi akhirnya bisa selesai dengan baik. Kadang bingung juga. Kalau ga diungkapin nanti sakit sendiri, tapi kalau diungkapin nanti jadi ribut ga ketolongan. Setelah kejadian tersebut mba coba kasih saran bahwa gapapa banget kok untuk mengutarakan ketidaksukaan kita. Gapapa banget loh untuk membela diri apalagi di saat memang lu ga salah. 

    Bisa dibilang kali ini gua cukup berhasil melakukannya. Saat lagi bicara 4 mata dengan orangnya gua coba mengatakan sesuatu yang bikin dia sadar:

"Tapi kamu tau ga? aku ga pernah loh ngitung kesalahan kamu."

    Gua sebenarnya pernah menulis ini di blog gua satunya, bahwa terkadang orang itu salah menempatkan emosinya. Banyak orang mudah sekali marah pada hal sepele, tapi justru untuk hal-hal penting dalam hidup mereka abai sekali. Menurut gua, hal-hal yang sifatnya remeh itu bisa diselesaikan secara baik-baik tanpa harus adu otot. Hal-hal yang sifatnya side quest itu punya cara pencegahan dan penyelesaian yang lebih sederhana. Jadi kenapa harus dibesar-besarkan dan berlarut-larut? bagi gua itu gak perlu.

    Dari sini gua belajar bahwa meregulasi emosi itu susah sekali dan kita akan terus mempelajari hal tersebut seumur hidup. Gua juga sadar salah gua banyak, kurang gua banyak untuk seukuran orang yang berusia 25 tahun. Harusnya gua bisa lebih dewasa, harusnya gua bisa lebih sigap, harusnya gua bisa lebih bijak. Tapi pada akhirnya, inilah gua pada saat ini dengan segala usaha yang gua lakukan. Psikolog gua juga bilang bahwa tidak selamanya seseorang harus menjadi perfect dan teregulasi. Gua juga berhak untuk mengutarakan pendapat gua, gua juga berhak untuk memperjuangkan nilai dan pilihan-pilihan gua. 

    Hidup bersama itu sejatinya harus tenggang rasa. Apa yang salah bisa diingatkan, apa yang kurang bisa gua lengkapi, apa yang terlupa akan gua maklumi. Hidup itu isinya memang masalah. Sedewasa apa pun seseorang, pasti dia akan bikin salah. Orang paling bijak sekali pun pasti pernah salah. Menjadi sempurna itu melelahkan, dan pada akhirnya kita semua akan sampai di kesimpulan bahwa kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi itu juga bukan berarti kita akan berlindung di balik hal itu, bukan. Justru, kita harus terus berproses menjadi lebih baik. Masalah akan selalu ada, tapi perbedaan akan terlihat dari bagaimana cara kita menghadapi masalah tersebut, kita bisa mengatur bagaimana cara kita bersikap dan mengatasinya, itu semua bisa dipelajari seiring berjalannya waktu.

    Gua bersyukur bahwa sampai akhir gua tidak ikut-ikutan meledak. Gua menunggu semuanya hingga reda baru setelah itu berbicara. Sekarang gua ngerti kenapa orang-orang sabar itu ganjarannya surga, karena emang beneran susah banget. To be kind and persistent even when it's hard, sulit. Tapi setelah kejadian ini gua akhirnya menyadari bahwa ternyata bisa. Batu paling keras sekali pun bisa luluh, hati yang keras tersebut perlahan melunak, atas izin Allah. Mba sendiri sampai kaget bahwa penyelesaiannya bisa cepat, karena sebelumnya ga pernah secepat itu. Gua juga baru paham, bahwa mungkin yang sebenarnya dibutuhkan itu bukan tegang dibalas tegang, tapi justru kasih sayang. Bukti langsung yang bisa dilihat oleh mata bahwa di dunia ini masih ada orang yang mau berusaha mengerti, mau mendengar, mau duduk, dan mau saling memperbaiki diri.

    Tidak ada penyesalan memilih kebaikan, dan hal tersebut ternyata membuahkan hasil. Orangnya sempat menyatakan bahwa menjadi baik itu melelahkan dan memuakkan. Tapi bagi gua, menjadi baik itu pilihan. Di dunia ini bisa saja kalau lu mau mementingkan diri lu sendiri dan membuang semua orang. Sejak awal, menjadi baik itu sulit. Tapi kenapa gua memilih yang sulit? karena pembuktian tertinggi gua bukan manusia, tapi justru kepada Allah. Bahkan di saat paling sulit sekali pun gua tetap memilih patuh kepada Allah. Bahkan di saat paling kepepet sekali pun gua tetap memilih takut kepada Allah. Gua memilih cara dan jalan yang diridhoi oleh Allah. Gua gak bilang itu mudah karena memang level pembuktiannya bukan sebatas dunia dan manusia di dalamnya. Mungkin sekarang dia belum paham, tapi kalau suatu hari nanti dia mengubah kacamata dan sudut pandangnya tentang hidup, gua rasa dia akan melihat apa yang selama ini gua lihat dan berusaha pegang mati-matian: keimanan.

    To be kind and persistent is a superpower. Gua ternyata bisa tetap "baik" tanpa harus "lemah", dan tetap "tegas" tanpa harus "jahat." 

    Alhamdulillah, akhirnya gua bisa balik lanjutin kerjaan gua dan mengembalikan fokus ke diri gua sendiri; PR gua masih banyak. Tahun ini gua mau dapet kerjaan keren. Mari lanjutkan fase grinding ini!

 


    I don't know where should i start.. ntah beberapa minggu belakangan ini yang membuat gua banyak nulis di sini itu karena gua simply pusing. Kalau cuma ditahan di pikiran makin pusing. Umur 20an itu rasanya kaya lagi dikejar semua. Dikejar lulus, dikejar kerja, dikejar nikah... seakan-akan semua hal harus diachieve dalam waktu dekat ini. Jujur aja gua gak pusing sama kerjaan gua, kalau gua lagi fit semua kerjaan bisa beres cepat. Tapi karena ini udah ngulur berarti ada possibility lain: pressure.

    Gua merasa bahwa semua orang sepertinya sedang menanti-nantikan gua for whatever reason yang sebenarnya valid. Rasanya tuh kaya lu lagi ngoding terus diliatin semua orang. Bahkan kemarin pas gua lterally ngoding di ruang tamu ada oma pun malah ga gimana-gimana, aman aja. Gua gak takut, tapi gua pusing. Setiap hari gua jadi susah tidur karena harus mikirin banyak rencana dan strategi apa yang harus gua lakukan untuk menuhin ekspetasi semua orang. Gua gak mau ngecewain orang-orang yang sayang dan percaya sama gua. Tapi saking gua gak mau ngecewain, gua malah overwhelmed dan mulai gak jelas. Yang mba bilangin itu bener, orang kaya gua ga perlu disuruh belajar atau pun kerja karena pasti akan gua lakukan. Justru mba akan nyuruh gua untuk keluar dan main. 

    Bisa gua bilang hari ini puncaknya gua gak jelas. Harusnya hari ini gua pergi ke bekasi tapi gua malah kesiangan. Semua orang nelponin gua tapi gak ada yang gua angkat. Yaudah gua jujur aja kalo gua semalem gak tidur saking pusingnya. Mba gua awalnya marah, apalagi gak biasanya gua sampe ga jawab semua telpon, tapi pada akhirnya mba ngerti dan nyuruh gua tidur lagi.

    Semalem gua bener-bener ga bisa tidur. Gua udah coba nongkrong di minimarket sampe jam 10 tetep pusing. Gua kira kalau udah beli matcha pusingnya ilang, tapi ternyata sama aja. Terus lanjut lagi ngobrol sama daus sampai jam 1-an tapi ternyata masih pusing juga. Akhirnya gua ngobrol sama temen gua yang lain sampe jam 4 pagi baru hilang pusingnya. Uneg-uneg gua emang banyak banget. Kalau gak ada mba, kayanya gua bakal stress banget. Ada bagusnya juga selama oma di bintaro gua di kosan soalnya energi gua lagi ga banyak buat ngobrol panjang.

    Hal yang selalu bikin gua gelisah itu ga jauh-jauh dari ekspetasi setinggi langit. Gua yakin aja gua bisa, tapi prosesnya sepusing ini. Gua coba cari tau apa yang bikin gua pusing sampe di tahap ruwet ga bisa tidur dan ternyata semua hal itu terjadi karena emang udah waktunya buat gua untuk "show up." Kalau for all this time gua selalu di belakang layar, mulai saat ini gua harus nunjukin diri gua, dan itu yang berat. Gua udah terbiasa dengan hari-hari yang sunyi sebagai researcher, lalu ketika gua keluar dan show up ke semua orang, gua ngerasa kewalahan. 

    Gua bisa ngeliat mata orang-orang yang terkagum-kagum saat gua coba cerita apa aja yang gua punya, apa yang pernah gua lakukan, apa yang gua kerjain, dll dan ternyata itu berat. Di satu sisi gua harus cerita, tapi di satu sisi semua orang jadi tau. Bingung kan? kata psikolog, gua itu harus punya bargaining power, gua harus muncul, gua harus show-up. Gua gak boleh menyembunyikan potensi diri gua sendiri. Tapi ya resikonya gitu, semua orang jadi tau, semua orang jadi punya harapan dan ekspetasi. Gua gak terbiasa hidup di bawah lampu sorot, gua gak terbiasa dapet atensi. Butuh waktu, butuh waktu sampai gua terbiasa. Tapi bagi gua timingnya pas kok, karena gua berharap bulan depan ketika gua wisuda gua gak perlu lagi untuk adjust, gua udah siap sesiap-siapnya. 

    Alhamdulillah banget Allah ngasih gua banyak kelebihan, tapi di satu sisi kemampuan tersebut dibarengi dengan segudang harapan. Kalau rungkad gua aja bikin orang-orang stress, maka sebaliknya; kesuksesan gua adalah hal yang paling ditunggu orang-orang. Tidak apa-apa, kalau Allah gua kasih banyak anugerah, berarti tandanya gua bisa.

    Akar dari kepusingan ini sejatinya adalah karena gua berusaha menanggung semuanya sendirian. Padahal, sebenarnya gua hanya perlu fokus sama apa yang gua lakukan hari ini, satu-satunya hal yang bisa gua kontrol. Fakta bahwa gua terus berprogress setiap harinya itu udah cukup, setiap hari gua selalu mencoba yang terbaik dan menjadi lebih baik. Gua emang lagi di fase transisi, makanya hal yang paling perlu gua lakukan itu adalah tetap tenang, calm, dan terus konsisten.

    Jangan mikir kejauhan, fokus apa yang bisa dikerjain, fokus sama apa yang ada di depan mata. Memikirkan hal-hal yang ada di luar kontrol gua itu cuma bikin pusing. Faktanya, gua tetap ngoding setiap hari. Faktanya, gua udah lulus juz 27, gua udah lulus ujian 4 juz. Faktanya, gua berhasil ngerjain banyak hal baru selama 2 bulan ini. Faktanya, jalan dan pintu yang selalu gua doakan ke Allah itu perlahan mulai terbuka. 

    Gua sangat berterima kasih kepada semua orang yang sampai detik ini terus percaya, ngasih gua ruang dan waktu untuk terus bertumbuh dan berkembang. Hal yang gua butuhin emang itu kok. Sebenarnya orang-orang di sekitar gua itu udah mulai ngenal-ngenalin gua sama cowok. Gua juga bisa melihat bahwa yang dikenalin ke gua ini bukan cowo asal, mereka semua baik dan cukup mapan. Gak tau ya, gua rasa salahnya bukan di mereka, tapi di gua. 

    Beberapa hari yang lalu gua telponan sama salah satu teman kuliah gua, dan ternyata dia ngerasain yang sama. Sebagai cewek-cewek yang gak pernah pacaran, hal tersulit dari menjalin relationship itu adalah memunculkan kepercayaan dan rasa aman. Gimana caranya gua tau kalau dia adalah orang bisa dipercaya dan diandalkan kedepannya? gimana caranya gua tau kalau sebagai kepala keluarga nantinya dia bisa memberikan rasa aman? Kalau gua menikah, berarti kan istilahnya gua menyerahkan diri dan hidup gua ke dalam tanggung jawab dia. Gua gak bisa nikah kalau orang tersebut gak bisa meyakinkan gua, gak bisa memperjuangkan gua. Mungkin gua juga yang lagi banyak pikiran, tapi hal yang membuat gua strict soal pasangan itu karena gua harus sukses. Justru, sama sekali gak ada alasan buat gua untuk tidak sukses. Gua butuh seseorang yang senantiasa mengaminkan setiap cita-cita gua, gua butuh orang yang bisa gua percaya untuk gua ceritain banyak hal. Dan sebaliknya, gua juga lagi berusaha jadi perempuan yang tenang dan keren. 

    Cara bikin gua kesel itu gampang banget. Cukup bilang, "Udahlah jadi perempuan impiannya gak usah muluk-muluk, gak usah begini, ngapain begitu." Besoknya lu langsung gua blacklist, minimal mulutnya gua kasih sambel gledek. Gua  itu kemarin ketemu sama orang yang menurut gua hebat karena mereka suami-istri adalah pebisnis ulung. Selama ngobrol gua beneran ngebatin, "kok bisa ya... kok bisa ya.. caranya gimana.. caranya gimana... GUA JUGA MAU." Anak-anaknya harmonis, bisnisnya sukses, dan di masa tua udah tinggal sibuk main sama cucu. Bisa loh ternyata. Gak usah jauh-jauh nurhayati subakat, di depan mata gua sendiri udah ada contohnya. Perempuan kaya gua itu ga bisa dibatasin apalagi dilarang-larang. Cukup didukung, didoain, dikasih waktu dan resource untuk bertumbuh, itu aja. Melarang ini itu tuh sama aja kaya matahin sayap gua, dan orang yang sayang sama gua; gak akan tega melakukan hal tersebut. Orang kaya gua kalau disuruh gak usah ngapa-ngapain, yg ada gua balik stress lagi kaya dulu. 

    Gua yakin gua bisa (atas izin Allah), tapi syaratnya gua harus tenang. Satu-satu aja wil, nanti juga lama-lama keliatan jalannya. Bentar lagi lu bakal dapet kerjaan yang keren, punya passive income, dan jodoh lu pasti ada kok wil. Orang yang mungkin gak lu sangka, atau bahkan lewat jalan yang gak ketebak. Akan ada orang yang mampu memperjuangkan dan meyakinkan lu bahwa dia bisa dipercaya untuk jadi pasangan lu kelak. Jangan banyak pikiran ya? aman aja. Gua keren. Ntah gimana caranya, gua pasti bisa.


Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. 




 

       Sebulan lagi gua bakal wisuda, dan artinya.... gak ada sih. Gak ada arti khusus wkwkwk. Gua memang menganggap masa-masa nunggu wisuda ini sebagai masa "buffer." Kalau di kimia, larutan buffer itu kan larutan yang mempertahankan pH ya agar tetap stabil. Nah, di masa transisi ini instead of ngegas ga jelas gua lebih memilih untuk mempertahankan kestabilan gua sembari rencanain apa rencana gua kedepannya. Ya... itung-itung "santai" sebelum kerja nanti ~__~. Dibilang santai gak juga sih, sekarang gua lagi megang 3 project dengan bidang yang beda-beda. Jujur ini nekat, tapi pas gua ngejalanin ternyata enjoy aja sih. Pusing mah pasti ya, tapi ternyata udah ngerjain banyak aja gua masih punya banyak waktu luang heu. Anggaplah testing prod sebelum deploy :P. Ya gua sih juga ngerasa enough, ga mau juga gue semua waktunya kepake buat ngoding, yang ada burn out, aku yg dulu bukanlah yang sekarang... lol.

    Gua tuh kan minat banget ya bisnis, cepat atau lambat pasti bakal gua lakuin. Masalahnya, bahkan untuk bikin konsep aja tuh susah. Untuk nentuin oke ini produk dan marketnya aja tuh susah cuy. Sampai detik ini gua masih istikhoroh, karena dari beberapa orang yang gua mintain saran masih banyak perbedaan pandangan about what should i do.

    Mba sangat percaya bahwa gua capable to make something big. Katanya, gua tuh cocok bikin suatu sistem bisnis yang di mana gua adalah otaknya. Kalau di korporat mungkin semacam penasihat? atau mungkin konsultannya? Gua gak harus terjun langsung ngerjain urusan fisiknya, tapi lu dibutuhin biar bisnis itu bisa sustain. Lu gak ada, nyawa bisnisnya juga ilang. Mungkin semacam Founder sekaligus CEOnya, tapi itu kegedean si buat skala gw sekarang wkwkwkw (loh kenapa enggak wil???????). Agak takut nyebutnya karena ntar gua dikira self-claim bahkan narsis oh naurrrrrr. Sabar, gua perintis.... modal gua ga banyak, backingan gua real Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ga ada duit? gua cari duitnya. Gak ada opportunity? gua kejar kesempatannya. Kurang ilmunya? gua siap memantaskan diri.

    Kadang gua mikir, kok gua mikir sekeras itu ya? kok kayanya jalan gua ribet banget ya? tapi ya pada akhirnya gua adalah perempuan. Gua gak bisa kan tiba-tiba jadi driver grab? ga bakal diizinin karena resikonya gede. Gua juga gak bisa tiba-tiba kerja jauh keluar negeri. Buat gua kerja keras aja ga cukup, gua harus kerja cerdas karena suka gak suka perempuan punya limitasi. Gua harus pinter liat peluang. Gak cuma peluang, tapi gua harus tau momentumnya juga kapan gua harus maju, kapan harus abstain, kapan harus mundur. Gua juga harus kerja sambil jaga diri. Bukan cuma itu, suatu hari gua nikah. Gua bakal punya keluarga gua sendiri dan jadi pendidik. Sudah seharusnya gua merencanakan dari sekarang agar nanti kalau nikah gua udah ga kaget, atau bahkan bisa aja bisnisnya udah jalan tinggal dilanjut aja. Coba bayangin kalo gua lagi hamil, terus melahirkan, kalo gua ga pinter ngatur waktu... kalo skill gua ecek-ecek, kalo gua ga punya backup plan.. Mending kalo gua cuma pusing, tapi kan mentalitas gua harus selalu dijaga. Orang yang udah siap nikah aja ngejalaninnya tetap berat kok, apalagi yang gak punya persiapan apa-apa. Nikah itu constraint variable yang harus masuk dalam perencanaan bisnis dan hidup gua kedepannya. Setidaknya, hal yang bisa gua persiapkan dari sekarang itu ya mentalitas gua. Oke gua punya masalah, tapi gua juga punya otak yang mampu berpikir kritis, tentunya atas izin Allah. Yes, you have to be strategic to be the coolest.

    Paling susah itu memang memulai, apalagi ini beneran pertama kalinya banget gua mau kerja full-time sambil rencanain bisnis. Gua gak bisa kaya orang-orang yang, "yaudahlah." Gak bisa, buktinya gua malah makin stress. Gua gak mau di hidup ini gua serba kaget dan serba ga tau apa-apa. Nanti pas kejadian baru deh panik, nanti pas waktunya tiba gua malah ga siap. Oh shit, what a nightmare. 

    Beberapa waktu kebelakang gua sempet stress banget karena rasa takut gua sendiri. Iya, gua takut banget kalau gua ga bisa memenuhi harapan dan ekspetasi dari semua orang. Belakangan ini gua suka susah tidur karena ini.. di satu sisi gua seneng karena setelah segalanya, orang masih mengandalkan gua. Tapi di satu sisi gua juga takut, "emang gua bisa ya?" Gua tau proses, tapi tetap aja takut. Semakin gua tekan rasa itu, justru gua malah makin takut. Makanya sekarang ya gua coba terima aja. Sampai kapan pun rasa takut itu pasti akan muncul. Lu ga akan pernah benar-benar 100% siap. Yang bisa kontrol hal tersebut adalah lu sendiri. Mau dimakan sama rasa takut itu atau menempatkan takut sesuai pada porsinya. Menjadikan rasa takut sebagai bahan bakar untuk maju, sebagai motivasi bahwa di dunia ini ada banyak hal yang ingin lu capai. Justru, rasa takut itu adalah bukti bahwa hidup tersebut layak untuk dikejar. Kalau gak bikin deg-degan, itu mah cuma daily routine. Kalau targetnya gak bikin lu takut, itu namanya zona nyaman. 

    Ini gua ngemeng kaya enak banget kan? emang. Ngetik mah gampang. Tapi setidaknya gua punya reminder buat diri sendiri bahwa apa yang gua rasain tuh wajar aja, manusiawi. Gua akan terus mencoba untuk push limit gua, tapi di satu sisi gua harus tetap mempertahankan diri gua untuk gak overheat. Akhir maret kemarin adalah konsul "perpisahan" gua dengan psikolog yang selama 4 bulan ini menemani gua. Katanya, gua udah siap untuk melaju. Meski nanti di tengah perjalanannya pasti ada jatuh bangun, tapi dengan diri gua yang sekarang gua udah jauh lebih mampu untuk handle masalah yang ada. Gua gak harus stabil dan perfect setiap saat, cukup menempatkan emosi pada tempatnya saja. Dari matanya, gua bisa bilang bahwa beliau yakin gua mampu untuk achieve hal-hal yang menjadi target gua kedepannya. Kalau beliau aja percaya, masa gua enggak? eyyy no excuse anymore baby.

    Setelah lebaran kemarin gua juga coba belajar nyetir mobil. Awalnya gak ada rencana, tapi tiba-tiba saudara gua mau ajarin. Aslinya gua si demen banget mobil ya makanya pengen banget bisa nyetir. Tapi namanya juga gak pernah nyetir, pasti kagok. Gua belajar mulai dari yang manual dan itu juga baru bisa kopling, gas sama rem. Itu aja udah alhamdulillah banget karena katanya cara gua ngerem halus. Gak ada nabrak, gak ada lecet, gokil. Jujur waktu udahan kaki gua yang nginjek kopling tegang banget. Kulepas kopling mobilku jumping, katanya (WKWKWKWK). Syukurlah.. semoga untuk seterusnya proses gua lancar sampai nanti khatam nyetir. Abis belajar mobil, gua langsung pengen punya mobil sendiri karena belajar nyetir pake mobil orang (meski pun mobil bapak gue) itu tegangnya ada banget. FYI, kaki gua masih tegang sampe malem wkwokwokwk tapi tetap apresiasi keberanian gua untuk mulai, gua suka semangat lu.

    Gua juga udah lulus juz 28 (yayyyyyyyyy) yang tesnya gak kalah tegang. Sehafal-hafalnya gua, kalau udah lagi ujian tetep aja ngeblank, itu yang bahaya. Gua sampe bilang ke pengujinya "bentar kak, saya mikir dulu boleh ya ini surah apa." Mulai dari juz 27 proses gua bakal lebih berat karena selain muroja'ah juz baru, gua juga harus selalu mempertahankan apa yang gua setorin. Semua yang gua setor itu bakal dites. Mau 1 juz, 3 juz, 5 juz, 10 juz, sampai nanti 20 juz itu semua bakal dites. Kalau di tahfidz itu ada namanya tasmi' bil ghoib, artinya lu baca Qur'an ga boleh liat sama sekali dalam satu kali duduk. Ujian ini biasanya dilakukan untuk pengambilan syahadah, atau istilahnya sertifikat kalau lu adalah seorang hafidzah yang certified. Nahkan, hafidzah aja ada certifiednya. Sistemnya cukup ribet. Pertama, lu harus ngajuin ke lembaga tahfidz terkait. Lalu, lu harus ngundang orang-orang termasuk penguji tahfidznya untuk menyimak hafalan lu. Iya, lu baca qur'an seharian ditontonin banyak orang. Kegiatan tasmi' biasanya dimulai sehabis subuh, atau kalau acaranya displit 2 hari bisa mulai agak siang. Pas acara dimulai lu duduk, dan langsung baca Al-Qur'an sampai tuntas tanpa melihat sama sekali. Nanti setelah tasmi' tersebut penguji dan lembaga tahfidznya akan menilai apakah hafalan lu sudah layak atau belum untuk mendapat syahadah. Itulah momen ketika hafalan lu bisa dibilang mutqin. 

    Baca-bacain ulang tulisan gua itu rasanya therapeutic. Gua jadi bisa inget lagi, oh iya beberapa tahun yang lalu kan gua begini, oh ternyata cuma jeda setahun tapi ternyata banyak banget ya yang terjadi? dan lainnya. Gua juga jadi suka menghitung waktu yang berlalu karena waktu itu ga berasa asli. Setiap hari kalau dijalanin mungkin terasa lama, tapi kalau dihitung mulai dari hari ini, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi.. tiba-tiba udah setahun. 

    Bulan mei akan jadi penanda setahun gua ke bintaro. Tanggal berapa ya? kalau ga salah 19 Mei deh. Setahun gua di bintaro, dan hadiahnya adalah wisuda hehe senangnyaa. Gua jadi inget pas pertama kali datang itu gua beneran ga bawa apa-apa, cuma baju 2 pcs aja. Dengan polosnya gua berpikir bahwa ok gua mau photo studio untuk profil CV terus abis itu besoknya pulang lagi, real kaya orang minggat. Eh tapi ternyata setelah nyampe sini gua langsung ditahan-tahan, "gak, pokoknya kamu ga boleh pulang sebelum skripsi selesai." Gua gak nyangka ternyata kisahnya bakal bersambung sepanjang ini. Mau gua coba nego berkali-kali pun mba tetep ga izinin gua balik ke rumah selama skripsi gua masih ga jelas. Dan lucunya, sebelum gua datang ternyata orang-orang di bintaro udah dikasih tau kalau gua bakal dateng buat ngerjain skripsi. Iya, gua dijebak. Gua masih inget banget chat gua dulu sama mba, dan itu beneran alot banget, ada kali ya prosesnya 6 bulan sampe gua mau? Dengan segala cara mba gua ngebujuk dan narik biar gua mau "main" ke bintaro. Dan bener aja, sesampainya di sini gua langsung dikunci WKWK. Pas gua nulis ini pun gua ngerasa takdir tuh kaya lucu banget ya? kalo tau begini ceritanya kan bisa aja gua dateng lebih awal biar lulusnya juga lebih cepet WKWKWK T___T gua merasa banyak banget waktu yang terbuang asli, tapi yaudahlah garis takdirnya mungkin memang begitu. Semakin mempertanyakan lu hanya akan semakin bingung. Datangnya gua ke sini pada bulan mei adalah takdir. Allah Maha Tahu.

    Ibaratkan game, gua itu tipe yang butuh quest. Sebenarnya dengan lu menjadi muslim pun questnya udah banyak. Salat 5 kali sehari, ada rukun iman, ada rukum islam. Belum ajaran agama lainnya. Memeluk agama islam adalah persetujuan bahwa lu akan menyanggupi quest-quest tersebut. Hadiahnya? surga wkwkwkwk. Kalo gamifikasi begini jadi lucu dah, tapi gue juga ga salah kan T__T. Main quest lu adalah salat, sisanya adalah pengisi waktu salat. Gua yakin deh, kalau lu udah punya pemahaman gini menurut gua gak ada alasan untuk gak salat. 

    Ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan gua.. kenapa kalau kita mengejar akhirat, maka dunia juga akan mengikuti? di dalam otak gua ada sih jawaban, tapi gua masih mau baca-baca buku dulu sebelum lempar argumen wkwk. Sampai detik ini gua masih suka belajar, tapi bedanya gua coba shifting hal tersebut ke arah ilmu-ilmu yang bermanfaat buat gue sehari-hari. Selain ilmu agama, gua juga lagi seneng belajar human behaviour. Manusia itu unik banget tau, selalu ada hal baru yang bisa lu pelajari dari manusia dan interaksinya. Gua pun jadi banyak belajar tentang sosialisasi yang benar karena gua mulai tau ilmunya, gua praktekin, gua cari polanya. Owww, ternyata manjur loh, ternyata hal yang gua pusingin tuh sebenernya ini, kabut gua perlahan hilang karena mulai kelihatan how to nya. Kayanya orang lain gak gitu deh wil? ya gapapa. Gua pun aslinya mudah bergaul kok wkwkw tukang asbun ini temennya banyak, tapi rasanya beda kalo lu tau ilmunya. Cobain deh.

    Untuk kedepannya gua lagi coba bikin postingan yang lebih variatif. Bisa tentang programming, atau jalan-jalan gua, bisa juga review buku yang gua baca, gua belajar masak, apa aja. Gua rasa gua sudah cukup mengkhatamkan tulisan yang berbau self-improvement haha, menamatkan self-development di usia 25 tahun is wild. Meski gua masih nulis khususnya lingkup keislaman, tapi hati gua udah mantap banget untuk eksplor banyak genre. Waktu pertama kali nulis juga hasil punya gua jelek banget kok, tapi makin ke sini tulisan gua makin enak dibaca. Tau dari mana? biasanya gua minta feedback ke orang-orang di sekitar gua. Apa yang lu rasain dan apa yang lu tangkep dari tulisan gua itu penting banget untuk revisi di tulisan berikutnya. Kebetulan gua juga punya beberapa temen yang memang sedang merintis bikin konten. Mumpung ada temennya, target gua jadi keliatan lebih tergapai dan ngejalaninnya juga seru. Untuk tulisan-tulisan di blog sebelah juga udah mulai gua kirim-kirim setelah gua sempurnakan. Diversifikasi Portofolio. 

Gua gak tau golnya bakal di mana, atau bahkan semuanya, atau bisa gak sama sekali. Tapi semua skill dan pengalaman itu penting. Ya, inilah bukti proses memantaskan diri versi gua.

    Gua akan tetap belajar, berusaha, dan merencanakan masa depan gua; but i'll make it underground.

 

Currently 2:02 and i'm soooooo sleepy.

Have a nice dream, greatest alien.


    Lebaran kemarin bisa dibilang adalah momen lebaran paling tenang versi gua. Setelah beberapa tahun ini rasanya darderdor, tahun ini tuh vibesnya.... adem. Apa mungkin karena gua gak pulang kampung kali ya? HAHA gak tau juga. Karena bulan kemarin sudah ke kampung jadinya lebaran ini gak pulang kampung. Penyebab utama tentu karena skripsi gue kelar, tapi alasan utamanya karena gua merasa belakangan ini keluarga besar gua jadi supportive banget? instead ditanyain kapan nikah atau kapan kerja, mereka semua ngedoain gua yang baik-baik. Mungkin karena semua orang tau tahun 2024 bentukan gua kaya apa, jadinya pas mereka semua ngeliat gua di tahun 2026 udah balik jadi ceria, keren, dan ambis lagi kayanya saudara-saudara gua juga ikut seneng. Istilahnya, "nah, ini wilda yang kita semua kenal."

    Sebelum gua balik ke rumah, mba gua bilang, "Nok, kamu mulai cari cowo yang berkualitas ya." Pas denger mba ngomong gitu, kepala gua mendadak pusing. Udah saatnya banget nih gua cari cowo? aduh. Gua spontan mengaduh karena tau ini adalah hal pelik yang dulunya sangat gua hindari. Di postingan Heart to Heart sebenarnya gua udah coba menjelaskan tipikal pasangan seperti apa yang gua mau dan butuhkan, tapi tetep aja gua pusing.

    Pusing di sini bukan karena gua gak tau apa yang gua mau, tapi karena emang ribet. Nyari jodoh nih emang butuh teliti banget. Gua aja waktu milih mau sekolah dan kuliah di mana mikirnya setengah mati, apalagi milih pasangan. Kenapa sih harus seribet itu? ya karena ini perihal orang yang bakal nemenin perjalanan hidup lu kedepannya. Bukan cuma sampe meninggal, tapi sampai surga malah. Kalau tempat kuliah dan jurusan kuliah aja bisa mempengaruhi nasib karir lu, apalagi pasangan?

    Gua juga baru-baru ini kok sadarnya tentang pertimbangan yang harus gua pikirkan ketika memilih pasangan. Ya maklum aja, selama ini gua kan fokusnya belajar aja, apalagi sekarang gua juga masih fokus nyari kerja. Tapi gua ga bisa menunda dan menghindar terus dalam membahas perkara ini. 

   Gua itu selalu percaya bahwa selama kita masih hidup kesempatan tuh akan selalu ada. Kesempatan di sini maksudnya kesempatan untuk selalu bertaubat, berubah jadi baik, memperbaiki hidup, dan sebagainya. Banyak kan dalil yang menyebutkan kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana taubatnya seorang pendosa berujung husnul khatimah? dan sebaliknya juga ada, kisah-kisah peringatan tentang bagaimana ahli ibadah malah berakhir suul khatimah. Kehidupan itu sejatinya gak ada yang tau akhirnya gimana, kita gak boleh ngejudge orang, jangan merasa si paling baik.

    Sebagai orang yang seumur hidupnya ga aneh-aneh, alias lurus-lurus aja, gua nih takut banget. Ada satu pertanyaan horror, dilontarkan oleh orang-orang yang pernah deketin gua:

Kamu mau nerima masa lalu aku gak?

    Wah kacau, pertanyaan ini real jebakan batman. Gua nanya balik dong, emang lu pernah ngapain? emang masa lalunya kaya gimana?. Baru ditanya begitu aja kepala gua langsung puyeng. Manusia itu emang gak ada yang sempurna, tapi jauh di dalam lubuk hati gua, gua pengennya orang yang sama-sama baik (Ya Allah please banget ini mah). Gua ngerasa gak fair aja kalau gua udah ngejaga diri tapi ternyata pasangan gua enggak. Pas tau orang tersebut pernah pacaran sama ABCD, pernah begini begitu aja gua pusing. Gua ngerti, gua ngerti banget kalau manusia itu tempatnya salah, tempatnya khilaf, dan sebagainya. Tapi di satu sisi gua juga gak bisa membohongi diri gua sendiri, gua gak tau bisa toleransi hal tersebut atau enggak. Mungkin hari ini gua ikhlas, tapi ga tau kedepannya gimana. 

     Gua sampe pernah mikir, "Ya Allah gua takut banget kalo terlalu picky malah ga dapet-dapet jodoh..." Tapi gimana ya, pada kenyataannya, setelah ngalamin sendiri pengalamannya gimana, ternyata gua emang gak bisa nurunin standar gitu T__T. Ramadan kemarin itu puncaknya gua hopeless saking bingungnya. Ya Allah ini dapetnya gimana sih? masa iya gua harus rela dipegang-pegang orang buat dapet jodoh? masa iya sih gua harus rela digituin? gua gak mau. Gua bukannya sok suci, tapi emang salah ya kalau pengen jodoh yang baik? salah ya kalau gua gak bisa toleransi hal-hal buruk tersebut? gua gak tau harus gimana.

    Waktu mba gua ngomong begitu, air muka gua langsung kecut. Gak, gua gak sebel sama mba gua, tapi gua kepikiran aja bagaimana ribetnya hal ini. Ya Allah gua paham banget kalau manusia tuh gak ada yang sempurna, tapi masa untuk bare minimum aja gua gak bisa dapetin? Gua juga mau kali punya jodoh yang baik T__T. 

    Gini loh, orang aja tuh berlomba-lomba belajar buat masuk kampus terbaik. Kenapa sih orang belajar sampe segitunya? ya karena mereka tau benefit apa saja yang menanti kalau berhasil masuk sana. Mereka tau akan ada banyak kemudahan dan keuntungan yang menyertai mereka nantinya. Gak cuma dari nama kampus, tapi seluruh ekosistemnya. Mulai dari kurikulum, pengajar, teman, resource belajar, sampai jenjang karir kedepannya. Campus hiring itu banyak terjadi, dan jejaring alumni yang solid itu beneran ada. Ini gua baru ngomongin soal pemilihan kampus, belum pilihan kerja. Banyak orang yang stress karena salah milih tempat kerja. Ntah tempat kerjanya yang emang dzolim, atau ternyata coworkernya jahat-jahat. Kalau untuk masuk universitas atau perusahaan saja ada kualifikasi teknis yang ketat, kenapa untuk pendamping hidup yang akan berbagi "resource" lahir batin selama puluhan tahun malah harus asal-asalan? Ngerti kan sekarang kenapa lu semua harus milih jodoh yang baik?.

    Gua termasuk orang yang dulu pernah menyepelekan soal jodoh. Selama dia baik, yaudah aja gitu loh. Hidup itu roda, berputar terus. Ada saatnya kita di atas dan ada saatnya kita di bawah. Tapi konsepnya ga bisa sesederhana itu. Kalau lu bisa punya jodoh yang bisa jadi katalis dalam hidup lu kenapa enggak? kalau bisa bersekolah di tempat terbaik aja ternyata segokil itu apalagi kalau lu bisa dapet jodoh yang ga kalah gokilnya? Ngerti kan sekarang. Dulu pas mba gua ngomong perihal jodoh, gua tuh hobinya rebel. Ah, tapi di depan mata gua baik-baik aja kok. Gua bisa handle ini kok. Tapi ternyata ancur juga kan? Ya, itu semua karena gua sok mampu aja. 

    Tapi lucunya, dari sini gua malah menyadari betapa Ampunan Allah itu luas banget. Sudah seberdosa itu tapi Allah tetap mau nerima, Allah tetap mau mengampuni. Itulah hebatnya Allah. Gua? jujur aja, gua belum tentu. Maaf, tapi gua cuma makhluk. Apalagi sebagai manusia kita semua sama-sama diuji, gua gak mau coba-coba apalagi gambling dalam memilih pasangan. Ga diuji pasangan aja hidup udah banyak masalah, masa iya gua mau nambah ujian gara-gara kelakuan gua sendiri, oh no. Mengampuni itu urusan dan ranahnya Allah, tapi persoalan siapa orang yang bisa masuk ke kehidupan inti gua itu beda cerita lagi. Itulah gunanya kriteria dan batasan kids. Gua sadar banget kapasitas gua sebagai manusia sampai mana, dan ternyata gak kuat. Gua gak mau coba-coba, udah cukup gua coba-coba shade lipstick aja, jangan pas milih pasangan gua malah coba-coba. Gak worth it (kapan-kapan gua mau coba bahas cara nentuin arah yg dimau, tapi nanti).

    Semakin dewasa gua makin melihat betapa pentingnya memilih pasangan ini. Banyak orang yang hidupnya jadi hancur karena salah milih orang, tapi banyak juga orang yang hidupnya makin cemerlang karena milih orang yang bener. Sebenernya gimana sih cara milih orang yang bener? wajar dong gua penasaran. 

    Dan tau gak... perbedaan paling awal dan mendasar itu sebenernya bukan dari pasangannya, tapi dari diri mereka sendiri. Ya, hal ini gua singgung di postingan sebelumnya tapi di postingan yang ini gua coba jabarin lebih jelas lagi.

    Ketika lu punya batasan, lu ga cuma memfilter orang, tapi juga melindungi hidup lu. Contoh sederhananya aja nih, gua kan ga pernah pacaran ya, otomatis hidup gua ya... lurus-lurus aja. Nah, coba bayangin kalau gua gak membatasi diri gua dan memutuskan untuk nyoba pacaran sama orang. Bisa aja dong gua pacaran karena udah umur 25 kok gak pernah pacaran sih? gak laku ya? bisa aja kalo gua mau FOMO dan nyobain pacaran, minimal biar tau lah gimana sih rasanya video call tiap hari, nyari validasi biar dianggap laku.

    Sehari dua hari oke nih, tapi lama-lama mulai keliatan jelek dan buruknya. Ternyata cowok lu nih problematik. Ga usah yang jelek-jelek banget deh, misalkan cowo lu ternyata pemalas. Nanti mulai nih dia ngajakin, eh begini aja yu. Ah ngapain sih nabung.. eh kamu mau nyobain ini ga? gimana kalau kita? nah, mulai kan. Itu namanya nyari-nyari masalah. Firman Allah itu emang ga pernah meleset. Allah ga cuma ngelarang pacaran, tapi bahkan ngelarang mendekati hal tersebut.

    Eh wil, tapi banyak juga kok yang begitu tapi hidupnya lancar-lancar aja? karirnya gacor? ya lu cobain aja kata gua mah. Do it with your own risk. Rasionya emang berapa banding berapa sih? ujian hidup itu kan bentuknya banyak... Banyak juga kok yang sampe masuk rumah sakit jiwa gara-gara salah pilih orang. Banyak juga kok yang celaka karena pengambilan keputusan hidup yang jelek. 

    Intinya ya, inti dari postingan ini tuh sebenernya cuma satu: gua gak mau coba-coba hal yang ga pasti. Ustadz-ustadzah juga udah banyak yang ngasih tau hal ini, meski kita gak tau kehidupan orang bakal kaya apa, tapi kalau ada yang baik ya pilihlah yang terbaik. Waktu pertama kali denger saran kaya gitu, jujur aja gua agak skeptis, "Lah emg kenapa sih? Allah aja Maha Pengampun, kok kita sebagai manusia malah kaya hobi ngejudge." Emang ya, bocah satu ini beneran batu banget, kalo belum ngalamin sendiri ngototnya ampun deh. Tapi bukan guys, ternyata ini tuh bukan perkara ngejudge orang. Saran-saran tersebut sebenarnya lahir dari pengalaman sebab-akibat. Pilihan-pilihan baik itu sejatinya akan menghasilkan hal baik juga, manfaatnya ya diri lu juga yang ngerasain. Beda kan rasanya kerja di tempat yang bagus sama yang enggak? gitu aja.

    Tentang pantas atau tidak pantasnya seseorang, biarlah itu jadi urusan dia dengan Tuhan-Nya. Gua akan tetap menjadi manusia yang supportif dan menghargai sesama. Gua akan selalu mendukung orang yang ingin berproses menjadi versi dirinya yang lebih baik. Semua orang itu sama kok di hadapan Allah, yang membedakan itu ya pada akhirnya adalah ketakwaan lu dan amal ibadah lu sebagai manusia. Tapi sebagai manusia biasa yang kemampuannya sangat terbatas, gua akan tetap berpegang teguh untuk memilih jodoh yang terbaik. Judging dan filtering itu beda. Ada banyak hal yang mau gua lindungi: hidup gua, keluarga gua, dan masa depan gua nantinya. Kalau di korporat, sebenernya ini bentuk risk management. Gua sudah berinvestasi dan mengusahakan yang terbaik selama ini untuk diri gua, jadi ya wajar aja kalau gua menginginkan kualitas yang sama. Hidup manusia itu serba terbatas. Kita gak bisa nyobain semua kesempatan hidup karena waktunya juga terbatas. Gak, gua ga pernah ngerasa lebih suci, lebih berilmu, dan sebagainya. Gua cuma manusia biasa yang menginginkan hal-hal terbaik dan mengusahakan untuk selalu memilih kebaikan dalam hidup. Terlalu banyak hal yang dikorbankan untuk gambling. Hidup di dunia cuma sekali, gua cuma berusaha menjadi bijak. 

Memilih pasangan yang juga menjaga diri, punya visi yang sama, dan memiliki hidup serta adab yang baik adalah cara gua memastikan lingkungan hidup gua tetap kondusif untuk bertumbuh. Untuk kedepannya, selanjutnya sampai surga.

Memilih yang terbaik bukan berarti merendahkan yang lain. Itu adalah cara gua menghargai proses panjang yang sudah gua lalui untuk sampai di titik ini.

   


    Tepat 7 tahun yang lalu gua memutuskan untuk ngambis, dan sekarang gua balik ngambis lagi untuk purpose dan goal yang berbeda. Kalau dulu targetnya adalah SBMPTN dan alhamdulillah lolos (1 quest completed), kalau yang sekarang adalah target kerja!!

    Ntah udah berapa kali gua bilang kalau gua bosen dan emang sebosen itu. Kayanya gua kalau udah jadi ibu-ibu atau bahkan nenek-nenek bakal tetep banyak kegiatan deh? energi gua banyak banget asli. 

    Jadi gua itu sempet ikut semacam review CV gitu kan, dan katanya punya gua tuh udah bagus, tapi kurang up-to-date aja. Dari situ akhirnya gua berkesimpulan bahwa gua harus upgrade skill supaya tetap relevan dan tentunya hal tersebut bisa dicapai dengan latihan ngoding sebanyak-banyaknya. Sebenernya kalau ngoding lu ngapain aja si wil? Banyak. Kebetulan gua memang lagi ada 2 projek, yang mana satunya adalah skripsi gua yang pengen gua publish jadi paper. Selain itu, gua juga lagi siapin skill untuk coding test yang sangat amat melelahkan tersebut. Udah selesai? belum. Gua juga lagi coba filter personal project apa aja yang mau gua bikin, dan ada rencana balik ikut hackathon biar skill gua makin LEGIT dan itung-itung showcase aplikasi juga hehe.  

Ever since i was a kid, i been legit (azek)

    Kepala gua rasanya puyeng mulu tiap hari, but i'm enjoying it. Lebih pusing kalo gua rebahan doang. Yang ini pusing, tapi seru. Ngerti ga? pusing tapi seru, seru tapi pusing. Kadang kalo udah lagi fokus rasanya kayak orang aneh alias asik sendiri, ya begitulah pokoknya. Gua akan terus ngoding sampai gap skill itu terisi. Gua gak tau sampai kapan, tapi yang jelas sampai target gua terpenuhi lah, enak aje lu wil santai-santai.

    Gua juga udah nawaitu banget TOEFL tahun ini tapi jujur aja gua belum kepegang buat ngerjain predictionnya. Setiap hari gua tuh belajar bahasa inggris, tapi belum pernah yang intensif gitu loh untuk persiapan TOEFL. Untuk saat ini gua harus pilih salah satu dulu: ngoding atau toefl? dan gua pilih ngoding dulu aja yang lebih urgent. Mungkin, mungkin ya.. nanti disela-sela itu gua bakal sempetin tes TOEFL. Target gua itu scorenya paling tidak 600, tapi dengan ritme belajar gua yang sekarang kayanya bakal mentok di 550 (itu juga udah bagus gk sih... stop perfeksionis OH MY GOD).

    Sampai sekarang gua masih ikut kelas tahfidz, dan alhamdulillah udah jalan 3 juz. Minggu depan gua bakal ujian juz 28, dan minggu depannya lagi bakal ujian 3 juz. Gua harus nyuri-nyuri waktu banget buat muroja'ah, karena menghafal ga bisa cepet-cepet, ga bisa mendadak gitu aja. Muroja'ah 3 juz dalam sehari? enggak mungkin.. kecepatan menghafal gua udah gak segokil dulu. Iya, sadar diri aja gua mah (saingan gua bukan orang lain, tapi diri gua sendiri di masa lalu lol). Sebenernya ritme gua muroja'ah ini udah cepet banget. 3 juz 1 bulan kalau di rumah tahfidz mungkin b aja, tapi kalau sambil ngerjain target yang lain ya pusing juga gue. Abis juz 28, bakal lanjut lagi juz 27 dan seterusnya. Tapi kayanya kalau udah sampe juz 20 gua bakal stop dan pindah ke depan karena jujur aje gua sama sekali belum pernah menyentuh juz 19. Dari pada gua ngafal baru mending gua kuatin yang ada dulu aja ga sih T___T itu aja gua udah ngos-ngosan banget huhu ya Allah MAAFIN GUE.

    Ada satu hal yang udah gua rencanain juga dari tahun kemarin: ngurus bookstagram. Gua kangen banget ketemu banyak temen dan sharing tentang buku kesukaan gua dan buku-buku yang lagi dibaca. Gua juga ngerasa skill menulis gua perlu ditingkatkan. Dulu gua tuh suka ikut kelas-kelas gitu, dan kayanya gua pengen ikut kelas nulis lagi. Jangan salah, nulis itu banyak banget jenisnya. Ada nulis berita, fiksi, nonfiksi, artikel, sampai nulis poetry. Semua ada ilmunya. Gua pengen cari tau arah dan gaya tulisan gua itu cocok ke mana, tapi ini sih rencana long-term aja. Nulis itu harus dinikmati (dan gua menikmatinya). Nanti lama-lama juga nemu, yang penting gua aktif dan rutin aja.

    Gua sadar ketertinggalan gua tuh banyak banget, tapi di satu sisi gua juga gak mau grasa-grusu kaya dulu. Santai aja wil, serius tapi santai, santai tapi serius gitu loh. Kalau gabut ya gua nonton anime, kalau pusing ya besoknya pergi jalan-jalan gitu kan WKWKWKWKWKW (orang edan). Otak gua harus tetap dijaga agar tetap gacor dan tidak burn out huftttt. Marathon aja... sprint mulu mah capek (saya sudah merasakan). Hidup itu sejatinya serangkaian sprint kecil yang membentuk maraton panjang, aman aja. Yang penting targetnya kan udah jelas, dan gua juga udah berusaha sebaik mungkin setiap harinya. 0,1% lebih baik setiap harinya nanti lama-lama juga kekumpul. Time will pass anyway, i'll choose it as cool as possible.


    

    Beberapa hari sebelum lebaran itu gua sibuk banget. Mulai dari bersihin kamar, bikin parcel, sampe masak buat lebaran. Menurut gua ini adalah kesibukan yang mungkin cuma perempuan aja yang paham betapa ribetnya hal ini. Dulu gua suka heran kenapa ibu gua kalau udah mendekati lebaran gampang marah, tapi sekarang kayanya gua paham hahahahah. Asli deh, ribet banget. Mungkin orang bakal bilang, "ya udah tinggal dibikin simple aja kan?," jawabannya: gak bisa.

    Lu pernah ga, ngeliat orang yang ngasal? mulai dari penampilan sampai hidupnya terasa ngasal dan suka-suka aja. Nah, begitulah jadinya kalau tidak ada peran ibu-ibu yang ngatur rumah tangga. Jadi ART mba gua itu mulai tanggal 14 maret satu-persatu pulang kampung, sehingga tugas-tugas rumah mulai dibagiin antara gua, mba gua, dan 1 ART yang ngisi selama lebaran (sekitar 10 harian). Berat cuy, berat banget. Mba gua yang kadang gak sabaran aja berubah jadi bijak, dan gua sendiri sih dibawa santai aja yagesyaaaa wkwkw. Kata mba gua, "ternyata kita gak sehebat itu ya nok."

    Gua jadi kepikiran, di dunia ini kerjaan ART tuh suka dianggep remeh apalagi rendah sama orang-orang. Banyak orang yang memperlakukan ART seenaknya karena mereka ngerasa ngegaji ART dan bisa berlaku sesukanya. Gua denger cerita mba gua tentang gimana orang-orang memperlakukan ART tuh kadang ga manusiawi banget. Lagi puasa disuruh nukang angkat beban berat sana sini, sehari-hari ga dikasih makan, ngasih gaji telat berbulan-bulan, gak abis pikir gua pokoknya. Kata gua lu cobain aja dah sendiri, sebulan aja. Bisa ga serapi mereka? bisa ga telaten kaya mereka? bisa ga handle semuanya mulai dari bersih-bersih, ngurus anak, sampai masak? belum tentu. Jujur aja ya, gua aja sampe detik ini ngupas mangga masih remed. Gua, yg katanya pinter itu ternyata ga bisa ngupas mangga. 

    Di hidup ini ternyata banyak orang yang ga bisa memanusiakan manusia, dan gua gak mau jadi orang yang kaya gitu. Mba gua aja yang udah sehebat itu ternyata masih suka dipandang sebelah mata hanya karena dia gak kerja. Mba selalu bilang ke gua, "Kamu harus sukses ya nok, kerja yang bener, bangun bisnis yang besar," karena mungkin mba udah ngerasain sendiri. Padahal padahal, mba gua juga bisa ada di titik ini karena basic ilmunya kuat. Pinter ngeliat peluang, ulet, jago negosiasi, pinter ngatur uang, dan pantang menyerah. Darah pebisnisnya tuh kuat banget, dan itu adalah sesuatu yang jarang orang punya. Mulai dari bisnis sembako, konstruksi, perikanan (literally beli kapal ikan), cafe, sampe olshop dicobain semua. Lu coba jejerin 10 orang dan kasih uang 100 juta juga belum tentu ada yang bisa balik modal. Memang benar kata orang uang itu akan berkah dan berlipat ganda di tangan istri yang tepat, mba gua contohnya. Sebagai orang yang ikut ngurus parcel buat dibagi-bagiin gua sampe mikir, "Ya Allah, kalau gua punya banyak duit, gua mau jadi kaya gini." 77 parcel dibagiin; kalau orang medit bin kikir sih pasti ga akan kepikiran, gak akan mau juga. 

    Saat ramadan berakhir gua bertekad gak mau menjadi orang yang sama seperti gua sebelum ramadan. Orang mungkin bilang kalau gua udah baik, tapi menurut gua itu ga cukup. Kenyataannya hanya menjadi baik saja justru bikin orang seenaknya sama lu. Baik itu harus, tapi jadi keren juga harus. Selama ini gua banyak ketemu orang dan memposisikan diri gua sebagai pengamat. Kok bisa A sukses banget? kok bisa B malah makin aneh? kok bisa C terjebak di hal yang sama? gua pelajarin. 

    Belajar dari kesalahan orang lain itu menurut gua perlu, karena harga dari sebuah kesalahan itu mahal banget. Lu ga cuma kehilangan duit, tapi bisa juga kehilangan waktu bahkan kesempatan yang mungkin cuma datang sekali seumur hidup. Sebagai orang yang tadinya serba bingung dan takut, ada satu hal yang menjadi fokus gua: kok bisa mereka seyakin dan semantap itu?. Gua ini kadang overanalyze dan kebanyakan mikir sampai akhirnya kadang ga ngelakuin apa-apa. Gua juga suka terlalu baik sampai akhirnya dimanfaatin orang. Gua sadar akan semua itu makanya gua mau memperbaikinya. Hari demi hari dan gua mulai nemuin jawabannya (i think, insyaAllah).

    Jadi sebenarnya kenapa gua bingung? gampang aja... karena ternyata gua gak benar-benar tau apa yang gua mau dan apa yang gua butuhkan. Contoh nih ya, gua itu kan selalu gagal PDKT. Setelah gua analisis, selain cowonya yang ga jelas, gua nya juga gak tegas. 

    Begini, katakanlah gua punya kriteria bahwa gua prefer cowo yang gak ngerokok. Tapi kenyataannya ketika ada cowok perokok yang mendekat gua malah iya-iya aja. Gua sendiri tahu dan sadar bahwa gua itu ga kuat sama asap rokok, tapi pas dideketin gua malah welcome. Hal tersebut kan adalah bentuk ketidaktegasan ya, definisi jilat ludah sendiri. Lebih lucunya lagi, ketika gua mencoba "mengubah" cowo tersebut dan ga bisa, malah gua yang sakit hati. Ngerti ga? istilahnya kaya nyari penyakit sendiri. Memang, gua ga akan pernah nemu manusia yang beneran 100/100 sesuai banget sama kriteria dan ekspetasi. Tapi setidaknya hal yang lu sendiri ga bisa toleransi, atau lu ga sanggup untuk menanggungnya, jangan coba-coba.

    Setelah tahu polanya, gua sekarang coba bikin kriteria dan batas-batas yang bisa gua toleransi. Caranya gampang kok. Pertama-tama (dalam hal pasangan ya), lu bisa membayangkan pasangan seperti apa yang lu mau dan lu butuhkan. Inget ya, bukan cuma persoalan mau, tapi lu butuh. Seumur hidup itu lama. Kemudian lu coba breakdown diri lu sendiri, SWOT analysis. Lu punya ekspetasi ini itu terhadap pasangan tuh apakah realistis atau lu juga yang kebanyakan mau. Jujur aja self-awarness gua tuh tinggi banget makanya meski perempuan tapi gua juga mau mandiri. Gua paling gak mau dituduh-tuduh morotin anak orang atau numpang hidup sama cowok (meski sebenarnya kewajiban cowok juga sebagai provider......), gua juga mau berdaya, gua juga mau jadi support system terbesar untuk orang-orang yang gua sayang.

    Lu tau paragon? foundernya kan perempuan, ibu nurhayati subakat. Berawal dari door-to-door sampai akhirnya bikin perusahaan dan terus berkembang sampai skala sebesar itu. I've been wondering, kok bisa ya... kok bisa ya... caranya gimana... gue juga mau... gua mau banget bisa jadi kaya gitu. Gua juga mau jadi perempuan sukses yang berbakti sama suami, loyal ke keluarga, dan jadi ibu yang keren dan inspiring buat semua anak-anaknya. Ternyata ada loh, ternyata bisa loh. Selama ini gua tuh takut banget kalau gua nikah gua gak bisa ngapa-ngapain, ga dibolehin ini itu, gua takut banget. Setelah gua tonton video-videonya, gua melihat bahwa suaminya ibu nurhayati ini juga ga kalah hebat. Karirnya bagus, dan suaminya mau full support istrinya, baik secara materi maupun emotional support. Beliau ga takut melihat perkembangan istrinya, bahkan ikutan bangga dan seneng ngeliat istrinya sukses besar. Di mata gua keduanya hebat. Istrinya adalah seorang pekerja keras dan suaminya adalah seorang laki-laki dengan emotional intelligence yang bagus, contoh laki-laki bermental secure, hal yang gua butuhkan dari seorang pria dan gua anggap layak jadi pendamping gua. Iya, harus kaya gitu.

    Itu juga kenapa sekarang di blog gua yang ini gua pasang gambar segede gambreng jadi header, vision board. Gua membayangkan hidup yang gua mau, dan setelah itu baru bisa gua breakdown step by stepnya mau kaya gimana, gua harus ngapain aja, apa aja yang mau gua usahakan. Gua menyadari bahwa gua ga akan sampai ke kehidupan yang gua mau kalau gua sendiri ga bisa ngasih batasan, ga tau apa yang gua pengen. Gua ga akan nemu pasangan yang cocok kalau gua sendiri ga tau apa yang gua mau dan apa yang sebenarnya gua butuhkan dalam sebuah relationship. Iya, gua tuh ke psikolog untuk hal-hal kaya gini, karena gua beneran ga ngerti harus mulai dari mana. Orang bisa bilang abcd tapi ga ada yang bener-bener ngasih tau gua HOW TOnya gituloh. Sebenarnya psikolog juga ga ngasih instruksi gamblang sih, tapi setidaknya lewat perantara psikolog pikiran gua tuh diarahkan untuk mulai berpikir lebih runut dan jernih. Merapikan flow pikiran gua sendiri adalah langkah paling cerdas yang gua ambil di tahun 2025. Gua lelah menjadi orang yang serba bingung, gua lelah menjadi orang yang terus-terusan takut. Gua ingin menjadi orang yang yakin dan bisa menjawab dengan mantap, "Iya, gua mau ini. Iya, gua sedang memperjuangkan hal ini. Dan ya, ini adalah pilihan yang secara sadar gua ambil." Itu baru namanya dewasa.

    Setelah breakdown semua yang gua pengenin, ekspetasi, dan of course ngaca ke diri sendiri.... gua ngerasa selama ini kaya orang bodoh WKWKWKWK. Huh, kayak.. kok bisa ya kemarin gua main terima-terima aja? kok mauan aja ya gua? kok keputusan hidup gua banyak yang konyol? kok cara gua ngejalanin hidup ga jelas banget ya ternyata? tapi yaudahlah, namanya juga hidup. 

    Tapi gua rasa (setidaknya buat gua), justru di situ letak indah dan serunya hidup, figuring things. Hal yang tadinya terasa tidak tercapai, terlalu jauh, atau bahkan ga ada bayangannya sama sekali pelan-pelan mulai kelihatan, lu mulai tahu apa dan bagaimana caranya. Persis kaya ngupas kulit jeruk, satu-satu, perlahan, tapi lama-lama kekupas semua. Gua harus banyak-banyak bersyukur, karena ga semua orang bisa kaya gini, ga semua orang bisa ada di tahap ini. Rasanya kaya lagi namatin 1 chapter sebelum pindah ke chapter selanjutnya dalam satu buku yang berjudul, "kehidupan seorang gua."

    Momen lebaran ini bakal jadi milestone baru dalam hidup gua. Selain gua udah lulus, gua juga udah banyak banget menyerap nilai-nilai baru ke dalam hidup gua. Setelah gua selama ini belajar, emang udah saat yang tepat untuk gua implementasiin semuanya. Gua kadang penasaran juga apa jadinya kalau gua mulai ngeluarin isi otak gua selama ini ya... gatau... tapi gua ngerasa selama ini ga pernah bener-bener manfaatin potensi dan kemampuan gua dengan benar. I wanna do it properly... bukan hanya proper dari segi ilmu, tapi secara mental juga harus benar. Gua penasaran aja kira-kira gua bisa achieve sampai mana ya dengan mentalitas gua yang sekarang udah kebentuk? 

    Pikiran gua sederhana aja, bahkan jika di saat gua belum mulai, belum punya apa-apa, belum jadi siapa-siapa dan laki-laki yang deketin gua udah minder, gimana nantinya? bukannya punya pasangan yang keren itu membanggakan ya? ketika ketemu orang-orang istilahnya lu bisa bilang kalau pasangan lu sekeren itu, dan berarti lu juga keren. I need a man who will watch me doing my things, smile, and say, "That's my girl." Apa pun itu, semoga semuanya adalah hal yang baik. Yang keren-keren aja.

Maybe I'm too (Maybe I'm too busy)

Busy bein' yours (Bein' yours)

To fall for somebody new

Now I've thought it through

Crawlin' back to you

Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

  • Petugas Upacara
  • Peralatan Dapur (Cute Version)
  • Makna Hompimpa

Categories

  • Activities
  • Freebies
  • Game (dulu)
  • Muhasabah
  • Pemberitahuan
  • Pengetahuan
  • Review
  • Tutorial

About Me


Your Greatest Alien, as always.

Popular Posts

  • Petugas Upacara
  • Peralatan Dapur (Cute Version)
  • Makna Hompimpa

Copyright © so-called night thinker. Designed & Developed by OddThemes