Hari ini gua baru beres mengisi seluruh dokumen keperluan untuk sidang, termasuk SKPI. Singkatnya, SKPI itu isinya list prestasi yang pernah gua raih selama kuliah. Gua sendiri kurang suka menyimpan sertifikat sehingga hari ini gua cukup kelimpungan mencari-cari berbagai sertifikat yang pernah gua dapatkan. Ceroboh memang, tapi ada sejarahnya.
Waktu SMA, gua juga pernah di posisi muak sama semuanya. Saat itu, gua baru beres ikut olimpiade bahasa inggris. Meski gua gak lolos sampai final, tapi gua tetap dapat sertifikatnya. Mungkin karena gua udah kelewat lelah, akhirnya sertifikat itu gua robek karena merasa gak ada artinya kalau gak menang. Pernah juga sehabis dapat sertifikat juara kelas, sertifikatnya gua basahin pakai air minum sebelum akhirnya gua buang. Kalau gua bisa kembali ke masa lalu mungkin gua tidak akan mengubah apa pun, tapi gua akan memeluk diri gua di masa lalu. Postingan di blog selama SMA itu ditulis setelah kejadian tersebut. Di titik itu gua akhirnya menyadari tentang betapa indahnya berproses sehingga gua memutuskan untuk menceritakan seluruh kejadiannya. Dan buktinya? yap, gua bangga banget sama diri gua di masa lalu, sekarang, mau pun di masa yang akan mendatang.
Cukup sulit untuk mencari dokumen yang sudah menahun. Untungnya karena gua ada di rumah, semuanya bisa selesai dalam 1 hari. Ketika membongkar lemari, gua malah menemukan surat-surat "lucu" yang mewarnai hidup gua.
Setelah melewati semester 5, gua memutuskan untuk aktif dan ikut event sana-sini. Hobi gua itu pitch-deck; bentuk tim, bikin konsep, eksekusi. Selama kuliah gua beberapa kali ikut seleksi inkubasi start-up dan perlombaan lainnya. Ntah kenapa gua masih menyimpan rapi kertas itu dan jadinya keinget sendiri haha. Ceritanya, gua diajak teman gua yang anak LIPIA untuk bikin halaqoh tahfidz. Karena gua merasa tidak cukup berilmu untuk mengajar akhirnya di tawaran pertama gua tolak. Tapi temen gua ga nyerah, dia berusaha ngeyakinin gua bahwa gua pantas untuk posisi tersebut. Teman gua ini alhamdulillah memang sudah hafidzoh dan dia juga menyatakan kesiapannya untuk mengajar. Tugas gua adalah jadi "operator," yang menghandle media sosial dan administrasi lainnya (katanya karena gw anak IT HAHA). Kita bingung banget perihal pendanaan, akhirnya gua coba adopsi startup approach. Meski gagal, tapi pada akhirnya kita berhasil rilis gelombang pertama pendaftaran. Semua berjalan lancar meski pada akhirnya kita cuma sanggup ngajar 1 batch aja. Mungkin karena berkesan, akhirnya kertas itu gua simpan di lemari.
Selanjutnya adalah kertas yang gua tulis setelah presentasi di depan kelas. Saat itu gua baru aja menang hackathon dan minggu selanjutnya gua coba presentasi improved-version dari project yang gua bikin. Kenapa kertasnya jelek? karena sebenarnya gua tulis itu di belakang amplop........ gua lupa banget bawa buku jadinya gua tulis aja di media apa pun yang bisa gua pake untuk nulis. Momentum itu bertepatan juga dengan ulang tahun gua yang ke-22 sehingga rasanya campur aduk banget. Gua masih ingat 1 kelas ikut kasih gua selamat karena jadi juara dan tepuk tangan. Siapa yang gak campur aduk perasaannya digituin? overwhelmed parah. Gua bersyukur sama Allah karena dikasih kesempatan untuk terus mencoba dan berusaha, dan itu adalah kado yang keren sebagai awalan yang baik menyambut umur yang ke-22 tahun.
Kertas terakhir datang ketika gua udah masuk masa ngerjain skripsi. Waktu itu saat gathering komunitas gua ketemu dan kenalan sama kakak cantik yang baik hati. Dia itu penulis, sampai sekarang masih aktif menulis, melalang buana sana sini, dan bahkan sejauh ini udah nerbitin tiga buku. Waktu gua ke gramedia gua sempat lihat buku karangan kakak ini dan gua kayak, "wow, keren banget ya." Kadang masih ga percaya kalau kakak itu pernah nulis surat buat gua, orangnya hangat dan ramah sekali. Meski waktu itu gua lagi kalut-kalutnya tapi dia gak ambil pusing dan tetap bisa enjoy ngobrol sama gua. Sejujurnya sekarang gua belum kontakan lagi sama dia, tapi dengan gua menyimpan surat ini setidaknya gua jadi inget kebaikan dia di hari itu.
Kejadian yang awalnya gua anggap tragedi karena lupa menaruh dokumen penting justru jadi momen buat gua untuk melihat kembali dan bersyukur. Bersyukur karena ada banyak sekali pengalaman baik dan keren yang pernah gua alami. Bahwa apa yang dulu buat gua memuakkan itu justru adalah sarana terbaik untuk belajar dan bertumbuh. Gua yang sekarang terbentuk melalui hidup sedemikian rupa yang telah Allah berikan dan melalui pilihan yang gua buat selama hidup.
Gua merasa waktunya pas sekali, ketika gua akhirnya lulus dan ternyata bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan. Beberapa tahun ini Ramadan gua selalu tidak maksimal, gua pengen ramadan tahun ini jadi pengalaman ramadan yang keren. Gua udah daftar beberapa program yang semoga bisa gua teruskan meski ramadan nantinya usai. Gua memutuskan untuk kembali menghafal...... iya.... muroja'ah hafalan gue...... selama ini gua tuh cuma tilawah aja, meski pada akhirnya ada yang nyantol tapi ga sebanyak kalau gua benar-benar muroja'ah. Gua sampai konsul ke penyelenggaranya dan mereka bilang:
Yang membuat gua ragu itu karena gua takut ga bisa nyetor banyak. Waktu SMA, gua pernah keluar dari takhosus karena ga kuat sama targetnya. Sejujurnya gua bisa aja menuhin target, tapi itu kalau dalam sehari kerjaan gua menghafal doang... waktu itu tanggung jawab gua lagi banyak-banyaknya, makanya pusing banget kalau sepulang sekolah gua langsung disuruh nyetor lagi. Meski akhirnya gua balik lagi, tapi gua udah jadi omongan (bahkan sampai adek kelas tau semua) karena gua dianggap ga bisa pegang omongan sendiri.
Menghafal itu berat, sumpah. Meski hasilnya sangat sepadan tapi beneran berat banget. Masih segar di ingatan malam-malam yang gua habiskan untuk menghafal. Kadang di kelas, kadang di masjid, kadang di kamar, kadang sambil bengong di pinggir lapangan. Kalau tengah malam belum tidur, gua suka ke lapangan untuk melihat bulan. Ada hari di mana bulan cerah sekali, ada hari juga ketika bulan tertutup awan. Kalau sedang beruntung, gua bisa melihat konjungsi mars atau venus pada pukul 3 pagi. Gua dulu suka berangan-angan akan jadi seperti apa gua nanti selepas pesantren, dan ternyata sangat luar biasa perjalanannya. Gua di masa dulu mungkin akan senang sekali jika mendengar gua yang sekarang berhasil publish karya ilmiah sendiri, berhasil menang lomba, magang di tempat keren, ketemu banyak orang baik, lulus S1, sampai berhasil menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Hal berat dari menghafal itu sebenarnya bukan ketika menghafal, tapi setelahnya; menjaga hafalan itu sendiri, mempertahankan apa yang telah lu hafal, susah banget. Di dalam hidup ini, gak ada yang nyuruh gua menghafal ampe segitunya, targetnya ga sebanyak itu; memang pada dasarnya kemauan gua sendiri. Tapi, meski istilahnya udah keingingan sendiri, ngejalaninnya tetap susah. Pada akhirnya, gua belum sempat menyelesaikan hafalan gua sampai habis. Saat itu gua takut banget dan ngerasa ga siap.
Apa yang ditakutkan? banyak, banyak banget. Sekarang aja gua gak siap kok. Gimana kalau hafalan gua tidak linear dengan perilaku gua? bagaimana kalau hafalan gua tidak mencerminkan diri gua? gua takut ketika gua membuat kesalahan lalu hafalan gua akan menjadi samsaknya, padahal pada dasarnya gua juga manusia biasa yang banyak dosanya. Jangan salahkan hafalannya, tapi salahkan gua. Jangan salahkan agamanya, tapi salahkan gua sebagai pemeluknya yang masih ga becus. Mungkin... mungkin ya.... kalau hafalan lama gua udah benar-benar balik, mungkin di sanalah titik balik bagi gua untuk mulai menyelesaikan hafalan gua yang sudah lama gua tunda tersebut. Yang jelas sekarang gua mau memulai semuanya dengan tidak terburu-buru seperti dulu. Hafalan yang kokoh tidak lahir secara instan, namun merupakan proses pengulangan dan komitmen tadabbur seumur hidup.
Gua ingin memulai fase setelah lulus gua dengan hal-hal baik; Menjadi manusia yang lebih baik, cerdas, bermartabat, dan beriman.
.jpg)
.jpeg)
.jpeg)






.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpg)
.jpg)







.jpg)
.png)
.jpg)