so-called night thinker
  • Home
  • About
  • #
  • #
    • #
    • #
      • #
      • #
      • #
      • #
      • #
    • #
    • #
  • #

 


    Seharian ini bisa dibilang kerjaan gua tidur-tiduran doang, itu juga kenapa gua bisa menulis banyak setelah sekian lama. Awalnya gua ingin langsung daftar wisuda, tapi ternyata pendaftarannya baru buka 2 Maret alias hari ini (sabar dulu ga si). Kalau postingan lalu isinya lebih banyak kronologi, sekarang gua mau coba breakdown uneg-uneg gua selama proses seminar hasil-sidang skripsi-yudisium. 

    Gua agak bingung mendeskripsikannya seperti apa karena memang rasanya campuk aduk banget, tapi sepertinya lebih banyak rasa syukur. Terlepas dari segala hambatan dan masalah yang terjadi selama proses tersebut, gua bersyukur karena gua akhirnya bergerak. Manusia ini, yang kata orang "kamu kan pernah publish 7 paper, skripsinya kok malah ga kelar-kelar?", akhirnya bangun dari "tidur." Setelah banyak kontemplasi, dan of course seek help from professional, suatu hari gua memutuskan untuk lari keluar dari labirin.    

    Kalau ditanya apakah gua pernah menyesal, ya tentu saja pernah. Ga mungkin gua ga pernah menyesal. Dua tahun itu lama loh, dalam jangka waktu tersebut bisa aja gua udah punya pengalaman 2 tahun kerja fulltime, atau bisa aja gua achieve hal lain yang setara dengan hal tersebut, bisa aja gua sekarang udah lagi nunggu keberangkatan S2, bisa aja gua punya tabungan instead of ngabisin uang tersebut untuk jadi donatur kampus (hiks), atau bahkan bisa aja sekarang gua lagi proses taaruf sama orang. Tapi balik lagi, semua itu adalah takdir dan di dalamnya pasti ada hikmah, bagi orang-orang yang mau berpikir dan mau mengambil pelajaran.

    Selama perjalanan pulang dari yudisium, gua banyak berpikir dan berkesimpulan bahwa gua yang sekarang gak akan ada kalau gua gak ngalamin hal tersebut. Setahun ini gua merasa berhasil menjadi seorang manusia yang lebih "humanis." Kalau jalannya gak begini, mungkin gua gak akan pernah "diseret" ke bintaro dan ketemu mba yang ternyata peduli banget sama gua. Kalau jalannya gak begini, sampai detik ini bisa aja gua masih menjadi manusia yang ignorant dan gak peka. Kalau jalannya gak begini, bisa aja sekarang gua lagi dimanfaatin sama orang lain dengan diri gua yang masih sangat naif itu.

    Setelah kembali ke rutinitas gua yang biasa, rasanya ternyata menyenangkan. Memang ya, terkadang kita perlu dijauhkan dari hal-hal yang disukai supaya kita sadar betapa berartinya hal tersebut. Sejauh apa pun gua mencari, pada dasarnya di dalam hati gua sendiri sudah tau apa yang gua sebenarnya inginkan. Itu juga yang mendasari kenapa pada akhirnya gua kembali, karena memang gua mencintai hal-hal tersebut. Selama 2025 gua belajar mencintai dan belajar menghargai hal-hal di sekitar gua dengan lebih baik. Selama ini gua terlalu melihat dunia seperti hitam putih sehingga kadang gua menjadi gampang judging dan gampang demanding. 

    Gua sangat bersyukur bahwa Allah senantiasa menuntun gua hingga detik ini. Kalau ditanya orang pegangan gua apa, gua dengan mantap akan menjawab Allah Yang Maha Kuasa. Kalau tidak berpegang kepada Allah, terus kepada siapa lagi? di hidup yang cuma sekali ini, gua memutuskan untuk mengutamakan Allah. Lewat kejadian ini, gua jadi cinta banget sama Tuhan gua sendiri. Meski gua sudah beriman sejak lahir, tapi perjalanan spiritual gua baru berasa di usia di 20an ini; di saat gua memutuskan untuk kembali belajar dan melakukannya karena keinginan gua sendiri.

    Di umur yang ke 25, gua belajar untuk menjadi manusia yang lebih lembut, lebih bijak, dan lebih baik. Lebih uniknya lagi, seorang gua yang terkenal cuek banget ini memutuskan untuk belajar parenting. Kok tiba-tiba parenting wil? jadi gini, gua itu ngerasa kalau diri gua yang sekarang masih kurang di berbagai aspek. Apalagi di umur segini, memang sudah seharusnya gua mulai cari pasangan. Waktu itu gua iseng aja baca postingan parenting, tapi dari sana gua malah jadi mikir "Kalau ingin punya anak yang seperti itu, apakah gua sebagai orang tua nanti sanggup memberi contoh dan teladan yang baik?." Niat belajar parenting, ujung-ujungnya gua malah mendidik diri sendiri hahahaha (that's why reparenting exist u know). Tapi memang benar kok, kalau gua sendiri sebagai calon orang tua tidak memiliki kapasitas mental dan ilmu yang mumpuni, bagaimana nantinya gua bisa mendidik anak-anak gua di masa depan? Sebelum menerima amanah, hendaknya gua memperbaiki dan memantaskan diri agar nantinya layak menyandang status sebagai orang tua. Proses mendidik itu bukan hanya ketika mau punya anak saja, tapi justru dimulai ketika kita masih single.

    Meski gua udah pernah menyinggung hal yang ingin gua lakukan di masa depan, tapi bisa dibilang itu adalah jangka panjangnya. Untuk jangka pendek, gua ingin mempertahankan hal-hal baik yang sudah gua bangun selama ini. Hari ini pun gua akan ada jadwal ujian tahfidz. Bayangin, my first tahfidz examination after 7 years haha. Jadi ceritanya gua sudah selesai setoran juz 30 dan sebelum pindah juz memang diharuskan untuk ikut ujian kenaikan juz dulu baru bisa muroja'ah juz 29. Sedikit demi sedikit, gua berhasil menata hidup gua jadi lebih baik lagi.

    Setelah lulus ini target gua memang dapet kerja, meski gua gak tau dapetnya kapan, tapi gua akan rajin upgrade skill dan balik aktif ke komunitas IT. Gak cuma komun IT, tapi gua juga mau balik ke aktivitas sampingan gua dulu sebagai book reviewer. Hobi gua emang baca, dan gua mau balik aktif baca buku lagi. Gua memang sudah meniatkan untuk mengirim beberapa tulisan gua ke platform online. Apalagi ya? mungkin itu aja dulu. Kalau kebanyakan nanti gua pusing sendiri. Meski sebenarnya gua bisa, tapi gua akan mencoba lebih bijak lagi dengan target dan hal-hal yang gua lakukan. Tidak usah terlalu banyak, yang penting konsisten dan kelihatan hasil dan manfaatnya.

    Perihal lebaran, akhirnya gua bisa jawab udah lulus kalau ditanya keluarga besar xixixi. Tapi kalau yang ditanya tentang pasangan sih.. gua belum bisa jawab x_x. Jujur, secara mental gua siap aja untuk nikah. Tapi secara finansial kayanya belum. Gua baru banget lulus, baru meniti karir alias early career. Istilahnya, emang punya apa sih gue wkwkwk (tabungan aja abis gara2 jadi donatur kampus WAHAHAHAHA). Kalau ternyata pasangan gua siap lahir batin beserta finansialnya mungkin beda cerita dan bakal gua pertimbangkan untuk nikah dalam waktu dekat, tapi kalau pasangan gua ternyata sama-sama early career mending sadar posisi masing-masing aja dulu. Tapi gua tidak insecure terharap hal tersebut kok; kata mba gua, "Duit bisa dicari, mba percaya kamu bisa." Dan yap, meski job market indo lagi crash dan jelek banget, tapi gua sangat berprasangka baik terhadap hidup gua. Setelah mengalami titik terendah hidup, gua jadi gak takut untuk menghadapi hidup kedepannya. Sambil menjemput karir gue yang sepertinya bakal keren itu (Aamiin), tidak lantas membuat gua berdiam diri. Apalagi sekarang posisinya gua udah lulus, ada banyak hal yang bisa dilakukan. 

    Ramadan ini, gua coba untuk bikin kegiatan safari masjid ala-ala. Jadi ceritanya kalau habis ngampus gua coba mengunjungi masjid-masjid yang sekiranya terjangkau sama gua. Ngapain aja? karena ini bulan ramadan, jadi jelas tujuan ke sana untuk buka puasa dan sholat. Benar, gua review masjid :D. Sejauh ini baru ada 3 masjid yang gua review: Masjid Al-Latief, Masjid Nurul Iman, dan Masjid Nur Salma. Untuk masjid blok M, jelas gua ke sana sendiri karena sekalian dari kampus. Kalau masjid Nur Salma, gua ke sana bareng teman-teman dari komunitas review masjid. Di sana, gua kenalan sama 2 teman baru: Fatimah dan Hawa. Mereka berdua ini anak LIPIA, jadinya bisa dibilang gua cukup nyambung dan gampang akrab sama mereka. Gua pernah bilang kalau yang namanya hal-hal baik itu harus dijemput, dan sekarang gua sedang coba menjemput hal tersebut; berkumpul dengan orang-orang baik. 

    Sejujurnya gua agak bingung izinnya gimana, karena kalau gua bilang mau kenalan sama teman-teman baru pasti izinnya susah. Ga cuma orang tua, mba gua pun juga strict banget kalo menyangkut gua. Di satu sisi gua bersyukur karena merasa disayang, tapi di satu sisi kalo terlalu dikekang gua juga bingung. Boro-boro ketemu jodoh, buat temenan aja kayanya susah. Satu-satunya hal yang bisa gua lakukan adalah berusaha menjaga diri sebaik mungkin, dan meyakinkan bahwa diri gua yang sekarang sudah jauh lebih baik. Gua akan memastikan bahwa hal-hal yang gua lakukan adalah hal baik, dan orang-orang yang gua temui adalah orang baik. Tentu, di dunia ini gak ada manusia yang sempurna. Tapi setidaknya gua bertemu mereka di tempat yang baik dan untuk tujuan yang baik. 

    Belakangan ini gua sadar betul bahwa yang namanya menjaga niat itu tidak cukup hanya di mulut saja. Di dunia ini berapa banyak orang yang mengatakan ingin berubah, ingin menjadi baik namun pada akhirnya tetap terjebak? bukan karena mereka tidak baik, tapi yang namanya menjaga niat memang susah. Tidak cukup dikatakan, tapi juga harus dilakukan dan harus konsisten. Contoh kecilnya adalah ketika gua mengatakan ingin kembali menghafal Qur'an. Niatnya sudah ada, tapi seiring berjalannya bulan gua ternyata gak buka Al-Qur'annya sama sekali. Apa iya gua tiba-tiba bisa hafal? kan tidak. Hafalan itu harus senantiasa diusahakan, dijaga, dan diasah. Apa bukti kalau gua mengusahakannya kalau kitabnya saja tidak pernah dibuka? kira-kira begitu. 

    Sebelum berpindah ke pertanyaan "How," gua lebih dulu mencari tahu "Why" nya. Ada satu framework yang namanya 5 whys analysis. Cara kerjanya mudah sekali, kita hanya perlu mempertanyakan sesuatu yang menjadi masalah kita terus menerus hingga nantinya bertemu dengan akar masalah yang dituju. Dari mana salahnya? sejak kapan salahnya? Apa sebenarnya penyebab dari kegelisahan gua? itu semua bisa dicari pelan-pelan. Terkadang karena keadaan sudah terlalu rumit kita jadi suka mencari jalan pintas. Maksud hati agar cepat, tapi malah buntung sendiri. Relax, all you have to do is sit for a bit. Gua sendiri juga belajar untuk menjadi manusia yang tidak impulsif dan tidak memutuskan sesuatu cepat-cepat ketika marah. Gua sadar ketika kepalang marah, pikiran menjadi berkabut dan termakan dengan emosi. Mulut gua ini aslinya tajam banget jadi harus direm sebaik mungkin. Gua tidak ingin hal yang gua putuskan saat marah menjadi hal yang gua sesali nantinya. 

    Menjadi dewasa bukan berarti hidup menjadi serba serius dan kaku. Lu bisa saja menjadi orang baik, bijak, dan asik di saat yang bersamaan. Mempertahankan sisi playful itu justru bagus karena terlepas dari ujian dan cobaan, hidup ini juga sangat layak untuk dinikmati dan dirayakan. Yang membedakan adalah tentang bagaimana cara kita menyikapi hidup itu sendiri. Apakah gua masih akan mengedepankan ego? apakah gua berhasil considerate dan bijak dalam memutuskan sesuatu? apakah gua bisa memposisikan diri dan tidak semena-mena dalam hidup? bedanya di sana. Ada salah satu hadits arbain nomor 20 yang kira-kira isinya seperti ini, 

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’”

(HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3484, 6120] 

    Lu bisa melihat apakah seseorang itu dewasa atau tidak dari cara dia merespon dan menyikapi sesuatu. Kalau dia masih semaunya sendiri maka keputusan hidupnya juga kurang lebih akan seperti itu. 

    Momen skripsi dan kelulusan ini isinya emang introspeksi diri semua. Gua tidak mau menjadi orang yang sombong, gua ingin kehadiran gua menjadi sebuah kehadiran yang menyenangkan dan bermanfaat. Gua tidak ingin menjadi beban bagi orang lain, gua ingin dikenal dengan hal-hal baik. Untuk mencapai hal tersebut, gua harus bisa menjadi orang yang terbuka dengan kritik dan saran dari orang-orang. Sederhana saja, ambil baiknya dan buang buruknya. Semoga dan semoga, hidup kita kedepannya akan dipenuhi dengan keberkahan, kebahagiaan, dan limpahan rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu, Aamiin.

    


    Setelah gua hold beberapa waktu, akhirnya gua bisa ngetik review yudisium.. awalnya pengen ngetik seiring berjalannya proses ya, tapi mood gua terlalu chaos buat nulis xD kalo maksa langsung nulis ini post isinya bakal blunder semua huft, untung gak jadi HAHA.

    Selesai sidang itu banyak banget yang ngucapin selamat ke gua. Mulai dari keluarga, saudara, teman-teman gua. Orang yang bahkan udah lama ga kontakan sama gua tiba-tiba ngechat kasih selamat karena gua udah sidang. Pas itu gua sampe mikir, ya Allah ternyata banyak yang sayang sama aku ya? ternyata banyak juga yang pengen liat aku sukses ya? Meski sidang gua tidak berjalan sesuai harapan gua tapi at least gua udah sidang, gua udah nepatin janji kalau semester ini gua akan lulus. Tapi meski udah sidang, finish line yang sebenarnya itu ada di yudisium. Selama belum yudisium, gua akan tetap bayar UKT. Selama belum yudisium, gua akan tetap lanjut ke semester berikutnya. Habis sidang gua memutuskan istirahat bentar sehari, abis itu langsung lanjut kerjain revisi. Nah ini dia drama baru dimulai WKWK.

    Alurnya gini kids, abis sidang lu harus kerjain revisian dan minta tanda tangan ke penguji. Total gua kerjain revisi itu sekitar seminggu, itu juga kepotong libur. Gua buru-buru kelarin revisi karena terkejar deadline yudisium juga. Waktu pas banget kepentok libur cuti bersama dan perayaan imlek, awal ramadan pula. Dalam hati gua, duh ga bisa nih kalo gua ga nekat. Gua memutuskan untuk chat dosen gua minta izin bimbingan revisi ke rumahnya which is crazy. Untungnya dosen gua cukup kooperatif, yang satu online, satunya lagi ngebolehin gua untuk ke rumah beliau. Grab your popcorn, i named this as chaotic karena emang isinya chaos semua.

-

16 Februari 2026

    Di saat orang-orang lagi long weekend, gua malah ngejer revisian. Ada untungnya juga sih, karena long weekend jadinya kereta saat itu cukup lega. Rumah dosen gua ada di dekat TPU Tanah Kusir, alhasil gua naik dari Bekasi dan turun di stasiun Kebayoran. Terakhir gua ke stasiun ini tuh waktu nganterin temen gua sepulang wisuda dari daerah pejaten. Karena cuma nganterin, jadinya gua gak hafal layout ini stasiun. Pas turun gua bingung banget karena pintu keluarnya ada 4??? Pintu keluar stasiun itu krusial, salah keluar dikit lu bakal harus jalan dan muter jauh lagi. Apalagi kalo lanjut pakai ojek, beh siap-siap aja ribut sama drivernya. "Pak, saya di sini ya," nanti dijawabnya, "Mbak, titiknya di sini, saya ga bisa ke sana, muternya jauh."

    Waktu itu di bekasi hujan, jadinya pas sampe stasiun kertas form revisi gua basah...... damn. Panik dikit, tapi gua langsung cari di google maps fotocopy terdekat WKWKWK. Alhamdulillah gua nemu yang jaraknya < 1 km dari stasiun. Akhirnya gua memutuskan buat keluar di pintu yang searah sama fotocopy. Saking lamanya ga ke daerah kebayoran, gua sampe kaget karena ini daerah makin sumpek dan chaos. Lu tau kan pasar lama kebayoran yang suka viral di sosmed itu? aslinya bau, macet, dan polusi di mana-mana. Memang, namanya juga pasar. Tapi terakhir gua ke sini perasaan ga sesumpek ini. Waktu itu gua emang pernah explore pasar kebayoran, tapi karena alergi debu jadinya gak bisa lama-lama. Sepanjang jalan itu isinya klakson semua. Berhenti dikit klakson, jalan dikit klakson, serba salah. Jalanan isinya bottleneck terus, banteng-bantengan sama kendaraan dari arah sebaliknya. Pusing.. tapi gua tetep lanjut karena apa? ya, revisi lebih penting.


    Lanjut abis lewatin pasar kemudian gua masuk ke gang-gang kecil daerah kebayoran. Gua yakin ini driver pasti warlok karena tau jalan tikus. Sebelah gua persis banget rel kereta, udah gitu jalanan isinya gang semua. Kok bisa ya si abang ini hafal? tapi namanya warlok sih pasti hafal ya. FYI daerah kebayoran, gandaria utara, grogol selatan emang aslinya begini. Yang orang liat jalanan gede nan estetik itu sebenarnya jalan protokol aja. Itu kalo lu masuk, rumah pada saling nempel. Dan lu tau? rumah sepetak aja kalo lu tanya harga ngontraknya bakal dijawab 1 juta, gokil.

    Sampai rumah dosen gua langsung bimbingan dan minta tanda tangan. Bukan tanda tangan yudisium loh ya, ini gua masih tanda tangan form perbaikan skripsi.... perjalanan gwe masih panjang.

18 Februari 2026

    Setelah dapat tanda tangan revisi skripsi, akhirnya baru bisa minta surat tanda tangan untuk pengesahan. Ini surat apalagi sih sebenernya? (dalam batin gue). Kalau ga punya surat ini, lu ga akan bisa yudisium, jadinya ya sekuat tenaga gua harus ngumpulin total 6 tanda tangan (iya, udah kaya ngumpulin pokemon). Tanda tangan pertama datang dari penguji pertama gua. Alhamdulillah karena sebelumnya gua udah kelar revisi jadinya minta tanda tangan pun mudah hehe. Tapi tetep aja, semudah-mudahnya gua minta tanda tangan gua tetap harus nongkrong di kampus biar nanti kalau dosen ngasih tau, "saya sudah di kampus," gua bisa langsung otw wkwkwkwkw seniat itu SEORANG GUE.


closingan geprek sebelum puasa LMAO


19 Februari 2026

    Sekarang lanjut minta tanda tangan ke dosen penguji gua yang kedua. Kemarin-kemarin gua diinfoin kalau bimbingannya online, tapi karena tanggal 19 udah gak libur jadinya gua ke kampus aja, siapa tau ketemu kan? lebih cepet.  Bener aja, pas ke kampus gua kaget banget karena beliau ada di kampus. Gua langsung chat minta bimbingan dan benar saja langsung diacc untuk bimbingan siang HORE. Kenapa gua prefer langsung? karena kalau online lama banget, bisa berhari-hari. The clock is ticking, gua ga punya banyak waktu sampai deadline yudisium, ada atau tidak ada dosen gua akan selalu ke kampus.

    Pas ketemu, jujur aja gua masih harus revisi lagi. Tapi gak bisa, gua gak ada spare waktu sebanyak itu. Ini masih ada 4 tanda tangan yang perlu gua cari. Akhrinya gua ngajuin untuk revisi saat itu juga. Dosen gua mengiyakan dan akhirnya jadilah gua ngerjain revisi di lab 


    Pas gua lagi ngerjain revisi, di sana juga adek tingkat yang lagi ngerjain skripsi dan ngurus lomba. Gua jadi keinget hari-hari gua sibuk lomba tersebut, dan gua gak nyesel karena pengalaman gua selama kuliah jadi banyak. Sekitar jam 3 sore, revisi gua selesai juga. Dosen penguji 2 gua akhirnya tanda tangan surat pengesahan. Gua terburu-buru kaya gini bukan tanpa alasan. Setidaknya di kampus gua, kita tuh ga bisa ngelompatin prosedur. Pembimbing ga akan mau tanda tangan kalau penguji belum tanda tangan, prosesnya ga bisa paralel. Setelah dapet tanda tangan penguji gua baru bisa pindah ke tahap selanjutnya: tanda tangan pembimbing. Meski udah sore tapi gua ga nyerah untuk tes hoki (lol). Gua buru-buru ke ruang dekan fakultas untuk liat dosen pembimbing gua masih ada atau gak dan ternyata.... ada!! Harusnya gua janjian dulu tapi gua gak sanggup kalo nunggu kelamaan cuma buat tanda tangan. Beliau itu sibuk banget, kalo hari itu gak ada ntah berapa lama gua bisa dapet TTD tersebut.

23 Februari 2026


    Drama tanda tangan ini masih berlanjut guys... hari ini gua harus minta tanda tangan ke dosen pembimbing 2. Harusnya gua bisa aja kan minta tanda tangan pas hari jumat? tapi dosen gua yang satu ini emang agak unik. Beliau cuma ada di kampus sampai hari kamis, ga mau diganggu hari Jum'at. Bahkan online pun beliau tetap ga mau. Alhasil itu jumat-sabtu-minggu gua deg-degan banget, "Ya Allah ini keburu ga ya, Ya Allah please...." Pagi-pagi gua langsung ke kampus karena beliau kalau kesiangan beliau keburu pulang. Gokil emang. Alhamdulillah, masih rezeki gua karena nyampe kampus beliau ada. Memang sudah janjian, tapi dosen tuh ditinggal bentar aja tiba-tiba udah gak ada. Real mengejar dosen the series.

    Total tanda tangan yang gua udah gua kumpulin ada 4. Tinggal sisa 2: ketua prodi dan dekan. Ketua prodi ini ga bisa minta langsung, harus request online via layanan kampus. Lu bayangin, pendaftaran yudisium terakhir tanggal 26 dan di tanggal 23 gua masih ketar-ketir ngejer tanda tangan. Di titik ini kerjaan gue udah nangis aja. Setiap hari gua ke prodi untuk kasih update biar prodi notice gua dan bisa langsung masuk antrian awal WKWKWKWKWK gua tau banget itu orang sekre pasti muak banget liat muka gue tiap hari tapi yang ada di pikiran gua cuma tanggal akhir pendaftaran yudisium, maaf ya pak.

    Semaleman gua uring-uringan banget, Ya Allah ini kenapa belum ditanda-tangan.... gua refresh tiap jam sampe puyeng sendiri. Besoknya jam 8:55 akhirnya surat gua udah ditanda-tangan. Gua buru-buru ke kampus untuk selanjutnya terakhir minta tanda tangan dekan. Untungnya, minta tanda tangan dekan ini cepat karena diproses langsung di tempat, tapi tetep aja gua ketar-ketir karena prosesnya ga bisa dilompat.

    Tanda tangan sudah lengkap semua, udah dong yudisium? belum....


24 Februari 2026

    War masih berlanjut karena gua harus ngisi form, a fucking form karena data skripsi gua harus disinkronisasi dan diinput ke akademik pusat. Jujur di sini gua gregetan banget karena selama ini data skripsi mulai dari proposal, seminar, sampai sidang itu ada di website fakultas, harusnya data gua udah ada dong? kenapa gua disuruh input data lagi.... Udah mah ngisi datanya bener-bener dari awal, mulai dari nama, judul skripsi, nama pembimbing, nama penguji, sampai surat pengesahan. Kalau form tersebut ga diisi data gua ga akan masuk ke akademik pusat, dan kalau ga ada di akademik pusat maka pendataan skripsi gua ga terdaftar, edan. 

    Lagi dan lagi sehabis ngisi form gua uring-uringan, karena memang proses input datanya paling gak butuh 1-2 hari kerja. Lu bayangin jadi gue..... itu tanggal 26 banget loh. Gua ga bisa berkutik kalau urusannya administrasi. Minta tanda tangan aja lebih dari seminggu dan sekarang gua harus war akademik lagi, ya Allah please banget kata gua mah.


    Karena hari udah sore banget gua memutuskan untuk buka di masjid depan kampus. Waktu lagi ngantri beli makan itu si abangnya sampe nanya, "are u okay?" WKWKWKW GUA FRUSTRASI BANGET BANG YA ALLAH. Itu muka ga tau dah bentuknya gimana, pendaftaran terakhir yudisium udah di depan mata... 


25 Februari 2026

    Besoknya, data gua alhamdulillah masuk sekitar pukul 10-11 pagi. Tapi gua gregetan karena yang udah terisi cuma validasi judul, itu data sidang gua masih kosong loh. Jadi kira-kira syarat yudisium itu gini:

  • Validasi judul Skripsi
  • Validasi pendataan sidang dan nilai skripsi
  • Validasi bebas pustaka perpustakaan fakultas dan pusat
  • Validasi keuangan
  • Validasi eligible PDDIKTI

    Ga pake lama, gua langsung otw kampus datengin prodi biar data sidang gua masuk. Kalau ga dateng, gua yakin banget itu sampe malem datanya ga bakal ada. Dan bener aja, setelah gua request itu nilai dan pendataan sidangnya akhirnya divalidasi. Selanjutnya gua buru-buru dateng ke TU kampus untuk validasi PDDIKTI.

    Berarti 3 udah selesai ya, tinggal validasi bebas pustaka sama keuangan. Gua buru-buru ke perpustakaan fakultas untuk ngisi data dan nyerahin skripsi gua. Untungnya petugas perpusnya helpful dan ramah banget. Waktu itu jam 14:30 dan perpus tutup jam 15:00. Setelah validasi perpus fakultas, gua langsung ke perpustakaan pusat buat ngisi (lagi) data skripsi gua dan nyerahin dokumen-dokumen yang dibutuhin. Aduh itu kaki gua sampe gemeteran karena 2 hari ini bolak-balik kampus sama fotocopy, udah mah 10 menit lagi tutup jadi gua harus lari.... alhamdulillahnya masih kebagian layanan dan dari hari-hari sebelumnya gua emang udah nyiapin semua data yang dibutuhin. Ya iyalah, gila aja gue udah tanggal 25 kalo masih planga plongo. Ini juga kenapa meski stepnya banyak tapi gua masih bisa ngejer karena yang pertama gua nya selalu follow up, gercep. Dan yang kedua karena gua selalu memastikan semua data lengkap dan diisi dengan benar jadinya bisa langsung diproses. Yang masih ngestuck banyak, makanya gua bersyukur banget bisa lengkapin semuanya tepat waktu meski jatuh bangun secara harfiah haha. Gua tuh udah dateng ke pusat keuangan tapi karena udah sore jadinya ga kebagian antrian layanan, sedih banget. Gua mencoba tabah dan mencari hiburan dengan pergi ke blok M. Iya, gua ke blok M wkowkowk.

      

    Obat pusing gua ternyata ke blok M. Nyobain photobooth yang ternyata kertas cetaknya segede gaban. Jujur agak malu bawanya, berasa narsistik karena nenteng foto sendiri gede banget. Tapi yaudahlah cuek aja, gua udah terlalu puyeng mikir besok deadline dibanding omongan orang T__T. Sehabis jalan-jalan gua memutuskan untuk buka puasa di masjid Al-Latief Pasaraya Lantai 5. Viewnya asik, takjilnya juga enak. Gua dapet es buah, kue soes, sama ada lemper juga. Yang buka di sini ga sebanyak itu karena emang ini masjid kaya ytta dibanding Nurul Iman, tapi buat gue yang lagi pusing banget, masjid yang relatif sepi emang lebih cocok di gua haha. Pusingnya emang berkurang, tapi masih pusing karena inget besok masih harus ke akademik pusat.

26 Februari 2026

    Ini dia last day... wkwkwkw semaleman gua ga berhenti ngecek website akademik takut banget tiba-tiba pendaftarannya tutup. Sekitar jam 7 pagi ga pake babibubebo gua otw kampus bermodalkan semangat dan bismillah HAHAHAHAHA. Gua naik kereta dari Bekasi dan nyampe sekitar jam 9.


    Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... karena datang pagi jadinya gua dapat antrian awal. Gak pake lama, orang akademik langsung validasi keuangan punya gua. Di saat itu juga gua langsung buka laptop untuk klik tombol SUBMIT YUDISIUM, TAKBIRRRRRRRRRRRR!!!!!! setelah nangis-nangis ntah berapa hari akhirnya gua yudisium juga. Sehabis submit gua pergi ke TU fakultas karena lagi-lagi... pendaftaran yudisium gua harus divalidasi. Ya Allah bener-bener ya kata gua ini ga tau udah isi form dan validasi berapa kali sampai akhirnya yudisium gua berhasil masuk ke database kampus. Lega banget rasanya di web akademik status gua udah jadi LULUS. Here we go..... akhirnya gelar S.Kom berhasil diamankan.

    Oiya ada satu cerita di hari kemarin (25 februari). Jadi ceritanya karena ngejar jam layanan kampus gua sempat kehilangan tas yang isinya skincare sama makeup, literally semuanya ada di situ mulai dari facial wash, moist, bedak, sampe tools makeupnya juga. Rasanya tuh kaya apes banget karena di satu sisi pendaftaran yudisium gua masih lagi proses, dan sekarang ketambahan nyari pouch. Total ada kali gua keliling kampus sampe 3 kali, muterin tempat-tempat yang gua singgahi karena gua ga punya clue sebenernya ini pouch ketinggalan di mana. Karena udah sore banget dan ga ketemu juga, akhirnya gua nangis di depan resepsionis fakultas sebelum balik ke bekasi WKWKWKWKW lebay bgt ih tapi jujur gua kepalang puyeng. 

    Besoknya, gua balik lagi ke perpustakaan fakultas dan YA ALLAH...... ALHAMDULILLAH.....  ternyata tas gua disimpenin sama petugasnya. Kenapa kemarin ga langsung ke sini ya karena perpusnya udah tutup wkwkwkw (udah jam 4 sore). Ya Allah rezeki anak sholehah (aamiin).

    Nah di satu sisi, waktu tanggal 25 ke blok M tuh gua udah keburu beli bundle skincare+makeup jadi yaudah deh pulang dari kampus gua mampir lagi ke blok M untuk ambil bundlenya sekalian bukber di Nurul Iman hehe.

          

    Inget banget waktu sahur di bintaro gua sampe hampir ketiduran pas makan saking capeknya. Mbak gua awalnya ketawa liat gua udah mah muka bantal, pas makan juga kayak masih setengah nyawa. Tapi kemudian mbak langsung semangatin gua, "Gapapa Nok, dikit lagi ya, sabar sedikit lagi."


Anddddddd.. I did it meski sambil misuh-misuh dan penuh chaos 8) Selamat!


 


    Selamat S.Kom...... Selamat S.Kom..... Es es apa yang enak? ya S.Kom........ Graduate and i actually ATE so hard damn, what a day, what a year.

    Gua kira dengan lulus, gua bakal seneng banget gitu, tapi ternyata seneng aja. Mungkin karena gua belum revisi akhir kali ya WKWKWKW ASTAGAAAAA GUA CAPEK REVISI MULUUU TAKBIRRRRR!!!! fyi sampe akhir sidang ini total gua ganti 3 judul, keren emang. Sebenernya yang bikin gua jadi 50:50 gini rasanya karena hasil akhir skripsi gua jauh banget dari harapan, huft. Tapi gapapa, yang penting lulus aja ges. Agak bingung mau mulai review dari mana, tapi mari kita coba.

    Berbeda dengan seminar hasil, di sidang kali ini gua gak mengizinkan ortu gua untuk ikut. Bukan apa-apa, tapi capek. Gua berangkat pas jam orang kerja, otomatis traffic lagi tinggi-tingginya. Hari selasa gua sidang, dan gua bener-bener berangkat sendiri. Apa gua sedih? gak. Apa gua bete? gak. Justru dengan berangkat sendiri; gak sama keluarga, gak sama saudara, atau pun gak sama temen membuat gua jadi lebih tenang wkwkwkw.

    Hari itu berasa banget grasa-grusunya, gua ngambil skripsi cetak gua, sekalian beli konsumsi buat para pembimbing dan penguji. Ruangan gua itu sempat ga mau nyala TVnya, jadinya skripsi gua telat lumayan lama. 

    Sidang skripsi dibagi menjadi 3 bagian: penjelasan skripsi, tanya jawab, dan keputusan lulus. Gua kurang lebih menjelaskan skripsi sekitar 20 menitan. Gak ada hambatan khusus karena alhamdulillah gua benar-benar menguasai materi skripsi dari awal sampai akhir. Selesai presentasi, hal yang pertama ditanyakan oleh dosen gua adalah, "Kamu udah kerja ya?," gua gak tau maksudnya apa tapi gua jawab aja, "Iya, tapi sekarang lagi enggak karena disuruh lulus dulu."

    Pas lagi tanya jawab, bisa dibilang everything turns into chaos. Gua paham konteksnya tapi gua gak suka cara dosen tersebut menyampaikan. Gua tau maksud salah dan revisi yang disuruh apa, dan gua sangat terbuka untuk hal tersebut. Tapi cara penyampaiannya itu..... "saya gak ngerti, ngerasa aneh aja." Ok gua salah tapi substansinya juga gak jelas aneh di mana? akhirnya sama dosen satunya dijelasin maksudnya apa. Mungkin ini juga salah gua, karena di sini gua memang terlalu ngedefend skripsi gua. Tapi di satu sisi sebagai orang yg biasa diskusi dan ikut pitching, ini tuh wajar banget (setidaknya buat gua), bertukar pikiran, pendapat, sampe adu teori, itu biasa. Ternyata hal tersebut ga bisa diterapkan di sini alhasil gua juga cukup nyesel karena terkesan agak ngotot. 

    Di pikiran gua saat itu cuma ada satu: lulus. Mau nanti hasil akhir skripsi gua gimana udah ga peduli, serius. Apa yang perlu diperbaiki gua iyain aja yg penting bisa cepet, emang bocah gelo. Nah lanjut ke sesi keputusan gua lulus/gak itu disuruh keluar ruangan gua. Selama di luar bisa dibilang gua nunggu cukup lama sampai gua bisa motoin anak ruangan sebelah habis sidang....... awalnya gua mikir waduh ini gua yang terlalu semangat presentasi atau gimana ya... tapi pas gua dipanggil masuk ternyata dosen-dosen itu lagi pada ngobrol (lebih tepatnya ngegibah). Baru juga masuk, gua disuruh keluar karena gibahnya belum selesai, edan. Ntahlah, buat mereka mungkin this is just another sidang... tapi buat gua this is everything i aimed for????? tapi gua gak mau banyak mikir yang penting apa guys? lulus.

    Hal lain yang bikin gua kesel adalah.... kenapa semua revisinya baru dikeluarin sekarang? maksud gue, sebelum sidang itu kan ada seminar ya, dan ada revisi juga. Kenapa pas sidang baru semua dikeluarin? gua curiga jangan-jangan ini skripsi gua emang ga bener-bener dibaca SAMPAI hari sidang itu tiba. Kemarin-kemarin kemana aja, itu gua waktu seminar udah cetak banner segede gambreng kan bisa ya revisinya pas itu, apa aja yang kurang dan perlu diperbaiki. Sidang ini istilahnya pengujian akhir yg berarti gua tuh maju ga bener-bener dari 0, prototypenya udah ada, ntahlah, ikutin aja alurnya kata gue mah.

    Selesai sidang gua denger dosen gua sayup-sayup ngomong gini, "Dia itu bagus karena bisa jabarin semua rumus, dia tau apa yang dia gunakan, tapi untuk level S1 harusnya gak gitu." Pas denger gua bingung banget, maksudnya apa? sampai hari ini gua kadang terbesit dan mikir sebenernya maksud dia apa ya? kaya muji, tapi nyindir juga, bingung. Jujur aja, skillset gua emang researcher banget. Tapi di satu sisi gua juga tau kalau selama di Indonesia gua ga bisa jadi dosen. Dari segala profesi, asal jangan dosen. Bukan apa-apa, tapi jadi dosen itu triggernya tinggi banget. Gua gak bilang jadi dosen itu buruk, gak, justru jadi akademisi itu impian gua banget. Tapi ngeliat keadaan dosen yang tidak dihargai di Indo itu bener-bener bikin gua mikir 1000 kali. 

    Sidang udah kelar, ruangan juga udah gua beresin, tinggal waktunya pulang. Rasanya lemes banget, badan gua capek, tapi lebih capek batin. Gua ga tau kenapa rasanya secampur aduk ini, dibanding seneng kayanya lebih banyak sedih dan keselnya. Tapi pada akhirnya gua mencoba happy karena sidangnya lulus wkwkwkw. Besoknya gua langsung tidur 12 jam karena capek.

    Apakah semuanya sudah selesai? tentu tidak. Gua masih harus revisi pasca sidang, minta ttd pengesahan sampai ngurus administrasi yudisium. Istirahatnya sehari aja, abis itu langsung kelarin revisi. Cepet banget kan? emang, sengebut itu gua ngejer lulus. Untungnya mental gua sekarang udah baja, energi gua juga lagi banyak-banyaknya wkwkwkw.

-

Edit: sampai detik ini gua ga ngerti sebenernya sidang tuh ngapain si? rasanya kaya mimpi siang bolong, aneh. Dengan segala ribut dan chaos ini, gua akhirnya lulus WKWKWKWK edan.


 


    Seharusnya sebelum upload tentang ramadan, masih ada tulisan tentang validasi sidang gua yang belum selesai diurus itu haha. Alasannya sederhana sih; karena prosesnya emang belum selesai. Ribet, pokoknya ribet banget, banyak misuh-misuhnya. Daripada bahas sidang dan yudisium gua yang kusut itu mending gua bahas tentang ramadan dulu aja.

    Like i said before, gua sudah bertekad untuk mengisi waktu dan hidup gua dengan hal-hal baik. Kenapa harus sekarang? selain karena momentum selesai sidang, i also got my spark back. This alien has finally woke up LMAO. Apalagi setelah nontonin winter olympic 2026 gua beneran terpacu sih. Di sini gua pernah upload tentang olimpiade tokyo kan? nah sebelum summer olympic balik lagi, gua ikut mantengin winter olympic juga hehe. Salah satu gold medalistnya, Alysa Liu itu menginspirasi gua banget. Kok bisa? jadi ceritanya dia itu memang sudah menekuni bidang ice skating ini dari kecil. Dari dulu dia berprestasi, tapi dia ngerasa makin lama makin toxic. Hal yang tadinya dia lakukan senang hati, secara sukarela berubah jadi sesuatu yang menyiksa. Akhirnya, tahun 2022 dia memutuskan untuk berhenti main ice skating. Selama berhenti itu dia menghabiskan waktunya untuk hidup; sekadar berinteraksi dan bermain layaknya remaja pada umumnya. Setelah berhenti sekitar 2 tahun, dia tiba-tiba memutuskan untuk kembali. Katanya, "jiwa gua ternyata memang di sini." Berbeda dari yang sebelumnya, kali ini dia melakukan ice skating dengan niat yang lebih bagus dan of course....  terasa menyenangkan. 2024 dia mulai balik main ice skating lagi, juara world champion, hingga akhirnya di tahun 2026 ini dia dapat gold medal.

    Pas baca kisahnya, gua ngerasa relate banget.... banget... banget. Sebagai orang yang sempat break dari dunia IT, research, tahfidz, dan semuanya, gua banyak merenungkan dan memikirkan kembali hidup gua selama ini. Apa memang jiwa gua di bidang ini? apa memang hal-hal yang selama ini gua lakukan dan perjuangkan itu memang dari hati? Gua mungkin capek, lelah, bahkan muak. Tapi pada akhirnya gua juga memiliki kesimpulan yang sama dengan Alysa; yes, i love this field. Gua menata kembali hidup gua hingga di tahun 2025 gua menyelesaikan skripsi gua dan di bulan Februari 2026 ini gua bisa sidang dan lulus (yeay... S.Kom baddie). Setelah gua kembali on track, maka selanjutnya gua akan kembali ke masa grinding dengan mental yang lebih baik dan stable. Gua melakukan semua ini karena gua ingin, bukan karena paksaan siapa pun. Niat ternyata sepenting itu ya. Ketika niat lu benar maka menjalaninya juga jadi menyenangkan, the why itself. Tidak mudah memang, tapi setidaknya hal yang didasari oleh hati itu rasanya sangat..... keren. 

    Ibaratkan game, bulan ramadan itu waktunya player untuk looting pahala sebanyak-banyaknya, bulan yang sangat spesial dengan berbagai keutamaannya. Selama 11 bulan kita fokus pada dunia, dan setidaknya di 1 bulan ini kita memutuskan untuk kembali dan mendekatkan diri kepada Allah. Semuanya terasa makse sense; bahwa di hidup ini harus ada momentum untuk refleksi dan upgrade diri, dan itu adalah ramadan. Bulan ramadan hadir sebagai obat bagi seluruh jiwa yang ada di dunia. Dengan segala kesedihan, beban, dan ujian yang dijalani ramadan kemudian hadir sebagai obat penenang jiwa. Di postingan 2025 in a nutshell gua sempat menyinggung Lailatur Qadr kan? nah itu dia. Di bulan penuh rahmat dan keutamaan sudah seharusnya kita semua grinding pahala dan ampunan. Allah sedang membuka pintu rahmat dan keajaiban-Nya di bulan ini dan sebagai hamba yang disebut sebagai yatafakkarun, apa lagi yang kita tunggu?

    Gua percaya bahwa Allah itu Maha Melihat dan Maha Mendengar. Gua juga sudah merasakan sendiri bagaimana keajaiban doa membawa gua hingga ke titik ini. Bahkan, dari dulu pun sudah seperti itu, hanya saja gua kurang merenungi hal tersebut. Semua hal yang gua harapkan dan gua impikan gua sebut dengan sangat yakin. Gua harus yakin, dan gua harus memantaskan diri juga. Gua membujuk Allah untuk banyak hal baik yang mau gua capai, dan itu gapapa. Di hadapan Allah, tidak ada yang namanya ketidakmungkinan. Atas seizin-Nya, semua bisa terjadi, dan memang bisa. Allah memiliki cara tersendiri karena Dialah Yang Maha Tahu. 

    Di Bulan ramadan ini, gua udah masuk kelas tahfidz. Setelah diyakinkan berkali-kali sama adminnya, akhirnya gua daftar juga haha. Gila, susah banget loh. Padahal kalau dipikir cuma tinggal daftar terus bayar, tapi ternyata buat gue susah. Ada banyak kekhawatiran gua untuk memulai kembali, tapi ternyata gua bisa mulai juga. Pas dapet halaqoh, rasanya unreal banget, bener-bener ngulang kaya dulu. Gua sampe mikir, "ternyata gua udah balik ya." Ada rasa haru, lega, senang, dan excited. Kira-kira gua bisa sampe mana ya? gak ada yang tau. Semoga Allah terus menjaga semangat gua sampai khatam muraja'ah nanti.

    Selain ikut halaqoh, gua juga ikut kelas bahasa inggris, semacam convo club gitu special bulan ramadan. Sebenarnya sebelum ikut kelas bahasa inggris selama ini gua rajin belajar sendiri. Tapi gua merasa speakingnya mentok banget karena ga ada temen "ngobrol." Duolingo gua bentar lagi cetak streak 365 hari, artinya sudah setahun gua mulai belajar bahasa inggris. Waktu pertama main duolingo, niat gua simple banget, "setahun lagi, gua cuma pengen keadaan gua lebih baik." Dan benar saja, semua sudah menjadi lebih baik. Motivasi gua udah balik, dan gua juga udah mulai grinding kaya dulu. Gua memegang omongan bahwa mulai saat ini gua akan hidup dengan lebih baik dan lebih bijak lagi, and i did it. Gua akan terus menulis progress gua di sini sebagai bukti bahwa gua benar-benar konsisten terhadap prinsip gua sejak dulu dan benar-benar memegang omongan gua sendiri. 


Road to "Setahun Duolingo"



A proud Kakari, indeed.



 


    Hari ini gua baru beres mengisi seluruh dokumen keperluan untuk sidang, termasuk SKPI. Singkatnya, SKPI itu isinya list prestasi yang pernah gua raih selama kuliah. Gua sendiri kurang suka menyimpan sertifikat sehingga hari ini gua cukup kelimpungan mencari-cari berbagai sertifikat yang pernah gua dapatkan. Ceroboh memang, tapi ada sejarahnya.

    Waktu SMA, gua juga pernah di posisi muak sama semuanya. Saat itu, gua baru beres ikut olimpiade bahasa inggris. Meski gua gak lolos sampai final, tapi gua tetap dapat sertifikatnya. Mungkin karena gua udah kelewat lelah, akhirnya sertifikat itu gua robek karena merasa gak ada artinya kalau gak menang. Pernah juga sehabis dapat sertifikat juara kelas, sertifikatnya gua basahin pakai air minum sebelum akhirnya gua buang. Kalau gua bisa kembali ke masa lalu mungkin gua tidak akan mengubah apa pun, tapi gua akan memeluk diri gua di masa lalu. Postingan di blog selama SMA itu ditulis setelah kejadian tersebut. Di titik itu gua akhirnya menyadari tentang betapa indahnya berproses sehingga gua memutuskan untuk menceritakan seluruh kejadiannya. Dan buktinya? yap, gua bangga banget sama diri gua di masa lalu, sekarang, mau pun di masa yang akan mendatang.

    Cukup sulit untuk mencari dokumen yang sudah menahun. Untungnya karena gua ada di rumah, semuanya bisa selesai dalam 1 hari. Ketika membongkar lemari, gua malah menemukan surat-surat "lucu" yang mewarnai hidup gua.



    Setelah melewati semester 5, gua memutuskan untuk aktif dan ikut event sana-sini. Hobi gua itu pitch-deck; bentuk tim, bikin konsep, eksekusi. Selama kuliah gua beberapa kali ikut seleksi inkubasi start-up dan perlombaan lainnya. Ntah kenapa gua masih menyimpan rapi kertas itu dan jadinya keinget sendiri haha. Ceritanya, gua diajak teman gua yang anak LIPIA untuk bikin halaqoh tahfidz. Karena gua merasa tidak cukup berilmu untuk mengajar akhirnya di tawaran pertama gua tolak. Tapi temen gua ga nyerah, dia berusaha ngeyakinin gua bahwa gua pantas untuk posisi tersebut. Teman gua ini alhamdulillah memang sudah hafidzoh dan dia juga menyatakan kesiapannya untuk mengajar. Tugas gua adalah jadi "operator," yang menghandle media sosial dan administrasi lainnya (katanya karena gw anak IT HAHA). Kita bingung banget perihal pendanaan, akhirnya gua coba adopsi startup approach. Meski gagal, tapi pada akhirnya kita berhasil rilis gelombang pertama pendaftaran. Semua berjalan lancar meski pada akhirnya kita cuma sanggup ngajar 1 batch aja. Mungkin karena berkesan, akhirnya kertas itu gua simpan di lemari.




    Selanjutnya adalah kertas yang gua tulis setelah presentasi di depan kelas. Saat itu gua baru aja menang hackathon dan minggu selanjutnya gua coba presentasi improved-version dari project yang gua bikin. Kenapa kertasnya jelek? karena sebenarnya gua tulis itu di belakang amplop........ gua lupa banget bawa buku jadinya gua tulis aja di media apa pun yang bisa gua pake untuk nulis. Momentum itu bertepatan juga dengan ulang tahun gua yang ke-22 sehingga rasanya campur aduk banget. Gua masih ingat 1 kelas ikut kasih gua selamat karena jadi juara dan tepuk tangan. Siapa yang gak campur aduk perasaannya digituin? overwhelmed parah. Gua bersyukur sama Allah karena dikasih kesempatan untuk terus mencoba dan berusaha, dan itu adalah kado yang keren sebagai awalan yang baik menyambut umur yang ke-22 tahun.


    

    Kertas terakhir datang ketika gua udah masuk masa ngerjain skripsi. Waktu itu saat gathering komunitas gua ketemu dan kenalan sama kakak cantik yang baik hati. Dia itu penulis, sampai sekarang masih aktif menulis, melalang buana sana sini, dan bahkan sejauh ini udah nerbitin tiga buku. Waktu gua ke gramedia gua sempat lihat buku karangan kakak ini dan gua kayak, "wow, keren banget ya."  Kadang masih ga percaya kalau kakak itu pernah nulis surat buat gua, orangnya hangat dan ramah sekali. Meski waktu itu gua lagi kalut-kalutnya tapi dia gak ambil pusing dan tetap bisa enjoy ngobrol sama gua. Sejujurnya sekarang gua belum kontakan lagi sama dia, tapi dengan gua menyimpan surat ini setidaknya gua jadi inget kebaikan dia di hari itu.

    Kejadian yang awalnya gua anggap tragedi karena lupa menaruh dokumen penting justru jadi momen buat gua untuk melihat kembali dan bersyukur. Bersyukur karena ada banyak sekali pengalaman baik dan keren yang pernah gua alami. Bahwa apa yang dulu buat gua memuakkan itu justru adalah sarana terbaik untuk belajar dan bertumbuh. Gua yang sekarang terbentuk melalui hidup sedemikian rupa yang telah Allah berikan dan melalui pilihan yang gua buat selama hidup. 

    Gua merasa waktunya pas sekali, ketika gua akhirnya lulus dan ternyata bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan. Beberapa tahun ini Ramadan gua selalu tidak maksimal, gua pengen ramadan tahun ini jadi pengalaman ramadan yang keren. Gua udah daftar beberapa program yang semoga bisa gua teruskan meski ramadan nantinya usai. Gua memutuskan untuk kembali menghafal...... iya.... muroja'ah hafalan gue...... selama ini gua tuh cuma tilawah aja, meski pada akhirnya ada yang nyantol tapi ga sebanyak kalau gua benar-benar muroja'ah. Gua sampai konsul ke penyelenggaranya dan mereka bilang: 


    Yang membuat gua ragu itu karena gua takut ga bisa nyetor banyak. Waktu SMA, gua pernah keluar dari takhosus karena ga kuat sama targetnya. Sejujurnya gua bisa aja menuhin target, tapi itu kalau dalam sehari kerjaan gua menghafal doang... waktu itu tanggung jawab gua lagi banyak-banyaknya, makanya pusing banget kalau sepulang sekolah gua langsung disuruh nyetor lagi. Meski akhirnya gua balik lagi, tapi gua udah jadi omongan (bahkan sampai adek kelas tau semua) karena gua dianggap ga bisa pegang omongan sendiri. 

    Menghafal itu berat, sumpah. Meski hasilnya sangat sepadan tapi beneran berat banget. Masih segar di ingatan malam-malam yang gua habiskan untuk menghafal. Kadang di kelas, kadang di masjid, kadang di kamar, kadang sambil bengong di pinggir lapangan. Kalau tengah malam belum tidur, gua suka ke lapangan untuk melihat bulan. Ada hari di mana bulan cerah sekali, ada hari juga ketika bulan tertutup awan. Kalau sedang beruntung, gua bisa melihat konjungsi mars atau venus pada pukul 3 pagi. Gua dulu suka berangan-angan akan jadi seperti apa gua nanti selepas pesantren, dan ternyata sangat luar biasa perjalanannya. Gua di masa dulu mungkin akan senang sekali jika mendengar gua yang sekarang berhasil publish karya ilmiah sendiri, berhasil menang lomba, magang di tempat keren, ketemu banyak orang baik, lulus S1, sampai berhasil menjadi pribadi yang lebih dewasa. 

    Hal berat dari menghafal itu sebenarnya bukan ketika menghafal, tapi setelahnya; menjaga hafalan itu sendiri, mempertahankan apa yang telah lu hafal, susah banget. Di dalam hidup ini, gak ada yang nyuruh gua menghafal ampe segitunya, targetnya ga sebanyak itu; memang pada dasarnya kemauan gua sendiri. Tapi, meski istilahnya udah keingingan sendiri, ngejalaninnya tetap susah. Pada akhirnya, gua belum sempat menyelesaikan hafalan gua sampai habis. Saat itu gua takut banget dan ngerasa ga siap. 

    Apa yang ditakutkan? banyak, banyak banget. Sekarang aja gua gak siap kok. Gimana kalau hafalan gua tidak linear dengan perilaku gua? bagaimana kalau hafalan gua tidak mencerminkan diri gua? gua takut ketika gua membuat kesalahan lalu hafalan gua akan menjadi samsaknya, padahal pada dasarnya gua juga manusia biasa yang banyak dosanya. Jangan salahkan hafalannya, tapi salahkan gua. Jangan salahkan agamanya, tapi salahkan gua sebagai pemeluknya yang masih ga becus. Mungkin... mungkin ya.... kalau hafalan lama gua udah benar-benar balik, mungkin di sanalah titik balik bagi gua untuk mulai menyelesaikan hafalan gua yang sudah lama gua tunda tersebut. Yang jelas sekarang gua mau memulai semuanya dengan tidak terburu-buru seperti dulu. Hafalan yang kokoh tidak lahir secara instan, namun merupakan proses pengulangan dan komitmen tadabbur seumur hidup.

    Gua ingin memulai fase setelah lulus gua dengan hal-hal baik; Menjadi manusia yang lebih baik, cerdas, bermartabat, dan beriman.



What a good ride, see you next time!

 


    Tidak sampai sebulan hingga akhirnya gua menyelesaikan skripsi dan langsung daftar sidang. Ngebut? iya. Total hanya 2 minggu proses sampai berhasil submit pendaftaran karena dari awal gua gak mau lama-lama. Pertama-tama gua ingin memanjatkan rasa syukur gua kepada Allah atas segala anugerah, rahmat, dan berbagai kemudahan yang telah diberikan hingga gua sampai di tahap penyelesaian skripsi ini. 

    Gua masih ingat betul di tahun 2023 gua pernah statement bahwa gua gak siap lulus, dan ternyata benar, gua gak lulus-lulus. Dibanding lucu, sebenarnya gua lebih melihat ini sebagai ajaib. Prasangka Allah itu benar-benar sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Gua adalah orang yang cukup aware dengan diri sendiri, dan yang bikin lucu karena gua selalu menuliskannya sehingga saat di kemudian hari gua baca lagi, semuanya baru terlihat masuk akal.

    Sudah tidak terhitung berapa banyak tulisan yang sudah gua buat, dan ketika dibaca lagi rasanya merinding sendiri. "Gila, ternyata doa gua dikabulkan." "Ternyata gua pernah di posisi seperti itu," dan lain-lain. Hal bagus yang gua miliki itu adalah: gua selalu yakin dengan doa-doa gua. Ketika berdoa, gua seyakin itu. Ntah keyakinan dari mana, tapi gua selalu percaya kalau Allah Maha Mengetahui Isi Hati dan Maha Melihat. Mengenai waktu, atau dalam bentuk apa, prosesnya bagaimana, itu yang gua gak tau. Gua gak sombong, tapi pada dasarnya ketika berdoa lu memang harus seyakin itu. Bahkan jika Allah tidak mengabulkan doa tersebut, pasti ada hikmah di dalamnya, akan ada penggantinya, atau bisa saja dikabulkan dalam bentuk lain.

    Selama ini gua risau karena ujiannya memang di sana. Apakah gua bisa sabar? apakah gua bisa kuat? apakah gua mau memperbaiki diri? ujiannya terus berputar dan terjadi berulang-ulang sampai akhirnya gua lulus. Dan bukankah hal tersebut juga sama seperti yang terjadi dengan skripsi gua? di luar masalah hidup dan lain-lain, fase skripsi itu juga merupakan ujian yang terus berulang hingga akhirnya baru sekarang gua lulus.

    Hal yang gua sadari tentang manusia itu adalah kesadaran bahwa setiap orang itu kapasitasnya beda-beda. Lebih lanjut lagi, ternyata gua gak bisa menuntut orang yang tidak bisa dituntut. Hal yang menurut gua mudah tapi belum tentu seperti itu bagi orang lain, hal yang menurut gua biasa juga ternyata bisa saja luar biasa bagi orang lain. Gua itu dulu suka memaksa sesuatu kepada orang lain, ''Aku mau kamu begini begitu." Sedangkan di satu sisi gua gagal melihat kondisi dan kapasitas orang tersebut. Statement gua yang ini bukan berarti gua meremehkan orang lain loh ya, tapi justru gua menghargai mereka sebagai manusia sehingga gua tidak akan memaksakan sesuatu yang di luar kuasa mereka. Sikap ini bukan berarti gua jadi mudah menyerah atau pasrah, tapi justru gua jadi lebih bisa mengambil tindakan yang tepat. Kalau dalam dunia korporat istilahnya lu menempatkan seseorang pada porsi yang tepat.

    Lahirnya kesadaran tersebut justru membuat gua semakin legowo dalam memandang sebuah masalah. Katakanlah gua mengatakan, "kalkulus ga sesusah itu kok, kalau belajar semua orang pasti bisa," di depan abang tukang gorengan yang bahkan baru mendengar istilah kalkulus. Abangnya gak salah, tapi emang gua aja ga bisa baca situasi, ga punya awareness tentang siapa yang sedang gua ajak ngobrol. Pemahaman itulah yang membuat gua lebih dewasa dalam melihat suatu masalah. "Kenapa dia begini, kenapa dia begitu," gua tidak mau langsung menghakimi. Bagaimana hidup dia selama ini, lingkungan tempat dia bertumbuh, itu semua sangat berpengaruh. Sampai detik ini gua masih berpegang teguh untuk selalu berusaha baik dan ramah kepada orang-orang, tapi di satu sisi gua gak mau terlalu buru-buru dalam mengambil sikap (kecuali keadaan darurat). Bukan bertele-tele atau tidak memiliki prinsip, justru karena lu punya standar tersendiri yang membuat lu ga mudah tersulut pertengkaran dan emosi belaka.

    Mengenai perkataan gua "tidak menuntut orang yang tidak bisa dituntut," itu sebenarnya sudah cukup jelas. Kegagalan PDKT gua selama ini membuat gua paham bahwa terkadang gua terburu-buru dalam meminta dan menuntut orang lain untuk menyamakan standar gua. Kenyataannya, tidak semua orang bisa, tidak semua orang sanggup. Ketika membicarakan kompatibilitas antar 2 manusia faktornya itu banyak sekali. Tapi setidaknya, kini gua tidak lagi memaksa karena sejak awal gua sudah memasang batasan; kalau cocok silakan maju, kalau tidak kita berteman saja.    

    Kegagalan total percintaan gua tidak membuat gua menyerah dalam mencari pasangan yang baik. Bahkan sesudah sidang gua sudah memiliki rencana untuk menyempurnakan CV taaruf. Gua sudah memutuskan untuk tidak pacaran, dan gua sangat yakin Allah akan memudahkan jalan orang-orang yang berusaha taat. Dibanding mencari, kini gua lebih fokus untuk memperbaiki diri gua sendiri. Gua ikut banyak sekali kegiatan, hingga bertemu dengan banyak orang. Bukan hanya sekadar menambah kenalan, tapi memang sebagai seorang manusia kita harus mengisi hidup dan waktu kita dengan hal-hal baik, dan mengelilingi diri kita dengan orang-orang baik. 

    Gua juga gak tahu doa mana yang Allah kabulkan terlebih dahulu, tapi 1 hal yang selalu gua yakini adalah bahwa Allah akan memberikan hal tersebut ketika lu sudah siap. Dibanding hanya menunggu penuh kekhawatiran, gua memutuskan untuk menunggu hal-hal baik tersebut datang dengan mempersiapkan dan memantaskan diri. Gua tidak hanya menunggu di stasiun, tapi gua aktif menjaga barang-barang bawaan gua dan mempersiapkan segala yang diperlukan untuk akhirnya berangkat dan sampai pada doa-doa gua tersebut.

 


    Hadirin sekalian.... Gua udah semhas, YYEYEYEYEYEYEYEY!!! tau ga sih, rasanya selega itu cuy, riyal no fake. Karena lagi mood cerita, dan juga mati lampu bosen ga ngapa-ngapain jadi langsung saja ya.


    

    H-1 sebelum semhas gua sibuk bikin banner dan sekalian nyetak. Karena ini konsepnya mirip "expo," jadi gua harus bikin X-Banner buat promosiin apa sih sebenernya yang gua bikin selama ini. Karena pengerjaan paling lama itu memang garap kodingan, jadinya gua harus memamerkan building blocks yang gua bikin dong WKWKWKWK. Mau nanti orang ngerti atau ga ngerti konsepnya emang adalah pokoknya. Pas ngeliat banner bikinan gua tuh kayak, "omg gua keren banget," "ternyata ini toh yang gua bikin." Super proud 8).

    Semua orang literally pada seneng banget menyambut hari semhas gua. Bahkan bude gua sampai ngucapin selamat dan ikut mendoakan. Gua itu orangnya ga bisa nunjukkin gesture perhatian apalagi kasih sayang, jadi pas dapet support sebanyak itu gua bingung harus bereaksi dan membalas kaya gimana. Yang jelas, gua sangat berterima kasih kepada orang-orang baik yang tulus mendukung gua hoho 'w'.


    Karena biasanya gua berangkat dari arah Bintaro, jadinya pas lewat jalan ini berasa nostalgia banget. Gua berangkat jam 5 PAGIIII bener-bener abis sholat langsung berangkat takut macet. Untungnya jalanan lancar dan gua malah nyampe kepagian wkwk. Inget banget waktu dulu pertama kali lewat sini buat survey kampus gua ngambek, sepanjang jalan gua ga senyum sama sekali. Waktu itu pengumuman SBMPTN belum keluar, tapi gua yakin banget kalo gua bakal keterima karena apa? yap, karena katanya ibu gua mimpi gua kuliah di sini, gokil. Kalau dulu namanya Lebak Bulus Grab, sekarang udah ganti naming rightsnya jadi Lebak Bulus BSI. Gak nyangka tiba hari di mana gua ke sini lagi bareng orang tua, tapi kali ini buat skripsi hehe, dan nanti selanjutnya adalah wisuda (azek).



    Dulu itu di UIN gak ada bis begini. Apalagi fakultas gua itu letaknya paling belakang, jadi gua harus jalan jauh bener dari pintu gerbang sampai ke paling belakang. Namanya bilis(?) for whatever reason tapi namanya agak gak jelas. Karena barang bawaan gua banyak banget, jadi yasudah begitu sampai kampus langsung menunggu si bilis-bilis ini :3. Selama naik bilis rasanya recall memory banget. Oh, dulu gua di sini pernah begini. Oh pas di sana gua pernah begitu. Rasanya kaya baru kemarin, padahal udah lama. Gua sempet ga ke kampus hampir setahun karena masalah ini itu, dan rasanya seneng banget bisa kembali dengan diri gua yang udah ceria lagi. 



    Angkatan gua itu banyak yang belum lulus, mungkin masih sekitar 20an orang lagi. Ada satu teman gua yang seharusnya hari itu ikut. Tapi H-1 dia bilang kalau GERDnya kambuh. Jujur gua ngerasa sayang banget karena seminar hasil itu ada syarat "harus ditonton 15 orang." Apalagi sekarang memang lagi tanggalnya libur kuliah. Cari audiens kemana? ya ikut expo ini kuncinya. Tapi gua sih bilang ke teman gua tersebut; kalau butuh bantuan bilang aja, i'm here. Gua ngebantu teman-teman gua juga bukan tanpa alasan. Setelah selama ini gua selalu ngebelain orang-orang yang bahkan ga menghargai gua, belakangan ini gua merasa akan jauh lebih baik bantu teman-teman yang memang butuh bantuan dan gua tau mereka menghargai gua sebagai sesama teman. 


    YA INI DIA SPOT EXPO DAN BANNER GUA!!! LUCU IA..... LUCU BANGET BANGET BANGET BANGET BANGET??!! tbh gua selalu memimpikan kalau apa yang gua bikin bisa ditunjukin ke orang-orang. Setiap ada yang lewat atau tanya-tanya gua sama sekali ga grogi karena gua lebih merasa sharing sesama temen aja. 2 Penguji gua bahkan ngasih applause karena gua jelasinnya bagus (memang dasar tukang yapping) dan revisi gua ga banyak (but the truth is... meski revisi gua ga banyak tapi gua masih mau ngerjain, masih mau gua sempurnain SEDIKIT, SEDIKIT KOK). 

    Hari itu fakultas lagi adem-ademnya karena habis hujan. Ntah berapa lama gua ga nikmatin saat-saat kaya gini. Teman-teman gua mungkin udah duluan explore dunia kerja, tapi gua juga bentar lagi nyusul kok hehe. Akhirnya gua siap buat lanjut ke fase berikutnya, dan gua percaya dengan diri gua yang sekarang so much betterrrrrr. Everything will be okay, as always.

---

 


    Seharusnya gua udah tidur, tapi rasanya ga afdol kalau gak nulis dulu haha. 21 Januari, tanggal gua akan maju selangkah lebih dekat menuju sidang dan yudisium. Dan timeline ini pastilah akan berjalan cepat karena pendaftaran yudisium terakhir itu 28 februari, gua yakin gua bisa, makanya gua jadi aktif nulis karena gua harus rutin reset cache otak gua biar gak panas.

    Ada satu lagu dari Raisa yang lagi gua suka. Judulnya "Love & Let Go." Selama dengerin gua ngerasa aneh, kayak apa ya.... relate. Padahal gua belum tau lirik fullnya, tapi ga tau kenapa rasanya relate banget. Gua memutuskan untuk nyari dan bener aja... ku kira lagu ternyata kisahku haha


Don't ever change

That's what you said

I need some space

We'll grow apart

With one foot out the door, this is goodbye

Will you still be here when I have finally found myself?

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for (what I am searching for)

'Cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you

Set me free for now and I will come find you

With one foot out the door, this is goodbye

Will you still be here when I have finally found myself?

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for (what I am searching for)

'Cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you, but

Set me free for now and I will come find you

Feelings can come and go

You and I both know it's true

There's a chance it may compromise

My way back home to you (my way back home to you)

But I have learn by living

To love and let go

Will you be here when I find me? I don't know

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for

Oh, 'cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you

Set me free for now and I will come find you


    Awalnya gua denger ini tuh iseng karena ada salah satu peserta perwakilan Indonesia di variety show korea yang bawain lagu ini. Pas pertama kali dengerin "wah gila keren banget." Tapi makin lama gua dengerin kok makin nyesek, di sanalah gua cari tahu lagunya tentang apa. Tahun kemarin gua kehilangan banyak hal. Gua kehilangan teman, kehilangan lingkungan, kehilangan circle, banyak deh... sampai di titik hanya menyisakan gua dan beberapa sahabat yang memang tau sepak terjang gua sejak dulu. Di tahun 2025 gua memilih diri gua sendiri. Kenyataan bahwa selama ini gua selalu berkompromi tentang hidup, tapi mulai saat ini gua akan memilih diri gua yang sudah lama terabaikan. Orang mungkin akan mengira cinta yang bagaimana, tapi gak. Buat gua ini tuh lagu tentang kehidupan gua secara garis besar.


Growth Over Comfy

"I need some space / We'll grow apart / With one foot out the door"

    Setelah lulus, gua memutuskan untuk tidak pulang ke Bekasi. Gua sadar bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk gua bertumbuh. Ini adalah cara terbaik agar gua bisa menemukan diri gua yang sebenarnya sebagai seorang profesional. Kalau terus-terusan di rumah, gua gak akan jadi apa-apa. 

"'Cause time and time again, I stayed true / But this time I won't choose you"

    Gua tidak memilih rumah, tapi gua memilih jalan gua sendiri sebagai seseorang yang kini telah dewasa. Gua membebaskan diri gua dari ketergantungan emosional untuk sementara waktu agar bisa berdiri tegak di kaki sendiri. 

"Will you still be here when I have finally found myself?"

    Jujur, ini adalah ketakukan terbesar gua sekarang. Cinta gua terhadap rumah, mau pun terhadap orang-orang yang gua sayang itu ga berubah. Tapi, gua takut. Gua takut ketika gua sudah menjadi seorang perempuan yang lebih berani, lebih dewasa, lebih sukses, orang-orang yang gua sayang tidak hadir. Cinta yang baik itu sesungguhnya adalah cinta yang tidak memenjarakan dan bertumbuh, dan gua ingin di saat nantinya gua sukses... orang-orang yang gua hargai, orang-orang yang gua sayang bisa membersamai dan ikut merayakan kebahagiaan bersama. Alasan gua bertumbuh sebenarnya ya untuk itu, agar gua bisa kembali dan dengan bangga bisa mengatakan, "Look, i've finally made it." Gua bukan orang yang ringan mengatakan cinta, karena bagi gua cinta itu harus disertai pembuktian. 1000 orang bisa mengatakan sayang ke gua, tapi yang bisa membuktikan? belum tentu ada. Demi orang yang gua sayang, gua akan sukses. Demi orang yang gua cinta, gua akan berproses. Demi orang yang gua hargai, gua akan hidup dengan lebih baik dan keren lagi. Ya, gua akan mengusahakan yang terbaik; baik untuk diri gua sendiri mau pun untuk orang-orang yang gua cintai setulus hati; sekarang, nanti, dan akan selalu seperti itu. Untuk orang terkasih, gua akan menjadi versi terbaik dari diri gua.

"But I have learn by living / To love and let go"

    Dengan hilangnya circle gua, kehilangan banyak teman membuat gua cukup kesepian. Tapi, ada kalanya memang harus seperti itu alurnya. Gua harus bertemu dengan banyak hal, terbentur, terbentur, terbentur, baru bisa terbentuk. Dari banyaknya pertemuan dan pengalaman yang gua alami langsung, gua mulai tau arahnya mau kemana. Gua tidak ingin kembali sebagai orang yang kalah, tapi orang yang senantiasa bertumbuh dan bersahaja.

    Di fase kesendirian ini yang gua butuhin emang cuma waktu. Setidaknya sampai gua wisuda, i need some space outgrowing myself. Gua bisa bilang bahwa prosesnya semakin cepat, karena kalau melihat dari gaya postingan aja udah beda, gua udah mulai tenang, composed. Gua sedang tidak berlomba dengan siapa pun, dan itulah yang membuat gua tenang. Ya, gua sedang berada di liga gua sendiri.

    Ga tau ya... Gua hanya berharap semoga orang-orang yang gua sayang tersebut bisa menunggu, sebentar saja.. i'll find myself and make it work. Gua benar-benar memegang semua dukungan, harapan, dan doa yang telah diberikan orang-orang terkasih; dan karena itu gua sekarang bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Ini bukan hanya tentang kesuksesan, tapi gua ingin menjadi gua yang lebih baik. Setelah merasakan nikmatnya "berubah," gua jadi cukup ketagihan untuk berproses, rasanya semenyenangkan itu. Meski gua sekarang sendiri, tapi gua gak kesepian karena gua tau gua sedang mengarah menuju perubahan yang lebih baik. Terima kasih Ya Allah.


Will you still be here when I have finally found myself?

Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

  • Macam Macam Darah
  • Lampu LED
  • 2025 in a Nutshell

Categories

  • Activities
  • Freebies
  • Game (dulu)
  • Muhasabah
  • Pemberitahuan
  • Pengetahuan
  • Review
  • Tutorial

About Me


Your Greatest Alien, as always.

Popular Posts

  • Macam Macam Darah
  • Lampu LED
  • 2025 in a Nutshell

Copyright © so-called night thinker. Designed & Developed by OddThemes