so-called night thinker
  • Home
  • About
  • #
  • #
    • #
    • #
      • #
      • #
      • #
      • #
      • #
    • #
    • #
  • #

 


    Hadirin sekalian.... Gua udah semhas, YYEYEYEYEYEYEYEY!!! tau ga sih, rasanya selega itu cuy, riyal no fake. Karena lagi mood cerita, dan juga mati lampu bosen ga ngapa-ngapain jadi langsung saja ya.


    

    H-1 sebelum semhas gua sibuk bikin banner dan sekalian nyetak. Karena ini konsepnya mirip "expo," jadi gua harus bikin X-Banner buat promosiin apa sih sebenernya yang gua bikin selama ini. Karena pengerjaan paling lama itu memang garap kodingan, jadinya gua harus memamerkan building blocks yang gua bikin dong WKWKWKWK. Mau nanti orang ngerti atau ga ngerti konsepnya emang adalah pokoknya. Pas ngeliat banner bikinan gua tuh kayak, "omg gua keren banget," "ternyata ini toh yang gua bikin." Super proud 8).

    Semua orang literally pada seneng banget menyambut hari semhas gua. Bahkan bude gua sampai ngucapin selamat dan ikut mendoakan. Gua itu orangnya ga bisa nunjukkin gesture perhatian apalagi kasih sayang, jadi pas dapet support sebanyak itu gua bingung harus bereaksi dan membalas kaya gimana. Yang jelas, gua sangat berterima kasih kepada orang-orang baik yang tulus mendukung gua hoho 'w'.


    Karena biasanya gua berangkat dari arah Bintaro, jadinya pas lewat jalan ini berasa nostalgia banget. Gua berangkat jam 5 PAGIIII bener-bener abis sholat langsung berangkat takut macet. Untungnya jalanan lancar dan gua malah nyampe kepagian wkwk. Inget banget waktu dulu pertama kali lewat sini buat survey kampus gua ngambek, sepanjang jalan gua ga senyum sama sekali. Waktu itu pengumuman SBMPTN belum keluar, tapi gua yakin banget kalo gua bakal keterima karena apa? yap, karena katanya ibu gua mimpi gua kuliah di sini, gokil. Kalau dulu namanya Lebak Bulus Grab, sekarang udah ganti naming rightsnya jadi Lebak Bulus BSI. Gak nyangka tiba hari di mana gua ke sini lagi bareng orang tua, tapi kali ini buat skripsi hehe, dan nanti selanjutnya adalah wisuda (azek).



    Dulu itu di UIN gak ada bis begini. Apalagi fakultas gua itu letaknya paling belakang, jadi gua harus jalan jauh bener dari pintu gerbang sampai ke paling belakang. Namanya bilis(?) for whatever reason tapi namanya agak gak jelas. Karena barang bawaan gua banyak banget, jadi yasudah begitu sampai kampus langsung menunggu si bilis-bilis ini :3. Selama naik bilis rasanya recall memory banget. Oh, dulu gua di sini pernah begini. Oh pas di sana gua pernah begitu. Rasanya kaya baru kemarin, padahal udah lama. Gua sempet ga ke kampus hampir setahun karena masalah ini itu, dan rasanya seneng banget bisa kembali dengan diri gua yang udah ceria lagi. 



    Angkatan gua itu banyak yang belum lulus, mungkin masih sekitar 20an orang lagi. Ada satu teman gua yang seharusnya hari itu ikut. Tapi H-1 dia bilang kalau GERDnya kambuh. Jujur gua ngerasa sayang banget karena seminar hasil itu ada syarat "harus ditonton 15 orang." Apalagi sekarang memang lagi tanggalnya libur kuliah. Cari audiens kemana? ya ikut expo ini kuncinya. Tapi gua sih bilang ke teman gua tersebut; kalau butuh bantuan bilang aja, i'm here. Gua ngebantu teman-teman gua juga bukan tanpa alasan. Setelah selama ini gua selalu ngebelain orang-orang yang bahkan ga menghargai gua, belakangan ini gua merasa akan jauh lebih baik bantu teman-teman yang memang butuh bantuan dan gua tau mereka menghargai gua sebagai sesama teman. 


    YA INI DIA SPOT EXPO DAN BANNER GUA!!! LUCU IA..... LUCU BANGET BANGET BANGET BANGET BANGET??!! tbh gua selalu memimpikan kalau apa yang gua bikin bisa ditunjukin ke orang-orang. Setiap ada yang lewat atau tanya-tanya gua sama sekali ga grogi karena gua lebih merasa sharing sesama temen aja. 2 Penguji gua bahkan ngasih applause karena gua jelasinnya bagus (memang dasar tukang yapping) dan revisi gua ga banyak (but the truth is... meski revisi gua ga banyak tapi gua masih mau ngerjain, masih mau gua sempurnain SEDIKIT, SEDIKIT KOK). 

    Hari itu fakultas lagi adem-ademnya karena habis hujan. Ntah berapa lama gua ga nikmatin saat-saat kaya gini. Teman-teman gua mungkin udah duluan explore dunia kerja, tapi gua juga bentar lagi nyusul kok hehe. Akhirnya gua siap buat lanjut ke fase berikutnya, dan gua percaya dengan diri gua yang sekarang so much betterrrrrr. Everything will be okay, as always.

---

 


    Seharusnya gua udah tidur, tapi rasanya ga afdol kalau gak nulis dulu haha. 21 Januari, tanggal gua akan maju selangkah lebih dekat menuju sidang dan yudisium. Dan timeline ini pastilah akan berjalan cepat karena pendaftaran yudisium terakhir itu 28 februari, gua yakin gua bisa, makanya gua jadi aktif nulis karena gua harus rutin reset cache otak gua biar gak panas.

    Ada satu lagu dari Raisa yang lagi gua suka. Judulnya "Love & Let Go." Selama dengerin gua ngerasa aneh, kayak apa ya.... relate. Padahal gua belum tau lirik fullnya, tapi ga tau kenapa rasanya relate banget. Gua memutuskan untuk nyari dan bener aja... ku kira lagu ternyata kisahku haha


Don't ever change

That's what you said

I need some space

We'll grow apart

With one foot out the door, this is goodbye

Will you still be here when I have finally found myself?

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for (what I am searching for)

'Cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you

Set me free for now and I will come find you

With one foot out the door, this is goodbye

Will you still be here when I have finally found myself?

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for (what I am searching for)

'Cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you, but

Set me free for now and I will come find you

Feelings can come and go

You and I both know it's true

There's a chance it may compromise

My way back home to you (my way back home to you)

But I have learn by living

To love and let go

Will you be here when I find me? I don't know

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for

Oh, 'cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you

Set me free for now and I will come find you


    Awalnya gua denger ini tuh iseng karena ada salah satu peserta perwakilan Indonesia di variety show korea yang bawain lagu ini. Pas pertama kali dengerin "wah gila keren banget." Tapi makin lama gua dengerin kok makin nyesek, di sanalah gua cari tahu lagunya tentang apa. Tahun kemarin gua kehilangan banyak hal. Gua kehilangan teman, kehilangan lingkungan, kehilangan circle, banyak deh... sampai di titik hanya menyisakan gua dan beberapa sahabat yang memang tau sepak terjang gua sejak dulu. Di tahun 2025 gua memilih diri gua sendiri. Kenyataan bahwa selama ini gua selalu berkompromi tentang hidup, tapi mulai saat ini gua akan memilih diri gua yang sudah lama terabaikan. Orang mungkin akan mengira cinta yang bagaimana, tapi gak. Buat gua ini tuh lagu tentang kehidupan gua secara garis besar.


Growth Over Comfy

"I need some space / We'll grow apart / With one foot out the door"

    Setelah lulus, gua memutuskan untuk tidak pulang ke Bekasi. Gua sadar bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk gua bertumbuh. Ini adalah cara terbaik agar gua bisa menemukan diri gua yang sebenarnya sebagai seorang profesional. Kalau terus-terusan di rumah, gua gak akan jadi apa-apa. 

"'Cause time and time again, I stayed true / But this time I won't choose you"

    Gua tidak memilih rumah, tapi gua memilih jalan gua sendiri sebagai seseorang yang kini telah dewasa. Gua membebaskan diri gua dari ketergantungan emosional untuk sementara waktu agar bisa berdiri tegak di kaki sendiri. 

"Will you still be here when I have finally found myself?"

    Jujur, ini adalah ketakukan terbesar gua sekarang. Cinta gua terhadap rumah, mau pun terhadap orang-orang yang gua sayang itu ga berubah. Tapi, gua takut. Gua takut ketika gua sudah menjadi seorang perempuan yang lebih berani, lebih dewasa, lebih sukses, orang-orang yang gua sayang tidak hadir. Cinta yang baik itu sesungguhnya adalah cinta yang tidak memenjarakan dan bertumbuh, dan gua ingin di saat nantinya gua sukses... orang-orang yang gua hargai, orang-orang yang gua sayang bisa membersamai dan ikut merayakan kebahagiaan bersama. Alasan gua bertumbuh sebenarnya ya untuk itu, agar gua bisa kembali dan dengan bangga bisa mengatakan, "Look, i've finally made it." Gua bukan orang yang ringan mengatakan cinta, karena bagi gua cinta itu harus disertai pembuktian. 1000 orang bisa mengatakan sayang ke gua, tapi yang bisa membuktikan? belum tentu ada. Demi orang yang gua sayang, gua akan sukses. Demi orang yang gua cinta, gua akan berproses. Demi orang yang gua hargai, gua akan hidup dengan lebih baik dan keren lagi. Ya, gua akan mengusahakan yang terbaik; baik untuk diri gua sendiri mau pun untuk orang-orang yang gua cintai setulus hati; sekarang, nanti, dan akan selalu seperti itu. Untuk orang terkasih, gua akan menjadi versi terbaik dari diri gua.

"But I have learn by living / To love and let go"

    Dengan hilangnya circle gua, kehilangan banyak teman membuat gua cukup kesepian. Tapi, ada kalanya memang harus seperti itu alurnya. Gua harus bertemu dengan banyak hal, terbentur, terbentur, terbentur, baru bisa terbentuk. Dari banyaknya pertemuan dan pengalaman yang gua alami langsung, gua mulai tau arahnya mau kemana. Gua tidak ingin kembali sebagai orang yang kalah, tapi orang yang senantiasa bertumbuh dan bersahaja.

    Di fase kesendirian ini yang gua butuhin emang cuma waktu. Setidaknya sampai gua wisuda, i need some space outgrowing myself. Gua bisa bilang bahwa prosesnya semakin cepat, karena kalau melihat dari gaya postingan aja udah beda, gua udah mulai tenang, composed. Gua sedang tidak berlomba dengan siapa pun, dan itulah yang membuat gua tenang. Ya, gua sedang berada di liga gua sendiri.

    Ga tau ya... Gua hanya berharap semoga orang-orang yang gua sayang tersebut bisa menunggu, sebentar saja.. i'll find myself and make it work. Gua benar-benar memegang semua dukungan, harapan, dan doa yang telah diberikan orang-orang terkasih; dan karena itu gua sekarang bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Ini bukan hanya tentang kesuksesan, tapi gua ingin menjadi gua yang lebih baik. Setelah merasakan nikmatnya "berubah," gua jadi cukup ketagihan untuk berproses, rasanya semenyenangkan itu. Meski gua sekarang sendiri, tapi gua gak kesepian karena gua tau gua sedang mengarah menuju perubahan yang lebih baik. Terima kasih Ya Allah.


Will you still be here when I have finally found myself?


      Hari ini akhirnya menjadi pertanda bahwa pendaftaran semhas gua diterima. Seneng gak? ya seneng banget! akhirnya kelulusan gua ada hilalnya haha. Tapi tau ga sih... awalnya target gua menyelesaikan skripsi itu beneran seadanya, tapi setelah menyelesaikannya ternyata gua emang sesuka itu sama topik skripsi gua. Ya, sejak awal gua suka kok. 

    Jadi, dalam mengerjakan sesuatu gua itu orangnya totalitas. Dan saat itu, gua mengambil konsentrasi pemrosesan bahasa manusia alias NLP (natural language processing). Kalau dipikir, untuk apa gua ambil NLP di saat gua lebih paham image processing? tapi sayangnya gua ini memang ambisius. Gua itu suka banget ngulik, "kok bisa ya AI itu paham bahasa manusia?." Meski gua bisa image processing, tapi gua selalu amaze dengan bidang NLP ini. Dan alhamdulillahnya gua punya kesempatan untuk angkat topik ini jadi karya gua sendiri.

    Pertama kali gua terjun ke NLP itu pas gua ambil mata kuliah information retrieval. Saat itu, gua bisa bilang alasan gua tertarik itu karena dosen yang ngajar keren! jadi beliau itu lagi kuliah S3 di jerman ambil artificial intelligence, dan gua suka banget sama cara beliau dalam memberikan teori. Dalam sekali pertemuan, gua bisa langsung tau kalau dosen tersebut memang ahli di bidangnya. Kala itu, gua benar-benar belajar vektor dari awal. Bagaimana bisa setiap teks punya ruang dan bobotnya sendiri, hingga bagaimana caranya mesin pencari seperti google mencocokkan query dengan dokumen yang dicari.

    Menurut gua hal tersebut beneran keren banget. Rasanya kaya lagi ngeliat anak kecil belajar bahasa dari Nol. Bagaimana dia harus mulai mengenal huruf, angka, penyusunan kata yang membentuk sebuah makna, hingga penggabungan menjadi sebuah kalimat yang padu dan dapat dipahami. Dari sana, gua memutuskan untuk masuk ke tim riset beliau. Gua kebagian jadi orang yang anotasi data-data dari Al-Qur'an dan jujur, ini lebih menarik lagi. Orang islam itu banyak yang hesitate, ragu untuk ikut dalam kemajuan teknologi khususnya AI. Gua beneran ga ngerti, bukankah islam itu sangat mengedepankan ilmu? bukankah Allah memerintahkan kita untuk berpikir dan merenung? bukankah firman yang pertama turun itu perintah untuk membaca? Kenapa kita ga terjun dan ikut andil? kenapa orang islam selalu memilih untuk mundur dengan alasan yang menurut gua sebenarnya pembenaran atas kemalasan?

    Banyak pertanyaan yang ada di kepala gua. Dan salah satu yang paling bikin gua bingung adalah "mengutamakan akhirat." Banyak banget orang yang merasa "ah, dunia kan memang penjara untuk orang-orang muslim." Lalu mengabaikan dunia. Tidak mencari nafkah, dan bahkan cenderung pasrah. Gua juga sering merasa capek hidup di dunia, tapi kuncinya emang di sana: kita harus berjuang. Gua kurang suka saat orang islam memakai excuse tersebut sebagai justifikasi keterbelakangan orang islam. Sebagai seorang muslim, kita seharusnya menjadi pribadi pekerja keras, memiliki etos kerja yang baik, dan inovatif. 

    Dari awal gua sadar kalau spesialisasi ini susah, beneran susah. Prosesnya ada banyak, udah gitu gua memang bikin modelnya dari awal. Layer per layer gua susun, gua coba banyak training, trial dan error pake banyak konfigurasi, itu tuh buat gua satisfying. Permasalahannya balik lagi: susah. Lampiran source code gua aja gatau berapa halaman, bahkan skripsi yang awalnya target gua cuma 70 halaman sekarang udah ada 130-an halaman dan masih bisa tambah lagi sampai nanti tahap revisi sidang (estimasi gua mungkin 200an). Karena apa? pertama, gua emang suka yapping. Yang kedua, emang banyak yang perlu dibahas. 

    Ngoding itu ribet, beneran deh. Tidur gua ga bener berminggu-minggu karena gua harus selesein error, benerin logic, nyambungin pipeline, SUSAH. Itu juga yang bikin gua ngadet lagi ngadet lagi. Sebenernya gua bisa aja, tapi syaratnya adalah: lingkungannya harus kondusif. Dengan keadaan kemarin-kemarin yang sangat tidak kondusif, otak gua mau explore juga keburu mandek duluan seperti yang udah gua jelasin di sesi yappington sebelumnya.

    Orang-orang mungkin gatau, tapi hal paling nekat yang gua lakukan tahun 2025 itu: belajar dari awal. Gua baca lagi buku dasar-dasar pemrograman dari awal. Gua belajar lagi tentang neural network lagi dari awal. Gua baca puluhan artikel, Gua review banyak banget paper. Setiap malem gua baca paper bukan cuma buat skripsi, tapi karena gua mengejar materi. Ngoding itu adalah skill yang harus dilatih, dan karena otak sempat damaged sampai vakum ngoding, gua harus belajar lagi dari awal.

    Sering terjadi banget ketika gua nangis karena susah. Serius. Gua emang suka ngoding, tapi tetap aja sulit. Gua aja yang suka ngerasa sulit, apalagi kalo orang yang terpaksa, gua gak rekomen sih. Ada banget hari ketika gua pusing sampai nangis, tapi semuanya gua kejar sampai ada di titik gua bisa ngoding lagi kaya dulu. Bisa dibilang gua gila, karena gua mengejar materi bertahun-tahun cuma dalam 5 bulan. Gua ga berani bilang sama siapa pun kalau gua pernah ada di posisi ga bisa ngoding sama sekali. Nulis syntax if else biasa aja gua gak mampu, gokil kan? emang separah itu. Gua pernah secara gamblang nulis kaya gini waktu akhir 2023:


    Meski begitu, gua ga pernah nyerah dengan skripsi gua, karena pada dasarnya gua suka ngerjainnya!!!! Akhirnya gua selesai juga. Meski belum bisa dikatakan 100% selesai tapi setidaknya karya gua udah keliatan, dan gua bisa spill juga ke orang-orang. Sejujurnya gua takut, karena skripsi gua udah dilirik beberapa dosen. Gua takut, gimana kalau gua dimanfaatin lagi? gua takut skripsi gua diambil. Tapi untungnya gua punya satu jalan keluar supaya gua bisa tetap ngeclaim skripsi ini tetap menjadi "milik" gua. Gua ga mau membiarkan siapa pun loncatin nama gua, setidaknya untuk karya gua yang satu ini.

    Sejak gua mengajukan ganti judul ini, gua udah planning jauhhhhh kedepan mau dibawa kemana penelitian ini, gua punya prospeknya untuk beberapa tahun kedepannya. Masalahnya gua takut, gua takut lagi-lagi bertemu orang yang salah dan malah berusaha memeras semua ide dan karya gua. Untuk itu, mulai sekarang gua akan bertekad cari uang yang banyak. Biar kalau ada publikasi lagi, gua bisa pakai duit gua sendiri supaya tetap jadi nama pertama. Supaya gua ga kena gaslight dari siapa pun. Bertahun-tahun gua jadi orang yang ada di belakang layar, ntah udah berapa belas paper yang gua kerjain. Bertahun-tahun gua work in silence, dan gua rasa udah cukup. Sudah saatnya bagi gua untuk muncul sebagai gua, dan atas karya-karya gua nantinya. 


    Gua inget banget waktu itu lagi ngopi di BXC sebelum pulang, gua seneng banget karena proses pendaftaran gua lancar, tapi gua ngerasa ada yang janggal, "apaan ya?." Akhirnya gua cek kelengkapan dokumen buat akhir pendaftaran dan JRENG! ga ada. Padahal itu kopi belum gua minum tapi langsung gua teguk sampai abis dan buru-buru pulang.

    Cobaan semhas gua itu banyak banget. Hampir aja gua ga bisa maju di hari rabu depan. Ya beginilah ya begitulah, ada aja problemnya. Panik ga si lu tiba-tiba aja dokumen yang selama ini gua simpen tuh ilang. Dan sekalinya ada ternyata dokumennya ga bener. Awalnya gua cari di HP, tapi ternyata belum gua pindahin. Gua cari lagi di HP lama, dan ternyata udah gua hapus (karena memori penuh). Lanjut gua cari lagi di laptop lama, dan ternyata laptopnya RUSAK. Gua coba cari di SD Card tapi gak ada, gua cari di google drive semua akun gmail gua dan gak ada. Gua frustrasi banget sampai akhirnya gua langsung buru-buru ke tempat service padahal waktu itu udah malem. Ga peduli gua udah malem, yang penting itu file ada. 

    Apakah happy ending? enggak. Gua masih harus nunggu. Awalnya dijanjiin jam 21:30, tapi ternyata pas gua balik belum selesai. Sewaktu nunggu service, gua memutuskan untuk jalan-jalan di Bintaro Plaza. Bolak-balik kaya orang dodol saking paniknya. Gua mencoba makan sushi yang sangat gua sukai tersebut, tapi ternyata ga berasa sama sekali saking paniknya damn. Lu tau sepanik apa gua? itu jantung beneran DEG DEG DEG DEG DEG, berasa banget. Gua sampe ga bisa tidur nunggu hari besok. Tapi untungnya, dokumen gua gak salah, tapi memang kurang ajar banget developernya karena generate scorenya otomatis jadinya karena inputan rumus dari webnya salah outputnya jadi salah juga.

    Jadi di UIN itu ada persyaratan minimal nilai TOEFL dan TOAFL. Mungkin orang udah sering denger TOEFL, tapi TOAFL?? nah itu tuh sebenarnya tes kemampuan bahasa arab, bedanya sama TOEFL cuma di bahasanya aja wkwkw. Tesnya mencakup bahasa arab dasar, tes nahwu sorof, sama pemahaman paragraf. Gua inget banget score gua tuh 500-an, tapi jujur kaget banget karena tiba-tiba jadi 267. Gua bingung banget, KOK BISA???? dan ternyata setelah coba gua kulik, gua ekstrak nilai mentahnya, ternyata salah sistem wkwkwkw. Tapi memang, meski skor gua bener tapi ga ada tanda tangannya, jadi gua tetep harus dapetin itu dokumen.

 Besoknya alhamdulillah dapat kabar baik kalau data-datanya ada dan langsung gua pindahin ke laptop baru. Kaki gua langsung lemes, dan lebih kocaknya lagi gua langsung berasa ngantuk karena selama 1 hari 1 malem itu adrenaline rush gua kenceng banget. Gua jarang panik, tapi kalo udah panik edan banget. 


    Lanjut besoknya gua ke kampus untuk fotocopy kelengkapan dokumen. Ada satu fotocopy yang suka gua datengin. Tempatnya biasa aja, tapi abangnya gercep banget. Udah gitu, pembawaan abangnya chill abis jadinya gua kalau kesana keikut santai (tegang banget cuy ngurus skripsi). Pas gua ke sana, itu abang-abang dengan santainya nyetel sound jedag jedug kencengggg banget. Udah mah kenceng, berjoget dong dia wkwkw. Padahal gua tuh dateng panik banget, tapi ngeliat abangnya yang seenjoy itu dalam hidup gua jadi ikut nafas teratur lagi WKWKWKW. 

    H-1 pengumpulan berkas, gua akhirnya pulang ke Bekasi selain karena oma dateng, berkasnya bisa gua lanjutin sendiri (ga perlu ke kampus). Hal yang paling bikin gua nyesel itu adalah: harusnya gua pulang sendiri. Ga perlu lah gua nunggu abang gua janji begini begitu, dan lucunya malah gua yang disalahin, "kok kamu tiba-tiba mau dijemput?," padahal dia sendiri yang nawarin buat jemput, emang gelo.


    Awalnya gua santai aja karena nunggu di cafe, tapi kok sampai jam 9 masih ga dateng? itu cafe sampe tutup coy. Dengan santainya dia bilang "masih belum selesai." Buset kata gua, lu mentingin cewe ga jelas ampe segitunya. Ini gua bilang ga jelas karena emang beneran ga jelas ya, kalo gua ceritain lu pada pasti akan setuju banget tapi gua males karena nanti kesel sendiri. Oke lanjut, gua di cafe tersebut SAMPE CLOSING, lu bayangin aja itu abangnya sampe beres-beres, untungnya ga sampai disetel lagu sayonara. Habis itu gua bingung banget dong harus kemana?? akhirnya gua pindah ke prima mart, terus gua pindah lagi ke indomaret, gila, ada tega-teganya banget jadi orang. Tapi sampe akhirnya doi dateng gua berusaha sabar, apalagi perjalanannya jauh kan? gua harus jaga mood. Gua beneran bersyukur karena ga sakit dan masuk angin. Bayangin aja itu gua jam 12 malem masih di sudirman naik motor?? gua cuma bisa berdoa supaya ga sakit karena butuh banget tenaga buat semhas. Pas nyampe gua tidur bentar terus abis subuh gua start revisi terakhir buat semhas.


    Setelah common sense gua balik, gua beneran banyak banget sadarnya, "kok bisa ya?" "kok bisa ya?," banyak banget hal yang bikin gua geleng-geleng kepala. Hari ini gua jalan-jalan sendiri, tapi sepanjang jalan gua malah banyak mikir. Beneran deh, gua jadi ngerti tentang diri gua sendiri, tentang keadaan gua, tentang lingkungan gua, tentang apa yang gua pengenin, dan apa yang ingin gua capai. Sebenarnya di postingan-postingan lain sudah cukup jelas ya, tapi sekarang tuh gua kaya bisa baca polanya, gua bisa reasoning dengan kepala jernih. Memang ada benarnya kalau orang pernah terjatuh sekali, maka selanjutnya dia bakal bangkit lebih gokil lagi, dan mungkin itulah gua.  

    Gua masih inget banget kalau gua pernah kesal dengan Mba gua. Saat itu gua lagi semangat banget belajar masak, dan gua berpikir nanti sehabis lulus gua jualan kue aja dulu. Buka pre-order lumayan banget kok. Gua mengajukan untuk buka booth dulu di pasar malem sebagai permulaan, karena gua harus bangun brand-awarness ke orang-orang. Gua belajar giat banget setiap hari bikin catatan tentang cara berbisnis yang benar. Tapi kemudian mba menolak dan bilang yang intinya, "Jangan, kamu bukan di sana." Gua sempat tersinggung karena merasa secara ga langsung Mba meremehkan gua, padahal yang namanya bisnis itu kan memang dimulai dari skala kecil dulu, tapi setelah gua pikir lagi sekarang: maksudnya bukan begitu.
    
    Di dalam hidup, ada strategi yang perlu lu susun sebelum bisa terjun, sebelum memutuskan untuk melakuan ini dan itu. Memang, bisnis itu sebenarnya yang penting mulai aja dulu, tapi masalahnya ini konteksnya diri gua. Menurut mba, langkah gua itu salah. Harusnya dengan pengalaman dan kemampuan yang gua punya, fokus aja dulu ke bidang yang sekarang gua geluti: Artificial Intelligence. Mba tidak pernah melarang, tapi mba tahu kalau panggung gua bukan di sana, mba ingin menyampaikan, "you can do better than that." Bukan berarti berjualan kue itu tidak baik atau remeh, tapi justru kalau gua memang ingin terjun dan bercita-cita membuka sebuah bakery, maka gua bisa melakukannya dengan cara yang lebih baik di masa depan. Untuk saat ini, tindakan paling bijak yang bisa gua lakukan adalah fokus pada spesialisasi gua, dan ketika nanti sudah cukup stabil gua baru bisa menyusun rencana untuk mewujudkan mimpi bakery tersebut karena di saat itu gua pasti sudah punya lebih banyak pilihan dan alternatif cara untuk mewujudkannya. Mimpi gua untuk bikin bakery tuh masih ada banget, tapi gua simpen jadi rencana jangka panjang. Cepat atau lambat, gua akan sampai di titik itu, InsyaAllah.

    Pikiran gua yang lain masih banyak, tapi bingung juga mau jelasin kaya gimana. Intinya sekarang gua sadar, gua udah ngerti haha. Gua akan jadi orang yang lebih keren lagi, just watch me doing my things, pasti.

 


    2 bulan ini gua berusaha untuk memungut dan menyusun kembali puing-puing dari sisa fase kacau tersebut. Hidup tanpa guidance itu berat, karena lu harus meraba-raba sendiri jalan yang harus ditempuh. Itu juga yang mendasari kenapa gua pergi ke psikolog karena gua memang butuh. Gua akhirnya kini memiliki SOP tersendiri dalam bersikap, gua juga memiliki Framework yang gua pegang dalam hidup. Memang, hal-hal tersebut bisa berganti dan cukup adaptif, tapi setidaknya gua tidak lagi hidup seperti di alam rimba. 

    Awalnya gua sangat takut bahwa mulai saat ini gua akan hidup benar-benar sendiri. Bukan hanya sekadar tinggal sendiri, tapi hidup secara keseluruhan, levelnya sekarang berbeda. Meski gua selama ini juga sering jauh dari rumah, tapi kali ini rasanya beda. Keputusan gua semakin mantap untuk nantinya hidup mandiri sendiri. Look at me now, gua sudah 25. Gua tidak bisa hidup seperti air yang mengalir, gua tidak bisa hidup seperti kata orang, "jalani saja dulu." Gua sudah mencoba hal tersebut dan ternyata gagal total, berantakan. Di hidup ini ada banyak hal yang ingin gua lakukan, banyak milestone yang ingin gua capai. 

    Dua hari yang lalu gua bermain dengan teman-teman lama, dan menyadari 1 hal bahwa gua tidak lagi cocok dengan mereka. Sejatinya mereka tidak berubah, mereka masih sama seperti terakhir kali kita bermain, tapi memang gua yang berubah. Gambaran seseorang itu ternyata benar-benar terlihat dari siapa saja orang terdekatnya. Ada satu momen ketika gua menegur karena mendapati salah satu orang yang gua kenal ternyata memiliki kegemaran mengikuti puluhan perempuan di bawah umur (sekitar 14 tahun) dan tidak segan-segan menjadikan perempuan tersebut untuk konsumsinya pribadi. Sejujurnya gua sangat marah, gua tidak ingin memiliki kenalan seorang pedofil. Tetapi ntah kenapa ketika gua mencoba speak-up, mereka semua seperti tidak masalah dan membiarkan. Gua paham bahwa mungkin gua juga salah karena mencampuri urusan tersebut, dan gua juga jadi teringat postingan gua terdahulu mengenai kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki prinsip, standar, cara hidup yang sama dengan kita. Sampailah gua di sebuah kesimpulan untuk mundur perlahan. Bukan berarti gua benar-benar meninggalkan mereka, tidak. Gua tetap bertegur sapa, namun hanya sampai di tahap luar saja, sekadar kenal. Gua tidak ingin masuk karena mereka juga tidak ingin dirubah. Kembali mengingat kalau kita bukanlah Tuhan dan tidak bisa merubah seseorang kalau hidayah memang belum berkehendak datang, sekeras apa pun kita mencoba untuk menarik mereka. 

    Di dalam hidup banyak hal yang tidak bisa dikontrol, bahkan semakin dewasa gua semakin sadar ternyata hal yang bisa dikontrol itu sedikit sekali. Gua kembali teringat dengan kisah para nabi, bagaimana mereka diberikan amanah yang sangat besar namun sampai akhir tidak bisa merubah orang terdekat, yakni keluarga. Untuk itulah gua coba mengecilkan hal-hal yang bisa gua lakukan, bukan untuk kembali menjadi acuh, tapi bijak. Gua tetap peka, gua tetap berusaha inisiatif, tapi gua tidak akan sembarangan dalam bersikap. Menjadi hati-hati itu juga perlu, bukan demi orang lain tapi demi kebaikan diri gua sendiri. Hidup itu punya banyak aturan yang terlihat memusingkan, bahwa dalam bersosialisasi kita harus unggah-ungguh, dalam suatu kejadian kita harus pintar membaca situasi dan kondisi, ketika mengalami sesuatu kita harus pintar memposisikan diri kita seperti apa dan di mana; itu semua adalah cara mainnya. Hal tersebut tidak bisa dilewati karena akan selalu terjadi dan ada di setiap fase hidup. Itulah cara terbaik untuk bertahan hidup, mengetahui cara mainnya. Sama seperti kita beragama, kita mempelajari syariatnya, dan kita melaksanakannya secara konsisten selama hidup. Untuk apa? supaya kita selamat, supaya kita memiliki kehidupan yang indah di akhirat kelak. Di dalam islam pun sebenarnya juga sudah dijelaskan bagaimana seharusnya kita bersikap. Selain hubungan dengan Allah, menjaga hubungan sesama manusia juga tidak kalah penting, itulah yang membuat kita selamat di dunia. Awalnya gua sangat pusing, sebagai manusia harus begini dan begitu. Tapi kembali lagi, semua ada prosedurnya. Kita tidak bisa hidup seenaknya, kita tidak bisa hidup sesuka dan semaunya. Menghargai sesama, berbicara yang baik, sopan-santun di mana pun berada, peka terhadap orang-orang sekitar, tidak mudah menyakiti dan melukai hati orang baik lisan mau pun perbuatan, dan segudang mannerism untuk menjadi bermartabat. Sejak dulu sebenarnya gua juga sudah tahu, dari dulu gua ditekankan soal adab, tapi proses gua dalam mendidik diri gua kembali juga termasuk di dalamnya evaluasi. Mengevaluasi bagaimana sikap yang selama ini gua terapkan kepada orang lain, bagaimana sikap yang gua tunjukkan di lingkungan, bagaimana cara gua berbicara dan menanggapi sesuatu. Dari sana kemudian gua akan tahu gua kurang di mana, dan apa yang bisa diperbaiki. That's how my brain works. 

    Setelah mengurai semua yang ada di dalam diri, kini gua maju dengan lebih tegap sebagai gua yang lebih siap. Gua memikirkan apa yang gua ingin lakukan dan otak gua penuh dengan rencana ini itu. Gua tidak akan mengeksekusi semua, tapi gua akan memilih hal yang memang gua inginkan dan gua butuhkan. Menjadi researcher itu adalah mimpi yang tidak lagi terbantahkan, kalau pun gua tidak benar-benar meraihnya setidaknya di dalam hidup ini gua bisa menjadi sesuatu yang mirip secara skillset dengan hal tersebut. Istilahnya, jika kita menargetkan langit nun jauh di sana dan berakhir tidak mampu meraihnya, tapi kita akan tetap jatuh di antara bintang-bintang. Karena apa? karena kita sudah berusaha naik, kita tidak berada di titik awal atau bahkan fase ketidakjelasan dalam hidup. Bagaimana kalau kita kembali jatuh? jawabannya adalah: kita bisa naik kembali. Seseorang yang pernah sekali terjatuh tidaklah jatuh dalam ketidaktahuan, di setiap kejadian pasti ada pelajaran baru yang bisa dijadikan modal untuk nantinya naik kembali. Dan seperti itulah seharusnya gua hidup.

    Hal lain yang ingin gua capai adalah gua ingin hidup mandiri. Selama ini gua sadar sudah menyusahkan banyak orang, bahwa ketidakmampuan gua ternyata merepotkan banyak orang, gua sangat sadar dan sangat tahu diri. Meski di satu sisi gua tahu orang-orang di sekitar gua baik, tapi tetap saja gua tidak ingin lama-lama menumpang seperti ini. Karena itulah, gua ingin menjadi manusia yang berdikari. Terkadang malam ketika tidur gua suka memimpikan suatu hari nanti di mana gua memiliki tempat tinggal sendiri. Gua juga tidak tahu pasti apakah itu kos, apartemen, atau pun sebuah rumah; tapi di mimpi tersebut gua merasa sangat tenang. Bukan di rumah atau pun di sini, tapi di suatu tempat yang benar-benar bisa gua sebut sebagai tempat berpijak dan berlabuh. Tempat tersebut tidak terlalu besar, tapi setidaknya cukup untuk gua sendiri, dan bahkan untuk keluarga kecil gua nantinya. Sebuah tempat di mana semuanya terasa hangat dan menenangkan, tempat yang gua bisa jadikan patokan sebagai gambaran Sakinah. Setidaknya di mataku, sakinah terlihat seperti itu. Tempat terbaik untuk merasa dan aman bertumbuh bagi semua orang yang ada di dalamnya. 

    Terkadang gua membayangkan sedang asik membaca penelitian, terkadang gua membayangkan diri gua sedang tiduran santai sambil menonton TV, atau ada hari gua sedang mengerjakan projek ditemani suara hujan dari luar. Ternyata gua memimpikan hal-hal sederhana tersebut. Bukan tentang apa, tapi bagaimana rasanya. Kalau dikatakan sederhana, sebenarnya tidak juga. Kalau sederhana, harusnya semua orang punya, harusnya semua orang bisa merasakannya. Tapi kenyataannya tidak begitu bukan? gua masih ingat ketika gua sedang mengerjakan revisi di kampus hingga malam. Saat itu suasana sangat syahdu, lalu kemudian mulai datang orang-orang ke pelataran masjid tersebut. Gua cukup bingung, bukankah lampu masjid sudah dimatikan? tapi ternyata mereka semua datang untuk tidur di tempat itu. Beralaskan kardus yang mereka dapatkan dari pedagang sekitar, sambil membawa makanan seadanya untuk mereka makan sebelum tidur.

    Gua masih jauh lebih beruntung dibanding mereka. Tidak, gua tidak ingin menggunakan mereka sebagai objek bersyukur. Justru di mata gua, mereka sangatlah hebat karena tidak memutuskan untuk menyerah. Pasti mereka pun bisa menyalahkan semua hal yang membuat mereka harus memiliki kehidupan seperti itu, tapi hal tersebut tidak dilakukan. Hari itu gua kembali tertampar, tentang bagaimana mental yang seharusnya gua miliki dalam hidup. Memang, semua yang gua rasakan itu juga benar dan nyata terjadi. Tapi ini juga yang membuat gua memutuskan untuk fokus pada diri gua dan apa yang ingin gua capai selanjutnya. Ketika gua mulai kesal, gua akan mengatakan "namanya juga hidup," dan kembali fokus pada diri sendiri. 

    Tentang apa yang akan menjadi selanjutnya, gua rasa sudah cukup jelas. 

    


Pukul 04.00

    Pagi ini aku belum terlelap. Lucunya, kali ini aku terjaga bukan karena melakukan sesuatu yang "keren", melainkan karena baru saja menamatkan sebuah drama Korea. Ya, akhirnya aku kembali menonton setelah sekian bulan, sampai-sampai aku lupa kapan terakhir kali melakukannya. Jika ini terjadi di masa lalu, mungkin aku sudah dihakimi habis-habisan karena begadang untuk hal remeh-temeh. Untungnya, di sini tidak demikian.

    Aku baru menyadari bahwa selama ini otakku berada dalam mode bertahan hidup (survival mode). Hal itulah yang membuat otot dan otakku selalu tegang. Pola pikir yang mengukur harga diri dari produktivitas ternyata sangat beracun (toxic). Selama ini, rupanya aku begitu takut terlihat santai karena pola pikir ini telah tertanam dalam diriku selama beberapa tahun. Aku menjadi sangat keras terhadap diri sendiri jika dalam sehari tidak melakukan sesuatu. Sebenarnya, di Bintaro tidak ada yang memarahi, namun mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang aku lakukan itu begitu kuat, masih terbawa hingga ke sini. Buktinya, meski sudah tujuh bulan di sini, bisa dibilang baru dua bulan terakhir inilah perkembangan diriku terasa signifikan. Saking tegangnya otot dan otak, aku bahkan pernah mengalami fase diam tak berkutik (freeze). Otak yang rusak sungguh sebuah bencana besar.

    Aku merasa bahwa dalam hidup ini aku harus selalu melakukan dan mencapai sesuatu, padahal nyatanya tidak harus demikian. Ternyata, aku juga manusia. Aku adalah human being, bukan human doing. Dengan segala kelebihannya, dengan segala kekurangannya. Ternyata, aku tetap berharga hanya dengan menjalani hidup sederhana; bernapas, menonton, tertawa. Boleh dibilang, kini akhirnya aku mengerti maksud Mbaku. Pantas saja selama ini aku selalu sakit kepala dan merasa pusing.

    Mba itu lucu. Alih-alih menyuruhku menyusun rencana ini-itu, dia malah menyuruhku untuk bersantai. Kalau sedang terlihat serius, aku malah disuruh bermain. Awalnya aku bingung, tetapi ternyata aku memang sudah mengalami kelelahan mental (burnout). Tiga menit lagi azan subuh berkumandang, dan aku malah menangis. Film atau serial yang kutonton tidak selalu sedih, tetapi entah mengapa air mataku selalu jatuh, bahkan untuk adegan yang sebenarnya biasa saja. Kali ini aku tidak sedih, aku justru bahagia sekali. Mungkin selama ini aku lupa bahwa diriku apa adanya pun tetap berharga. Tanpa seluruh pencapaian (achievement) dan kemampuan itu, aku tetaplah Wilda yang asik dan baik hati. Ada hari-hari di mana aku tidak perlu berpikir keras dan memikirkan segalanya.

    Ibarat komputer, selama ini performa CPU-ku selalu berjalan 100%, bahkan dipaksa overclock sampai batas maksimal GHz-nya. Mba tidak butuh aku yang sempurna, tapi Mba butuh aku yang sehat dan bahagia. Mba percaya, ketika cache RAM-ku sudah tuntas bersih, nantinya aku bisa berjalan bahkan berlari sendiri. Setelah mengosongkan wadah tersebut, rasanya lega sekali. Hambatan mental (mental block) itu hilang, bahkan otakku bisa berpikir lebih jernih dari sebelumnya. Menurutku, ini bukan hanya persoalan fresh from the oven, tetapi aku sedang mengalami sesuatu yang disebut pertumbuhan pascatrauma (post-traumatic growth). Aku sendiri bahkan terkejut, "Apa iya dari dulu otakku seencer ini?" Mungkin aslinya iya, tetapi selama ini tertutup oleh panas berlebih (overheat) di otakku sendiri.

    Jadi begini, otak manusia itu sebenarnya adaptif. Selama ini, otakku fleksibel tetapi hanya untuk bertahan hidup. Atas segala kejadian buruk, tuntutan, dan ekspektasi, akhirnya aku memfokuskan otak untuk pemenuhan ekspektasi yang sebenarnya menghabiskan stok ketahanan mental. Secara fungsionalitas, otakku tetap bisa dipakai untuk berpikir, belajar, dan bekerja, tetapi tidak pernah maksimal. Itulah yang membuatku sering berhenti di tengah jalan. Hal itu juga yang membuatku "mandek" karena saat akhirnya sampai di tahap implementasi ilmu, otakku tidak sanggup. Selain alokasi energi yang sudah habis, energi tersebut ternyata tersedot untuk amigdala (amygdala). Akibatnya, aku terus-menerus mentok pada rasa traumatis, stres, minder, bingung, dan takut (stres kronis dan burnout berkepanjangan). Setelah aku memutuskan untuk mengosongkan semua memori tersebut (secara medis memori tidak dihapus, namun emosinya yang dilepas) akhirnya kini alokasi otakku sudah beralih menuju korteks prefrontal (prefrontal cortex).

    Ketenangan diri ternyata membuat kerja otakku lebih efisien. Kini, otakku akhirnya fleksibel digunakan untuk perkembangan hidupku sendiri, sebuah positive neuroplasticity. Sekaranglah saatnya bagiku untuk memberi stimulus, membentuk "jalan tol" baru di otak yang akhirnya siap digunakan kembali. Keren, ya? Ternyata gunanya belajar adalah untuk hal-hal seperti ini; aku memakai ilmu yang didapat untuk membenahi otak dan diriku sendiri.

    Akhirnya, aku benar-benar tersadar bahwa aku tidak pernah kurang apa pun; bahkan aku lebih dari cukup. Aku senang sekali, sungguh senang. Di hidup yang hanya sekali ini, aku ingin melakukan banyak hal seru. Meski hidupku selama ini sudah seru, aku ingin lebih seru lagi. Mungkin ini keserakahanku, tetapi aku lelah dibatasi ini-itu sampai di titik aku sendiri bingung harus melangkah seperti apa. Dari dulu aku adalah anak yang baik, tetapi aku hanya tertekan. Kalau Allah memberiku kesempatan untuk menikah nanti, aku ingin menjadi ibu yang bisa menjadi sahabat dan pendukung (supporter) terbaik bagi anak-anakku kelak.

    Minggu lalu aku ke kampus untuk bimbingan. Di sana, aku ditawari dosenku untuk ikut menonton dan menguji mahasiswa yang sedang mempresentasikan tugas besar mereka. Awalnya aku hanya menonton, tetapi kemudian aku memutuskan untuk ikut menilai dan memberi saran. Saat itu, aku mendapati bahwa tidak ada satu pun mahasiswa di sana yang benar-benar paham dengan apa yang mereka presentasikan. Akhirnya, aku maju untuk menguraikannya panjang lebar. Aku menjelaskan sampai di tahap, "Kalian tahu tidak, sebenarnya kalian sedang belajar apa?" dan mereka terdiam. Setelah selesai menjelaskan, aku benar-benar kaget melihat wajah mereka yang berbinar dan takjub. "Kak... keren banget..." ucap mereka. Awalnya aku mengelak karena menurutku itu biasa saja, tetapi setelah melihat kembali apa yang baru saja kulakukan, ternyata tidak semua orang bisa melakukannya. Andaikan ini film, adegan tadi akan menjadi sebuah momen realisasi (realization): apa yang menurutku biasa ternyata tidak biasa. Sebenarnya aku sudah lama tidak memegang teori itu, tetapi entah mengapa aku bisa menjabarkan semua rumus dan implementasinya dengan baik. Apakah aku tiba-tiba punya kemampuan baru? Tidak, karena sebetulnya itu adalah hasil usahaku bertahun-tahun yang sudah tersimpan di dalam diri sejak awal. Saking seringnya aku belajar, semua hal tersebut sekarang sudah tertata rapi di dalam diriku. Namun, meski tahu faktanya, aku sendiri tetap terkejut.

    Semakin aku jelaskan, mereka ternyata makin kagum. Kata mereka, "Sama Kakak kok jadi gampang, ya?" atau "Kak, jujur aku baru mengerti sekarang setelah dijelaskan sama Kakak." Aku sampai tak bisa berkata-kata (speechless) mendengarnya. Memangnya iya, ya? Masa, sih? Aku tidak percaya. Belakangan ini CV-ku selalu ditolak, sehingga aku memiliki pola pikir bahwa aku ini kurang. Aku selalu merasa bodoh dan takut, sampai akhirnya banyak melewatkan kesempatan bagus. Padahal, yang harus dibenahi dariku adalah caranya. Aku sekarang mengerti kekuranganku sebenarnya apa. Bukan di ilmunya, melainkan cara menunjukkannya. Selama ini aku terlalu tertutup dan minder dengan diri sendiri. Aku takut kalau unjuk gigi (show off) dibilang sombong, tetapi kalau hobinya memendam potensi (gatekeeping) terus, kapan orang akan tahu? Lucu memang. Hal yang sulit dilakukan itu adalah menjadi rendah hati tanpa harus merendahkan diri, dan menunjukkan diri tanpa harus menyombongkan diri (balance). Susah, sampai detik ini aku juga masih berjuang. Aku sebenarnya kompeten, tetapi aku tidak bisa "menjual" kemampuan tersebut.

    Pulang dari kampus, aku sampai termenung sendiri. Wil... ternyata kamu pintar, ternyata kamu sepintar itu. Menurutku, orang jahat di hidupku adalah orang-orang yang mencoba menihilkan dan berusaha mengecilkan aku. Kalau mahasiswa-mahasiswa di kelas itu saja bisa tahu dalam sekali lihat, berarti seharusnya mereka juga tahu. Kalian tahu aku punya potensi, tetapi kalian malah mau mengecilkan hal tersebut dengan alasan ini-itu? Jahat. I can do something more than this. Aku sampai merasa terhenti sejenak (glitch) ketika mencoba mengingat memori dua tahun ke belakang ini. Maaf kalau aku masih mengungkit hal ini, tetapi jujur saja harga diriku (self-esteem) pernah serendah itu. Kerusakannya benar-benar parah dan sangat berdampak padaku. 

    Orang mungkin tidak paham, dan aku juga tidak mau meminta orang lain untuk paham. Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku 2 tahun terakhir itu adalah pembunuhan karakter. Selama ini aku sudah mendedikasikan hidupku untuk hal tersebut, blog ini menjadi saksi bisu bagaimana setiap harinya aku harus terus tekun dan konsisten, bagaimana aku harus selalu memupuk rasa semangat dan menjaga ritme tersebut. I was literally dedicating my whole life for that momentum. Hanya orang yang cinta mati pada impiannya yang akan merasa hancur lebur saat impian itu terancam. Rasa sakit ini adalah bukti seberapa besar dedikasi yang aku berikan, sebuah tanda kesungguhan. Tahun kemarin aku sempat tidak sanggup karena kehilangan banyak hal yang telah menjadi hidup dan perjuanganku, kalau bukan ini maka apa yang harus aku lakukan? dan pilihanku hanya tetap maju. Setidaknya aku merasa bahwa di sini adalah blogku, dan apa yang aku rasakan itu valid-valid saja haha. Dibanding melakukan emotional dumping dan melemparkan opini ke sosmed, aku rasa ini alternatif terbaik.

    Tapi itu kan sudah lewat. Dan aku juga sudah "sembuh." Maksudku menulis di sini adalah agar aku selalu mengingat fase apa saja yang aku lewati dalam hidup. Ini bukanlah sebuah peratapan kegagalan atau berlarut-larut dalam kesedihan. Tidak, memang ini sedang fasenya saja. Justru dengan memahami masa dan fase aku jadi lebih "merasa," bahwa sekarang aku adalah manusia yang hadir utuh di setiap kejadiannya. Aku berhasil melakukan sesuatu yang sulit: Menghadapi Masalah. Ada hari di mana aku kecewa sekali, atau marah sekali, atau malu sekali. Tapi fakta bahwa aku menerima masa sulit, hadir di saat tersebut, dan berusaha mencari jalan keluarnya; aku tidak lari, dan aku sudah dewasa. Suatu hari nanti ketika aku membaca kembali postingan ini aku akan tersenyum dan bangga dengan aku yang mampu menghadapi dan menyikapi permasalahan yang ada. Yup, i'm taking my time wisely. 

    Ternyata kemampuanku tidak ke mana-mana. Mimpiku masih ada di tempatnya, menunggu untuk kujemput dan kuperjuangkan lagi. Bahkan, hati dan jiwaku makin matang dalam melihat dunia. Setelah selama ini terus-menerus minder dan merasa rendah diri, mulai sekarang aku akan belajar dengan cara yang berbeda. Karena aku akhirnya sadar dengan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness) yang dimiliki, aku jadi tahu apa yang aku mau dan harus lakukan.

    Aku benar-benar masih sering memikirkan hari itu, saat melihat bagaimana anak-anak di kelas seantusias itu mendengarkan aku berbicara. Aku bahkan bisa santai saat menjelaskannya. Gila, rasanya otakku mengalir lancar sekali, semuanya terjadi tanpa beban (effortless). Dosenku bahkan mengatakan langsung di depan mataku, "Ibu tahu kamu bisa sepintar apa kalau lingkungannya benar." Di situ aku kembali tersadar mengapa aku bisa suka belajar: karena aslinya memang semenyenangkan itu sebelum akhirnya pola pikir beracun menggerogoti diri. Selama perjalanan pulang dari kampus, aku hanya bisa tertawa getir di motor. Gila, rasanya seseru ini kalau diri yang asli sudah kembali. Just my two cents, dulu pernah ada masa di mana aku merasa semua ini percuma dan tidak ada artinya. Buat apa aku terus-terusan jadi ranking 1 kalau ternyata tidak pernah dianggap cukup? Buat apa aku punya hafalan sampai 20 juz di usia 18 tahun kalau ujung-ujungnya selalu dihakimi? Punya 7 publikasi di usia 23 tahun sebenarnya untuk apa? Buat apa aku melakukan semua itu bertahun-tahun kalau pada akhirnya aku saja tidak didengar, tidak punya kuasa, dan tidak punya kendali atas pilihan hidupku sendiri? Aku kalut sampai meledak sendiri. Aku sekarang mengerti kenapa psikolog menyuruhku untuk membuat papan visi (vision board), karena dia juga sudah melihat hal itu.

    Aku ingin mengucapkan rasa syukur dan rasa terima kasih aku kepada orang-orang yang masih menyayangi dan mempercayai diriku hingga detik ini. Aku sangat bersyukur bahwa saat Aku terjatuh masih ada orang-orang yang hadir, mendukung dan mendoakan kesuksesan serta kebahagiaanku. Terima kasih karena telah menyadarkan bahwa terlepas apa yang pernah terjadi, aku adalah manusia yang pantas dihargai dan dicintai sepenuh hati. Aku bisa merasakan kebaikan yang diberikan seseorang terhadapku, dan hal-hal itulah yang membuat aku bisa kembali berjalan dan menata ulang semuanya. Aku itu suka mengingat hal yang baik apalagi membahagiakan. Bahkan meski postingan aku terkadang memuat kesedihan, tapi percayalah bahwa selalu ada titik rasa syukur yang aku rasakan dari tulisan-tulisan tersebut. Selain Allah Yang Maha Segalanya, kembalinya diriku juga tak luput dari kepercayaan dan kebaikan yang tersampaikan baik lewat kata atau perbuatan. Aku mengingatnya dengan baik, sangat baik, bahkan lebih baik dari yang orang-orang kira.


    Manusia itu pohon yang harus disiram agar tumbuh, bukan batu yang bisa dipahat sesuka hati. Kalau dia tidak sadar itu, siapa pun yang bersamanya akan berubah menjadi layu.



 


    Selamat datang di republik ngoceh! setelah hari ini membaca ulang postingan-postingan yang ada di blog ini, sepertinya coping mechanism terbaik buat gua masih menulis. Ternyata, tahun 2024 itu gua beneran ga nulis. Gua coba cari di berbagai platform apakah ada tulisan karya gua di tahun 2024 dan ternyata ga ada, sadis. Tulisan di sini maksudnya adalah catatan pribadi gua. Mau itu bentuknya semi-formal, curhat, atau ngoceh ga jelas, ga ada. Satu-satunya yang terekam lewat tulisan itu ketika gua menulis surat via FutureMe, tapi itu juga ga banyak. Memang, tahun 2024-2025 gua lagi hancur banget sampai ga ada pikiran untuk nulis. Tahun ini, gua mau coba ngoceh lagi :3 rasanya seru juga ya baca-bacain tulisan lama gue. Di sini gua juga ga mau terlalu terikat KBBI karena this isn't falthea~ segmen yang terlalu serius dialihkan ke sebelah, yappington isinya ya..... ngoceh!!

    Bisa dibilang gua itu adalah anak yang diharapkan. Skalanya bukan cuma ibu dan ayah, tapi bisa dibilang keluarga besar juga. Uh oh... kok bisa? gua juga ga ngerti. Biasanya ya, katakanlah lu punya saudara yang kena masalah. Terus reaksi lu apa? mungkin lu akan sedih dan bersimpati, tapi yaudah aja gitu kan? Nah, waktu 2024 gua rungkad itu... semua orang panik. Asli, semua orang kaget. Latar belakang kenapa gua sampai harus "diseret" ke bintaro itu ya karena semua orang panik liat gua ngerungkad. Seumur-umur gua emang ga pernah sampai kaya gitu. Gua itu terbiasa hidup sendiri dan stabil-stabil aja. Tapi sepertinya batas gua itu ada di tahun 2024, kacau balau. Tapi lucunya, meski gua dalam keadaan amsyong kaya gitu gua masih bisa publish 1 paper dan magang di XL, gokil juga. Gua udah coba bertahan sendiri tapi ternyata ujung-ujungnya tetap ambruk. Jujur, kejadian itu adalah hal yang gak pernah gua sangka. Selama ini gua selalu ngerasa bisa, tapi pada akhirnya gua masihlah seorang anak yang saat itu berumur 23 tahun.

    Gua itu sebenarnya sudah bersahabat dengan high-pressure. Dari gua sekolah sehari-hari itu memang sudah high expectation. Gimana enggak, dari SD-Kuliah gua gak pernah ga berprestasi, hidup gua ga ada kata ga gacor. Terbukti juga dari postingan-postingan gua yang dulu, bagaimana gua sangat keras terhadap diri sendiri, betapa galaknya gua dengan target dan tujuan gua, tapi hasilnya sepadan lah ya haha. Waktu UN SMP, bahasa inggris gua cuma salah satu. Waktu UN SMA, bahasa indonesia gua juga cuma salah satu, almost perfect. Dari SD gua sudah menghafal, dari SD gua juga udah aktif ikut lomba sana-sini. Persoalan akademik gua memang keras banget. Dari zaman sekolah sehari tidur 2 jam itu udah biasa buat gua saking fullnya kegiatan dan target yang harus gua kerjain. Waktu SMA, gua itu masuk namanya halaqoh takhosus. Di sana, proses setoran hafalan dan muroja'ahnya jauh lebih ketat dari anak-anak lain. Kalau biasanya cuma 2 lembar, tapi di takhosus dalam sekali muroja'ah lu harus bisa setengah juz atau minimal 5 lembar dalam sehari, bahkan pernah juga gua dalam sekali duduk setor langsung 1 juz, sadis memang. Saat kelas 11 gua juga dipercaya jadi ketua divisi bahasa yang mengatur penggunaan bahasa inggris dan arab sehari-hari di asrama. Selain itu, gua juga masuk kelas persiapan olimpiade yang mau tidak mau membuat gua harus berjuang jauh... jauh lebih keras. Udah? belum. Gua juga jadi panitia acara pensi dan lomba antar sekolah, gua harus berurusan dengan berbagai sponsor karena tugas gua bagian surat-menyurat dan nyambi jadi admin design :). Persoalan jam belajar gua jangan ditanya, udah pasti gila.

    Kalau dipikir-pikir dan diingat-ingat lagi, dari dulu pressure gua emang segila itu. Waktu kuliah juga ga kalah sadis. Karena sudah terlalu pusing dengan dunia baru gua yakni ngoding, gua memutuskan untuk ga ikut organisasi. Tapi meski ga ikut organisasi hidup gua tetap sibuk. Dari semester 5, gua udah mulai ikut penelitian. Tahun 2022 gua juga lolos bangkit, program yang membuat gua bisa nyemplung ke dunia AI hingga detik ini. Setelah udah cukup dapet feel di dunia pemrograman, gua mulai ikut wara-wiri ikut lomba, dan makin banyak juga publish paper internasional. Melihat kehidupan seorang gua yang makin mantep, orang-orang jadi punya ekspetasi yang semakin tinggi terhadap gua, hingga akhirnya gua harus ambruk di tahun 2024. 

    Sejujurnya sampai akhir pun gua ga tau kenapa bisa ambruk, tapi satu hal yang pasti adalah bahwa gua terlampau lelah dan capek. Bulan kemarin saudara gua yang seumuran (dia 2 tahun lebih tua) datang kemari dan kita cukup banyak bercerita. Saat itu gua biasa aja sampai dia mengatakan, "ya iyalah wil, aku juga kalau jadi kamu overwhelmed." Singkat, jelas, dan padat. Memang, selama ini gua juga merasa bahwa ekspetasi ini semakin mencekik gua in some aspects, fakta bahwa di dunia ini gua harus bisa segalanya, dan ternyata gak bisa. Tapi untungnya lewat peristiwa rungkad gua di tahun 2024, orang-orang juga jadi sadar kalau bagaimana pun juga umur gua masih 20an T____T hiks. 19 Desember kemarin gua baru resmi 25 tahun, itu juga kenapa sekarang gua udah jauh lebih tenang karena AKHIRNYA GUA 25... usia yang bagi gua, fisik dan mental gua udah cukup kuat buat nanggung semua itu. Makanya kenapa gua bisa lebih santai nan idgaf karena secara fisik dan mental gua udah jauh lebih siap.

    Tahun kemarin tuh hidup gua isinya pusing terus, bingung terus. Gua sampe mempertanyakan diri gua sendiri, "wil, lu sebenernya kenapa sih?" karena selama ini emang ga pernah sampe kayak gitu aaaaarrrghhhhhhh. Tapi ya ambil hikmahnya aja, akan selalu ada pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir kan. Hikmahnya apa ya.... hm..... gua ketemu banyak orang baik tahun kemarin! ada mba ayu, mas teguh, ada mas faiz, ada bu ima, yoyo, indri, kisa, iyam, reza, arya, bu gita... banyak! jujur, waktu pertama ke bintaro gua tuh takut banget. Istilahnya kaya gua siapa dan di mana, random banget sumpah. Gua aja ga begitu kenal dengan mas teguh, bahkan gua baru pertama tau dan liat mas faiz. Meski masih saudara jauh(?) eh tapi kayanya bukan saudara ga sih duh gatau begitulah pokoknya mau nyebut saudara tapi kok kayanya bukan ya WKWK, tapi tetep aja we gua ga kenal. Awalnya hidup di sini terasa seram, karena selama ini kan gua terbiasa hidup sendiri ya di kos, jadinya gua ngerasa aneh aja tinggal di 1 tempat yang isinya ada banyak orang sekaligus. Kalau mas teguh, gua udah pernah beberapa kali ketemu jadi biasa aja. Kalau mas faiz gua beneran baru liat, baru tau, dan disuruh mingle.... side-quest macam apa ini??!! tapi it turns out dia orangnya baik, asik, dan chill bgt guys, kalo ketemu beliau rasanya pengen gue gangguin aja (parah) (soalnya dia gk marah jadi gua lanjutin aj WKEWKEKWK). gua bahkan ga expect kalo beliau ini juga wibu (he's a nakama!! + 1000 point di mata saya), dia bahkan juga hobinya nontonin ridwan hanif... oalah i found my people ternyata wkwkw. Meski beda 9/10 tahun tapi dia gawl abies meski belum sekalcer gue (apalah) (jamaah kalceriyah). Mungkin ya, sebenernya gua sama mas faiz ni dulu pernah ketemu, karena sebelum-sebelumnya gua juga pernah beberapa kali kesini, tapi ya gua si ga merhatiin (YA IYALAH, OTAK LU KAN EMANG CUMA BELAJAR DOANG). Begitulah awal cerita gua bertetangga dengan semua orang di sini, dan berujung explore bintaro HAHAHAHA YA ALLAH MAAF.

    Setelah selesai skripsi jujur aja gue agak bingung. Mau hura-hura tapi gua nih mendang-mending banget anaknya, kayanya emang mending langsung kerja aja ga sie. Gua udah ada beberapa plan yang mau gua eksekusi di tahun ini, nanti bakal gua update juga di sini biar ala-ala kaya dulu gitu hehe, kalo dulu mah SBMPTN tapi sekarang pencarian jati diri AZEKKKKKKK. Karena umur gua juga udah 25, gua yakin banget pasti gua bakal mulai dikenal-kenalin sama cowok. Duh gimana ia, bukannya ga mau nikah, tapi gua TAKUT. Gua tuh pengennya temenan aja dulu, seenggaknya gua harus kenal lu dulu beberapa bulan sampai akhirnya itu cowok yakin sama gua, dan gua nya juga yakin sama dia. Gua tuh ga bisa ujug-ujug "yuk nikah?" walah, pingsan gua. Bayangin aja gua baru banget lulus terus disodorin nikah. Ya kalo orangnya kenal si gua gapapa ya, masih mending. Setidaknya gua udah tau lu dulu, gua udah bisa mastiin lu beneran baik apa kagak (di dunia ini juga banyak orang jahat u know.....). Tapi kalau tiba-tiba dikenalin terus langsung nikah jujur aja gua ga bisa. Ini juga yang bikin gua sampai detik ini ga pernah ikut acara perjodohan ini itu, bahkan yang islami sekali pun. Menurut gua terlalu acak asli. Dari mana gua tau dia beneran baik selain dari istikhoroh? Gua bukannya meragukan takdir Allah, tapi resikonya gede banget, apalagi gua cewe cuy harus hati-hati. Makanya gua sih gak buru-buru ya, kalau ada yang nanya punya pacar atau gak, nah itu tergantung orangnya. Kalau yang nanya cowok gak jelas gua bakal jawab punya. Tapi kalau cewek atau cowok yang minimal gua ni tau dia baik ya gua jawab jujur aja kalo gua sebenernya ga pernah punya pacar haha lucu emang. 

    Gua tuh beneran kapok banget kenalan sama cowo ga jelas, riyal no fake. Cerita kekonyolan gua tuh hampir semuanya berasal dari sana. Gua nih soal akademik gokil banget, tapi soal asmara kok bodoh banget. Kalau ada juara cewe gak peka ya itulah gua. Udah mah naif gak peka pula, beuh apesnya combo. Tapi jujur ya, gua sebenernya ga ngerti dengan fenomena ini. Kenapa cowo-cowo baik tuh cenderung menutup diri dan ngumpet? nah, cowo-cowo yang muncul ke permukaan malah yang aneh dan brengsek. Yang bikin apes, cowok yang sempat berhasil deketin gua itu justru yang ga jelas, yang emang model ngemeng aja. Jangan salah, mereka kalau gua tantangin buat serius mulutnya manis banget loh, gokil. Tapi ntah kenapa yang baik-baik ini malah pada menghilang dari lane. Gua bingung tapi di satu sisi gua paham karena kalau dipikir-pikir gua kan anak baik-baik juga ya, hidup juga gak neko-neko, tapi hobi gua juga menutup diri HAHA. Makanya gua juga ga bisa marah soalnya gua juga suka gitu without any reason... aneh ya?.

    Di umur 25 ini gua akhirnya sadar kalau gua udah gede, udah dewasa. Gatau ya, gua tuh selama ini merasa..... yaudah aja gitu. Ga ngerti harus jelasin gimana, tapi gua baru merasa kalo gua nih CEWEK, perempuan yang udah gede. Emang selama ini lu apaan wil? ya cewek juga sih, tapi maksudnya insting gua sebagai cewek tuh baru nyala asli. Kayak..... oh gua tuh cewek ya WKWKWKW APAAN DAH, kemarin-kemarin dikira alien kali. Pas gua ngaca ya, gua ngeliat diri sendiri kayak... kok cakep ya (buset lu). Gak tapi seriusan deh!! kalo ngebaca tulisan gua dulu yg Rupa-Rupa Menawan, gua tuh selalu menganggap diri gua jelek, ga menarik, ga jelas, ga signifikan dll yang negatif pokoknya. Tapi sekarang kalo liat diri sendiri baru ngerasa kalo ternyata gua ok juga WKWKEKWEKW udah cantik, lucu, pinter, asik, tulus, bisa kayang... PLEASE GA ADA YANG BOLEH PROTES SOALNYA INI BLOG GUEEEEEEEEEEE TITIK. Begitulah huft gua baru sadar tentang diri gua. Terlalu fokus bertahan hidup, gua emang ga begitu memperhatikan diri gua, makanya kadang gua tuh suka dilihat sebagai orang yang kurang manner dan petantang penenteng karena jujur aja GUA GAK NGERTI. Meski gua perempuan, tapi otak gua tuh simple. Di dalam lubuk hati gue..... sama sekali ga ada rasa pengen sombong, sok, atau bahkan ngerendahin orang lain tu ga ada sumpah. Isi otak gua emang sibuk belajar dan survive aja.. makanya tahun 2025 gua banyak banget belajar tentang ethics dan basic manner. Gua ga sabar bakal sekeren apa gua di tahun 2026, di saat akhirnya gua punya awarness tentang diri gua, gua jadi merasa lebih hidup dan merasa lebih keren lagi, serius. Makanya gua mengadakan segmen yappington karena gua penasaran aja... penasaran sama apa? ya semuanya!! pokoknya semuanya!!! mari kita lihat lagi nanti byeeeeeeeee

 


   
    Jarang sekali gua memutuskan untuk menulis di siang hari, tapi tiba-tiba teringat kalau sekarang sudah tanggal 31 Desember. Benar: refleksi tahunan. Setiap akhir tahun gua selalu berusaha dan menyempatkan diri gua untuk introspeksi atau lebih gamblangnya: ngaca. Sering kali kita terlalu mendikte orang lain tapi untuk diri sendiri malah abai. 

    Hari ini gua menulis ketika sedang berada di warkop deket kampus. Gua memang sering kesini setelah bimbingan karena tempatnya nyaman, menunya beragam, dan yang paling penting banyak colokan listrik haha. Akhirnya gua pergi ke kampus untuk mencetak skripsi gua. Iya, skripsi gua akhirnya kelar. Di mata orang lain hal ini mungkin terlihat seperti biasa saja, "nahkan akhirnya lulus juga lu." Tapi sebentar, menurut gua ini adalah sesuatu yang luar biasa besar. Dari luar mungkin ini cuma skripsi, tapi bagi gua ini seperti masuk ke fase baru. Selama ini ada banyak banget hal yang ngeblock gua untuk ngerjain skripsi. Di postingan sebelumnya gua juga sudah jelasin kurang lebihnya gimana. Kenapa bisa sampai seperti itu? ya karena masalah internal dan eksternal gua banyak banget sampai mempengaruhi kesehatan fisik gua.

    Saat bulan ramadhan kemarin gua mempelajari satu fakta menarik tentang Lailatul Qadar. Kita semua tahu kalau lailatul qadar itu adalah malam yang sangat istimewa, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam penuh kemuliaan, malam yang dikejar oleh seluruh manusia lewat doa dan ibadah. Meski ada tanda-tandanya, tapi kita tidak akan pernah tahu pasti kapan pastinya lailatul qadar terjadi. Tapi apakah makna lailatul qadar hanya sampai situ? tidak. Di malam tersebut, malaikat turun untuk mengatur segala urusan (mengacu surat Al-Qadr). Urusan apa saja? mulai dari rahmat, ampunan, hingga takdir. Pada malam itulah, pencatatan takdir tahunan ditulis.

    Dalam hidup ini, takdir itu sejatinya telah tertulis di Lauhul Mahfudz, tapi sebagai seorang muslim kita juga memahami bahwa takdir itu tidak hanya takdir Qada, ada juga takdir yang masuk ke kategori takdir Qadar. Make sense kan sekarang kenapa namanya Lailatul Qadar? Make Sense kan sekarang kenapa Allah berfirman Inna Anzalnahu fii Lailatil Qadr? Karena itu semua adalah Qadar, masih bisa berubah, bukan Qada.

    Sejauh mana hidup bisa berubah? ga ada yang tahu pasti. Bagi Allah, apa pun bisa terjadi, segala sesuatunya sangat memungkinkan di hadapan Allah. Jika takdir qada adalah jawaban dari apa, maka qadar adalah interpretasi dari bagaimana. Qadar merupakan perwujudan atau realisasi dari ketetapan tersebut yang bisa dipengaruhi ikhtiar (usaha) dan doa manusia. Semua manusia pasti mati, tapi sebagai manusia kita juga bisa mengupayakan ingin mati seperti apa. Ingin mati sebagai orang yang baik? atau ingin mati sebagai orang yang jahat? Di sanalah ujiannya. Jika membicarakan takdir, maka pembahasannya akan panjang sekali, karena hidup manusia sangatlah kompleks dan kita tidak boleh mendahului kebesaran dan kekuasaan Allah, kita cuma hamba.

    Kembali ke konteks refleksi tahunan, gua sangat sadar bahwa di hidup ini kekurangan gua banyak banget. Gua sadar ketidakberdayaan gua sebagai manusia. Ketika gua mengatakan bahwa gua merendahkan diri gua serendah-rendahnya di hadapan Allah maka memang itulah yang terjadi. Gua tidak putus asa, tapi gua mengembalikan semua urusan kepada Allah. Tahun ini gua banyak sekali dimarahi, dikritik, disalah-pahami, dijudge dan sebagainya oleh banyak orang. Tapi semua itu gua terima, gua menerimanya dengan lapang dada. Gua meruntuhkan segala ego karena saat ini gua memang sudah overwhelmed, berada di titik limit gua sendiri. Gua mendengarkan semua saran yang masuk dan menghargai setiap kejadian di hidup gua. Di hidup yang cuma sekali ini, gua sadar kalau gua tidak bisa hidup sendiri. Meski selama ini gua selalu merasa sanggup sendiri, tapi pada akhirnya gua hanya manusia biasa yang serba tidak mampu. Tahun ini, gua memperbaiki hubungan gua dengan manusia, gua sekarang paham kalau menjaga hablum minannas memang sepenting itu dalam hidup.

    Gua benar-benar bekerja sangat keras untuk mengubah diri gua, apalagi dengan titik start yang berada di angka 0. Angka 0 di sini bukan materi, tapi sebagai manusia secara keseluruhan. Gua belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Gua belajar bagaimana seharusnya manusia merasa dan mengambil sikap. Jika terjadi ini maka gua harus melakukan ini, jika terjadi itu maka gua harus bersikap seperti apa. Gua mengosongkan wadah agar bisa mempelajari hal-hal baru yang lebih baik. Jujur, ada hari di mana rasanya lelah sekali. Hari di mana gua merasa sekeras apa pun gua berusaha ternyata tidak akan pernah cukup. Tapi itulah konsekuensinya ketika gua memutuskan untuk berdiri dan berlari. Istilahnya, gua memapatkan sesuatu yang seharusnya dipelajari dalam jangka waktu yang panjang menjadi hanya beberapa bulan saja, berat. Sebenarnya dalam hidup tidak ada standar pasti bagaimana seharusnya kita berjalan, dunia tidak se-saklek itu. Tapi bagaimana pun juga, gua hidup di sebuah sistem dengan segala aturannya dan gua harus berjalan demi kebaikan diri gua sendiri. Meski gua mengeluh, meski gua merasa lelah, tapi gua juga sadar bahwa semua ini dilakukan untuk kebaikan hidup gua. Dunia dengan segala cobaan dan ujian harus diterima karena gua juga gak mau jadi lemah. Gua sudah berjalan sejauh ini, gua juga sudah banyak berubah, satu-satunya hal bisa dilakukan adalah tetap menjadi kuat dan konsisten hingga akhir.

    Gua percaya bahwa Allah adalah Zat yang Mengetahui Segala Isi Hati. Allah tahu dan Allah bahkan lebih paham diri gua dibanding gua sendiri, dan itu adalah fakta. Allah akan memberi sesuatu ketika gua siap, sehingga di tahun ini gua banyak sekali berdoa agar dipersiapkan dan dipantaskan untuk sesuatu yang akan gua terima di masa depan. Ya Allah, pantaskanlah diriku untuk segala impian dan harapanku. Ya Allah, persiapkanlah aku untuk menerima segala kebaikan dan rahmat-Mu. Doa itu selalu gua ulang-ulang. Di malam yang sunyi, di pagi hari yang tenang, di sela-sela kesibukan, di tengah hujan penuh rahmat, bahkan di saat paling acak sekali pun. Gua sadar selama ini terlalu egois meminta ini dan itu namun di satu sisi gua tidak mempersiapkan diri. Akibatnya? gua kewalahan sendiri, gua jadi bingung dan terus-menerus berperang dengan diri gua.

    Semua ini bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Tapi melalui usaha, doa, dan harapan yang tidak pernah terputus. Allah telah menjanjikan petunjuk kepada orang yang bersungguh-sungguh, dan ternyata bersungguh-sungguh memang harus seperti itu. Kita memang harus bekerja sekeras itu. Semakin tinggi harapannya, semakin besar hadiahnya, maka semakin besar juga konsekuensinya. Masa depan itu sejatinya milik orang yang rendah hati dan senantiasa bersungguh-sungguh. Proses pendewasaan gua ternyata jalurnya seperti itu, dan gua terima saja, hidup isinya memang cobaan kok. Di dalam Al-Mulk ayat 2 juga telah disebutkan bahwa manusia memang diuji untuk dilihat siapa yang lebih baik amalnya. 

    Orang mungkin suka salah memahami, bahwa amal di sini adalah amal-amal seremonial yang terlihat saja. Padahal kebaikan hati, kesungguhan diri, dan mentalitas juga termasuk ke dalam amal yang diperhitungkan kelak. Manusia terkadang terlalu sibuk dengan amalan zahir yang dapat diamati sehari-hari tapi lupa untuk meluruskan batin mereka sendiri. Gua tidak mengatakan bahwa shalat itu tidak baik, justru shalat adalah kewajiban. Fakta tentang shalat menjadi amal pertama yang dipertanyakan itu tidak bisa diganggu gugat, tapi hidup itu variablenya banyak sekali. Gua ingin menjadi orang yang selalu meluruskan niat gua dalam hidup. Jika niatnya baik, maka amalannya juga menjadi baik. Jika niatnya baik, maka kehidupannya juga menjadi baik. Niat dan mentalitas seseorang itu sebenarnya bisa terlihat dari bagaimana dia menjalani hidup, sepak terjang dia di dunia ini. Bahkan meski seseorang itu "susah," tapi gua bisa merasakan bahwa dia telah menjalani hidup tersebut dengan baik, terlepas dari apa ujian yang diberikan Allah kepadanya. Gua bisa mengatakan orang tersebut bersahaja bukan dari perkara hartanya saja, tapi auranya memang terpancar. Kebaikan itu bisa "bocor," karena kebaikan itu akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali. Bahkan meski kita sebagai manusia bisa salah menilai, tapi penilaian Allah itu mutlak dan tidak akan pernah meleset. Itu juga yang mendasari gua untuk selalu yakin dalam menjalani setiap ujian yang hadir. Gua percaya Allah Maha Melihat, gua sangat percaya Allah Maha Mendengar dan Mengetahui Isi Hati. 

    Ibaratkan ujian, maka tugas gua adalah mengerjakan soal tersebut dengan sebaik-baiknya. Akan selalu ada podium untuk orang-orang yang juara, akan selalu ada tempat untuk orang-orang yang berkualitas. Orang islam etos kerjanya harus bagus, mentalitasnya harus kuat. Ketika hari kembali terasa susah, ketika keraguan dan ketakutan gua kembali muncul, mungkin postingan ini akan menjadi hal yang pertama gua baca. Gua akan selalu bersungguh-sungguh dengan doa yang gua panjatkan, dan selama gua masih hidup maka akan selalu ada hari yang layak dinantikan dan patut disyukuri. 

    Ya Allah jika ini ujiannya, maka aku akan mengerjakan soal tersebut dengan sebaik mungkin. Lihat aku, dan tuntun aku menuju Shiratal Mustaqim yang aku mohonkan lima kali dalam sehari itu. 

    

    Dua hari lagi gua akan resmi menginjak usia 25 tahun. Usia yang katanya sudah bisa menginjak kepala orang namun nyatanya menginjak lantai masjid saat kaki kotor pun gua tak tega. 25 tahun sudah gua menjalani hidup dengan segala lika-likunya, dan gua tidak menyangka perjalanannya akan se-roller coaster ini. Hidup itu tidak mudah dan memang harus diperjuangkan, dan perjalanan meraih mimpi itu ternyata sangat sulit dan menguras energi. Siapa sangka hal-hal yang awalnya menurut gua tidak mungkin tercapai sekarang perlahan-lahan mulai terlihat jalannya. Hal yang tadinya hanya ada dipikiran gua sekarang mulai terwujud satu-satu. Di balik kerasnya hidup, sebenarnya ada banyak sekali hal yang gua banggakan dan syukuri.

    Dewasa ini gua memahami bahwa ketenangan  yang gua damba-dambakan tersebut akhirnya lahir seiring dengan datangnya ujian demi ujian. Bagaimana seseorang bisa belajar menjadi tenang jika dia tidak pernah merasa terdesak? Bagaimana seseorang bisa bersikap bijak jika dia sendiri tidak pernah diuji kebajikannya? Semua itu datang dengan konsekuensi dan melalui proses, sebuah proses yang panjang. Karakter tidak mungkin terbentuk dalam semalam, bangunan yang kuat tidak mampu dibangun hanya sehari. Kapal yang kuat akan terbukti ketika hantaman badai berusaha menabrak dan merusak kapal. Jika kita sedang membangun sebuah gedung, maka hari ini kita memperdalam galian, lalu hari lainnya kita membangun pondasi. Hal yang sering kali dikeluhkan tersebut adalah kurikulum wajib yang didesain khusus oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Gua bisa menjadi se-tenang ini, dan menjadi pribadi yang tahan banting, semua itu adalah hasil dari segala ujian yang berhasil gua lewati.

    Gua sangat percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana, bahwa Allah memang sudah menggariskan segala sesuatunya untuk gua sesuai porsi dan di waktu yang tepat. Sejak dulu gua selalu mempertanyakan takdir Allah; mengapa dan mengapa, namun sekarang tumbuh keyakinan di dalam diri gua bahwa Allah memang sedang menyiapkan gua untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Apa yang tampak dari diri gua sekarang merupakan hasil dari tempaan selama hidup. Bagaimana cara gua menghadapi kegagalan, bagaimana cara gua menyikapi hidup, itu semua adalah hal yang membentuk diri gua sampai ada berada di titik ini.

    Sampai detik ini pun gua tidak pernah menyerah, gua sangat tahu diri gua seperti apa. Di saat sulit gua tetap bekerja keras, gua tetap memaksakan diri gua untuk tetap maju. Setiap hari gua selalu meyakinkan diri gua bahwa gua pantas, gua bisa, dan semua ini akan terlewati seperti yang sudah sudah. Lelah itu bukan berarti menyerah, karena pada akhirnya gua hanya muak dan memutuskan mundur sejenak. Membereskan segala hal yang perlu diselesaikan, baru kemudian gua bisa fokus kembali pada masa depan. Orang mengatakan bahwa kekuatan dari gua adalah kepintaran gua. Pada kenyataannya hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Kekuatan terbesar gua itu justru terletak di kegigihan gua dalam menjalani hidup dan meraih harapan. Seumur hidup gua sangat bekerja keras, gua selalu mengusahakan yang terbaik, kepercayaan gua terhadap takdir Allah itu tinggi. 

    Ada rasa kekecewaan di dalam diri gua ketika orang-orang ternyata hanya melihat dan fokus di kegagalan pertama gua ini. Setelah semua usaha dan pencapaian yang gua raih, ternyata gua hanya dilihat bagian gagalnya saja. Gua merasa orang-orang tidak berhasil memahami diri gua yang sebenarnya. Tapi, hal tersebut sudah gua terima dengan lapang dada karena memang orang itu kan hanya bisa melihat yang tampak saja, ya kan? gua juga tidak ingin menyalahkan mereka karena gua paham rasa sayang itu terkadang berubah menjadi tekanan dan ekspetasi yang sangat besar, gua tahu itu.

    Di postingan ini, gua hanya ingin mengapresiasi diri gua yang sudah berhasil melewati banyak hal di hidup ini. Beban berat ternyata tidak menghentikan gua untuk tetap berbuat baik, cobaan-cobaan tersebut ternyata malah makin menguatkan gua untuk memperjuangkan hidup. Logikanya simple saja. Jika orang-orang jahat, dzolim, dan korup saja pede dengan diri mereka, kenapa gua yang berusaha baik malah berkecil hati? mengapa malah gua yang menyerah? tidak masuk akal. Tekad gua semakin kuat untuk maju karena gua bukan kriminal. Gua tidak mau menganggap diri gua sebagai korban, karena pada dasarnya gua adalah survivor. Setelah semua badai ini, gua pantas mendapat happy ending. Gua pantas mendapat pekerjaan yang bagus, pendidikan yang tinggi, jodoh yang baik, dan hidup yang membahagiakan. Apakah berarti gua hanya akan menunggu hal baik tersebut datang? tentu tidak. Gua akan mengusahakannya, gua akan mengejarnya. Seperti yang telah gua lakukan sejak dulu, gua akan tetap bekerja keras untuk hidup, gua akan tetap gigih dalam meraih hal yang gua cita-citakan dan gua impikan. 

    Untuk semua sleepless night yang gua lalui, jerih payah yang gua lakukan, doa yang tidak pernah berhenti terucap; gua akan mengatakan bahwa gua sudah melangkah dan berjuang sejauh ini. Gua percaya semua ini tidak ada yang sia-sia. Tidak mungkin Allah memberi sesuatu dan menghadirkan sesuatu tanpa alasan. Gua berusaha mengambil hikmah sebanyak mungkin karena di balik semua yang terjadi di hidup ini, masing-masing kejadian dan fase memiliki pelajaran bagi orang-orang mau berpikir, belajar, dan merenung.

    Selamat karena sudah bertahan selama 25 tahun ini. Selamat karena telah berhasil menjadi orang yang tidak hanya mengerti teori dan akademik, namun juga bijak dalam menjalani hidup. Gua bersyukur karena waktu dan masa muda gua dihabiskan untuk belajar dan mencoba banyak hal yang bermanfaat. Jika suatu saat gua membaca postingan ini lagi, gua bisa dengan bangga mengatakan bahwa gua memang se-hebat itu. Terima kasih untuk diri gua, dan mohon bantuannya untuk tahun-tahun yang akan datang. I love myself so much and i hope God loves me too.


(fotonya masih banyak tapi gua lupa nyimpen di mana)
Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

  • Macam Macam Darah
  • Pico : Ély48
  • Reaksi pembaca

Categories

  • Activities
  • Freebies
  • Game (dulu)
  • Muhasabah
  • Pemberitahuan
  • Pengetahuan
  • Review
  • Tutorial

About Me


Your Greatest Alien, as always.

Popular Posts

  • Macam Macam Darah
  • Pico : Ély48
  • Reaksi pembaca

Copyright © so-called night thinker. Designed & Developed by OddThemes