Setelah mengalami banyak kejadian yang bikin gua garuk-garuk kepala, akhirnya gua balik lagi ke rutinitas mingguan gua: pergi ke cafe, minum kopi, sambil lanjutin kerjaan gua. Jadi ceritanya gua abis "berantem" sama saudara gua yang kebetulan cukup seumuran (he's 2 years younger). Jujur aja, pas lagi panas-panasnya gua sempat kelepasan. Gua, yang kata orang sangat regulated ini ternyata bisa kelepasan juga walau sesaat. Masalahnya sepele, tapi jadi besar karena disampaikan secara meledak-ledak. Saat itu kepala gua bener2 sakit, detak jantung gua kenceng banget, dan rasanya merinding sendiri.
Sebagai orang yang katanya cukup dewasa, gua berusaha memahami bahwa semua ini ada sebabnya. Saat lahir manusia itu seperti kertas putih polos kan? lalu orang tua, lingkungan, serta pengalaman lah yang membentuk orang tersebut. Di hidup ini, gua gak bisa benci siapa-siapa. Bahkan saat puncaknya, gua terus berusaha memahami bahwa orang tersebut emang lagi meluap-luap aja mengungapkan emosi dia sendiri.
Orang lain melihat gua sebagai orang yang cukup keren karena tidak terbawa emosi, bahkan tetap lembut dan baik sampai akhir. Mba bahkan sempat memuji bahwa cara gua marah itu justru cara yang benar. Kita tidak harus mengungapkan kekesalan dengan mencaci maki, tidak perlu sampai banting kursi, tapi cukup diutarakan bahwa kita tidak suka diperlakukan seperti itu sambil memberikan alasannya. Memang rasanya terlihat keren, tapi badan gua gak bisa bohong.
Gua masih ingat saat dibilang "lebay" karena sempat diomong "baru juga digituin udah muntah aja." Padahal, muntah itu juga bukan kehendak gue. Kalau bisa gak mual, gua akan pilih gak mau ngerasa mual. Tapi apa boleh buat, gua juga manusia yang punya hati. Gua mungkin bisa menahan amarah dan meregulasi perasaan gua sebaik mungkin, tapi gua gak bisa menahan reaksi tubuh gua sendiri saat merasa gak aman atau bahkan terancam. Mulut gua bisa bilang, "iya gapapa kok." Tapi lambung gua nolak dan berusaha membuang hal-hal negatif tersebut. Ibaratkan tubuh gua seperti sedang ngeflush otomatis. Ya lu bayangin aja, gua udah mengakui kesalahan, gua gak membela diri sama sekali, dan bahkan gua udah minta maaf berkali-kali, tapi amarahnya ga reda-reda bahkan sampai ngespam chat segala macam hal yang cukup ngetrigger. Padahal ini bukan hari penghakiman, tapi dosa gua rasanya kaya diabsen satu-satu, sakit banget. Tapi dari semua itu, hal yang menyakitkan justru omongan bahwa gua sudah 25 tapi ga dewasa di saat gua sendiri sedang mati-matian untuk memantaskan diri gua. Itulah puncak mual gua.
Paham kok, dunia kerja itu berat. Hidup itu keras. Tapi gua juga gak bisa bohong sama diri gua sendiri kalau itu sakit. Bahkan sampai detik gua duduk dan ngetik postingan ini rasanya masih pusing. Untungnya, mba bilang bahwa semuanya ga harus selesai sekarang. Mba kindly encourage me to take my time. Orangnya merasa bersalah karena sempat lepas kontrol dan minta maaf juga, tapi jujur aja mualnya masih ada banget di gue. Gak, ini tuh bukan karena gua gak maafin dia atau bahkan memendam rasa benci ke dia, gak ada sama sekali. Alasan kenapa gua tetap butuh waktu itu karena harus mengisi lagi energi gua yang udah kosong. Gak cukup dengan istirahat atau tidur, tapi gua harus mengisi diri gua dengan tekad, motivasi, dan rasa positif.
Gak semua orang mampu menghadapi hal sulit, gak semua orang seberani itu untuk berbicara menyelesaikan masalah dari mata ke mata. Karena itu juga gua sebenernya salut sama diri gua sendiri karena meski sambil dilewatin dengan pusing dan segala macam tapi akhirnya bisa selesai dengan baik. Kadang bingung juga. Kalau ga diungkapin nanti sakit sendiri, tapi kalau diungkapin nanti jadi ribut ga ketolongan. Setelah kejadian tersebut mba coba kasih saran bahwa gapapa banget kok untuk mengutarakan ketidaksukaan kita. Gapapa banget loh untuk membela diri apalagi di saat memang lu ga salah.
Bisa dibilang kali ini gua cukup berhasil melakukannya. Saat lagi bicara 4 mata dengan orangnya gua coba mengatakan sesuatu yang bikin dia sadar:
"Tapi kamu tau ga? aku ga pernah loh ngitung kesalahan kamu."
Gua sebenarnya pernah menulis ini di blog gua satunya, bahwa terkadang orang itu salah menempatkan emosinya. Banyak orang mudah sekali marah pada hal sepele, tapi justru untuk hal-hal penting dalam hidup mereka abai sekali. Menurut gua, hal-hal yang sifatnya remeh itu bisa diselesaikan secara baik-baik tanpa harus adu otot. Hal-hal yang sifatnya side quest itu punya cara pencegahan dan penyelesaian yang lebih sederhana. Jadi kenapa harus dibesar-besarkan dan berlarut-larut? bagi gua itu gak perlu.
Dari sini gua belajar bahwa meregulasi emosi itu susah sekali dan kita akan terus mempelajari hal tersebut seumur hidup. Gua juga sadar salah gua banyak, kurang gua banyak untuk seukuran orang yang berusia 25 tahun. Harusnya gua bisa lebih dewasa, harusnya gua bisa lebih sigap, harusnya gua bisa lebih bijak. Tapi pada akhirnya, inilah gua pada saat ini dengan segala usaha yang gua lakukan. Psikolog gua juga bilang bahwa tidak selamanya seseorang harus menjadi perfect dan teregulasi. Gua juga berhak untuk mengutarakan pendapat gua, gua juga berhak untuk memperjuangkan nilai dan pilihan-pilihan gua.
Hidup bersama itu sejatinya harus tenggang rasa. Apa yang salah bisa diingatkan, apa yang kurang bisa gua lengkapi, apa yang terlupa akan gua maklumi. Hidup itu isinya memang masalah. Sedewasa apa pun seseorang, pasti dia akan bikin salah. Orang paling bijak sekali pun pasti pernah salah. Menjadi sempurna itu melelahkan, dan pada akhirnya kita semua akan sampai di kesimpulan bahwa kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi itu juga bukan berarti kita akan berlindung di balik hal itu, bukan. Justru, kita harus terus berproses menjadi lebih baik. Masalah akan selalu ada, tapi perbedaan akan terlihat dari bagaimana cara kita menghadapi masalah tersebut, kita bisa mengatur bagaimana cara kita bersikap dan mengatasinya, itu semua bisa dipelajari seiring berjalannya waktu.
Gua bersyukur bahwa sampai akhir gua tidak ikut-ikutan meledak. Gua menunggu semuanya hingga reda baru setelah itu berbicara. Sekarang gua ngerti kenapa orang-orang sabar itu ganjarannya surga, karena emang beneran susah banget. To be kind and persistent even when it's hard, sulit. Tapi setelah kejadian ini gua akhirnya menyadari bahwa ternyata bisa. Batu paling keras sekali pun bisa luluh, hati yang keras tersebut perlahan melunak, atas izin Allah. Mba sendiri sampai kaget bahwa penyelesaiannya bisa cepat, karena sebelumnya ga pernah secepat itu. Gua juga baru paham, bahwa mungkin yang sebenarnya dibutuhkan itu bukan tegang dibalas tegang, tapi justru kasih sayang. Bukti langsung yang bisa dilihat oleh mata bahwa di dunia ini masih ada orang yang mau berusaha mengerti, mau mendengar, mau duduk, dan mau saling memperbaiki diri.
Tidak ada penyesalan memilih kebaikan, dan hal tersebut ternyata membuahkan hasil. Orangnya sempat menyatakan bahwa menjadi baik itu melelahkan dan memuakkan. Tapi bagi gua, menjadi baik itu pilihan. Di dunia ini bisa saja kalau lu mau mementingkan diri lu sendiri dan membuang semua orang. Sejak awal, menjadi baik itu sulit. Tapi kenapa gua memilih yang sulit? karena pembuktian tertinggi gua bukan manusia, tapi justru kepada Allah. Bahkan di saat paling sulit sekali pun gua tetap memilih patuh kepada Allah. Bahkan di saat paling kepepet sekali pun gua tetap memilih takut kepada Allah. Gua memilih cara dan jalan yang diridhoi oleh Allah. Gua gak bilang itu mudah karena memang level pembuktiannya bukan sebatas dunia dan manusia di dalamnya. Mungkin sekarang dia belum paham, tapi kalau suatu hari nanti dia mengubah kacamata dan sudut pandangnya tentang hidup, gua rasa dia akan melihat apa yang selama ini gua lihat dan berusaha pegang mati-matian: keimanan.
To be kind and persistent is a superpower. Gua ternyata bisa tetap "baik" tanpa harus "lemah", dan tetap "tegas" tanpa harus "jahat."
Alhamdulillah, akhirnya gua bisa balik lanjutin kerjaan gua dan mengembalikan fokus ke diri gua sendiri; PR gua masih banyak. Tahun ini gua mau dapet kerjaan keren. Mari lanjutkan fase grinding ini!
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)