so-called night thinker
  • Home
  • About
  • #
  • #
    • #
    • #
      • #
      • #
      • #
      • #
      • #
    • #
    • #
  • #

 


    Seharusnya sebelum upload tentang ramadan, masih ada tulisan tentang sidang gua yang belum selesai diketik itu haha. Alasannya sederhana sih; karena prosesnya emang belum selesai. Ribet, pokoknya ribet banget, banyak misuh-misuhnya. Daripada bahas sidang dan yudisium gua yang kusut itu mending gua bahas tentang ramadan dulu aja.

    Like i said before, gua sudah bertekad untuk mengisi waktu dan hidup gua dengan hal-hal baik. Kenapa harus sekarang? selain karena momentum selesai sidang, i also got my spark back. This alien has finally woke up LMAO. Apalagi setelah nontonin winter olympic 2026 gua beneran terpacu sih. Di sini gua pernah upload tentang olimpiade tokyo kan? nah sebelum summer olympic balik lagi, gua ikut mantengin winter olympic juga hehe. Salah satu gold medalistnya, Alysa Liu itu menginspirasi gua banget. Kok bisa? jadi ceritanya dia itu memang sudah menekuni bidang ice skating ini dari kecil. Dari dulu dia berprestasi, tapi dia ngerasa makin lama makin toxic. Hal yang tadinya dia lakukan senang hati, secara sukarela berubah jadi sesuatu yang menyiksa. Akhirnya, tahun 2022 dia memutuskan untuk berhenti main ice skating. Selama berhenti itu dia menghabiskan waktunya untuk hidup; sekadar berinteraksi dan bermain layaknya remaja pada umumnya. Setelah berhenti sekitar 2 tahun, dia tiba-tiba memutuskan untuk kembali. Katanya, "jiwa gua ternyata memang di sini." Berbeda dari yang sebelumnya, kali ini dia melakukan ice skating dengan niat yang lebih bagus dan of course....  terasa menyenangkan. 2024 dia mulai balik main ice skating lagi, juara world champion, hingga akhirnya di tahun 2026 ini dia dapat gold medal.

    Pas baca kisahnya, gua ngerasa relate banget.... banget... banget. Sebagai orang yang sempat break dari dunia IT, research, tahfidz, dan semuanya, gua banyak merenungkan dan memikirkan kembali hidup gua selama ini. Apa memang jiwa gua di bidang ini? apa memang hal-hal yang selama ini gua lakukan dan perjuangkan itu memang dari hati? Gua mungkin capek, lelah, bahkan muak. Tapi pada akhirnya gua juga memiliki kesimpulan yang sama dengan Alysa; yes, i love this field. Gua menata kembali hidup gua hingga di tahun 2025 gua menyelesaikan skripsi gua dan di bulan Februari 2026 ini gua bisa sidang dan lulus (yeay... S.Kom baddie). Setelah gua kembali on track, maka selanjutnya gua akan kembali ke masa grinding dengan mental yang lebih baik dan stable. Gua melakukan semua ini karena gua ingin, bukan karena paksaan siapa pun. Niat ternyata sepenting itu ya. Ketika niat lu benar maka menjalaninya juga jadi menyenangkan, the why itself. Tidak mudah memang, tapi setidaknya hal yang didasari oleh hati itu rasanya sangat..... keren. 

    Ibaratkan game, bulan ramadan itu waktunya player untuk looting pahala sebanyak-banyaknya, bulan yang sangat spesial dengan berbagai keutamaannya. Selama 11 bulan kita fokus pada dunia, dan setidaknya di 1 bulan ini kita memutuskan untuk kembali dan mendekatkan diri kepada Allah. Semuanya terasa makse sense; bahwa di hidup ini harus ada momentum untuk refleksi dan upgrade diri, dan itu adalah ramadan. Bulan ramadan hadir sebagai obat bagi seluruh jiwa yang ada di dunia. Dengan segala kesedihan, beban, dan ujian yang dijalani ramadan kemudian hadir sebagai obat penenang jiwa. Di postingan 2025 in a nutshell gua sempat menyinggung Lailatur Qadr kan? nah itu dia. Di bulan penuh rahmat dan keutamaan sudah seharusnya kita semua grinding pahala dan ampunan. Allah sedang membuka pintu rahmat dan keajaiban-Nya di bulan ini dan sebagai hamba yang disebut sebagai yatafakkarun, apa lagi yang kita tunggu?

    Gua percaya bahwa Allah itu Maha Melihat dan Maha Mendengar. Gua juga sudah merasakan sendiri bagaimana keajaiban doa membawa gua hingga ke titik ini. Bahkan, dari dulu pun sudah seperti itu, hanya saja gua kurang merenungi hal tersebut. Semua hal yang gua harapkan dan gua impikan gua sebut dengan sangat yakin. Gua harus yakin, dan gua harus memantaskan diri juga. Gua membujuk Allah untuk banyak hal baik yang mau gua capai, dan itu gapapa. Di hadapan Allah, tidak ada yang namanya ketidakmungkinan. Atas seizin-Nya, semua bisa terjadi, dan memang bisa. Allah memiliki cara tersendiri karena Dialah Yang Maha Tahu. 

    Di Bulan ramadan ini, gua udah masuk kelas tahfidz. Setelah diyakinkan berkali-kali sama adminnya, akhirnya gua daftar juga haha. Gila, susah banget loh. Padahal kalau dipikir cuma tinggal daftar terus bayar, tapi ternyata buat gue susah. Ada banyak kekhawatiran gua untuk memulai kembali, tapi ternyata gua bisa mulai juga. Pas dapet halaqoh, rasanya unreal banget, bener-bener ngulang kaya dulu. Gua sampe mikir, "ternyata gua udah balik ya." Ada rasa haru, lega, senang, dan excited. Kira-kira gua bisa sampe mana ya? gak ada yang tau. Semoga Allah terus menjaga semangat gua sampai khatam muraja'ah nanti.

    Selain ikut halaqoh, gua juga ikut kelas bahasa inggris, semacam convo club gitu special bulan ramadan. Sebenarnya sebelum ikut kelas bahasa inggris selama ini gua rajin belajar sendiri. Tapi gua merasa speakingnya mentok banget karena ga ada temen "ngobrol." Duolingo gua bentar lagi cetak streak 365 hari, artinya sudah setahun gua mulai belajar bahasa inggris. Waktu pertama main duolingo, niat gua simple banget, "setahun lagi, gua cuma pengen keadaan gua lebih baik." Dan benar saja, semua sudah menjadi lebih baik. Motivasi gua udah balik, dan gua juga udah mulai grinding kaya dulu. Gua memegang omongan bahwa mulai saat ini gua akan hidup dengan lebih baik dan lebih bijak lagi, and i did it. Gua akan terus menulis progress gua di sini sebagai bukti bahwa gua benar-benar konsisten terhadap prinsip gua sejak dulu dan benar-benar memegang omongan gua sendiri. 


Road to "Setahun Duolingo"



A proud Kakari, indeed.



 


    Hari ini gua baru beres mengisi seluruh dokumen keperluan untuk sidang, termasuk SKPI. Singkatnya, SKPI itu isinya list prestasi yang pernah gua raih selama kuliah. Gua sendiri kurang suka menyimpan sertifikat sehingga hari ini gua cukup kelimpungan mencari-cari berbagai sertifikat yang pernah gua dapatkan. Ceroboh memang, tapi ada sejarahnya.

    Waktu SMA, gua juga pernah di posisi muak sama semuanya. Saat itu, gua baru beres ikut olimpiade bahasa inggris. Meski gua gak lolos sampai final, tapi gua tetap dapat sertifikatnya. Mungkin karena gua udah kelewat lelah, akhirnya sertifikat itu gua robek karena merasa gak ada artinya kalau gak menang. Pernah juga sehabis dapat sertifikat juara kelas, sertifikatnya gua basahin pakai air minum sebelum akhirnya gua buang. Kalau gua bisa kembali ke masa lalu mungkin gua tidak akan mengubah apa pun, tapi gua akan memeluk diri gua di masa lalu. Postingan di blog selama SMA itu ditulis setelah kejadian tersebut. Di titik itu gua akhirnya menyadari tentang betapa indahnya berproses sehingga gua memutuskan untuk menceritakan seluruh kejadiannya. Dan buktinya? yap, gua bangga banget sama diri gua di masa lalu, sekarang, mau pun di masa yang akan mendatang.

    Cukup sulit untuk mencari dokumen yang sudah menahun. Untungnya karena gua ada di rumah, semuanya bisa selesai dalam 1 hari. Ketika membongkar lemari, gua malah menemukan surat-surat "lucu" yang mewarnai hidup gua.



    Setelah melewati semester 5, gua memutuskan untuk aktif dan ikut event sana-sini. Hobi gua itu pitch-deck; bentuk tim, bikin konsep, eksekusi. Selama kuliah gua beberapa kali ikut seleksi inkubasi start-up dan perlombaan lainnya. Ntah kenapa gua masih menyimpan rapi kertas itu dan jadinya keinget sendiri haha. Ceritanya, gua diajak teman gua yang anak LIPIA untuk bikin halaqoh tahfidz. Karena gua merasa tidak cukup berilmu untuk mengajar akhirnya di tawaran pertama gua tolak. Tapi temen gua ga nyerah, dia berusaha ngeyakinin gua bahwa gua pantas untuk posisi tersebut. Teman gua ini alhamdulillah memang sudah hafidzoh dan dia juga menyatakan kesiapannya untuk mengajar. Tugas gua adalah jadi "operator," yang menghandle media sosial dan administrasi lainnya (katanya karena gw anak IT HAHA). Kita bingung banget perihal pendanaan, akhirnya gua coba adopsi startup approach. Meski gagal, tapi pada akhirnya kita berhasil rilis gelombang pertama pendaftaran. Semua berjalan lancar meski pada akhirnya kita cuma sanggup ngajar 1 batch aja. Mungkin karena berkesan, akhirnya kertas itu gua simpan di lemari.




    Selanjutnya adalah kertas yang gua tulis setelah presentasi di depan kelas. Saat itu gua baru aja menang hackathon dan minggu selanjutnya gua coba presentasi improved-version dari project yang gua bikin. Kenapa kertasnya jelek? karena sebenarnya gua tulis itu di belakang amplop........ gua lupa banget bawa buku jadinya gua tulis aja di media apa pun yang bisa gua pake untuk nulis. Momentum itu bertepatan juga dengan ulang tahun gua yang ke-22 sehingga rasanya campur aduk banget. Gua masih ingat 1 kelas ikut kasih gua selamat karena jadi juara dan tepuk tangan. Siapa yang gak campur aduk perasaannya digituin? overwhelmed parah. Gua bersyukur sama Allah karena dikasih kesempatan untuk terus mencoba dan berusaha, dan itu adalah kado yang keren sebagai awalan yang baik menyambut umur yang ke-22 tahun.


    

    Kertas terakhir datang ketika gua udah masuk masa ngerjain skripsi. Waktu itu saat gathering komunitas gua ketemu dan kenalan sama kakak cantik yang baik hati. Dia itu penulis, sampai sekarang masih aktif menulis, melalang buana sana sini, dan bahkan sejauh ini udah nerbitin tiga buku. Waktu gua ke gramedia gua sempat lihat buku karangan kakak ini dan gua kayak, "wow, keren banget ya."  Kadang masih ga percaya kalau kakak itu pernah nulis surat buat gua, orangnya hangat dan ramah sekali. Meski waktu itu gua lagi kalut-kalutnya tapi dia gak ambil pusing dan tetap bisa enjoy ngobrol sama gua. Sejujurnya sekarang gua belum kontakan lagi sama dia, tapi dengan gua menyimpan surat ini setidaknya gua jadi inget kebaikan dia di hari itu.

    Kejadian yang awalnya gua anggap tragedi karena lupa menaruh dokumen penting justru jadi momen buat gua untuk melihat kembali dan bersyukur. Bersyukur karena ada banyak sekali pengalaman baik dan keren yang pernah gua alami. Bahwa apa yang dulu buat gua memuakkan itu justru adalah sarana terbaik untuk belajar dan bertumbuh. Gua yang sekarang terbentuk melalui hidup sedemikian rupa yang telah Allah berikan dan melalui pilihan yang gua buat selama hidup. 

    Gua merasa waktunya pas sekali, ketika gua akhirnya lulus dan ternyata bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan. Beberapa tahun ini Ramadan gua selalu tidak maksimal, gua pengen ramadan tahun ini jadi pengalaman ramadan yang keren. Gua udah daftar beberapa program yang semoga bisa gua teruskan meski ramadan nantinya usai. Gua memutuskan untuk kembali menghafal...... iya.... muroja'ah hafalan gue...... selama ini gua tuh cuma tilawah aja, meski pada akhirnya ada yang nyantol tapi ga sebanyak kalau gua benar-benar muroja'ah. Gua sampai konsul ke penyelenggaranya dan mereka bilang: 


    Yang membuat gua ragu itu karena gua takut ga bisa nyetor banyak. Waktu SMA, gua pernah keluar dari takhosus karena ga kuat sama targetnya. Sejujurnya gua bisa aja menuhin target, tapi itu kalau dalam sehari kerjaan gua menghafal doang... waktu itu tanggung jawab gua lagi banyak-banyaknya, makanya pusing banget kalau sepulang sekolah gua langsung disuruh nyetor lagi. Meski akhirnya gua balik lagi, tapi gua udah jadi omongan (bahkan sampai adek kelas tau semua) karena gua dianggap ga bisa pegang omongan sendiri. 

    Menghafal itu berat, sumpah. Meski hasilnya sangat sepadan tapi beneran berat banget. Masih segar di ingatan malam-malam yang gua habiskan untuk menghafal. Kadang di kelas, kadang di masjid, kadang di kamar, kadang sambil bengong di pinggir lapangan. Kalau tengah malam belum tidur, gua suka ke lapangan untuk melihat bulan. Ada hari di mana bulan cerah sekali, ada hari juga ketika bulan tertutup awan. Kalau sedang beruntung, gua bisa melihat konjungsi mars atau venus pada pukul 3 pagi. Gua dulu suka berangan-angan akan jadi seperti apa gua nanti selepas pesantren, dan ternyata sangat luar biasa perjalanannya. Gua di masa dulu mungkin akan senang sekali jika mendengar gua yang sekarang berhasil publish karya ilmiah sendiri, berhasil menang lomba, magang di tempat keren, ketemu banyak orang baik, lulus S1, sampai berhasil menjadi pribadi yang lebih dewasa. 

    Hal berat dari menghafal itu sebenarnya bukan ketika menghafal, tapi setelahnya; menjaga hafalan itu sendiri, mempertahankan apa yang telah lu hafal, susah banget. Di dalam hidup ini, gak ada yang nyuruh gua menghafal ampe segitunya, targetnya ga sebanyak itu; memang pada dasarnya kemauan gua sendiri. Tapi, meski istilahnya udah keingingan sendiri, ngejalaninnya tetap susah. Pada akhirnya, gua belum sempat menyelesaikan hafalan gua sampai habis. Saat itu gua takut banget dan ngerasa ga siap. 

    Apa yang ditakutkan? banyak, banyak banget. Sekarang aja gua gak siap kok. Gimana kalau hafalan gua tidak linear dengan perilaku gua? bagaimana kalau hafalan gua tidak mencerminkan diri gua? gua takut ketika gua membuat kesalahan lalu hafalan gua akan menjadi samsaknya, padahal pada dasarnya gua juga manusia biasa yang banyak dosanya. Jangan salahkan hafalannya, tapi salahkan gua. Jangan salahkan agamanya, tapi salahkan gua sebagai pemeluknya yang masih ga becus. Mungkin... mungkin ya.... kalau hafalan lama gua udah benar-benar balik, mungkin di sanalah titik balik bagi gua untuk mulai menyelesaikan hafalan gua yang sudah lama gua tunda tersebut. Yang jelas sekarang gua mau memulai semuanya dengan tidak terburu-buru seperti dulu. Hafalan yang kokoh tidak lahir secara instan, namun merupakan proses pengulangan dan komitmen tadabbur seumur hidup.

    Gua ingin memulai fase setelah lulus gua dengan hal-hal baik; Menjadi manusia yang lebih baik, cerdas, bermartabat, dan beriman.



What a good ride, see you next time!

 


    Tidak sampai sebulan hingga akhirnya gua menyelesaikan skripsi dan langsung daftar sidang. Ngebut? iya. Total hanya 2 minggu proses sampai berhasil submit pendaftaran karena dari awal gua gak mau lama-lama. Pertama-tama gua ingin memanjatkan rasa syukur gua kepada Allah atas segala anugerah, rahmat, dan berbagai kemudahan yang telah diberikan hingga gua sampai di tahap penyelesaian skripsi ini. 

    Gua masih ingat betul di tahun 2023 gua pernah statement bahwa gua gak siap lulus, dan ternyata benar, gua gak lulus-lulus. Dibanding lucu, sebenarnya gua lebih melihat ini sebagai ajaib. Prasangka Allah itu benar-benar sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Gua adalah orang yang cukup aware dengan diri sendiri, dan yang bikin lucu karena gua selalu menuliskannya sehingga saat di kemudian hari gua baca lagi, semuanya baru terlihat masuk akal.

    Sudah tidak terhitung berapa banyak tulisan yang sudah gua buat, dan ketika dibaca lagi rasanya merinding sendiri. "Gila, ternyata doa gua dikabulkan." "Ternyata gua pernah di posisi seperti itu," dan lain-lain. Hal bagus yang gua miliki itu adalah: gua selalu yakin dengan doa-doa gua. Ketika berdoa, gua seyakin itu. Ntah keyakinan dari mana, tapi gua selalu percaya kalau Allah Maha Mengetahui Isi Hati dan Maha Melihat. Mengenai waktu, atau dalam bentuk apa, prosesnya bagaimana, itu yang gua gak tau. Gua gak sombong, tapi pada dasarnya ketika berdoa lu memang harus seyakin itu. Bahkan jika Allah tidak mengabulkan doa tersebut, pasti ada hikmah di dalamnya, akan ada penggantinya, atau bisa saja dikabulkan dalam bentuk lain.

    Selama ini gua risau karena ujiannya memang di sana. Apakah gua bisa sabar? apakah gua bisa kuat? apakah gua mau memperbaiki diri? ujiannya terus berputar dan terjadi berulang-ulang sampai akhirnya gua lulus. Dan bukankah hal tersebut juga sama seperti yang terjadi dengan skripsi gua? di luar masalah hidup dan lain-lain, fase skripsi itu juga merupakan ujian yang terus berulang hingga akhirnya baru sekarang gua lulus.

    Hal yang gua sadari tentang manusia itu adalah kesadaran bahwa setiap orang itu kapasitasnya beda-beda. Lebih lanjut lagi, ternyata gua gak bisa menuntut orang yang tidak bisa dituntut. Hal yang menurut gua mudah tapi belum tentu seperti itu bagi orang lain, hal yang menurut gua biasa juga ternyata bisa saja luar biasa bagi orang lain. Gua itu dulu suka memaksa sesuatu kepada orang lain, ''Aku mau kamu begini begitu." Sedangkan di satu sisi gua gagal melihat kondisi dan kapasitas orang tersebut. Statement gua yang ini bukan berarti gua meremehkan orang lain loh ya, tapi justru gua menghargai mereka sebagai manusia sehingga gua tidak akan memaksakan sesuatu yang di luar kuasa mereka. Sikap ini bukan berarti gua jadi mudah menyerah atau pasrah, tapi justru gua jadi lebih bisa mengambil tindakan yang tepat. Kalau dalam dunia korporat istilahnya lu menempatkan seseorang pada porsi yang tepat.

    Lahirnya kesadaran tersebut justru membuat gua semakin legowo dalam memandang sebuah masalah. Katakanlah gua mengatakan, "kalkulus ga sesusah itu kok, kalau belajar semua orang pasti bisa," di depan abang tukang gorengan yang bahkan baru mendengar istilah kalkulus. Abangnya gak salah, tapi emang gua aja ga bisa baca situasi, ga punya awareness tentang siapa yang sedang gua ajak ngobrol. Pemahaman itulah yang membuat gua lebih dewasa dalam melihat suatu masalah. "Kenapa dia begini, kenapa dia begitu," gua tidak mau langsung menghakimi. Bagaimana hidup dia selama ini, lingkungan tempat dia bertumbuh, itu semua sangat berpengaruh. Sampai detik ini gua masih berpegang teguh untuk selalu berusaha baik dan ramah kepada orang-orang, tapi di satu sisi gua gak mau terlalu buru-buru dalam mengambil sikap (kecuali keadaan darurat). Bukan bertele-tele atau tidak memiliki prinsip, justru karena lu punya standar tersendiri yang membuat lu ga mudah tersulut pertengkaran dan emosi belaka.

    Mengenai perkataan gua "tidak menuntut orang yang tidak bisa dituntut," itu sebenarnya sudah cukup jelas. Kegagalan PDKT gua selama ini membuat gua paham bahwa terkadang gua terburu-buru dalam meminta dan menuntut orang lain untuk menyamakan standar gua. Kenyataannya, tidak semua orang bisa, tidak semua orang sanggup. Ketika membicarakan kompatibilitas antar 2 manusia faktornya itu banyak sekali. Tapi setidaknya, kini gua tidak lagi memaksa karena sejak awal gua sudah memasang batasan; kalau cocok silakan maju, kalau tidak kita berteman saja.    

    Kegagalan total percintaan gua tidak membuat gua menyerah dalam mencari pasangan yang baik. Bahkan sesudah sidang gua sudah memiliki rencana untuk menyempurnakan CV taaruf. Gua sudah memutuskan untuk tidak pacaran, dan gua sangat yakin Allah akan memudahkan jalan orang-orang yang berusaha taat. Dibanding mencari, kini gua lebih fokus untuk memperbaiki diri gua sendiri. Gua ikut banyak sekali kegiatan, hingga bertemu dengan banyak orang. Bukan hanya sekadar menambah kenalan, tapi memang sebagai seorang manusia kita harus mengisi hidup dan waktu kita dengan hal-hal baik, dan mengelilingi diri kita dengan orang-orang baik. 

    Gua juga gak tahu doa mana yang Allah kabulkan terlebih dahulu, tapi 1 hal yang selalu gua yakini adalah bahwa Allah akan memberikan hal tersebut ketika lu sudah siap. Dibanding hanya menunggu penuh kekhawatiran, gua memutuskan untuk menunggu hal-hal baik tersebut datang dengan mempersiapkan dan memantaskan diri. Gua tidak hanya menunggu di stasiun, tapi gua aktif menjaga barang-barang bawaan gua dan mempersiapkan segala yang diperlukan untuk akhirnya berangkat dan sampai pada doa-doa gua tersebut.

 


    Hadirin sekalian.... Gua udah semhas, YYEYEYEYEYEYEYEY!!! tau ga sih, rasanya selega itu cuy, riyal no fake. Karena lagi mood cerita, dan juga mati lampu bosen ga ngapa-ngapain jadi langsung saja ya.


    

    H-1 sebelum semhas gua sibuk bikin banner dan sekalian nyetak. Karena ini konsepnya mirip "expo," jadi gua harus bikin X-Banner buat promosiin apa sih sebenernya yang gua bikin selama ini. Karena pengerjaan paling lama itu memang garap kodingan, jadinya gua harus memamerkan building blocks yang gua bikin dong WKWKWKWK. Mau nanti orang ngerti atau ga ngerti konsepnya emang adalah pokoknya. Pas ngeliat banner bikinan gua tuh kayak, "omg gua keren banget," "ternyata ini toh yang gua bikin." Super proud 8).

    Semua orang literally pada seneng banget menyambut hari semhas gua. Bahkan bude gua sampai ngucapin selamat dan ikut mendoakan. Gua itu orangnya ga bisa nunjukkin gesture perhatian apalagi kasih sayang, jadi pas dapet support sebanyak itu gua bingung harus bereaksi dan membalas kaya gimana. Yang jelas, gua sangat berterima kasih kepada orang-orang baik yang tulus mendukung gua hoho 'w'.


    Karena biasanya gua berangkat dari arah Bintaro, jadinya pas lewat jalan ini berasa nostalgia banget. Gua berangkat jam 5 PAGIIII bener-bener abis sholat langsung berangkat takut macet. Untungnya jalanan lancar dan gua malah nyampe kepagian wkwk. Inget banget waktu dulu pertama kali lewat sini buat survey kampus gua ngambek, sepanjang jalan gua ga senyum sama sekali. Waktu itu pengumuman SBMPTN belum keluar, tapi gua yakin banget kalo gua bakal keterima karena apa? yap, karena katanya ibu gua mimpi gua kuliah di sini, gokil. Kalau dulu namanya Lebak Bulus Grab, sekarang udah ganti naming rightsnya jadi Lebak Bulus BSI. Gak nyangka tiba hari di mana gua ke sini lagi bareng orang tua, tapi kali ini buat skripsi hehe, dan nanti selanjutnya adalah wisuda (azek).



    Dulu itu di UIN gak ada bis begini. Apalagi fakultas gua itu letaknya paling belakang, jadi gua harus jalan jauh bener dari pintu gerbang sampai ke paling belakang. Namanya bilis(?) for whatever reason tapi namanya agak gak jelas. Karena barang bawaan gua banyak banget, jadi yasudah begitu sampai kampus langsung menunggu si bilis-bilis ini :3. Selama naik bilis rasanya recall memory banget. Oh, dulu gua di sini pernah begini. Oh pas di sana gua pernah begitu. Rasanya kaya baru kemarin, padahal udah lama. Gua sempet ga ke kampus hampir setahun karena masalah ini itu, dan rasanya seneng banget bisa kembali dengan diri gua yang udah ceria lagi. 



    Angkatan gua itu banyak yang belum lulus, mungkin masih sekitar 20an orang lagi. Ada satu teman gua yang seharusnya hari itu ikut. Tapi H-1 dia bilang kalau GERDnya kambuh. Jujur gua ngerasa sayang banget karena seminar hasil itu ada syarat "harus ditonton 15 orang." Apalagi sekarang memang lagi tanggalnya libur kuliah. Cari audiens kemana? ya ikut expo ini kuncinya. Tapi gua sih bilang ke teman gua tersebut; kalau butuh bantuan bilang aja, i'm here. Gua ngebantu teman-teman gua juga bukan tanpa alasan. Setelah selama ini gua selalu ngebelain orang-orang yang bahkan ga menghargai gua, belakangan ini gua merasa akan jauh lebih baik bantu teman-teman yang memang butuh bantuan dan gua tau mereka menghargai gua sebagai sesama teman. 


    YA INI DIA SPOT EXPO DAN BANNER GUA!!! LUCU IA..... LUCU BANGET BANGET BANGET BANGET BANGET??!! tbh gua selalu memimpikan kalau apa yang gua bikin bisa ditunjukin ke orang-orang. Setiap ada yang lewat atau tanya-tanya gua sama sekali ga grogi karena gua lebih merasa sharing sesama temen aja. 2 Penguji gua bahkan ngasih applause karena gua jelasinnya bagus (memang dasar tukang yapping) dan revisi gua ga banyak (but the truth is... meski revisi gua ga banyak tapi gua masih mau ngerjain, masih mau gua sempurnain SEDIKIT, SEDIKIT KOK). 

    Hari itu fakultas lagi adem-ademnya karena habis hujan. Ntah berapa lama gua ga nikmatin saat-saat kaya gini. Teman-teman gua mungkin udah duluan explore dunia kerja, tapi gua juga bentar lagi nyusul kok hehe. Akhirnya gua siap buat lanjut ke fase berikutnya, dan gua percaya dengan diri gua yang sekarang so much betterrrrrr. Everything will be okay, as always.

---

 


    Seharusnya gua udah tidur, tapi rasanya ga afdol kalau gak nulis dulu haha. 21 Januari, tanggal gua akan maju selangkah lebih dekat menuju sidang dan yudisium. Dan timeline ini pastilah akan berjalan cepat karena pendaftaran yudisium terakhir itu 28 februari, gua yakin gua bisa, makanya gua jadi aktif nulis karena gua harus rutin reset cache otak gua biar gak panas.

    Ada satu lagu dari Raisa yang lagi gua suka. Judulnya "Love & Let Go." Selama dengerin gua ngerasa aneh, kayak apa ya.... relate. Padahal gua belum tau lirik fullnya, tapi ga tau kenapa rasanya relate banget. Gua memutuskan untuk nyari dan bener aja... ku kira lagu ternyata kisahku haha


Don't ever change

That's what you said

I need some space

We'll grow apart

With one foot out the door, this is goodbye

Will you still be here when I have finally found myself?

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for (what I am searching for)

'Cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you

Set me free for now and I will come find you

With one foot out the door, this is goodbye

Will you still be here when I have finally found myself?

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for (what I am searching for)

'Cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you, but

Set me free for now and I will come find you

Feelings can come and go

You and I both know it's true

There's a chance it may compromise

My way back home to you (my way back home to you)

But I have learn by living

To love and let go

Will you be here when I find me? I don't know

Don't be afraid to ever let me go

Just say you hope that

I would find what I am searching for

Oh, 'cause time and time again, I stayed true

But this time I won't choose you

Oh, I never meant to hurt you

Set me free for now and I will come find you


    Awalnya gua denger ini tuh iseng karena ada salah satu peserta perwakilan Indonesia di variety show korea yang bawain lagu ini. Pas pertama kali dengerin "wah gila keren banget." Tapi makin lama gua dengerin kok makin nyesek, di sanalah gua cari tahu lagunya tentang apa. Tahun kemarin gua kehilangan banyak hal. Gua kehilangan teman, kehilangan lingkungan, kehilangan circle, banyak deh... sampai di titik hanya menyisakan gua dan beberapa sahabat yang memang tau sepak terjang gua sejak dulu. Di tahun 2025 gua memilih diri gua sendiri. Kenyataan bahwa selama ini gua selalu berkompromi tentang hidup, tapi mulai saat ini gua akan memilih diri gua yang sudah lama terabaikan. Orang mungkin akan mengira cinta yang bagaimana, tapi gak. Buat gua ini tuh lagu tentang kehidupan gua secara garis besar.


Growth Over Comfy

"I need some space / We'll grow apart / With one foot out the door"

    Setelah lulus, gua memutuskan untuk tidak pulang ke Bekasi. Gua sadar bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk gua bertumbuh. Ini adalah cara terbaik agar gua bisa menemukan diri gua yang sebenarnya sebagai seorang profesional. Kalau terus-terusan di rumah, gua gak akan jadi apa-apa. 

"'Cause time and time again, I stayed true / But this time I won't choose you"

    Gua tidak memilih rumah, tapi gua memilih jalan gua sendiri sebagai seseorang yang kini telah dewasa. Gua membebaskan diri gua dari ketergantungan emosional untuk sementara waktu agar bisa berdiri tegak di kaki sendiri. 

"Will you still be here when I have finally found myself?"

    Jujur, ini adalah ketakukan terbesar gua sekarang. Cinta gua terhadap rumah, mau pun terhadap orang-orang yang gua sayang itu ga berubah. Tapi, gua takut. Gua takut ketika gua sudah menjadi seorang perempuan yang lebih berani, lebih dewasa, lebih sukses, orang-orang yang gua sayang tidak hadir. Cinta yang baik itu sesungguhnya adalah cinta yang tidak memenjarakan dan bertumbuh, dan gua ingin di saat nantinya gua sukses... orang-orang yang gua hargai, orang-orang yang gua sayang bisa membersamai dan ikut merayakan kebahagiaan bersama. Alasan gua bertumbuh sebenarnya ya untuk itu, agar gua bisa kembali dan dengan bangga bisa mengatakan, "Look, i've finally made it." Gua bukan orang yang ringan mengatakan cinta, karena bagi gua cinta itu harus disertai pembuktian. 1000 orang bisa mengatakan sayang ke gua, tapi yang bisa membuktikan? belum tentu ada. Demi orang yang gua sayang, gua akan sukses. Demi orang yang gua cinta, gua akan berproses. Demi orang yang gua hargai, gua akan hidup dengan lebih baik dan keren lagi. Ya, gua akan mengusahakan yang terbaik; baik untuk diri gua sendiri mau pun untuk orang-orang yang gua cintai setulus hati; sekarang, nanti, dan akan selalu seperti itu. Untuk orang terkasih, gua akan menjadi versi terbaik dari diri gua.

"But I have learn by living / To love and let go"

    Dengan hilangnya circle gua, kehilangan banyak teman membuat gua cukup kesepian. Tapi, ada kalanya memang harus seperti itu alurnya. Gua harus bertemu dengan banyak hal, terbentur, terbentur, terbentur, baru bisa terbentuk. Dari banyaknya pertemuan dan pengalaman yang gua alami langsung, gua mulai tau arahnya mau kemana. Gua tidak ingin kembali sebagai orang yang kalah, tapi orang yang senantiasa bertumbuh dan bersahaja.

    Di fase kesendirian ini yang gua butuhin emang cuma waktu. Setidaknya sampai gua wisuda, i need some space outgrowing myself. Gua bisa bilang bahwa prosesnya semakin cepat, karena kalau melihat dari gaya postingan aja udah beda, gua udah mulai tenang, composed. Gua sedang tidak berlomba dengan siapa pun, dan itulah yang membuat gua tenang. Ya, gua sedang berada di liga gua sendiri.

    Ga tau ya... Gua hanya berharap semoga orang-orang yang gua sayang tersebut bisa menunggu, sebentar saja.. i'll find myself and make it work. Gua benar-benar memegang semua dukungan, harapan, dan doa yang telah diberikan orang-orang terkasih; dan karena itu gua sekarang bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Ini bukan hanya tentang kesuksesan, tapi gua ingin menjadi gua yang lebih baik. Setelah merasakan nikmatnya "berubah," gua jadi cukup ketagihan untuk berproses, rasanya semenyenangkan itu. Meski gua sekarang sendiri, tapi gua gak kesepian karena gua tau gua sedang mengarah menuju perubahan yang lebih baik. Terima kasih Ya Allah.


Will you still be here when I have finally found myself?


      Hari ini akhirnya menjadi pertanda bahwa pendaftaran semhas gua diterima. Seneng gak? ya seneng banget! akhirnya kelulusan gua ada hilalnya haha. Tapi tau ga sih... awalnya target gua menyelesaikan skripsi itu beneran seadanya, tapi setelah menyelesaikannya ternyata gua emang sesuka itu sama topik skripsi gua. Ya, sejak awal gua suka kok. 

    Jadi, dalam mengerjakan sesuatu gua itu orangnya totalitas. Dan saat itu, gua mengambil konsentrasi pemrosesan bahasa manusia alias NLP (natural language processing). Kalau dipikir, untuk apa gua ambil NLP di saat gua lebih paham image processing? tapi sayangnya gua ini memang ambisius. Gua itu suka banget ngulik, "kok bisa ya AI itu paham bahasa manusia?." Meski gua bisa image processing, tapi gua selalu amaze dengan bidang NLP ini. Dan alhamdulillahnya gua punya kesempatan untuk angkat topik ini jadi karya gua sendiri.

    Pertama kali gua terjun ke NLP itu pas gua ambil mata kuliah information retrieval. Saat itu, gua bisa bilang alasan gua tertarik itu karena dosen yang ngajar keren! jadi beliau itu lagi kuliah S3 di jerman ambil artificial intelligence, dan gua suka banget sama cara beliau dalam memberikan teori. Dalam sekali pertemuan, gua bisa langsung tau kalau dosen tersebut memang ahli di bidangnya. Kala itu, gua benar-benar belajar vektor dari awal. Bagaimana bisa setiap teks punya ruang dan bobotnya sendiri, hingga bagaimana caranya mesin pencari seperti google mencocokkan query dengan dokumen yang dicari.

    Menurut gua hal tersebut beneran keren banget. Rasanya kaya lagi ngeliat anak kecil belajar bahasa dari Nol. Bagaimana dia harus mulai mengenal huruf, angka, penyusunan kata yang membentuk sebuah makna, hingga penggabungan menjadi sebuah kalimat yang padu dan dapat dipahami. Dari sana, gua memutuskan untuk masuk ke tim riset beliau. Gua kebagian jadi orang yang anotasi data-data dari Al-Qur'an dan jujur, ini lebih menarik lagi. Orang islam itu banyak yang hesitate, ragu untuk ikut dalam kemajuan teknologi khususnya AI. Gua beneran ga ngerti, bukankah islam itu sangat mengedepankan ilmu? bukankah Allah memerintahkan kita untuk berpikir dan merenung? bukankah firman yang pertama turun itu perintah untuk membaca? Kenapa kita ga terjun dan ikut andil? kenapa orang islam selalu memilih untuk mundur dengan alasan yang menurut gua sebenarnya pembenaran atas kemalasan?

    Banyak pertanyaan yang ada di kepala gua. Dan salah satu yang paling bikin gua bingung adalah "mengutamakan akhirat." Banyak banget orang yang merasa "ah, dunia kan memang penjara untuk orang-orang muslim." Lalu mengabaikan dunia. Tidak mencari nafkah, dan bahkan cenderung pasrah. Gua juga sering merasa capek hidup di dunia, tapi kuncinya emang di sana: kita harus berjuang. Gua kurang suka saat orang islam memakai excuse tersebut sebagai justifikasi keterbelakangan orang islam. Sebagai seorang muslim, kita seharusnya menjadi pribadi pekerja keras, memiliki etos kerja yang baik, dan inovatif. 

    Dari awal gua sadar kalau spesialisasi ini susah, beneran susah. Prosesnya ada banyak, udah gitu gua memang bikin modelnya dari awal. Layer per layer gua susun, gua coba banyak training, trial dan error pake banyak konfigurasi, itu tuh buat gua satisfying. Permasalahannya balik lagi: susah. Lampiran source code gua aja gatau berapa halaman, bahkan skripsi yang awalnya target gua cuma 70 halaman sekarang udah ada 130-an halaman dan masih bisa tambah lagi sampai nanti tahap revisi sidang (estimasi gua mungkin 200an). Karena apa? pertama, gua emang suka yapping. Yang kedua, emang banyak yang perlu dibahas. 

    Ngoding itu ribet, beneran deh. Tidur gua ga bener berminggu-minggu karena gua harus selesein error, benerin logic, nyambungin pipeline, SUSAH. Itu juga yang bikin gua ngadet lagi ngadet lagi. Sebenernya gua bisa aja, tapi syaratnya adalah: lingkungannya harus kondusif. Dengan keadaan kemarin-kemarin yang sangat tidak kondusif, otak gua mau explore juga keburu mandek duluan seperti yang udah gua jelasin di sesi yappington sebelumnya.

    Orang-orang mungkin gatau, tapi hal paling nekat yang gua lakukan tahun 2025 itu: belajar dari awal. Gua baca lagi buku dasar-dasar pemrograman dari awal. Gua belajar lagi tentang neural network lagi dari awal. Gua baca puluhan artikel, Gua review banyak banget paper. Setiap malem gua baca paper bukan cuma buat skripsi, tapi karena gua mengejar materi. Ngoding itu adalah skill yang harus dilatih, dan karena otak sempat damaged sampai vakum ngoding, gua harus belajar lagi dari awal.

    Sering terjadi banget ketika gua nangis karena susah. Serius. Gua emang suka ngoding, tapi tetap aja sulit. Gua aja yang suka ngerasa sulit, apalagi kalo orang yang terpaksa, gua gak rekomen sih. Ada banget hari ketika gua pusing sampai nangis, tapi semuanya gua kejar sampai ada di titik gua bisa ngoding lagi kaya dulu. Bisa dibilang gua gila, karena gua mengejar materi bertahun-tahun cuma dalam 5 bulan. Gua ga berani bilang sama siapa pun kalau gua pernah ada di posisi ga bisa ngoding sama sekali. Nulis syntax if else biasa aja gua gak mampu, gokil kan? emang separah itu. Gua pernah secara gamblang nulis kaya gini waktu akhir 2023:


    Meski begitu, gua ga pernah nyerah dengan skripsi gua, karena pada dasarnya gua suka ngerjainnya!!!! Akhirnya gua selesai juga. Meski belum bisa dikatakan 100% selesai tapi setidaknya karya gua udah keliatan, dan gua bisa spill juga ke orang-orang. Sejujurnya gua takut, karena skripsi gua udah dilirik beberapa dosen. Gua takut, gimana kalau gua dimanfaatin lagi? gua takut skripsi gua diambil. Tapi untungnya gua punya satu jalan keluar supaya gua bisa tetap ngeclaim skripsi ini tetap menjadi "milik" gua. Gua ga mau membiarkan siapa pun loncatin nama gua, setidaknya untuk karya gua yang satu ini.

    Sejak gua mengajukan ganti judul ini, gua udah planning jauhhhhh kedepan mau dibawa kemana penelitian ini, gua punya prospeknya untuk beberapa tahun kedepannya. Masalahnya gua takut, gua takut lagi-lagi bertemu orang yang salah dan malah berusaha memeras semua ide dan karya gua. Untuk itu, mulai sekarang gua akan bertekad cari uang yang banyak. Biar kalau ada publikasi lagi, gua bisa pakai duit gua sendiri supaya tetap jadi nama pertama. Supaya gua ga kena gaslight dari siapa pun. Bertahun-tahun gua jadi orang yang ada di belakang layar, ntah udah berapa belas paper yang gua kerjain. Bertahun-tahun gua work in silence, dan gua rasa udah cukup. Sudah saatnya bagi gua untuk muncul sebagai gua, dan atas karya-karya gua nantinya. 


    Gua inget banget waktu itu lagi ngopi di BXC sebelum pulang, gua seneng banget karena proses pendaftaran gua lancar, tapi gua ngerasa ada yang janggal, "apaan ya?." Akhirnya gua cek kelengkapan dokumen buat akhir pendaftaran dan JRENG! ga ada. Padahal itu kopi belum gua minum tapi langsung gua teguk sampai abis dan buru-buru pulang.

    Cobaan semhas gua itu banyak banget. Hampir aja gua ga bisa maju di hari rabu depan. Ya beginilah ya begitulah, ada aja problemnya. Panik ga si lu tiba-tiba aja dokumen yang selama ini gua simpen tuh ilang. Dan sekalinya ada ternyata dokumennya ga bener. Awalnya gua cari di HP, tapi ternyata belum gua pindahin. Gua cari lagi di HP lama, dan ternyata udah gua hapus (karena memori penuh). Lanjut gua cari lagi di laptop lama, dan ternyata laptopnya RUSAK. Gua coba cari di SD Card tapi gak ada, gua cari di google drive semua akun gmail gua dan gak ada. Gua frustrasi banget sampai akhirnya gua langsung buru-buru ke tempat service padahal waktu itu udah malem. Ga peduli gua udah malem, yang penting itu file ada. 

    Apakah happy ending? enggak. Gua masih harus nunggu. Awalnya dijanjiin jam 21:30, tapi ternyata pas gua balik belum selesai. Sewaktu nunggu service, gua memutuskan untuk jalan-jalan di Bintaro Plaza. Bolak-balik kaya orang dodol saking paniknya. Gua mencoba makan sushi yang sangat gua sukai tersebut, tapi ternyata ga berasa sama sekali saking paniknya damn. Lu tau sepanik apa gua? itu jantung beneran DEG DEG DEG DEG DEG, berasa banget. Gua sampe ga bisa tidur nunggu hari besok. Tapi untungnya, dokumen gua gak salah, tapi memang kurang ajar banget developernya karena generate scorenya otomatis jadinya karena inputan rumus dari webnya salah outputnya jadi salah juga.

    Jadi di UIN itu ada persyaratan minimal nilai TOEFL dan TOAFL. Mungkin orang udah sering denger TOEFL, tapi TOAFL?? nah itu tuh sebenarnya tes kemampuan bahasa arab, bedanya sama TOEFL cuma di bahasanya aja wkwkw. Tesnya mencakup bahasa arab dasar, tes nahwu sorof, sama pemahaman paragraf. Gua inget banget score gua tuh 500-an, tapi jujur kaget banget karena tiba-tiba jadi 267. Gua bingung banget, KOK BISA???? dan ternyata setelah coba gua kulik, gua ekstrak nilai mentahnya, ternyata salah sistem wkwkwkw. Tapi memang, meski skor gua bener tapi ga ada tanda tangannya, jadi gua tetep harus dapetin itu dokumen.

 Besoknya alhamdulillah dapat kabar baik kalau data-datanya ada dan langsung gua pindahin ke laptop baru. Kaki gua langsung lemes, dan lebih kocaknya lagi gua langsung berasa ngantuk karena selama 1 hari 1 malem itu adrenaline rush gua kenceng banget. Gua jarang panik, tapi kalo udah panik edan banget. 


    Lanjut besoknya gua ke kampus untuk fotocopy kelengkapan dokumen. Ada satu fotocopy yang suka gua datengin. Tempatnya biasa aja, tapi abangnya gercep banget. Udah gitu, pembawaan abangnya chill abis jadinya gua kalau kesana keikut santai (tegang banget cuy ngurus skripsi). Pas gua ke sana, itu abang-abang dengan santainya nyetel sound jedag jedug kencengggg banget. Udah mah kenceng, berjoget dong dia wkwkw. Padahal gua tuh dateng panik banget, tapi ngeliat abangnya yang seenjoy itu dalam hidup gua jadi ikut nafas teratur lagi WKWKWKW. 

    H-1 pengumpulan berkas, gua akhirnya pulang ke Bekasi selain karena oma dateng, berkasnya bisa gua lanjutin sendiri (ga perlu ke kampus). Hal yang paling bikin gua nyesel itu adalah: harusnya gua pulang sendiri. Ga perlu lah gua nunggu abang gua janji begini begitu, dan lucunya malah gua yang disalahin, "kok kamu tiba-tiba mau dijemput?," padahal dia sendiri yang nawarin buat jemput, emang gelo.


    Awalnya gua santai aja karena nunggu di cafe, tapi kok sampai jam 9 masih ga dateng? itu cafe sampe tutup coy. Dengan santainya dia bilang "masih belum selesai." Buset kata gua, lu mentingin cewe ga jelas ampe segitunya. Ini gua bilang ga jelas karena emang beneran ga jelas ya, kalo gua ceritain lu pada pasti akan setuju banget tapi gua males karena nanti kesel sendiri. Oke lanjut, gua di cafe tersebut SAMPE CLOSING, lu bayangin aja itu abangnya sampe beres-beres, untungnya ga sampai disetel lagu sayonara. Habis itu gua bingung banget dong harus kemana?? akhirnya gua pindah ke prima mart, terus gua pindah lagi ke indomaret, gila, ada tega-teganya banget jadi orang. Tapi sampe akhirnya doi dateng gua berusaha sabar, apalagi perjalanannya jauh kan? gua harus jaga mood. Gua beneran bersyukur karena ga sakit dan masuk angin. Bayangin aja itu gua jam 12 malem masih di sudirman naik motor?? gua cuma bisa berdoa supaya ga sakit karena butuh banget tenaga buat semhas. Pas nyampe gua tidur bentar terus abis subuh gua start revisi terakhir buat semhas.


    Setelah common sense gua balik, gua beneran banyak banget sadarnya, "kok bisa ya?" "kok bisa ya?," banyak banget hal yang bikin gua geleng-geleng kepala. Hari ini gua jalan-jalan sendiri, tapi sepanjang jalan gua malah banyak mikir. Beneran deh, gua jadi ngerti tentang diri gua sendiri, tentang keadaan gua, tentang lingkungan gua, tentang apa yang gua pengenin, dan apa yang ingin gua capai. Sebenarnya di postingan-postingan lain sudah cukup jelas ya, tapi sekarang tuh gua kaya bisa baca polanya, gua bisa reasoning dengan kepala jernih. Memang ada benarnya kalau orang pernah terjatuh sekali, maka selanjutnya dia bakal bangkit lebih gokil lagi, dan mungkin itulah gua.  

    Gua masih inget banget kalau gua pernah kesal dengan Mba gua. Saat itu gua lagi semangat banget belajar masak, dan gua berpikir nanti sehabis lulus gua jualan kue aja dulu. Buka pre-order lumayan banget kok. Gua mengajukan untuk buka booth dulu di pasar malem sebagai permulaan, karena gua harus bangun brand-awarness ke orang-orang. Gua belajar giat banget setiap hari bikin catatan tentang cara berbisnis yang benar. Tapi kemudian mba menolak dan bilang yang intinya, "Jangan, kamu bukan di sana." Gua sempat tersinggung karena merasa secara ga langsung Mba meremehkan gua, padahal yang namanya bisnis itu kan memang dimulai dari skala kecil dulu, tapi setelah gua pikir lagi sekarang: maksudnya bukan begitu.
    
    Di dalam hidup, ada strategi yang perlu lu susun sebelum bisa terjun, sebelum memutuskan untuk melakuan ini dan itu. Memang, bisnis itu sebenarnya yang penting mulai aja dulu, tapi masalahnya ini konteksnya diri gua. Menurut mba, langkah gua itu salah. Harusnya dengan pengalaman dan kemampuan yang gua punya, fokus aja dulu ke bidang yang sekarang gua geluti: Artificial Intelligence. Mba tidak pernah melarang, tapi mba tahu kalau panggung gua bukan di sana, mba ingin menyampaikan, "you can do better than that." Bukan berarti berjualan kue itu tidak baik atau remeh, tapi justru kalau gua memang ingin terjun dan bercita-cita membuka sebuah bakery, maka gua bisa melakukannya dengan cara yang lebih baik di masa depan. Untuk saat ini, tindakan paling bijak yang bisa gua lakukan adalah fokus pada spesialisasi gua, dan ketika nanti sudah cukup stabil gua baru bisa menyusun rencana untuk mewujudkan mimpi bakery tersebut karena di saat itu gua pasti sudah punya lebih banyak pilihan dan alternatif cara untuk mewujudkannya. Mimpi gua untuk bikin bakery tuh masih ada banget, tapi gua simpen jadi rencana jangka panjang. Cepat atau lambat, gua akan sampai di titik itu, InsyaAllah.

    Pikiran gua yang lain masih banyak, tapi bingung juga mau jelasin kaya gimana. Intinya sekarang gua sadar, gua udah ngerti haha. Gua akan jadi orang yang lebih keren lagi, just watch me doing my things, pasti.

 


    2 bulan ini gua berusaha untuk memungut dan menyusun kembali puing-puing dari sisa fase kacau tersebut. Hidup tanpa guidance itu berat, karena lu harus meraba-raba sendiri jalan yang harus ditempuh. Itu juga yang mendasari kenapa gua pergi ke psikolog karena gua memang butuh. Gua akhirnya kini memiliki SOP tersendiri dalam bersikap, gua juga memiliki Framework yang gua pegang dalam hidup. Memang, hal-hal tersebut bisa berganti dan cukup adaptif, tapi setidaknya gua tidak lagi hidup seperti di alam rimba. 

    Awalnya gua sangat takut bahwa mulai saat ini gua akan hidup benar-benar sendiri. Bukan hanya sekadar tinggal sendiri, tapi hidup secara keseluruhan, levelnya sekarang berbeda. Meski gua selama ini juga sering jauh dari rumah, tapi kali ini rasanya beda. Keputusan gua semakin mantap untuk nantinya hidup mandiri sendiri. Look at me now, gua sudah 25. Gua tidak bisa hidup seperti air yang mengalir, gua tidak bisa hidup seperti kata orang, "jalani saja dulu." Gua sudah mencoba hal tersebut dan ternyata gagal total, berantakan. Di hidup ini ada banyak hal yang ingin gua lakukan, banyak milestone yang ingin gua capai. 

    Dua hari yang lalu gua bermain dengan teman-teman lama, dan menyadari 1 hal bahwa gua tidak lagi cocok dengan mereka. Sejatinya mereka tidak berubah, mereka masih sama seperti terakhir kali kita bermain, tapi memang gua yang berubah. Gambaran seseorang itu ternyata benar-benar terlihat dari siapa saja orang terdekatnya. Ada satu momen ketika gua menegur karena mendapati salah satu orang yang gua kenal ternyata memiliki kegemaran mengikuti puluhan perempuan di bawah umur (sekitar 14 tahun) dan tidak segan-segan menjadikan perempuan tersebut untuk konsumsinya pribadi. Sejujurnya gua sangat marah, gua tidak ingin memiliki kenalan seorang pedofil. Tetapi ntah kenapa ketika gua mencoba speak-up, mereka semua seperti tidak masalah dan membiarkan. Gua paham bahwa mungkin gua juga salah karena mencampuri urusan tersebut, dan gua juga jadi teringat postingan gua terdahulu mengenai kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki prinsip, standar, cara hidup yang sama dengan kita. Sampailah gua di sebuah kesimpulan untuk mundur perlahan. Bukan berarti gua benar-benar meninggalkan mereka, tidak. Gua tetap bertegur sapa, namun hanya sampai di tahap luar saja, sekadar kenal. Gua tidak ingin masuk karena mereka juga tidak ingin dirubah. Kembali mengingat kalau kita bukanlah Tuhan dan tidak bisa merubah seseorang kalau hidayah memang belum berkehendak datang, sekeras apa pun kita mencoba untuk menarik mereka. 

    Di dalam hidup banyak hal yang tidak bisa dikontrol, bahkan semakin dewasa gua semakin sadar ternyata hal yang bisa dikontrol itu sedikit sekali. Gua kembali teringat dengan kisah para nabi, bagaimana mereka diberikan amanah yang sangat besar namun sampai akhir tidak bisa merubah orang terdekat, yakni keluarga. Untuk itulah gua coba mengecilkan hal-hal yang bisa gua lakukan, bukan untuk kembali menjadi acuh, tapi bijak. Gua tetap peka, gua tetap berusaha inisiatif, tapi gua tidak akan sembarangan dalam bersikap. Menjadi hati-hati itu juga perlu, bukan demi orang lain tapi demi kebaikan diri gua sendiri. Hidup itu punya banyak aturan yang terlihat memusingkan, bahwa dalam bersosialisasi kita harus unggah-ungguh, dalam suatu kejadian kita harus pintar membaca situasi dan kondisi, ketika mengalami sesuatu kita harus pintar memposisikan diri kita seperti apa dan di mana; itu semua adalah cara mainnya. Hal tersebut tidak bisa dilewati karena akan selalu terjadi dan ada di setiap fase hidup. Itulah cara terbaik untuk bertahan hidup, mengetahui cara mainnya. Sama seperti kita beragama, kita mempelajari syariatnya, dan kita melaksanakannya secara konsisten selama hidup. Untuk apa? supaya kita selamat, supaya kita memiliki kehidupan yang indah di akhirat kelak. Di dalam islam pun sebenarnya juga sudah dijelaskan bagaimana seharusnya kita bersikap. Selain hubungan dengan Allah, menjaga hubungan sesama manusia juga tidak kalah penting, itulah yang membuat kita selamat di dunia. Awalnya gua sangat pusing, sebagai manusia harus begini dan begitu. Tapi kembali lagi, semua ada prosedurnya. Kita tidak bisa hidup seenaknya, kita tidak bisa hidup sesuka dan semaunya. Menghargai sesama, berbicara yang baik, sopan-santun di mana pun berada, peka terhadap orang-orang sekitar, tidak mudah menyakiti dan melukai hati orang baik lisan mau pun perbuatan, dan segudang mannerism untuk menjadi bermartabat. Sejak dulu sebenarnya gua juga sudah tahu, dari dulu gua ditekankan soal adab, tapi proses gua dalam mendidik diri gua kembali juga termasuk di dalamnya evaluasi. Mengevaluasi bagaimana sikap yang selama ini gua terapkan kepada orang lain, bagaimana sikap yang gua tunjukkan di lingkungan, bagaimana cara gua berbicara dan menanggapi sesuatu. Dari sana kemudian gua akan tahu gua kurang di mana, dan apa yang bisa diperbaiki. That's how my brain works. 

    Setelah mengurai semua yang ada di dalam diri, kini gua maju dengan lebih tegap sebagai gua yang lebih siap. Gua memikirkan apa yang gua ingin lakukan dan otak gua penuh dengan rencana ini itu. Gua tidak akan mengeksekusi semua, tapi gua akan memilih hal yang memang gua inginkan dan gua butuhkan. Menjadi researcher itu adalah mimpi yang tidak lagi terbantahkan, kalau pun gua tidak benar-benar meraihnya setidaknya di dalam hidup ini gua bisa menjadi sesuatu yang mirip secara skillset dengan hal tersebut. Istilahnya, jika kita menargetkan langit nun jauh di sana dan berakhir tidak mampu meraihnya, tapi kita akan tetap jatuh di antara bintang-bintang. Karena apa? karena kita sudah berusaha naik, kita tidak berada di titik awal atau bahkan fase ketidakjelasan dalam hidup. Bagaimana kalau kita kembali jatuh? jawabannya adalah: kita bisa naik kembali. Seseorang yang pernah sekali terjatuh tidaklah jatuh dalam ketidaktahuan, di setiap kejadian pasti ada pelajaran baru yang bisa dijadikan modal untuk nantinya naik kembali. Dan seperti itulah seharusnya gua hidup.

    Hal lain yang ingin gua capai adalah gua ingin hidup mandiri. Selama ini gua sadar sudah menyusahkan banyak orang, bahwa ketidakmampuan gua ternyata merepotkan banyak orang, gua sangat sadar dan sangat tahu diri. Meski di satu sisi gua tahu orang-orang di sekitar gua baik, tapi tetap saja gua tidak ingin lama-lama menumpang seperti ini. Karena itulah, gua ingin menjadi manusia yang berdikari. Terkadang malam ketika tidur gua suka memimpikan suatu hari nanti di mana gua memiliki tempat tinggal sendiri. Gua juga tidak tahu pasti apakah itu kos, apartemen, atau pun sebuah rumah; tapi di mimpi tersebut gua merasa sangat tenang. Bukan di rumah atau pun di sini, tapi di suatu tempat yang benar-benar bisa gua sebut sebagai tempat berpijak dan berlabuh. Tempat tersebut tidak terlalu besar, tapi setidaknya cukup untuk gua sendiri, dan bahkan untuk keluarga kecil gua nantinya. Sebuah tempat di mana semuanya terasa hangat dan menenangkan, tempat yang gua bisa jadikan patokan sebagai gambaran Sakinah. Setidaknya di mataku, sakinah terlihat seperti itu. Tempat terbaik untuk merasa dan aman bertumbuh bagi semua orang yang ada di dalamnya. 

    Terkadang gua membayangkan sedang asik membaca penelitian, terkadang gua membayangkan diri gua sedang tiduran santai sambil menonton TV, atau ada hari gua sedang mengerjakan projek ditemani suara hujan dari luar. Ternyata gua memimpikan hal-hal sederhana tersebut. Bukan tentang apa, tapi bagaimana rasanya. Kalau dikatakan sederhana, sebenarnya tidak juga. Kalau sederhana, harusnya semua orang punya, harusnya semua orang bisa merasakannya. Tapi kenyataannya tidak begitu bukan? gua masih ingat ketika gua sedang mengerjakan revisi di kampus hingga malam. Saat itu suasana sangat syahdu, lalu kemudian mulai datang orang-orang ke pelataran masjid tersebut. Gua cukup bingung, bukankah lampu masjid sudah dimatikan? tapi ternyata mereka semua datang untuk tidur di tempat itu. Beralaskan kardus yang mereka dapatkan dari pedagang sekitar, sambil membawa makanan seadanya untuk mereka makan sebelum tidur.

    Gua masih jauh lebih beruntung dibanding mereka. Tidak, gua tidak ingin menggunakan mereka sebagai objek bersyukur. Justru di mata gua, mereka sangatlah hebat karena tidak memutuskan untuk menyerah. Pasti mereka pun bisa menyalahkan semua hal yang membuat mereka harus memiliki kehidupan seperti itu, tapi hal tersebut tidak dilakukan. Hari itu gua kembali tertampar, tentang bagaimana mental yang seharusnya gua miliki dalam hidup. Memang, semua yang gua rasakan itu juga benar dan nyata terjadi. Tapi ini juga yang membuat gua memutuskan untuk fokus pada diri gua dan apa yang ingin gua capai selanjutnya. Ketika gua mulai kesal, gua akan mengatakan "namanya juga hidup," dan kembali fokus pada diri sendiri. 

    Tentang apa yang akan menjadi selanjutnya, gua rasa sudah cukup jelas. 

 


    Selamat datang di republik ngoceh! setelah hari ini membaca ulang postingan-postingan yang ada di blog ini, sepertinya coping mechanism terbaik buat gua masih menulis. Ternyata, tahun 2024 itu gua beneran ga nulis. Gua coba cari di berbagai platform apakah ada tulisan karya gua di tahun 2024 dan ternyata ga ada, sadis. Tulisan di sini maksudnya adalah catatan pribadi gua. Mau itu bentuknya semi-formal, curhat, atau ngoceh ga jelas, ga ada. Satu-satunya yang terekam lewat tulisan itu ketika gua menulis surat via FutureMe, tapi itu juga ga banyak. Memang, tahun 2024-2025 gua lagi hancur banget sampai ga ada pikiran untuk nulis. Tahun ini, gua mau coba ngoceh lagi :3 rasanya seru juga ya baca-bacain tulisan lama gue. Di sini gua juga ga mau terlalu terikat KBBI karena this isn't falthea~ segmen yang terlalu serius dialihkan ke sebelah, yappington isinya ya..... ngoceh!!

    Bisa dibilang gua itu adalah anak yang diharapkan. Skalanya bukan cuma ibu dan ayah, tapi bisa dibilang keluarga besar juga. Uh oh... kok bisa? gua juga ga ngerti. Biasanya ya, katakanlah lu punya saudara yang kena masalah. Terus reaksi lu apa? mungkin lu akan sedih dan bersimpati, tapi yaudah aja gitu kan? Nah, waktu 2024 gua rungkad itu... semua orang panik. Asli, semua orang kaget. Latar belakang kenapa gua sampai harus "diseret" ke bintaro itu ya karena semua orang panik liat gua ngerungkad. Seumur-umur gua emang ga pernah sampai kaya gitu. Gua itu terbiasa hidup sendiri dan stabil-stabil aja. Tapi sepertinya batas gua itu ada di tahun 2024, kacau balau. Tapi lucunya, meski gua dalam keadaan amsyong kaya gitu gua masih bisa publish 1 paper dan magang di XL, gokil juga. Gua udah coba bertahan sendiri tapi ternyata ujung-ujungnya tetap ambruk. Jujur, kejadian itu adalah hal yang gak pernah gua sangka. Selama ini gua selalu ngerasa bisa, tapi pada akhirnya gua masihlah seorang anak yang saat itu berumur 23 tahun.

    Gua itu sebenarnya sudah bersahabat dengan high-pressure. Dari gua sekolah sehari-hari itu memang sudah high expectation. Gimana enggak, dari SD-Kuliah gua gak pernah ga berprestasi, hidup gua ga ada kata ga gacor. Terbukti juga dari postingan-postingan gua yang dulu, bagaimana gua sangat keras terhadap diri sendiri, betapa galaknya gua dengan target dan tujuan gua, tapi hasilnya sepadan lah ya haha. Waktu UN SMP, bahasa inggris gua cuma salah satu. Waktu UN SMA, bahasa indonesia gua juga cuma salah satu, almost perfect. Dari SD gua sudah menghafal, dari SD gua juga udah aktif ikut lomba sana-sini. Persoalan akademik gua memang keras banget. Dari zaman sekolah sehari tidur 2 jam itu udah biasa buat gua saking fullnya kegiatan dan target yang harus gua kerjain. Waktu SMA, gua itu masuk namanya halaqoh takhosus. Di sana, proses setoran hafalan dan muroja'ahnya jauh lebih ketat dari anak-anak lain. Kalau biasanya cuma 2 lembar, tapi di takhosus dalam sekali muroja'ah lu harus bisa setengah juz atau minimal 5 lembar dalam sehari, bahkan pernah juga gua dalam sekali duduk setor langsung 1 juz, sadis memang. Saat kelas 11 gua juga dipercaya jadi ketua divisi bahasa yang mengatur penggunaan bahasa inggris dan arab sehari-hari di asrama. Selain itu, gua juga masuk kelas persiapan olimpiade yang mau tidak mau membuat gua harus berjuang jauh... jauh lebih keras. Udah? belum. Gua juga jadi panitia acara pensi dan lomba antar sekolah, gua harus berurusan dengan berbagai sponsor karena tugas gua bagian surat-menyurat dan nyambi jadi admin design :). Persoalan jam belajar gua jangan ditanya, udah pasti gila.

    Kalau dipikir-pikir dan diingat-ingat lagi, dari dulu pressure gua emang segila itu. Waktu kuliah juga ga kalah sadis. Karena sudah terlalu pusing dengan dunia baru gua yakni ngoding, gua memutuskan untuk ga ikut organisasi. Tapi meski ga ikut organisasi hidup gua tetap sibuk. Dari semester 5, gua udah mulai ikut penelitian. Tahun 2022 gua juga lolos bangkit, program yang membuat gua bisa nyemplung ke dunia AI hingga detik ini. Setelah udah cukup dapet feel di dunia pemrograman, gua mulai ikut wara-wiri ikut lomba, dan makin banyak juga publish paper internasional. Melihat kehidupan seorang gua yang makin mantep, orang-orang jadi punya ekspetasi yang semakin tinggi terhadap gua, hingga akhirnya gua harus ambruk di tahun 2024. 

    Sejujurnya sampai akhir pun gua ga tau kenapa bisa ambruk, tapi satu hal yang pasti adalah bahwa gua terlampau lelah dan capek. Bulan kemarin saudara gua yang seumuran (dia 2 tahun lebih tua) datang kemari dan kita cukup banyak bercerita. Saat itu gua biasa aja sampai dia mengatakan, "ya iyalah wil, aku juga kalau jadi kamu overwhelmed." Singkat, jelas, dan padat. Memang, selama ini gua juga merasa bahwa ekspetasi ini semakin mencekik gua in some aspects, fakta bahwa di dunia ini gua harus bisa segalanya, dan ternyata gak bisa. Tapi untungnya lewat peristiwa rungkad gua di tahun 2024, orang-orang juga jadi sadar kalau bagaimana pun juga umur gua masih 20an T____T hiks. 19 Desember kemarin gua baru resmi 25 tahun, itu juga kenapa sekarang gua udah jauh lebih tenang karena AKHIRNYA GUA 25... usia yang bagi gua, fisik dan mental gua udah cukup kuat buat nanggung semua itu. Makanya kenapa gua bisa lebih santai nan idgaf karena secara fisik dan mental gua udah jauh lebih siap.

    Tahun kemarin tuh hidup gua isinya pusing terus, bingung terus. Gua sampe mempertanyakan diri gua sendiri, "wil, lu sebenernya kenapa sih?" karena selama ini emang ga pernah sampe kayak gitu aaaaarrrghhhhhhh. Tapi ya ambil hikmahnya aja, akan selalu ada pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir kan. Hikmahnya apa ya.... hm..... gua ketemu banyak orang baik tahun kemarin! ada mba ayu, mas teguh, ada mas faiz, ada bu ima, yoyo, indri, kisa, iyam, reza, arya, bu gita... banyak! jujur, waktu pertama ke bintaro gua tuh takut banget. Istilahnya kaya gua siapa dan di mana, random banget sumpah. Gua aja ga begitu kenal dengan mas teguh, bahkan gua baru pertama tau dan liat mas faiz. Meski masih saudara jauh(?) eh tapi kayanya bukan saudara ga sih duh gatau begitulah pokoknya mau nyebut saudara tapi kok kayanya bukan ya WKWK, tapi tetep aja we gua ga kenal. Awalnya hidup di sini terasa seram, karena selama ini kan gua terbiasa hidup sendiri ya di kos, jadinya gua ngerasa aneh aja tinggal di 1 tempat yang isinya ada banyak orang sekaligus. Kalau mas teguh, gua udah pernah beberapa kali ketemu jadi biasa aja. Kalau mas faiz gua beneran baru liat, baru tau, dan disuruh mingle.... side-quest macam apa ini??!! tapi it turns out dia orangnya baik, asik, dan chill bgt guys, kalo ketemu beliau rasanya pengen gue gangguin aja (parah) (soalnya dia gk marah jadi gua lanjutin aj WKEWKEKWK). gua bahkan ga expect kalo beliau ini juga wibu (he's a nakama!! + 1000 point di mata saya), dia bahkan juga hobinya nontonin ridwan hanif... oalah i found my people ternyata wkwkw. Meski beda 9/10 tahun tapi dia gawl abies meski belum sekalcer gue (apalah) (jamaah kalceriyah). Mungkin ya, sebenernya gua sama mas faiz ni dulu pernah ketemu, karena sebelum-sebelumnya gua juga pernah beberapa kali kesini, tapi ya gua si ga merhatiin (YA IYALAH, OTAK LU KAN EMANG CUMA BELAJAR DOANG). Begitulah awal cerita gua bertetangga dengan semua orang di sini, dan berujung explore bintaro HAHAHAHA YA ALLAH MAAF.

    Setelah selesai skripsi jujur aja gue agak bingung. Mau hura-hura tapi gua nih mendang-mending banget anaknya, kayanya emang mending langsung kerja aja ga sie. Gua udah ada beberapa plan yang mau gua eksekusi di tahun ini, nanti bakal gua update juga di sini biar ala-ala kaya dulu gitu hehe, kalo dulu mah SBMPTN tapi sekarang pencarian jati diri AZEKKKKKKK. Karena umur gua juga udah 25, gua yakin banget pasti gua bakal mulai dikenal-kenalin sama cowok. Duh gimana ia, bukannya ga mau nikah, tapi gua TAKUT. Gua tuh pengennya temenan aja dulu, seenggaknya gua harus kenal lu dulu beberapa bulan sampai akhirnya itu cowok yakin sama gua, dan gua nya juga yakin sama dia. Gua tuh ga bisa ujug-ujug "yuk nikah?" walah, pingsan gua. Bayangin aja gua baru banget lulus terus disodorin nikah. Ya kalo orangnya kenal si gua gapapa ya, masih mending. Setidaknya gua udah tau lu dulu, gua udah bisa mastiin lu beneran baik apa kagak (di dunia ini juga banyak orang jahat u know.....). Tapi kalau tiba-tiba dikenalin terus langsung nikah jujur aja gua ga bisa. Ini juga yang bikin gua sampai detik ini ga pernah ikut acara perjodohan ini itu, bahkan yang islami sekali pun. Menurut gua terlalu acak asli. Dari mana gua tau dia beneran baik selain dari istikhoroh? Gua bukannya meragukan takdir Allah, tapi resikonya gede banget, apalagi gua cewe cuy harus hati-hati. Makanya gua sih gak buru-buru ya, kalau ada yang nanya punya pacar atau gak, nah itu tergantung orangnya. Kalau yang nanya cowok gak jelas gua bakal jawab punya. Tapi kalau cewek atau cowok yang minimal gua ni tau dia baik ya gua jawab jujur aja kalo gua sebenernya ga pernah punya pacar haha lucu emang. 

    Gua tuh beneran kapok banget kenalan sama cowo ga jelas, riyal no fake. Cerita kekonyolan gua tuh hampir semuanya berasal dari sana. Gua nih soal akademik gokil banget, tapi soal asmara kok bodoh banget. Kalau ada juara cewe gak peka ya itulah gua. Udah mah naif gak peka pula, beuh apesnya combo. Tapi jujur ya, gua sebenernya ga ngerti dengan fenomena ini. Kenapa cowo-cowo baik tuh cenderung menutup diri dan ngumpet? nah, cowo-cowo yang muncul ke permukaan malah yang aneh dan brengsek. Yang bikin apes, cowok yang sempat berhasil deketin gua itu justru yang ga jelas, yang emang model ngemeng aja. Jangan salah, mereka kalau gua tantangin buat serius mulutnya manis banget loh, gokil. Tapi ntah kenapa yang baik-baik ini malah pada menghilang dari lane. Gua bingung tapi di satu sisi gua paham karena kalau dipikir-pikir gua kan anak baik-baik juga ya, hidup juga gak neko-neko, tapi hobi gua juga menutup diri HAHA. Makanya gua juga ga bisa marah soalnya gua juga suka gitu without any reason... aneh ya?.

    Di umur 25 ini gua akhirnya sadar kalau gua udah gede, udah dewasa. Gatau ya, gua tuh selama ini merasa..... yaudah aja gitu. Ga ngerti harus jelasin gimana, tapi gua baru merasa kalo gua nih CEWEK, perempuan yang udah gede. Emang selama ini lu apaan wil? ya cewek juga sih, tapi maksudnya insting gua sebagai cewek tuh baru nyala asli. Kayak..... oh gua tuh cewek ya WKWKWKW APAAN DAH, kemarin-kemarin dikira alien kali. Pas gua ngaca ya, gua ngeliat diri sendiri kayak... kok cakep ya (buset lu). Gak tapi seriusan deh!! kalo ngebaca tulisan gua dulu yg Rupa-Rupa Menawan, gua tuh selalu menganggap diri gua jelek, ga menarik, ga jelas, ga signifikan dll yang negatif pokoknya. Tapi sekarang kalo liat diri sendiri baru ngerasa kalo ternyata gua ok juga WKWKEKWEKW udah cantik, lucu, pinter, asik, tulus, bisa kayang... PLEASE GA ADA YANG BOLEH PROTES SOALNYA INI BLOG GUEEEEEEEEEEE TITIK. Begitulah huft gua baru sadar tentang diri gua. Terlalu fokus bertahan hidup, gua emang ga begitu memperhatikan diri gua, makanya kadang gua tuh suka dilihat sebagai orang yang kurang manner dan petantang penenteng karena jujur aja GUA GAK NGERTI. Meski gua perempuan, tapi otak gua tuh simple. Di dalam lubuk hati gue..... sama sekali ga ada rasa pengen sombong, sok, atau bahkan ngerendahin orang lain tu ga ada sumpah. Isi otak gua emang sibuk belajar dan survive aja.. makanya tahun 2025 gua banyak banget belajar tentang ethics dan basic manner. Gua ga sabar bakal sekeren apa gua di tahun 2026, di saat akhirnya gua punya awarness tentang diri gua, gua jadi merasa lebih hidup dan merasa lebih keren lagi, serius. Makanya gua mengadakan segmen yappington karena gua penasaran aja... penasaran sama apa? ya semuanya!! pokoknya semuanya!!! mari kita lihat lagi nanti byeeeeeeeee

Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

  • Macam Macam Darah
  • 2025 in a Nutshell
  • Yappington: Acshually....

Categories

  • Activities
  • Freebies
  • Game (dulu)
  • Muhasabah
  • Pemberitahuan
  • Pengetahuan
  • Review
  • Tutorial

About Me


Your Greatest Alien, as always.

Popular Posts

  • Macam Macam Darah
  • 2025 in a Nutshell
  • Yappington: Acshually....

Copyright © so-called night thinker. Designed & Developed by OddThemes