.jpg)
Dua hari lagi gua akan resmi menginjak usia 25 tahun. Usia yang katanya sudah bisa menginjak kepala orang namun nyatanya menginjak lantai masjid saat kaki kotor pun gua tak tega. 25 tahun sudah gua menjalani hidup dengan segala lika-likunya, dan gua tidak menyangka perjalanannya akan se-roller coaster ini. Hidup itu tidak mudah dan memang harus diperjuangkan, dan perjalanan meraih mimpi itu ternyata sangat sulit dan menguras energi. Siapa sangka hal-hal yang awalnya menurut gua tidak mungkin tercapai sekarang perlahan-lahan mulai terlihat jalannya. Hal yang tadinya hanya ada dipikiran gua sekarang mulai terwujud satu-satu. Di balik kerasnya hidup, sebenarnya ada banyak sekali hal yang gua banggakan dan syukuri.
Dewasa ini gua memahami bahwa ketenangan yang gua damba-dambakan tersebut akhirnya lahir seiring dengan datangnya ujian demi ujian. Bagaimana seseorang bisa belajar menjadi tenang jika dia tidak pernah merasa terdesak? Bagaimana seseorang bisa bersikap bijak jika dia sendiri tidak pernah diuji kebajikannya? Semua itu datang dengan konsekuensi dan melalui proses, sebuah proses yang panjang. Karakter tidak mungkin terbentuk dalam semalam, bangunan yang kuat tidak mampu dibangun hanya sehari. Kapal yang kuat akan terbukti ketika hantaman badai berusaha menabrak dan merusak kapal. Jika kita sedang membangun sebuah gedung, maka hari ini kita memperdalam galian, lalu hari lainnya kita membangun pondasi. Hal yang sering kali dikeluhkan tersebut adalah kurikulum wajib yang didesain khusus oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Gua bisa menjadi se-tenang ini, dan menjadi pribadi yang tahan banting, semua itu adalah hasil dari segala ujian yang berhasil gua lewati.
Gua sangat percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana, bahwa Allah memang sudah menggariskan segala sesuatunya untuk gua sesuai porsi dan di waktu yang tepat. Sejak dulu gua selalu mempertanyakan takdir Allah; mengapa dan mengapa, namun sekarang tumbuh keyakinan di dalam diri gua bahwa Allah memang sedang menyiapkan gua untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Apa yang tampak dari diri gua sekarang merupakan hasil dari tempaan selama hidup. Bagaimana cara gua menghadapi kegagalan, bagaimana cara gua menyikapi hidup, itu semua adalah hal yang membentuk diri gua sampai ada berada di titik ini.
Sampai detik ini pun gua tidak pernah menyerah, gua sangat tahu diri gua seperti apa. Di saat sulit gua tetap bekerja keras, gua tetap memaksakan diri gua untuk tetap maju. Setiap hari gua selalu meyakinkan diri gua bahwa gua pantas, gua bisa, dan semua ini akan terlewati seperti yang sudah sudah. Lelah itu bukan berarti menyerah, karena pada akhirnya gua hanya muak dan memutuskan mundur sejenak. Membereskan segala hal yang perlu diselesaikan, baru kemudian gua bisa fokus kembali pada masa depan. Orang mengatakan bahwa kekuatan dari gua adalah kepintaran gua. Pada kenyataannya hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Kekuatan terbesar gua itu justru terletak di kegigihan gua dalam menjalani hidup dan meraih harapan. Seumur hidup gua sangat bekerja keras, gua selalu mengusahakan yang terbaik, kepercayaan gua terhadap takdir Allah itu tinggi.
Ada rasa kekecewaan di dalam diri gua ketika orang-orang ternyata hanya melihat dan fokus di kegagalan pertama gua ini. Setelah semua usaha dan pencapaian yang gua raih, ternyata gua hanya dilihat bagian gagalnya saja. Gua merasa orang-orang tidak berhasil memahami diri gua yang sebenarnya. Tapi, hal tersebut sudah gua terima dengan lapang dada karena memang orang itu kan hanya bisa melihat yang tampak saja, ya kan? gua juga tidak ingin menyalahkan mereka karena gua paham rasa sayang itu terkadang berubah menjadi tekanan dan ekspetasi yang sangat besar, gua tahu itu.
Di postingan ini, gua hanya ingin mengapresiasi diri gua yang sudah berhasil melewati banyak hal di hidup ini. Beban berat ternyata tidak menghentikan gua untuk tetap berbuat baik, cobaan-cobaan tersebut ternyata malah makin menguatkan gua untuk memperjuangkan hidup. Logikanya simple saja. Jika orang-orang jahat, dzolim, dan korup saja pede dengan diri mereka, kenapa gua yang berusaha baik malah berkecil hati? mengapa malah gua yang menyerah? tidak masuk akal. Tekad gua semakin kuat untuk maju karena gua bukan kriminal. Gua tidak mau menganggap diri gua sebagai korban, karena pada dasarnya gua adalah survivor. Setelah semua badai ini, gua pantas mendapat happy ending. Gua pantas mendapat pekerjaan yang bagus, pendidikan yang tinggi, jodoh yang baik, dan hidup yang membahagiakan. Apakah berarti gua hanya akan menunggu hal baik tersebut datang? tentu tidak. Gua akan mengusahakannya, gua akan mengejarnya. Seperti yang telah gua lakukan sejak dulu, gua akan tetap bekerja keras untuk hidup, gua akan tetap gigih dalam meraih hal yang gua cita-citakan dan gua impikan.
Untuk semua sleepless night yang gua lalui, jerih payah yang gua lakukan, doa yang tidak pernah berhenti terucap; gua akan mengatakan bahwa gua sudah melangkah dan berjuang sejauh ini. Gua percaya semua ini tidak ada yang sia-sia. Tidak mungkin Allah memberi sesuatu dan menghadirkan sesuatu tanpa alasan. Gua berusaha mengambil hikmah sebanyak mungkin karena di balik semua yang terjadi di hidup ini, masing-masing kejadian dan fase memiliki pelajaran bagi orang-orang mau berpikir, belajar, dan merenung.
Selamat karena sudah bertahan selama 25 tahun ini. Selamat karena telah berhasil menjadi orang yang tidak hanya mengerti teori dan akademik, namun juga bijak dalam menjalani hidup. Gua bersyukur karena waktu dan masa muda gua dihabiskan untuk belajar dan mencoba banyak hal yang bermanfaat. Jika suatu saat gua membaca postingan ini lagi, gua bisa dengan bangga mengatakan bahwa gua memang se-hebat itu. Terima kasih untuk diri gua, dan mohon bantuannya untuk tahun-tahun yang akan datang. I love myself so much and i hope God loves me too.






.jpeg)





0 Komentar