Advertisement

Responsive Advertisement

Log


2023

    Sebenarnya dari semester 8 itu gua udah gak ada mata kuliah yg bisa diambil selain skripsi. IPK gua bagus, gak ada matkul ngulang, bahkan total SKS udah cukup dari semester 7 karena gua emang udah nyicil dari semester sebelumnya. Gua memutuskan untuk sempro awal maret 2023, disambi ikut penelitian dan beberapa kegiatan lain, gua merasa bisa handle semuanya. Gua tidak menyangka, bahwa skripsi adalah awal dari segala masalah.

    Di semester 8, gua memang ngerjain skripsi setengah hati, karena saat itu gua masih pengen fokus untuk nerbitin beberapa paper. Sesuai keinginan gua, di tahun 2023 gua berhasil nulis 3 paper dan beberapa paper minor lainnya (minor di sini maksudnya nama gua gak masuk). It was fun, sampai pada akhirnya gua mulai trauma. Mungkin lu akan bingung, bukannya bagus nerbitin paper? apalagi publikasi juga bisa dijadikan portofolio S2. Ya, tujuan awal gua extend semester itu tadinya memang untuk mempersiapkan portofolio lanjut studi S2, gua bahkan udah mulai nyiapin dokumen buat apply scholarship.

    Setelah mendalami bidang akademik beberapa bulan, gua akhirnya menemukan 'dark side' dari bidang ini. Banyak, dan dinormalisasikan. Gua culture shock, terlebih di posisi ini gua hampir selalu menjadi tulang punggung penelitian. Kalau gua mundur, penelitiannya bubar dan bisa kena sanksi. Dari yang awalnya gua semangat banget, di akhir semester 8 gua berubah jadi super depressed. Sehabis ngoding ataupun nulis gua pasti nangis semaleman. Padahal tadinya kalau orang tua nelpon, suara gua terdengar sangat antusias. Semua itu pudar, gua trauma berkepanjangan dan berujung anxiety. Setiap ada notif WA gua pasti kaget, degdegan, keringet dingin sendiri, bahkan  nangis. Gua sampai kehilangan kemampuan gua dalam menulis karena trauma, tapi tetep harus dipaksa nulis karena sudah terikat. Lebih jauh lagi gua makin depressed mampus karena selain ayah sakit dan masalah finansial, idealisme gua makin dicabik-cabik terus sampe habis, seperti sapi yang diperah idenya hingga kosong. Gua terus-terusan meyakinkan diri untuk mengubur mimpi. Tapi sayangnya gak bisa, mimpi yang udah gua pupuk dari zaman sekolah ini malah makin menggebu-gebu. Melihat keadaan yang ada gua jadi serba salah, idealisme gua tahun kemarin beneran diuji. Boro-boro melanjutkan skripsi, untuk menulis beberapa paragraf aja gua langsung muntah. Menulis dan ngoding sempat menjadi hal yang gua benci. 

2024

    2024 ternyata tidak juga membaik, gua malah bertemu dengan lingkungan super toxic yang berusaha "mengecilkan" gua. They said "ngapain sih ambis-ambis banget," "S2 itu buang-buang duit," "Ngapain bisnis, ngapain cewek kerja," dan sebagainya. Sedih, sedih banget. Emangnya salah ya punya impian? emangnya salah ya kalau gua ingin menjadi lebih besar dari yang sekarang? gua tau gua punya potensi, gua yakin gua pasti bisa meski prosesnya lama, tapi, kenapa? lagipula dengan gua yang ambisius bukan berarti gua akan meninggalkan tanggung jawab lain kok. Justru, dengan menjadi terdidik dan sukses gua makin siap untuk mengemban tanggung jawab di masa depan. Baik itu sebagai anak yang berbakti, istri yang baik, sampai menjadi sosok orang tua dan sahabat terbaik untuk anak-anak gua di masa depan. Gua ingin menjadi istri, ibu yang keren dan bisa dibanggakan. Gua percaya, 2 hal tersebut bisa berjalan bersamaan, atas izin Allah.

    Gua kira 2024 bisa menjadi tahun yang lebih baik, tapi gua malah makin sakit-sakitan. Apalagi, orang yang awalnya memberi warna dan harapan baru justru jadi sumber sakit terbesar. Hari saat gua mengetahui semua hal tersebut badan gua ga berhenti gemeteran. Gua bertanya-tanya, apa yang salah? sejak kapan? gua kurang apa? kenapa? kenapa? Setiap malam gua cuma bisa nangis sampai pagi, self-esteem yang tersisa hancur semua. Gua ga pernah cerita hal ini, karena sebenarnya cerita ini adalah cerita yang teramat konyol. Bahkan di sini pun gua ga cerita kronologinya seperti apa karena memang konyol. Betapa naif dan bodohnya seorang wilda ini.

Awal 2025

    Memasuki 2025, gua mengambil resiko pertama untuk menolak semua pekerjaan yang masuk. Meskipun gua butuh, tapi kalau diterima ya juga salah. Gua juga memutuskan untuk cut-off dari lingkungan toxic dan mulai berusaha untuk mencari lingkungan baru. Gua belum bisa bilang bahwa lingkungan gua nantinya akan sangat bagus (karena memang belum terjadi ). Tapi, gua selalu berdoa semoga Allah selalu menjaga idealisme gua, semoga Allah benar-benar membantu gua keluar dari lingkaran setan itu, dan semoga Allah segera menemukan gua dengan orang-orang dan lingkungan yang mampu menerima, dan menghargai semua kerja keras gua dengan baik.

    Untungnya, gua somehow bisa bertahan karena punya tabungan dari hasil rajin bekerja freelance sejak kuliah. Tapi tetap aja, sudah terlampau banyak pengorbanan yang gua lakukan namun tidak sesuai ekspetasi (tidak mengapa, manusia itu memang belajar dari kesalahan). Tahun ini, gua tidak mau lagi menghabiskan malam untuk menangis. Tahun ini, gua akan memperjuangkan mimpi gua dengan sungguh-sungguh. Tahun ini gua akan lulus. Dan di akhir tahun ini, gua akan mengatakan ke diri gua setahun yang lalu: You did well, terima kasih telah bertahan, dan terima kasih tidak menyerah.

Pertengahan 2025

    Tahun ini ternyata cobaan hidup gua makin edan. Gua benar-benar bingung kenapa dari semua timeline hidup, masalah hidup gua itu datangnya pas skripsian semua. Tau ga kenapa gua muak dengan semua ini? karena gua merasa ga ada yang mendukung visi hidup gua, bahkan orang terdekat sekali pun. Gua ga pernah nyerah, tapi perjuangan gua selama ini kaya ga ada artinya. Gua sudah bisa menebak akhir ceritanya seperti apa, gua setakut itu. Gua sangat bersyukur punya sahabat yang sangat memahami perjuangan gua, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak, dia juga sama cluelessnya dan bahkan geleng-geleng mendengar cobaan hidup gua. Gua capek harus bertengkar lagi dan lagi dengan orang yang gua sayang selama hidup. Ditambah, di tahun ini akhirnya gua mengetahui dan paham kenapa hidup gua berjalan seperti itu, dan ternyata kenyataannya pahit sekali. Gua marah besar dan ngamuk hingga 2 bulan. Gua bukan orang yang suka cari-cari masalah, bukan orang yang hobi memperbesar masalah, tapi gua sudah se-capek itu. Seumur hidup gua berusaha legowo dan menerima, gua selalu berusaha berkali-kali lipat lebih keras dibanding orang lain tapi ternyata balasannya adalah seperti itu. Gua marah pada semua orang, terlebih dengan diri gua sendiri. Selama hidup gua berusaha hidup se-mandiri mungkin. Gua tidak pernah mengeluh, mencoba selalu mengerti, menanggung semua yang dialami sendiri, tapi kenyataannya beneran bikin gua sakit hati. Untuk pertama kalinya gua yang selalu sabar ini memutuskan untuk melawan. 

    2025 ternyata gua harus menghadapi orang-orang jahat tersebut di depan mata kepala gua sendiri. Orang yang selama ini gua rasa sangat manis, ternyata jahatnya ga ketolong. Awalnya gua selalu menghindari konflik, tapi melihat keadaan yang semakin kacau dan tidak ada yang bisa melawannya akhirnya gua memutuskan untuk turun langsung. Tadinya gua sangat takut, tapi ternyata kegigihan gua jauh lebih besar. Salah satu hal mengerikan adalah marahnya orang sabar. Kalau tahun kemarin gua lebih banyak menangis, maka tahun ini gua lebih banyak marah. Energi gua memang jadi habis, tapi mereka tidak tahu kalau energi gua sebenarnya sebanyak itu. Meski skripsi gua udah se-telat ini tapi gua ga pernah menyerah. Orang menyerah itu isinya pesimis, vibesnya negatif. Tapi apa pernah gua berhenti belajar? enggak. Gua percaya bahwa keadaan gua akan membaik, gua percaya ini semua belum berakhir. Jika tidak ada seorang lagi yang percaya dengan gua, tapi gua akan selalu mempercayai diri sendiri. Menyikapi kegagalan itu buat gua sudah biasa, tapi ini pertama kalinya gua menyikapi masalah yang se-kompleks ini. Gua kewalahan, tapi lama-lama gua terbiasa dan semakin tenang. Setelah mulai paham dan menerima semua yang terjadi di hidup ini, gua akhirnya bisa kembali menyusun hidup gua dari titik nol.

    Setelah datang ke bintaro, gua belajar untuk kembali mencintai hal yang dulunya pernah sangat gua cintai. Baik itu membaca, menulis, mengaji, hingga belajar AI lagi dari awal. Gua tidak akan mengeluh, karena sebenanya gua bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk mulai semuanya dari awal lagi. Gua tidak masalah jika kali ini gua harus berlari mengejar semuanya, itu jauh lebih menyenangkan dibanding terus-terusan dikecilkan dan tidak dihargai. Allah benar-benar Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui Isi Hati. Memang, posisi gua sekarang juga belum kembali semula seperti dulu. Gua harus mengejar banyak ketertinggalan karena termakan stress dan trauma berkepanjangan. Namun, semuanya sudah menjadi lebih baik kok. Gua sudah tidak menangis, gua sudah tidak sakit-sakitan, kaki gua sudah tidak berdarah-darah lagi, breakout gua mulai sembuh, gua sudah bisa menulis, gua sudah bisa ngoding lagi meski belum sekeren dulu. Gua akhirnya mencintai kembali hal-hal yang dulunya sangat... sangat... sangat.... gua sayangi, dan ternyata hal-hal tersebut memang menyenangkan. Ilmu itu tidak salah, namun manusialah yang menentukan arahnya. Hal-hal yang gua cintai sesungguhnya adalah hal yang baik, tapi semua itu sempat rusak karena orang-orang brengsek tersebut.

    Tulisan ini adalah tulisan yang bersambung selama 2 tahun, dan gua rasa gua sangat bersyukur bisa bertahan. Benar, storm shall pass. Meski pun setelah sekarang gua tidak mengalaminya lagi, kalau jam 2 masih bangun gua tetap bisa relapse (tidur awal adalah koentji). But trust me, it's getting better. Ketika gua terbangun di pagi hari hal yang gua takutkan sudah tidak terjadi lagi.

    Gua bersyukur karena gua bisa kembali, dan gua sangat bersyukur karena badai telah berlalu. Untukku di masa lalu, di masa sekarang, dan di masa depan: You'll always be that kind and bright girl.

Posting Komentar

0 Komentar