Jarang sekali gua memutuskan untuk menulis di siang hari, tapi tiba-tiba teringat kalau sekarang sudah tanggal 31 Desember. Benar: refleksi tahunan. Setiap akhir tahun gua selalu berusaha dan menyempatkan diri gua untuk introspeksi atau lebih gamblangnya: ngaca. Sering kali kita terlalu mendikte orang lain tapi untuk diri sendiri malah abai.
Hari ini gua menulis ketika sedang berada di warkop deket kampus. Gua memang sering kesini setelah bimbingan karena tempatnya nyaman, menunya beragam, dan yang paling penting banyak colokan listrik haha. Akhirnya gua pergi ke kampus untuk mencetak skripsi gua. Iya, skripsi gua akhirnya kelar. Di mata orang lain hal ini mungkin terlihat seperti biasa saja, "nahkan akhirnya lulus juga lu." Tapi sebentar, menurut gua ini adalah sesuatu yang luar biasa besar. Dari luar mungkin ini cuma skripsi, tapi bagi gua ini seperti masuk ke fase baru. Selama ini ada banyak banget hal yang ngeblock gua untuk ngerjain skripsi. Di postingan sebelumnya gua juga sudah jelasin kurang lebihnya gimana. Kenapa bisa sampai seperti itu? ya karena masalah internal dan eksternal gua banyak banget sampai mempengaruhi kesehatan fisik gua.
Saat bulan ramadhan kemarin gua mempelajari satu fakta menarik tentang Lailatul Qadar. Kita semua tahu kalau lailatul qadar itu adalah malam yang sangat istimewa, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam penuh kemuliaan, malam yang dikejar oleh seluruh manusia lewat doa dan ibadah. Meski ada tanda-tandanya, tapi kita tidak akan pernah tahu pasti kapan pastinya lailatul qadar terjadi. Tapi apakah makna lailatul qadar hanya sampai situ? tidak. Di malam tersebut, malaikat turun untuk mengatur segala urusan (mengacu surat Al-Qadr). Urusan apa saja? mulai dari rahmat, ampunan, hingga takdir. Pada malam itulah, pencatatan takdir tahunan ditulis.
Dalam hidup ini, takdir itu sejatinya telah tertulis di Lauhul Mahfudz, tapi sebagai seorang muslim kita juga memahami bahwa takdir itu tidak hanya takdir Qada, ada juga takdir yang masuk ke kategori takdir Qadar. Make sense kan sekarang kenapa namanya Lailatul Qadar? Make Sense kan sekarang kenapa Allah berfirman Inna Anzalnahu fii Lailatil Qadr? Karena itu semua adalah Qadar, masih bisa berubah, bukan Qada.
Sejauh mana hidup bisa berubah? ga ada yang tahu pasti. Bagi Allah, apa pun bisa terjadi, segala sesuatunya sangat memungkinkan di hadapan Allah. Jika takdir qada adalah jawaban dari apa, maka qadar adalah interpretasi dari bagaimana. Qadar merupakan perwujudan atau realisasi dari ketetapan tersebut yang bisa dipengaruhi ikhtiar (usaha) dan doa manusia. Semua manusia pasti mati, tapi sebagai manusia kita juga bisa mengupayakan ingin mati seperti apa. Ingin mati sebagai orang yang baik? atau ingin mati sebagai orang yang jahat? Di sanalah ujiannya. Jika membicarakan takdir, maka pembahasannya akan panjang sekali, karena hidup manusia sangatlah kompleks dan kita tidak boleh mendahului kebesaran dan kekuasaan Allah, kita cuma hamba.
Kembali ke konteks refleksi tahunan, gua sangat sadar bahwa di hidup ini kekurangan gua banyak banget. Gua sadar ketidakberdayaan gua sebagai manusia. Ketika gua mengatakan bahwa gua merendahkan diri gua serendah-rendahnya di hadapan Allah maka memang itulah yang terjadi. Gua tidak putus asa, tapi gua mengembalikan semua urusan kepada Allah. Tahun ini gua banyak sekali dimarahi, dikritik, disalah-pahami, dijudge dan sebagainya oleh banyak orang. Tapi semua itu gua terima, gua menerimanya dengan lapang dada. Gua meruntuhkan segala ego karena saat ini gua memang sudah overwhelmed, berada di titik limit gua sendiri. Gua mendengarkan semua saran yang masuk dan menghargai setiap kejadian di hidup gua. Di hidup yang cuma sekali ini, gua sadar kalau gua tidak bisa hidup sendiri. Meski selama ini gua selalu merasa sanggup sendiri, tapi pada akhirnya gua hanya manusia biasa yang serba tidak mampu. Tahun ini, gua memperbaiki hubungan gua dengan manusia, gua sekarang paham kalau menjaga hablum minannas memang sepenting itu dalam hidup.
Gua benar-benar bekerja sangat keras untuk mengubah diri gua, apalagi dengan titik start yang berada di angka 0. Angka 0 di sini bukan materi, tapi sebagai manusia secara keseluruhan. Gua belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Gua belajar bagaimana seharusnya manusia merasa dan mengambil sikap. Jika terjadi ini maka gua harus melakukan ini, jika terjadi itu maka gua harus bersikap seperti apa. Gua mengosongkan wadah agar bisa mempelajari hal-hal baru yang lebih baik. Jujur, ada hari di mana rasanya lelah sekali. Hari di mana gua merasa sekeras apa pun gua berusaha ternyata tidak akan pernah cukup. Tapi itulah konsekuensinya ketika gua memutuskan untuk berdiri dan berlari. Istilahnya, gua memapatkan sesuatu yang seharusnya dipelajari dalam jangka waktu yang panjang menjadi hanya beberapa bulan saja, berat. Sebenarnya dalam hidup tidak ada standar pasti bagaimana seharusnya kita berjalan, dunia tidak se-saklek itu. Tapi bagaimana pun juga, gua hidup di sebuah sistem dengan segala aturannya dan gua harus berjalan demi kebaikan diri gua sendiri. Meski gua mengeluh, meski gua merasa lelah, tapi gua juga sadar bahwa semua ini dilakukan untuk kebaikan hidup gua. Dunia dengan segala cobaan dan ujian harus diterima karena gua juga gak mau jadi lemah. Gua sudah berjalan sejauh ini, gua juga sudah banyak berubah, satu-satunya hal bisa dilakukan adalah tetap menjadi kuat dan konsisten hingga akhir.
Gua percaya bahwa Allah adalah Zat yang Mengetahui Segala Isi Hati. Allah tahu dan Allah bahkan lebih paham diri gua dibanding gua sendiri, dan itu adalah fakta. Allah akan memberi sesuatu ketika gua siap, sehingga di tahun ini gua banyak sekali berdoa agar dipersiapkan dan dipantaskan untuk sesuatu yang akan gua terima di masa depan. Ya Allah, pantaskanlah diriku untuk segala impian dan harapanku. Ya Allah, persiapkanlah aku untuk menerima segala kebaikan dan rahmat-Mu. Doa itu selalu gua ulang-ulang. Di malam yang sunyi, di pagi hari yang tenang, di sela-sela kesibukan, di tengah hujan penuh rahmat, bahkan di saat paling acak sekali pun. Gua sadar selama ini terlalu egois meminta ini dan itu namun di satu sisi gua tidak mempersiapkan diri. Akibatnya? gua kewalahan sendiri, gua jadi bingung dan terus-menerus berperang dengan diri gua.
Semua ini bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Tapi melalui usaha, doa, dan harapan yang tidak pernah terputus. Allah telah menjanjikan petunjuk kepada orang yang bersungguh-sungguh, dan ternyata bersungguh-sungguh memang harus seperti itu. Kita memang harus bekerja sekeras itu. Semakin tinggi harapannya, semakin besar hadiahnya, maka semakin besar juga konsekuensinya. Masa depan itu sejatinya milik orang yang rendah hati dan senantiasa bersungguh-sungguh. Proses pendewasaan gua ternyata jalurnya seperti itu, dan gua terima saja, hidup isinya memang cobaan kok. Di dalam Al-Mulk ayat 2 juga telah disebutkan bahwa manusia memang diuji untuk dilihat siapa yang lebih baik amalnya.
Orang mungkin suka salah memahami, bahwa amal di sini adalah amal-amal seremonial yang terlihat saja. Padahal kebaikan hati, kesungguhan diri, dan mentalitas juga termasuk ke dalam amal yang diperhitungkan kelak. Manusia terkadang terlalu sibuk dengan amalan zahir yang dapat diamati sehari-hari tapi lupa untuk meluruskan batin mereka sendiri. Gua tidak mengatakan bahwa shalat itu tidak baik, justru shalat adalah kewajiban. Fakta tentang shalat menjadi amal pertama yang dipertanyakan itu tidak bisa diganggu gugat, tapi hidup itu variablenya banyak sekali. Gua ingin menjadi orang yang selalu meluruskan niat gua dalam hidup. Jika niatnya baik, maka amalannya juga menjadi baik. Jika niatnya baik, maka kehidupannya juga menjadi baik. Niat dan mentalitas seseorang itu sebenarnya bisa terlihat dari bagaimana dia menjalani hidup, sepak terjang dia di dunia ini. Bahkan meski seseorang itu "susah," tapi gua bisa merasakan bahwa dia telah menjalani hidup tersebut dengan baik, terlepas dari apa ujian yang diberikan Allah kepadanya. Gua bisa mengatakan orang tersebut bersahaja bukan dari perkara hartanya saja, tapi auranya memang terpancar. Kebaikan itu bisa "bocor," karena kebaikan itu akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali. Bahkan meski kita sebagai manusia bisa salah menilai, tapi penilaian Allah itu mutlak dan tidak akan pernah meleset. Itu juga yang mendasari gua untuk selalu yakin dalam menjalani setiap ujian yang hadir. Gua percaya Allah Maha Melihat, gua sangat percaya Allah Maha Mendengar dan Mengetahui Isi Hati.
Ibaratkan ujian, maka tugas gua adalah mengerjakan soal tersebut dengan sebaik-baiknya. Akan selalu ada podium untuk orang-orang yang juara, akan selalu ada tempat untuk orang-orang yang berkualitas. Orang islam etos kerjanya harus bagus, mentalitasnya harus kuat. Ketika hari kembali terasa susah, ketika keraguan dan ketakutan gua kembali muncul, mungkin postingan ini akan menjadi hal yang pertama gua baca. Gua akan selalu bersungguh-sungguh dengan doa yang gua panjatkan, dan selama gua masih hidup maka akan selalu ada hari yang layak dinantikan dan patut disyukuri.
Ya Allah jika ini ujiannya, maka aku akan mengerjakan soal tersebut dengan sebaik mungkin. Lihat aku, dan tuntun aku menuju Shiratal Mustaqim yang aku mohonkan lima kali dalam sehari itu.

0 Komentar