Early Career
Memiliki kekhawatiran yang tidak bisa semua orang relate itu rasanya benar-benar sulit. Bagaimana caranya aku mengeluhkan sesuatu yang bahkan orang lain tidak bisa mengerti? bagaimana caranya aku bisa mendapat solusi kalau orang lain saja bahkan tidak paham konteksnya.
Setelah lulus, pengumuman yang paling pertama keluar adalah pengumuman Magenta di salah satu BUMN. Bisa dibilang opportunity ini win win solution. Nama besar, gaji cukup oke, dan ada uang makan siang. Sebulan di sini benar-benar menyenangkan karena job description yang tidak sulit, dan lingkungan yang menurutku cukup supportif. Definisi happy job, happy life. Bahkan ketika aku diminta untuk pindah kerjaan, aku justru tidak mau, bahkan sampai menangis karena aku benar-benar menikmati waktuku di sini, ya karena memang isinya yang bahagia bahagia saja.
Selanjutnya bulan Agustus, aku dipindahtugaskan ke salah satu anak perusahaan yang memang spesialisasinya sebagai konsultan IT perusahaan. Menurutku mulai dari titik inilah semua berubah. Yang tadinya kerjaku tidak berat, sekarang menjadi sangat SANGAT berat. Kalau dibilang magang pun sepertinya aku tidak sudi, karena beban kerjaku sama dengan orang-orang yang sudah menjadi karyawan di sana.
Aku masuk ke sini benar-benar modal nekat dan bismillah. Kalian tau kenapa aku memutuskan untuk masuk ke sana? karena di head office aku banyak gabutnya. Head office itu mostly posisi manajerial dan pembuat kebijakan. Sementara aku sebagai early career jelas tidak punya kapabilitas untuk memutuskan sesuatu, dan akhirnya hanya mendapat kerjaan "receh-receh" yang menurutku tidak mengandung growth sama sekali. Akhirnya, dari semua teman-temanku di sana.. aku mengajukan diri untuk diassign ke sana.
Awalnya aku masuk dengan niat membantu, istilahnya "diperbantukan." Tapi aku rasa sepertinya orang head office juga tidak punya pekerjaan untukku selama di sana sehingga sampai detik ini pun aku masih di sini. Aku sama sekali tidak pernah memegang backend. Semuanya aku pelajari di saat itu juga, dan di tempat itu. Onboarding session waktu itu hanya 3 hari, karena mereka memang berharap aku bisa masuk membantu mereka secepat mungkin. Jangan tanya bagaimana rasanya jadi aku, jelas PUSING. Setiap hari rasanya asam lambungku naik. Aku perlu duduk sejenak mampir untuk makan sepulaang kerja untuk mengumpulkan sisa-sisa energi sebelum perjalanan pulang ke rumah. Ntah sudah banyak air mataku yang tumpah, berapa kali aku muntah, berapa kali rasanya ingin menyerah saja, tidak terhitung.
Aku coba bercerita dan mengeluh kepada orang-orang terdekat, dan aku sangat bersyukur bahwa mereka selalu menyemangatiku untuk terus maju dan berjalan. Mereka berkata bahwa yang aku lakukan sudah benar, yang aku perlukan hanyalah terus berkembang. Mereka percaya aku pasti bisa, tapi di satu sisi justru akulah orang yang paling tidak yakin.
Secara skill, jelas aku sangat kurang di bidang ini. Bayangkan, sesuatu yang tadinya hanya "membantu" sekarang akan menjadi skill utama yang aku miliki & harus aku kuasai. Aku datang benar-benar seperti ember kosong. Aku bahkan tidak tahu apa itu payload request, payload response. Bertanya pun rasanya malu sekali, karena aku menanyakan sesuatu yang benar-benar dasar, terdengar sangat bodoh. Aku coba untuk mencari tahu sendiri, dan aku sangat bersyukur bahwa ketika aku bekerja sudah ada AI Assistant yang mumpuni sehingga aku bisa mengejar materi dasar SECEPAT mungkin.
Bisa dikatakan aku sangat beruntung karena orang-orang di sekitarku mostly ikut menyemangati. Tapi, di satu sisi sejujurnya aku sangat sangat sedih, karena sedetail apa pun ceritaku... mereka gak bisa relate: tentang apa yang membuat aku sedih, khawatir, anxious, kesal, marah, dan sebagainya. Sedih, karena di early career ini aku benar-benar sendiri. Sekeras apa pun aku mencoba bercerita tapi orang gak paham. Sekarang ini aku sangat khawatir karena besok adalah deployment keduaku ke production. Bisa dibilang, yang pertama itu aku selamat karena service yang aku buat mudah. Aku bisa lolos QA production karena service yang aku buat hanya PASSTHRU, meneruskan informasi yang sebelumnya sudah ada. Tidak ada transaksi apa pun, tidak ada mengganti data apa pun. Sedangkan, service yang sekarang harus aku deploy adalah service yang mencakup proses bisnis container, beban tanggung jawabnya beda. Ada data terminal yang harus aku pastikan terupdate secara berkala. Ada penyimpanan dan penghapusan data di sana.
Mereka tidak bisa mengerti betapa dinginnya tanganku saat harus menekan tombol deploy. Mereka tidak mengerti betapa jantungku berpacu saat memantau table log di environment yang sedang live. Mereka tidak bisa mendapat konteks apa yang sebenarnya aku khawatirkan dan aku takutkan. Semua senior di sini sibuk dengan projectnya masing-masing, dan sebenarnya mereka juga tidak punya kewajiban untuk mengajariku karena sejak awal di sini aku tidak punya mentor, itulah yang membuat perjalananku di sini semakin sulit. Meski aku bertanya, aku juga tidak mungkin menyita waktu mereka terus-terusan. Aku tetap berusaha komunikasi sebaik mungkin, tapi tetap saja praktiknya susah.
Jujur, rasanya takut sekali. Bagaimana jika aku gagal? bagaimana jika aku salah? Kesempatanku bukankah akan hancur? Bagaimana cara aku menjelaskan betapa takutnya aku terhadap hal tersebut? Di sini aku sama sekali tidak punya mentor. Hanya aku, diriku, kemampuanku, dan Kuasa Allah. Itu juga yang membuat tadi aku mengatakan "aku ini sendirian." Begitulah rasanya. Coba kamu bayangkan kalau aku tiba-tiba bercerita alur deployment kepada ibuku atau saudaraku, apakah mereka mengerti? tentu saja tidak. Itu adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa relate, dan aku juga tahu itu.
Waktu aku ke psikolog, aku pernah mengeluhkan hal aku rasa cukup niche dan teknis. Dan kamu tahu apa yang dia katakan? "Iya saya tahu, tidak semua orang mengerti struggle bidang tersebut kan?"Saat psikologku mengatakan hal tersebut, air mata benar-benar tidak terbendung. "Akhirnya, akhirnya ada yang mengerti." Jalan yang aku lalui itu sepi sekali. Jika menjadi engineer saja sesepi ini, bagaimana nanti jika aku menjadi researcher ya? Berapa persen orang di dunia ini yang menjadi researcher? Suatu hari aku pernah mengeluhkan sesuatu ketika aku masih berkecimpung di dunia research. Dan tahu apa balasannya? "Jadi publish paper tuh buat apa?" yang membuatku kemudian berpikir, "Oh, jadi yang aku lakukan selama ini tuh di mata orang lain tidak berguna ya?."
Sampai saat ini aku belum ada niatan untuk kembali ke dunia research, karena memang jenjang karirnya tidak ada. Terkadang aku berpikir.. kalau aku lahir di negara yang maju sepertinya aku tidak perlu sesulit ini untuk menentukan karir.
Lelah sekali ketika ujung-ujungnya aku diberi solusi untuk bersyukur. Aku bukannya tidak bersyukur, justru aku sangat bersyukur. Setiap hari aku selalu bersyukur terhadap segala nikmat yang diberi oleh Allah. Nikmat bahwa aku masih bangun untuk mendapat kesempatan baru, nikmat bahwa aku diberi banyak kelebihan oleh Allah untuk mengejar apa yang aku inginkan. Tapi.. kekesalan, dan kekhawatiranku juga valid. Aku akan jujur, dan mungkin sebenarnya ini konyol: aku takut deployment ke production. Meski sebenarnya mendalami dunia IT itu berhubungan erat dengan error, tapi aku tetap takut. Aku kesalahanku fatal, aku takut tidak perform, aku takut tidak bisa memenuhi ekspetasi project, aku takut gagal, aku takut mereka tidak senang atas kerjaku, aku takut hanya menjadi beban bagi mereka. Aku takut, aku takut sekali, aku sangat takut dan bingung harus menceritakan ke mana karena orang lain tidak tahu betapa beratnya tanggung jawab environment production. Aku takut, tapi tidak ada yang mengerti. Kalau aku cerita ke atasan/seniorku, mereka akan mengatakan bahwa aku berlebihan, padahal ketakutanku ini valid, sangat sangat valid. Jam terbangku belum selama mereka. Pengalamanku belum sebanyak mereka. Masalah yang aku hadapi juga beda yang sebelum terjun ke korporat aku adalah seorang researcher dengan flow kerja yang sangat berbeda. Mereka tidak bisa mengerti, dan aku juga tidak memaksa. Tapi tetap saja, intinya aku takut.
Menguasai bahasa dan sesuatu yang tidak orang pahami itu sulit, seperti sedang berteriak di ruang hampa. Orang-orang di sekitarku jelas menyayangiku, tapi mereka memang tidak punya kosa kata untuk memahami medan perangku.
Semoga dan semoga aku baik-baik saja. Semoga dan semoga, aku bisa segera terbiasa dengan ritme baru di hidupku ini. Semoga dan semoga, aku bisa cepat adaptasi dengan pace yang berat dan cepat ini. Semoga dan semoga, akan ada hari di mana aku sudah jauh lebih tenang dalam menghadapi masalah deployment. Semoga dan semoga, aku bisa kembali tersenyum karena tidak terus-terusan tertekan. Semoga dan semoga, aku makin jago sehingga aku tidak perlu lagi takut skill issue. Semoga dan semoga, aku sehat selalu.
Maaf ya, tolong izinkan aku untuk mengeluh malam ini.
.jpg)
0 Comments