Weekend and Here's My Thought, Again
It's currently 7:18 AM dan gua ingin memulai hari dengan sebuah refleksi. Setelah gua daftar wisuda jujur rasanya agak bingung mau ngapain. Tentu, gua udah punya planning mau ini mau itu, gua juga ada rencana mau ngapain aja setidaknya untuk 2 bulan kedepan, tapi buat gua rasanya tetap terlalu lowong. Katanya, gapapa buat gua untuk beristirahat, you did good wil. Tapi, gua juga sadar diri gua nih udah telat, gua gak lulus on time, gua gak bisa dan gak mau juga lama-lama istirahat. Kalau dihitung dari tanggal gua selesai daftar yudisium, ini baru 9 hari. Dan bahkan total gua bener-bener taking rest mungkin cuma beberapa hari, itu juga kayanya ketika gua nulis di blog ini yg berarti 28-2 maret HAHA.
Salah satu hal yang gua gak suka itu adalah ketika gua gak ngapa-ngapain. Feeling useless. Gua juga pernah state hal ini di blog gua yang satunya, gua gak suka kalau gua gak berdaya. Rasanya tuh kayak apa ya... kalau di komputer mungkin semacam memory leak? energi terbuang tapi gak ada outputnya. Memang, dalam hidup kan sebetulnya kita juga tidak selalu harus sibuk, banyak juga kok orang sibuk yang tidak produktif, keliatan sibuk tapi ga menghasilkan apa-apa juga banyak. Gua mencoba untuk lebih bijak dalam menentukan pilihan dan kegiatan yang akan gua lakukan. Gua cuma menyayangkan aja dikasih otak cemerlang tapi gak gua pake dan gua manfaatkan dengan baik. Beberapa waktu kebelakang gua banyak refleksi diri dan belajar untuk menjadi seseorang yang lebih "manusiawi." Bisa merasa, punya inisiatif, dan empatinya tinggi. Kalau dikatakan gua sudah sangat matang ya sebenarnya belum kok. Sampai sekarang gua masih banyak salahnya, tapi gua merasa selama gua mau terus belajar untuk mendengarkan dan menerima kritik saran maka di masa depan gua akan baik-baik saja. A bad day isn't a bad life. Soon or later, i''ll be there and be the best version of myself.
Alasan sebenarnya gua nulis ini tuh karena ada hal-hal mengganjal yang unfortunately ga bisa gua ucapin ke orang-orang, semacam unspoken words gitulah. Gua masih harus menunggu sampai senin depan untuk ngomong ke psikolog ugh. Harusnya gua udah gak perlu ke sana sih, karena problem yang menghalangi diri gua bisa dikatakan sudah selesai. Gua juga sudah menjadi pribadi yang lebih wise dan regulated. But yeah, we have to agree that searching for jobs nowadays is hard. Gua harus terus mempertahankan diri gua untuk tetap fully connected. Posisi gua masih rawan, setidaknya sampai nanti gua dapat kerja full-time.
Kebanyakan basa-basi, gua jadi belum bilang hal mengganjal tadi wkwkw. Gua tuh takut banget untuk ngasih tau progress gua ke orang lain. Alhamdulillah persoalan masalah, hambatan yang sedang gua alami, dan apa yang gua rasain tuh gua udah terbuka banget. Tapi persoalan progress ini loh gua takut banget. Kadang gua pengen banget gitu kan cerita hari ini gua udah belajar apa aja. Oh ternyata portofolio gua masih kurang di bagian ini, ternyata gua harus mendalami bagian ini, ternyata gua harus benerin ini. Gua pengen banget cerita, tapi gak pernah bisa. Lidah gua kelu, karena semua itu kan belum ada hasilnya. Bahkan mengenai gua ikut kelas tahfidz aja semua cuma tau gua tiap hari ngaji aja. Gua takut banget kalau orang tahu hafalan gua, progress muroja'ah gua, orang ngeliat gua jadi beda. Gua takut kalau suatu hari gua membuat kesalahan hal pertama yang mereka ungkit adalah, "Percuma ngaji tapi.."
Begini, gua juga tahu asal tersebut dari mana. Nyatanya; suka gak suka, mau ga mau; semakin banyak ilmu lu, maka tanggung jawab lu juga semakin tinggi. Banyak orang ingin jadi pintar, tapi mereka mungkin juga ga expect what comes after that. Menjadi terdidik itu berarti lu mengemban ilmu. Dan yang namanya ilmu, ga bisa cuma ada di kepala doang. Lu harus amalkan, dan ilmu-ilmu tersebut harus terpancar lewat diri lu. Itu juga kenapa orang (termasuk gua) kadang bisa langsung melihat apakah seseorang berilmu atau tidak, karena kelihatan. Nah, itu dia konsekuensinya.
Gua juga pernah mengalami kejadian yang masih gua ingat sampai sekarang. Waktu SMA, gua pernah marah besar. Kalau diceritain lu mungkin akan setuju dengan alasan marahnya gua. Waktu itu gua marah banget, dari semua orang di angkatan cuma gua doang yang berani labrak. Awalnya lewat chat, tapi kemudian gua ngomong langsung tatap muka, dari mata ke mata. Diem-diem begini gua bukan penakut, malah sebenernya nekat wkwk. Gua rela ngelakuin hal yang menurut gua perlu, makanya sekarang gua cenderung nahan diri bukan karena gua ga sanggup, tapi karena gua takut kebablasan marah aja. Orang yang gua labrak bilang gini, "kamu kan katanya berilmu, kamu kan pinter, tapi kok ga punya adab?" Jujur aja, itu kena banget di gue. Sampai detik ini gua masih inget banget kejadiannya dia ngomong kaya gitu di hadapan hampir 1 angkatan. Pas denger dia ngomong gitu, muka gua langsung merah banget. Gua berpikir dari semua hal yang bisa dibahas kenapa lu malah bahas personal? Tapi gua coba nahan sekuat tenaga sampe muka gua merah. Dari sana gua juga jadi tau kalau muka gua bisa merah ga cuma karena salting, tapi karena nahan emosi T__T.
Di hidup ini, gua beneran lagi berusaha untuk menjadi orang yang tidak hanya berilmu, tapi juga beradab. Gua gak mau ilmu-ilmu yang gua pelajari sia-sia. Gua gak mau pengetahuan yang sangat gua cintai itu disalahkan karena kelakuan gua sendiri. Gua jadi suka nahan untuk tidak menjadi terlalu tahu, atau terlalu mengerti di hadapan orang-orang karena gua takut (tapi kalau beneran gak tau gua jujur aja). Pernah juga suatu ketika gua ditanya hafalan kamu berapa? terus dengan polosnya gua jawab 20, lalu beberapa waktu kemudian orang tersebut perlahan jauhin gue. Jujur sedih, gua cuma mau temenan. Gua sedih banget kalau orang yang ingin gua ajak temenan malah melihat gua sebagai saingan atau ancaman. Ini juga yang membuat gua ga bisa sama orang insecure. Beberapa waktu kebelakang padahal hidup gua lagi kacau-kacaunya, tapi gua harus terus merendah sampai di titik apa? gak bisa.
Mempercayai orang itu hal yang sulit buat gua. Yang membuat sulit adalah karena gua adalah tipe yang setia banget. Kalau lu susah bakal gua bantu, kalau lu terpuruk bakal gua temenin, kalau lu sedih bakal gua hibur, kalau gua senang lu bakal gua ajak biar sama-sama senang. Selagi nulis ini, gua sambil dengerin lagunya Laufey yang serendipity. Gua tidak bisa memungkiri bahwa i have this genuine heart.
Four-leaf clovers and lucky dimes
Coincidences and cosmic signs
Have proved that I am quite naïve
Ya, gua memang naif. Tapi terkadang kenaifan tersebut yang membuat gua bisa terus melihat hal-hal baik di dunia ini. I choose to be kind, over and over again. Satu hal yang gua pelajari ketika dewasa adalah gua ingin menjaga hal ini. Menjaga hati gua agar selalu bisa mencintai Tuhan gua, menjaga hati agar gua selalu bisa menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur, menjaga hati agar gua selalu memilih hal-hal baik dalam hidup. Gua ingin terus menjaga perasaan ini. Bahwa di pagi hari Allah masih memberi banyak kesempatan dan hari baru yang di dalamnya terlimpah keberkahan.
Gua akan terus belajar untuk meregulasi perasaan gua, seperti yang pernah gua tulis juga di Last Falsetto; gua tetap bisa menjadi baik dan berkata tidak, dan seterusnya. Tidak mudah, bahkan menurut gua jauh lebih susah belajar untuk menjadi manusia dibanding belajar hal-hal eksak dalam hidup. Gua hanya perlu menjadi lebih baik setiap harinya, setiap hari, dan setiap hari... tidak ada batas memang, karena pada dasarnya kita akan terus menjadi pembelajar seumur hidup. Tidak apa, jalannya sudah terlihat kok. Gua hanya perlu menapakinya dengan telaten dan sabar. Yup, gua bahagia karena berani mencoba. Gua bersyukur karena Allah melembutkan hati gua untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Atas segala nikmat dan anugerah yang telah Allah berikan, lagi-lagi gua hanya ingin bersyukur. Ya, lagi dan lagi.
.jpg)
0 Comments