Road to Graduation

 


    Seharian ini bisa dibilang kerjaan gua tidur-tiduran doang, itu juga kenapa gua bisa menulis banyak setelah sekian lama. Awalnya gua ingin langsung daftar wisuda, tapi ternyata pendaftarannya baru buka 2 Maret alias hari ini (sabar dulu ga si). Kalau postingan lalu isinya lebih banyak kronologi, sekarang gua mau coba breakdown uneg-uneg gua selama proses seminar hasil-sidang skripsi-yudisium. 

    Gua agak bingung mendeskripsikannya seperti apa karena memang rasanya campuk aduk banget, tapi sepertinya lebih banyak rasa syukur. Terlepas dari segala hambatan dan masalah yang terjadi selama proses tersebut, gua bersyukur karena gua akhirnya bergerak. Manusia ini, yang kata orang "kamu kan pernah publish 7 paper, skripsinya kok malah ga kelar-kelar?", akhirnya bangun dari "tidur." Setelah banyak kontemplasi, dan of course seek help from professional, suatu hari gua memutuskan untuk lari keluar dari labirin.    

    Kalau ditanya apakah gua pernah menyesal, ya tentu saja pernah. Ga mungkin gua ga pernah menyesal. Dua tahun itu lama loh, dalam jangka waktu tersebut bisa aja gua udah punya pengalaman 2 tahun kerja fulltime, atau bisa aja gua achieve hal lain yang setara dengan hal tersebut, bisa aja gua sekarang udah lagi nunggu keberangkatan S2, bisa aja gua punya tabungan instead of ngabisin uang tersebut untuk jadi donatur kampus (hiks), atau bahkan bisa aja sekarang gua lagi proses taaruf sama orang. Tapi balik lagi, semua itu adalah takdir dan di dalamnya pasti ada hikmah, bagi orang-orang yang mau berpikir dan mau mengambil pelajaran.

    Selama perjalanan pulang dari yudisium, gua banyak berpikir dan berkesimpulan bahwa gua yang sekarang gak akan ada kalau gua gak ngalamin hal tersebut. Setahun ini gua merasa berhasil menjadi seorang manusia yang lebih "humanis." Kalau jalannya gak begini, mungkin gua gak akan pernah "diseret" ke bintaro dan ketemu mba yang ternyata peduli banget sama gua. Kalau jalannya gak begini, sampai detik ini bisa aja gua masih menjadi manusia yang ignorant dan gak peka. Kalau jalannya gak begini, bisa aja sekarang gua lagi dimanfaatin sama orang lain dengan diri gua yang masih sangat naif itu.

    Setelah kembali ke rutinitas gua yang biasa, rasanya ternyata menyenangkan. Memang ya, terkadang kita perlu dijauhkan dari hal-hal yang disukai supaya kita sadar betapa berartinya hal tersebut. Sejauh apa pun gua mencari, pada dasarnya di dalam hati gua sendiri sudah tau apa yang gua sebenarnya inginkan. Itu juga yang mendasari kenapa pada akhirnya gua kembali, karena memang gua mencintai hal-hal tersebut. Selama 2025 gua belajar mencintai dan belajar menghargai hal-hal di sekitar gua dengan lebih baik. Selama ini gua terlalu melihat dunia seperti hitam putih sehingga kadang gua menjadi gampang judging dan gampang demanding. 

    Gua sangat bersyukur bahwa Allah senantiasa menuntun gua hingga detik ini. Kalau ditanya orang pegangan gua apa, gua dengan mantap akan menjawab Allah Yang Maha Kuasa. Kalau tidak berpegang kepada Allah, terus kepada siapa lagi? di hidup yang cuma sekali ini, gua memutuskan untuk mengutamakan Allah. Lewat kejadian ini, gua jadi cinta banget sama Tuhan gua sendiri. Meski gua sudah beriman sejak lahir, tapi perjalanan spiritual gua baru berasa di usia di 20an ini; di saat gua memutuskan untuk kembali belajar dan melakukannya karena keinginan gua sendiri.

    Di umur yang ke 25, gua belajar untuk menjadi manusia yang lebih lembut, lebih bijak, dan lebih baik. Lebih uniknya lagi, seorang gua yang terkenal cuek banget ini memutuskan untuk belajar parenting. Kok tiba-tiba parenting wil? jadi gini, gua itu ngerasa kalau diri gua yang sekarang masih kurang di berbagai aspek. Apalagi di umur segini, memang sudah seharusnya gua mulai cari pasangan. Waktu itu gua iseng aja baca postingan parenting, tapi dari sana gua malah jadi mikir "Kalau ingin punya anak yang seperti itu, apakah gua sebagai orang tua nanti sanggup memberi contoh dan teladan yang baik?." Niat belajar parenting, ujung-ujungnya gua malah mendidik diri sendiri hahahaha (that's why reparenting exist u know). Tapi memang benar kok, kalau gua sendiri sebagai calon orang tua tidak memiliki kapasitas mental dan ilmu yang mumpuni, bagaimana nantinya gua bisa mendidik anak-anak gua di masa depan? Sebelum menerima amanah, hendaknya gua memperbaiki dan memantaskan diri agar nantinya layak menyandang status sebagai orang tua. Proses mendidik itu bukan hanya ketika mau punya anak saja, tapi justru dimulai ketika kita masih single.

    Meski gua udah pernah menyinggung hal yang ingin gua lakukan di masa depan, tapi bisa dibilang itu adalah jangka panjangnya. Untuk jangka pendek, gua ingin mempertahankan hal-hal baik yang sudah gua bangun selama ini. Hari ini pun gua akan ada jadwal ujian tahfidz. Bayangin, my first tahfidz examination after 7 years haha. Jadi ceritanya gua sudah selesai setoran juz 30 dan sebelum pindah juz memang diharuskan untuk ikut ujian kenaikan juz dulu baru bisa muroja'ah juz 29. Sedikit demi sedikit, gua berhasil menata hidup gua jadi lebih baik lagi.

    Setelah lulus ini target gua memang dapet kerja, meski gua gak tau dapetnya kapan, tapi gua akan rajin upgrade skill dan balik aktif ke komunitas IT. Gak cuma komun IT, tapi gua juga mau balik ke aktivitas sampingan gua dulu sebagai book reviewer. Hobi gua emang baca, dan gua mau balik aktif baca buku lagi. Gua memang sudah meniatkan untuk mengirim beberapa tulisan gua ke platform online. Apalagi ya? mungkin itu aja dulu. Kalau kebanyakan nanti gua pusing sendiri. Meski sebenarnya gua bisa, tapi gua akan mencoba lebih bijak lagi dengan target dan hal-hal yang gua lakukan. Tidak usah terlalu banyak, yang penting konsisten dan kelihatan hasil dan manfaatnya.

    Perihal lebaran, akhirnya gua bisa jawab udah lulus kalau ditanya keluarga besar xixixi. Tapi kalau yang ditanya tentang pasangan sih.. gua belum bisa jawab x_x. Jujur, secara mental gua siap aja untuk nikah. Tapi secara finansial kayanya belum. Gua baru banget lulus, baru meniti karir alias early career. Istilahnya, emang punya apa sih gue wkwkwk (tabungan aja abis gara2 jadi donatur kampus WAHAHAHAHA). Kalau ternyata pasangan gua siap lahir batin beserta finansialnya mungkin beda cerita dan bakal gua pertimbangkan untuk nikah dalam waktu dekat, tapi kalau pasangan gua ternyata sama-sama early career mending sadar posisi masing-masing aja dulu. Tapi gua tidak insecure terharap hal tersebut kok; kata mba gua, "Duit bisa dicari, mba percaya kamu bisa." Dan yap, meski job market indo lagi crash dan jelek banget, tapi gua sangat berprasangka baik terhadap hidup gua. Setelah mengalami titik terendah hidup, gua jadi gak takut untuk menghadapi hidup kedepannya. Sambil menjemput karir gue yang sepertinya bakal keren itu (Aamiin), tidak lantas membuat gua berdiam diri. Apalagi sekarang posisinya gua udah lulus, ada banyak hal yang bisa dilakukan. 

    Ramadan ini, gua coba untuk bikin kegiatan safari masjid ala-ala. Jadi ceritanya kalau habis ngampus gua coba mengunjungi masjid-masjid yang sekiranya terjangkau sama gua. Ngapain aja? karena ini bulan ramadan, jadi jelas tujuan ke sana untuk buka puasa dan sholat. Benar, gua review masjid :D. Sejauh ini baru ada 3 masjid yang gua review: Masjid Al-Latief, Masjid Nurul Iman, dan Masjid Nur Salma. Untuk masjid blok M, jelas gua ke sana sendiri karena sekalian dari kampus. Kalau masjid Nur Salma, gua ke sana bareng teman-teman dari komunitas review masjid. Di sana, gua kenalan sama 2 teman baru: Fatimah dan Hawa. Mereka berdua ini anak LIPIA, jadinya bisa dibilang gua cukup nyambung dan gampang akrab sama mereka. Gua pernah bilang kalau yang namanya hal-hal baik itu harus dijemput, dan sekarang gua sedang coba menjemput hal tersebut; berkumpul dengan orang-orang baik. 

    Sejujurnya gua agak bingung izinnya gimana, karena kalau gua bilang mau kenalan sama teman-teman baru pasti izinnya susah. Ga cuma orang tua, mba gua pun juga strict banget kalo menyangkut gua. Di satu sisi gua bersyukur karena merasa disayang, tapi di satu sisi kalo terlalu dikekang gua juga bingung. Boro-boro ketemu jodoh, buat temenan aja kayanya susah. Satu-satunya hal yang bisa gua lakukan adalah berusaha menjaga diri sebaik mungkin, dan meyakinkan bahwa diri gua yang sekarang sudah jauh lebih baik. Gua akan memastikan bahwa hal-hal yang gua lakukan adalah hal baik, dan orang-orang yang gua temui adalah orang baik. Tentu, di dunia ini gak ada manusia yang sempurna. Tapi setidaknya gua bertemu mereka di tempat yang baik dan untuk tujuan yang baik. 

    Belakangan ini gua sadar betul bahwa yang namanya menjaga niat itu tidak cukup hanya di mulut saja. Di dunia ini berapa banyak orang yang mengatakan ingin berubah, ingin menjadi baik namun pada akhirnya tetap terjebak? bukan karena mereka tidak baik, tapi yang namanya menjaga niat memang susah. Tidak cukup dikatakan, tapi juga harus dilakukan dan harus konsisten. Contoh kecilnya adalah ketika gua mengatakan ingin kembali menghafal Qur'an. Niatnya sudah ada, tapi seiring berjalannya bulan gua ternyata gak buka Al-Qur'annya sama sekali. Apa iya gua tiba-tiba bisa hafal? kan tidak. Hafalan itu harus senantiasa diusahakan, dijaga, dan diasah. Apa bukti kalau gua mengusahakannya kalau kitabnya saja tidak pernah dibuka? kira-kira begitu. 

    Sebelum berpindah ke pertanyaan "How," gua lebih dulu mencari tahu "Why" nya. Ada satu framework yang namanya 5 whys analysis. Cara kerjanya mudah sekali, kita hanya perlu mempertanyakan sesuatu yang menjadi masalah kita terus menerus hingga nantinya bertemu dengan akar masalah yang dituju. Dari mana salahnya? sejak kapan salahnya? Apa sebenarnya penyebab dari kegelisahan gua? itu semua bisa dicari pelan-pelan. Terkadang karena keadaan sudah terlalu rumit kita jadi suka mencari jalan pintas. Maksud hati agar cepat, tapi malah buntung sendiri. Relax, all you have to do is sit for a bit. Gua sendiri juga belajar untuk menjadi manusia yang tidak impulsif dan tidak memutuskan sesuatu cepat-cepat ketika marah. Gua sadar ketika kepalang marah, pikiran menjadi berkabut dan termakan dengan emosi. Mulut gua ini aslinya tajam banget jadi harus direm sebaik mungkin. Gua tidak ingin hal yang gua putuskan saat marah menjadi hal yang gua sesali nantinya. 

    Menjadi dewasa bukan berarti hidup menjadi serba serius dan kaku. Lu bisa saja menjadi orang baik, bijak, dan asik di saat yang bersamaan. Mempertahankan sisi playful itu justru bagus karena terlepas dari ujian dan cobaan, hidup ini juga sangat layak untuk dinikmati dan dirayakan. Yang membedakan adalah tentang bagaimana cara kita menyikapi hidup itu sendiri. Apakah gua masih akan mengedepankan ego? apakah gua berhasil considerate dan bijak dalam memutuskan sesuatu? apakah gua bisa memposisikan diri dan tidak semena-mena dalam hidup? bedanya di sana. Ada salah satu hadits arbain nomor 20 yang kira-kira isinya seperti ini, 

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’”

(HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3484, 6120] 

    Lu bisa melihat apakah seseorang itu dewasa atau tidak dari cara dia merespon dan menyikapi sesuatu. Kalau dia masih semaunya sendiri maka keputusan hidupnya juga kurang lebih akan seperti itu. 

    Momen skripsi dan kelulusan ini isinya emang introspeksi diri semua. Gua tidak mau menjadi orang yang sombong, gua ingin kehadiran gua menjadi sebuah kehadiran yang menyenangkan dan bermanfaat. Gua tidak ingin menjadi beban bagi orang lain, gua ingin dikenal dengan hal-hal baik. Untuk mencapai hal tersebut, gua harus bisa menjadi orang yang terbuka dengan kritik dan saran dari orang-orang. Sederhana saja, ambil baiknya dan buang buruknya. Semoga dan semoga, hidup kita kedepannya akan dipenuhi dengan keberkahan, kebahagiaan, dan limpahan rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu, Aamiin.

0 Comments