Advertisement

Responsive Advertisement

Yappington: What's Next

 


    2 bulan ini gua berusaha untuk memungut dan menyusun kembali puing-puing dari sisa fase kacau tersebut. Hidup tanpa guidance itu berat, karena lu harus meraba-raba sendiri jalan yang harus ditempuh. Itu juga yang mendasari kenapa gua pergi ke psikolog karena gua memang butuh. Gua akhirnya kini memiliki SOP tersendiri dalam bersikap, gua juga memiliki Framework yang gua pegang dalam hidup. Memang, hal-hal tersebut bisa berganti dan cukup adaptif, tapi setidaknya gua tidak lagi hidup seperti di alam rimba. 

    Awalnya gua sangat takut bahwa mulai saat ini gua akan hidup benar-benar sendiri. Bukan hanya sekadar tinggal sendiri, tapi hidup secara keseluruhan, levelnya sekarang berbeda. Meski gua selama ini juga sering jauh dari rumah, tapi kali ini rasanya beda. Keputusan gua semakin mantap untuk nantinya hidup mandiri sendiri. Look at me now, gua sudah 25. Gua tidak bisa hidup seperti air yang mengalir, gua tidak bisa hidup seperti kata orang, "jalani saja dulu." Gua sudah mencoba hal tersebut dan ternyata gagal total, berantakan. Di hidup ini ada banyak hal yang ingin gua lakukan, banyak milestone yang ingin gua capai. 

    Dua hari yang lalu gua bermain dengan teman-teman lama, dan menyadari 1 hal bahwa gua tidak lagi cocok dengan mereka. Sejatinya mereka tidak berubah, mereka masih sama seperti terakhir kali kita bermain, tapi memang gua yang berubah. Gambaran seseorang itu ternyata benar-benar terlihat dari siapa saja orang terdekatnya. Ada satu momen ketika gua menegur karena mendapati salah satu orang yang gua kenal ternyata memiliki kegemaran mengikuti puluhan perempuan di bawah umur (sekitar 14 tahun) dan tidak segan-segan menjadikan perempuan tersebut untuk konsumsinya pribadi. Sejujurnya gua sangat marah, gua tidak ingin memiliki kenalan seorang pedofil. Tetapi ntah kenapa ketika gua mencoba speak-up, mereka semua seperti tidak masalah dan membiarkan. Gua paham bahwa mungkin gua juga salah karena mencampuri urusan tersebut, dan gua juga jadi teringat postingan gua terdahulu mengenai kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki prinsip, standar, cara hidup yang sama dengan kita. Sampailah gua di sebuah kesimpulan untuk mundur perlahan. Bukan berarti gua benar-benar meninggalkan mereka, tidak. Gua tetap bertegur sapa, namun hanya sampai di tahap luar saja, sekadar kenal. Gua tidak ingin masuk karena mereka juga tidak ingin dirubah. Kembali mengingat kalau kita bukanlah Tuhan dan tidak bisa merubah seseorang kalau hidayah memang belum berkehendak datang, sekeras apa pun kita mencoba untuk menarik mereka. 

    Di dalam hidup banyak hal yang tidak bisa dikontrol, bahkan semakin dewasa gua semakin sadar ternyata hal yang bisa dikontrol itu sedikit sekali. Gua kembali teringat dengan kisah para nabi, bagaimana mereka diberikan amanah yang sangat besar namun sampai akhir tidak bisa merubah orang terdekat, yakni keluarga. Untuk itulah gua coba mengecilkan hal-hal yang bisa gua lakukan, bukan untuk kembali menjadi acuh, tapi bijak. Gua tetap peka, gua tetap berusaha inisiatif, tapi gua tidak akan sembarangan dalam bersikap. Menjadi hati-hati itu juga perlu, bukan demi orang lain tapi demi kebaikan diri gua sendiri. Hidup itu punya banyak aturan yang terlihat memusingkan, bahwa dalam bersosialisasi kita harus unggah-ungguh, dalam suatu kejadian kita harus pintar membaca situasi dan kondisi, ketika mengalami sesuatu kita harus pintar memposisikan diri kita seperti apa dan di mana; itu semua adalah cara mainnya. Hal tersebut tidak bisa dilewati karena akan selalu terjadi dan ada di setiap fase hidup. Itulah cara terbaik untuk bertahan hidup, mengetahui cara mainnya. Sama seperti kita beragama, kita mempelajari syariatnya, dan kita melaksanakannya secara konsisten selama hidup. Untuk apa? supaya kita selamat, supaya kita memiliki kehidupan yang indah di akhirat kelak. Di dalam islam pun sebenarnya juga sudah dijelaskan bagaimana seharusnya kita bersikap. Selain hubungan dengan Allah, menjaga hubungan sesama manusia juga tidak kalah penting, itulah yang membuat kita selamat di dunia. Awalnya gua sangat pusing, sebagai manusia harus begini dan begitu. Tapi kembali lagi, semua ada prosedurnya. Kita tidak bisa hidup seenaknya, kita tidak bisa hidup sesuka dan semaunya. Menghargai sesama, berbicara yang baik, sopan-santun di mana pun berada, peka terhadap orang-orang sekitar, tidak mudah menyakiti dan melukai hati orang baik lisan mau pun perbuatan, dan segudang mannerism untuk menjadi bermartabat. Sejak dulu sebenarnya gua juga sudah tahu, dari dulu gua ditekankan soal adab, tapi proses gua dalam mendidik diri gua kembali juga termasuk di dalamnya evaluasi. Mengevaluasi bagaimana sikap yang selama ini gua terapkan kepada orang lain, bagaimana sikap yang gua tunjukkan di lingkungan, bagaimana cara gua berbicara dan menanggapi sesuatu. Dari sana kemudian gua akan tahu gua kurang di mana, dan apa yang bisa diperbaiki. That's how my brain works. 

    Setelah mengurai semua yang ada di dalam diri, kini gua maju dengan lebih tegap sebagai gua yang lebih siap. Gua memikirkan apa yang gua ingin lakukan dan otak gua penuh dengan rencana ini itu. Gua tidak akan mengeksekusi semua, tapi gua akan memilih hal yang memang gua inginkan dan gua butuhkan. Menjadi researcher itu adalah mimpi yang tidak lagi terbantahkan, kalau pun gua tidak benar-benar meraihnya setidaknya di dalam hidup ini gua bisa menjadi sesuatu yang mirip secara skillset dengan hal tersebut. Istilahnya, jika kita menargetkan langit nun jauh di sana dan berakhir tidak mampu meraihnya, tapi kita akan tetap jatuh di antara bintang-bintang. Karena apa? karena kita sudah berusaha naik, kita tidak berada di titik awal atau bahkan fase ketidakjelasan dalam hidup. Bagaimana kalau kita kembali jatuh? jawabannya adalah: kita bisa naik kembali. Seseorang yang pernah sekali terjatuh tidaklah jatuh dalam ketidaktahuan, di setiap kejadian pasti ada pelajaran baru yang bisa dijadikan modal untuk nantinya naik kembali. Dan seperti itulah seharusnya gua hidup.

    Hal lain yang ingin gua capai adalah gua ingin hidup mandiri. Selama ini gua sadar sudah menyusahkan banyak orang, bahwa ketidakmampuan gua ternyata merepotkan banyak orang, gua sangat sadar dan sangat tahu diri. Meski di satu sisi gua tahu orang-orang di sekitar gua baik, tapi tetap saja gua tidak ingin lama-lama menumpang seperti ini. Karena itulah, gua ingin menjadi manusia yang berdikari. Terkadang malam ketika tidur gua suka memimpikan suatu hari nanti di mana gua memiliki tempat tinggal sendiri. Gua juga tidak tahu pasti apakah itu kos, apartemen, atau pun sebuah rumah; tapi di mimpi tersebut gua merasa sangat tenang. Bukan di rumah atau pun di sini, tapi di suatu tempat yang benar-benar bisa gua sebut sebagai tempat berpijak dan berlabuh. Tempat tersebut tidak terlalu besar, tapi setidaknya cukup untuk gua sendiri, dan bahkan untuk keluarga kecil gua nantinya. Sebuah tempat di mana semuanya terasa hangat dan menenangkan, tempat yang gua bisa jadikan patokan sebagai gambaran SakinahSetidaknya di mataku, sakinah terlihat seperti itu. Tempat terbaik untuk merasa dan aman bertumbuh bagi semua orang yang ada di dalamnya. 

    Terkadang gua membayangkan sedang asik membaca penelitian, terkadang gua membayangkan diri gua sedang tiduran santai sambil menonton TV, atau ada hari gua sedang mengerjakan projek ditemani suara hujan dari luar. Ternyata gua memimpikan hal-hal sederhana tersebut. Bukan tentang apa, tapi bagaimana rasanya. Kalau dikatakan sederhana, sebenarnya tidak juga. Kalau sederhana, harusnya semua orang punya, harusnya semua orang bisa merasakannya. Tapi kenyataannya tidak begitu bukan? gua masih ingat ketika gua sedang mengerjakan revisi di kampus hingga malam. Saat itu suasana sangat syahdu, lalu kemudian mulai datang orang-orang ke pelataran masjid tersebut. Gua cukup bingung, bukankah lampu masjid sudah dimatikan? tapi ternyata mereka semua datang untuk tidur di tempat itu. Beralaskan kardus yang mereka dapatkan dari pedagang sekitar, sambil membawa makanan seadanya untuk mereka makan sebelum tidur.

    Gua masih jauh lebih beruntung dibanding mereka. Tidak, gua tidak ingin menggunakan mereka sebagai objek bersyukur. Justru di mata gua, mereka sangatlah hebat karena tidak memutuskan untuk menyerah. Pasti mereka pun bisa menyalahkan semua hal yang membuat mereka harus memiliki kehidupan seperti itu, tapi hal tersebut tidak dilakukan. Hari itu gua kembali tertampar, tentang bagaimana mental yang seharusnya gua miliki dalam hidup. Memang, semua yang gua rasakan itu juga benar dan nyata terjadi. Tapi ini juga yang membuat gua memutuskan untuk fokus pada diri gua dan apa yang ingin gua capai selanjutnya. Ketika gua mulai kesal, gua akan mengatakan "namanya juga hidup," dan kembali fokus pada diri sendiri. 

    Tentang apa yang akan menjadi selanjutnya, gua rasa sudah cukup jelas. 

Posting Komentar

0 Komentar