Congraduations!

 


    2:27 AM, bukannya tidur gua malah menekan alamat blogger yang belum gua sentuh selama beberapa saat ini, haha. Gak tahu juga sejak kapan, tapi gua mulai menghindari nulis di saat "terlalu," terlalu sedih, terlalu senang, atau terlalu marah. Alasannya sederhana, gua cuma ga mau memancarkan energi yang ga seharusnya. Gua gak mau menularkan energi negatif apalagi energi buruk ke orang lain. Awalnya sempat ragu untuk menulis sekarang, tapi gua takut kehilangan momen juga kalau terus-terusan menunda (meski sebenarnya journaling seperti ini juga bukan fardhu 'ain).

    Hari minggu, atau lebih tepatnya 28 mei 2026 gua akhirnya resmi diwisuda. Gimana perasaannya? wah, campur aduk. Gua bersyukur banget memutuskan untuk kembali menyelesaikan studi gua, karena rasanya emang beda. Waktu gua belum lulus, hati gua bener-bener super berat, rasanya tuh kaya ada yang ga tuntas (dan memang benar). Lalu pas gua lulus gua akhirnya ngerasain, "oh jadi gini ya rasanya selesai." Seriusan deh, beda banget, dan gua juga yakin orang-orang pasti bisa melihat perbedaan antara orang yang sudah menyelesaikan studinya dan belum, sesignifikan itu memang bedanya.

    Jujur aja, kalau orang lain mungkin ga akan ngeshare kelulusan yang sudah teramat sangat telat. Tapi gua enggak. Gua udah ada di titik choosing Allah & myself, selain itu sikat aja. Meski dulunya gua dikenal sebagai individu yang high-achiever, tapi gua juga gak malu nunjukin progress gua yang super telat itu dibanding orang lain. Ngapain malu? gua gak korupsi. Dan kerennya, di saat gua terbuka seperti itu dukungan malah datang silih berganti dari orang-orang. Waktu gua update lulus, gua dapet banyak banget ucapan, doa, bunga, makanan, bahkan hadiah; sesuatu yang gua ga expect.

    Menurut isi kepala yang sangat perfeksionis ini, ketika seorang wilda gagal memenuhi ekspetasi sosial maka reputasi gua udah hancur. Padahal kenyataannya temen-temen gua malah seneng banget pas tau gua akhirnya lulus. Bahkan after all these years of hiatus dan isolasi diri yang gua lakukan, mereka masih manggil gua prof, legend, master, dan berbagai panggilan yang menurut gua udah ga relevan karena gua lulusnya telat. Tapi mungkin keliatannya image belajar itu emang udah melekat banget di diri gueee wkwkw. Ya wajar aja, dulu gua emang seidgaf itu sama manusia. Gua pernah nanya sama salah satu sahabat gua dan dia bilang kalau dia senang banget ngeliat gua yang sekarang lebih proaktif, penuh empati, dan bisa komunikasi. 

    Sebenarnya selain terharu, gua juga agak kena pressure. Gua inget banget ditelpon bude gua waktu di stasiun sehabis wisuda "cepet dapet kerja yaaa," katanya. Walah walah, baru juga kelar wisuda wkwkwkw. Tapi tenang aja, bude gua baik kok, dan gua anggap perkataan tersebut sebagai doa baik. Di satu sisi, gua juga gak memungkiri bahwa pressure gua sebesar itu, bahkan meski gua adalah perempuan. Kalau dipikir lucu juga, ekspetasi orang ke gua itu gede banget, tapi di sisi lainnya i have to figure it all alone. 

    Di sini gua pernah beberapa kali statement kalau gua konsul ke psikolog. Lu tau awalnya gimana? yup, gua secara gamblang mengatakan kalau di hidup ini gua serba bingung dan takut! Dulu, gua beneran ga tau mau gua apa, gua kehilangan motivasi buat lanjutin hidup. Is it truly worth or not? dan kalau pun worth, terus gua harus ngapain? Singkatnya, gua kehilangan motivasi & arah hidup gua yang menghasilkan gerak-gerik serba nanggung dan tidak jelas.

    Perlahan gua mencoba untuk kenalan lagi dengan diri dan hidup gua. Di dalam lubuk hati aslinya gua tau, karena mimpi gua ternyata masih terparkir rapi di dalam diri gua. Masalahnya, kalau gua memungut kembali mimpi-mimpi tersebut, cara mewujudkannya gimana? gua harus ngapain? gua gak mau hidup asal-asalan, tapi gua gak ngerti gimana caranya bersikap. Psikolog gua pun menjawab, "jadi, kamu mau diajarin cara hidup?," dan gua langsung membalas, "iya."

    Masalah-masalah gua sejatinya tidak pergi, tapi gua berhasil kembali menjadi individu yang lebih baik; lebih siap, lebih dewasa, dan lebih bijak. Sejatinya, kita akan terus diuji dari berbagai sisi dan via berbagai bentuk. Dan gua merasa, mungkin ujian gua memang di sana. Allah sudah memberi gua banyak sekali kelebihan, dan guanya juga punya banyak impian & terlihat berambisi. Allah bisa aja sedang menguji tekad dan kesungguhan gua dalam merealisasikan doa-doa yang senantiasa gua panjatkan tersebut. 

    Gua terkadang suka mengambil sudut pandang orang ketiga. Menilai apakah di panggung yang bernama kehidupan ini gua sudah cukup baik? Apakah gua sudah melakukan hal yang benar? Tetap memiliki ambisi tapi di sisi lain melepaskan kemelekatan terhadap dunia itu sangat sulit. Dunia itu melenakan, dunia itu menjerumuskan, dan gua harus bisa menyeimbangkan keduanya. Contoh sederhananya saja, gua itu kan masih ikut halaqoh tahfidz setiap hari.. dan setiap hari itu gak ada pengecualian. Misalkan di hari itu gua masih lagi di jalan, maka gua akan melipir dulu turun ke stasiun untuk setoran, kalau gua lagi di mall maka gua minggir dulu hafalan di antara tembok. Maksud gua, memang sesulit itu untuk menjadi seimbang. Awalnya jujur susah banget, gua sering bolos. Gua sampai udah di titik, aduh, apa ga usah lanjut aja kali ya? Gua sibuk banget soalnya. Tapi kemudian gua mikir lagi, kalau tidak diusahakan, maka gua ga akan pernah achieve hal tersebut. Pada akhirnya meski susah, meski kadang setoran gua amburadul, gua masih melakukannya sampai sekarang. Banyak deadline? hafalin! dikejar setoran? hafalin! Ga ada excuse. 

    Banyak orang yang tidak suka melakukan tugas yang membosankan, tapi gua rasa di sanalah latihan terbaik untuk membentuk sebuah kebiasaan. Ga harus muluk-muluk lari sekian km, minimal konsisten bangun pagi aja, minimal bangun tidur jangan lihat HP dan langsung salat kemudian aktivitas offline. Gua juga bukan si paling sempurna dan paling ok, tapi gua punya 1 privilege yang bernama willingness to learn. Gua beneran belajar untuk menerima kritik dan saran dari orang-orang. Meski bahkan orang itu adalah orang yang menyebalkan, tapi akan tetap gua ambil hikmahnya jika itu memang baik. Hal yang tidak kalah mengerikannya dari ketidaktahuan adalah merasa paling tahu. Janganlah juga kita menjadi manusia yang serba ngotot dan ngeyel, karena hal tersebut melelahkan. Di dunia ini ada yang namanya komunikasi, negosiasi, dan itu semua bisa dipelajari. Nyatanya, komunikasi bagus bisa menghasilkan output yang bagus juga. Dan masalahnya, banyak orang yang keburu termakan ego dan emosi mereka sendiri sehingga problem-solvingnya acak-acakan.

    Dibanding mata kuliah yang nano-nano itu, hal yang paling gua dapatkan dari kuliah itu sebenarnya adalah skill berpikir kritis, kemampuan berpikir secara runut dan sistematis. Kalau kalian coba memperbanyak ngobrol sama orang, pasti bakal kelihatan sekali perbedaan antara orang yang mampu berpikir runut dengan yang belum. Caranya mudah sekali. Jika berada dalam suatu diskusi atau debat, orang yang emotional intelligencenya belum matang biasanya mudah termakan emosi, egonya mudah sekali disenggol. Sedikit-dikit tersinggung, atau bahasa mudahnya, "mudah tersulut." Apa bedanya sama orang pemarah? beda. Meski orang pemarah juga mudah termakan emosi, tapi bisa dibedakan bagaimana cara mereka mengemukakan pendapat. Selain itu, orang yang belum mampu berpikir kritis biasanya suka memiliki argumen yang lompat-lompat. Ketika gua ngomong A, dia memahaminya sebagai B. Ketika gua membahas C, dia malah menangkapnya sebagai D, sulit. Gua tidak mengatakan bahwa orang yang kuliah pasti bisa berpikir kritis, belum tentu. Tapi setidaknya mendapat kesempatan kuliah itu bisa memperbanyak kesempatan lu dalam mempelajari alur berpikir yang lebih baik & terstruktur. Sebentar sebentar, gua mengatakan hal ini bukan berarti gua paling top yang lain beng-beng.. sejujurnya gua sama plengernya kaya orang lain lol. Kalian berpikir bahwa gua adalah manusia sempurna? oh gak mungkin. Gua sama-sama bikin salah, gua juga punya dosa gua sendiri yang Alhamdulillah Allah masih mau mendengar doa gua. Gua hanya mencoba objektif berdasarkan pola yang bisa dilihat dan diamati dari kehidupan sehari-hari, it's called human behavior. Memang ada studinya toh, y'all need to chill.

    Meski perasaan gua campur aduk, tapi perasaan terbesar gua saat itu adalah rasa syukur. Gua sangat sangat bersyukur bisa selesai kuliah meski prosesnya juga tidak sebentar dan tidak mudah. Gua sangat bersyukur bahwa gua termasuk ke dalam orang-orang beruntung yang memiliki gelar di belakang namanya. Banyak sekali hal yang patut gua syukuri dalam hidup, tidak semua orang seberuntung gua, dan gua sadar akan hal tersebut.

Life After Graduate 

    Beberapa hari setelah lulus, atau lebih tepatnya sekarang (lol), gua berusaha fokus untuk meningkatkan kualitas diri gua biar cepat dapat kerja, that's it and that's all. Gua pernah mengatakan bahwa gua akan memilih diri gua dan gua coba mengimplementasikan hal tersebut. Caranya adalah dengan mengutamakan semua kepentingan yang berhubungan dengan diri gua. Bisa dibilang banyak rencana yang gua hold dulu, karena gua punya 2 tujuan utama saat ini: grinding uang sebanyak-banyaknya dan dapet kerja. Kok kesannya gua jadi matre banget ya? memang.... Sekarang bayangkan kalau gua punya rencana abcd dan ternyata semua itu cuma mentok di kepala gue. Suatu hari gua mencoba untuk debugging kenapa semua plan tersebut berhenti di diri gua sendiri dan jawabannya pasti banyak. Bisa karena ga punya resource, bisa karena ga punya tim, bisa karena kurang modal, bisa juga karena ide gua belum teruji. Semua masalah tersebut mungkin kelihatannya memang beda, tapi ternyata bermuara ke 1 hal: gak ada uang. Itu dia masalahnya. Kalau mau nekat, bisa aja gua ambil kredit UMKM kan? apalagi gua juga anak data yang istilahnya bisa baca tren & forecast, orang-orang kaya gua harusnya cukup visioner untuk melihat peluang bisnis. Uang memang bukan segalanya, tapi kalau mau hire orang lu butuh uang. Kalau mau R&D produk lu juga butuh uang. Kalau mau coba strategi marketing lu butuh uang. Kalau mau membangun brand identity & awareness lu butuh uang. Memang pada akhirnya uang bukan segalanya, tapi setidaknya uang tersebut akan membuka pintu-pintu dan kemungkinan baru, lu punya pilihan ingin maju seperti apa dan bagaimana.

    Tapi tau gak? ada 1 kekurangan fatal gua: kurang jam terbang. Yup, pengalaman gua kurang untuk sampai di tahap punya "sense." Itu dia kenapa meski nantinya gua punya uang, gua tetap mau kerja. Kenapa? karena gua harus mengumpulkan portofolio, gua tetap harus membangun trust, gua harus membangun legacy, gua harus mengembangkan diri, dan gua harus mengasah insting gua di dunia korporat. Umur 20an itu memang sudah seharusnya grinding, supaya nanti ketika tua lu gak menyesal karena sudah pernah mencoba bebagai hal dalam hidup.

    Tadinya gua mungkin adalah anak yang cukup pengecut, tapi gua perlahan dobrak pintu tersebut dan coba menghadapi hal tersebut dengan diri gua yang lebih tegak. Kalau kata orang, hal paling sulit itu justru mendapat 100 juta pertama. Istilahnya untuk membuka sebuah rumah, lu perlu kunci. Tapi nanti, kalau udah nemu kuncinya, mau bolak-balik keluar masuk rumah pun jadi mudah. Dan tentunya, kalau punya banyak uang, gua mau nikah juga mudah karena ada modalnya 😂😂 (gua cukup tahu diri dan ga mau jadi beban ok). 

    Bahkan di detik menulis ini pun, terkadang gua masih dihinggapi rasa takut. Sebelum tidur gua suka bertanya-tanya, Ya Allah, kira-kira ini berhasilnya kapan ya? kira-kira ini golnya bakal gimana ya? Gua juga sama vulnerable dan clueless-nya seperti orang-orang. Keyakinan gua juga diuji, apakah tekad gua cukup kuat atau tidak, apakah usaha gua konsisten atau tidak, apakah gua masih memprioritaskan agama atau tidak, semuanya diuji.

    Ketika gua dihinggapi perasaan negatif dan ragu seperti itu, gua selalu meyakinkan bahwa gua adalah that girl with a vision. Gua sudah tidak lagi bergerak seperti orang tersesat di hutan, gua sudah lebih mengenal tentang diri dan hidup, gua juga sudah menerima segala ketetapan dan takdir yang Allah berikan ke gua. Atas segala delay dan pertanyaan gua yang terkadang terdengar songong, semua itu semata-mata karena gua adalah manusia yang diberi akal dan kemampuan untuk berpikir. Doa itu harus selaras dengan doanya. Karena itu jugalah firman Allah yang pertama adalah perintah untuk membaca, untuk belajar. Kini gua sudah kembali dengan diri yang lebih baik. Gua sekarang ada gelar, gua punya ijazah, gua punya skillnya, gua ngerti ilmunya. Apa lagi yang gua takutkan? bisa jadi itu semua adalah bisikan waswas saja.

    Gua mengetik seperti ini juga kenyataannya masih banyak sekali goal yang terkunci dalam hidup gua, tapi di sanalah letak serunya. Gua sudah mencoba analisis diri gua sendiri ala SWOT. Breakdown semua kelebihan, kekurangan, serta mengidentifikasi peluang serta ancaman gua. Mungkin terdengar terlalu kaku, tapi percayalah kerangka berpikir seperti ini jauh lebih baik dibanding hanya menerka-nerka mengandalkan statement "Menurut Gua." Itu juga alasan kenapa gua bergegas ke psikolog, karena gua butuh pendapat dari ahli. Gua harus mendapat inti permasalahan & mencabut akar yang tidak lagi relevan. Gua juga mengakui kalau cara berpikir gua kadang terlihat rumit, tapi sebenarnya kalau dijabarkan satu-persatu ini semua jadi mudah, yang susah itu sebenarnya adalah berusaha menggabungkan titik dan garis tersebut hingga akhirnya menemukan sebuah pola dan titik temunya. Demi masa depan, gua tidak pernah menyerah untuk mencari sumber masalahnya sampai clear, and i did it. Tuntas.

    Di dunia ini, orang itu mudah sekali melihat kesalahan orang, mudah sekali menyalahkan dan melempar kesalahan ke orang lain. Ya, bisa saja orang lain yang salah. Tapi bisa juga karena mereka tidak mau melihat dan deep dive ke dalam diri mereka sendiri. Di tahun ini gua belajar bahwa mengakui kesalahan itu tidak apa-apa, mengakui kekurangan itu juga tidak apa-apa. Gua belajar untuk bisa melihat ke dalam diri gua sendiri, self-correction. Gua sudah berubah jadi lebih baik, dan gua akan terus berubah jadi lebih dan lebih baik lagi. Gua tidak sempurna, tapi gua mau belajar dari kesalahan. Selama masih hidup, maka akan selalu ada hari baru untuk memperbaiki diri.


*Bonus:


Selamat y kids (nama gw typo dikit tapi gapapa)

    *Gua cuma bisa share milestone gua di sini karena gua sangat tidak ingin achievement-achievement tersebut berbalik jadi pedang yang digunakan orang untuk menyerang gua. Postingan tentang hari H wisudanya nanti dulu deh, gua masih ngerjain laporan byeyebyebyebyebyeeeeeee

0 Comments