H-1 Sidang
Tidak sampai sebulan hingga akhirnya gua menyelesaikan skripsi dan langsung daftar sidang. Ngebut? iya. Total hanya 2 minggu proses sampai berhasil submit pendaftaran karena dari awal gua gak mau lama-lama. Pertama-tama gua ingin memanjatkan rasa syukur gua kepada Allah atas segala anugerah, rahmat, dan berbagai kemudahan yang telah diberikan hingga gua sampai di tahap penyelesaian skripsi ini.
Gua masih ingat betul di tahun 2023 gua pernah statement bahwa gua gak siap lulus, dan ternyata benar, gua gak lulus-lulus. Dibanding lucu, sebenarnya gua lebih melihat ini sebagai ajaib. Prasangka Allah itu benar-benar sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Gua adalah orang yang cukup aware dengan diri sendiri, dan yang bikin lucu karena gua selalu menuliskannya sehingga saat di kemudian hari gua baca lagi, semuanya baru terlihat masuk akal.
Sudah tidak terhitung berapa banyak tulisan yang sudah gua buat, dan ketika dibaca lagi rasanya merinding sendiri. "Gila, ternyata doa gua dikabulkan." "Ternyata gua pernah di posisi seperti itu," dan lain-lain. Hal bagus yang gua miliki itu adalah: gua selalu yakin dengan doa-doa gua. Ketika berdoa, gua seyakin itu. Ntah keyakinan dari mana, tapi gua selalu percaya kalau Allah Maha Mengetahui Isi Hati dan Maha Melihat. Mengenai waktu, atau dalam bentuk apa, prosesnya bagaimana, itu yang gua gak tau. Gua gak sombong, tapi pada dasarnya ketika berdoa lu memang harus seyakin itu. Bahkan jika Allah tidak mengabulkan doa tersebut, pasti ada hikmah di dalamnya, akan ada penggantinya, atau bisa saja dikabulkan dalam bentuk lain.
Selama ini gua risau karena ujiannya memang di sana. Apakah gua bisa sabar? apakah gua bisa kuat? apakah gua mau memperbaiki diri? ujiannya terus berputar dan terjadi berulang-ulang sampai akhirnya gua lulus. Dan bukankah hal tersebut juga sama seperti yang terjadi dengan skripsi gua? di luar masalah hidup dan lain-lain, fase skripsi itu juga merupakan ujian yang terus berulang hingga akhirnya baru sekarang gua lulus.
Hal yang gua sadari tentang manusia itu adalah kesadaran bahwa setiap orang itu kapasitasnya beda-beda. Lebih lanjut lagi, ternyata gua gak bisa menuntut orang yang tidak bisa dituntut. Hal yang menurut gua mudah tapi belum tentu seperti itu bagi orang lain, hal yang menurut gua biasa juga ternyata bisa saja luar biasa bagi orang lain. Gua itu dulu suka memaksa sesuatu kepada orang lain, ''Aku mau kamu begini begitu." Sedangkan di satu sisi gua gagal melihat kondisi dan kapasitas orang tersebut. Statement gua yang ini bukan berarti gua meremehkan orang lain loh ya, tapi justru gua menghargai mereka sebagai manusia sehingga gua tidak akan memaksakan sesuatu yang di luar kuasa mereka. Sikap ini bukan berarti gua jadi mudah menyerah atau pasrah, tapi justru gua jadi lebih bisa mengambil tindakan yang tepat. Kalau dalam dunia korporat istilahnya lu menempatkan seseorang pada porsi yang tepat.
Lahirnya kesadaran tersebut justru membuat gua semakin legowo dalam memandang sebuah masalah. Katakanlah gua mengatakan, "kalkulus ga sesusah itu kok, kalau belajar semua orang pasti bisa," di depan abang tukang gorengan yang bahkan baru mendengar istilah kalkulus. Abangnya gak salah, tapi emang gua aja ga bisa baca situasi, ga punya awareness tentang siapa yang sedang gua ajak ngobrol. Pemahaman itulah yang membuat gua lebih dewasa dalam melihat suatu masalah. "Kenapa dia begini, kenapa dia begitu," gua tidak mau langsung menghakimi. Bagaimana hidup dia selama ini, lingkungan tempat dia bertumbuh, itu semua sangat berpengaruh. Sampai detik ini gua masih berpegang teguh untuk selalu berusaha baik dan ramah kepada orang-orang, tapi di satu sisi gua gak mau terlalu buru-buru dalam mengambil sikap (kecuali keadaan darurat). Bukan bertele-tele atau tidak memiliki prinsip, justru karena lu punya standar tersendiri yang membuat lu ga mudah tersulut pertengkaran dan emosi belaka.
Mengenai perkataan gua "tidak menuntut orang yang tidak bisa dituntut," itu sebenarnya sudah cukup jelas. Kegagalan PDKT gua selama ini membuat gua paham bahwa terkadang gua terburu-buru dalam meminta dan menuntut orang lain untuk menyamakan standar gua. Kenyataannya, tidak semua orang bisa, tidak semua orang sanggup. Ketika membicarakan kompatibilitas antar 2 manusia faktornya itu banyak sekali. Tapi setidaknya, kini gua tidak lagi memaksa karena sejak awal gua sudah memasang batasan; kalau cocok silakan maju, kalau tidak kita berteman saja.
Kegagalan total percintaan gua tidak membuat gua menyerah dalam mencari pasangan yang baik. Bahkan sesudah sidang gua sudah memiliki rencana untuk menyempurnakan CV taaruf. Gua sudah memutuskan untuk tidak pacaran, dan gua sangat yakin Allah akan memudahkan jalan orang-orang yang berusaha taat. Dibanding mencari, kini gua lebih fokus untuk memperbaiki diri gua sendiri. Gua ikut banyak sekali kegiatan, hingga bertemu dengan banyak orang. Bukan hanya sekadar menambah kenalan, tapi memang sebagai seorang manusia kita harus mengisi hidup dan waktu kita dengan hal-hal baik, dan mengelilingi diri kita dengan orang-orang baik.
Gua juga gak tahu doa mana yang Allah kabulkan terlebih dahulu, tapi 1 hal yang selalu gua yakini adalah bahwa Allah akan memberikan hal tersebut ketika lu sudah siap. Dibanding hanya menunggu penuh kekhawatiran, gua memutuskan untuk menunggu hal-hal baik tersebut datang dengan mempersiapkan dan memantaskan diri. Gua tidak hanya menunggu di stasiun, tapi gua aktif menjaga barang-barang bawaan gua dan mempersiapkan segala yang diperlukan untuk akhirnya berangkat dan sampai pada doa-doa gua tersebut.

0 Comments