Pukul 04.00
Pagi ini aku belum terlelap. Lucunya, kali ini aku terjaga bukan karena melakukan sesuatu yang "keren", melainkan karena baru saja menamatkan sebuah drama Korea. Ya, akhirnya aku kembali menonton setelah sekian bulan, sampai-sampai aku lupa kapan terakhir kali melakukannya. Jika ini terjadi di masa lalu, mungkin aku sudah dihakimi habis-habisan karena begadang untuk hal remeh-temeh. Untungnya, di sini tidak demikian.
Aku baru menyadari bahwa selama ini otakku berada dalam mode bertahan hidup (survival mode). Hal itulah yang membuat otot dan otakku selalu tegang. Pola pikir yang mengukur harga diri dari produktivitas ternyata sangat beracun (toxic). Selama ini, rupanya aku begitu takut terlihat santai karena pola pikir ini telah tertanam dalam diriku selama beberapa tahun. Aku menjadi sangat keras terhadap diri sendiri jika dalam sehari tidak melakukan sesuatu. Sebenarnya, di Bintaro tidak ada yang memarahi, namun mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang aku lakukan itu begitu kuat, masih terbawa hingga ke sini. Buktinya, meski sudah tujuh bulan di sini, bisa dibilang baru dua bulan terakhir inilah perkembangan diriku terasa signifikan. Saking tegangnya otot dan otak, aku bahkan pernah mengalami fase diam tak berkutik (freeze). Otak yang rusak sungguh sebuah bencana besar.
Aku merasa bahwa dalam hidup ini aku harus selalu melakukan dan mencapai sesuatu, padahal nyatanya tidak harus demikian. Ternyata, aku juga manusia. Aku adalah human being, bukan human doing. Dengan segala kelebihannya, dengan segala kekurangannya. Ternyata, aku tetap berharga hanya dengan menjalani hidup sederhana; bernapas, menonton, tertawa. Boleh dibilang, kini akhirnya aku mengerti maksud Mbaku. Pantas saja selama ini aku selalu sakit kepala dan merasa pusing.
Mba itu lucu. Alih-alih menyuruhku menyusun rencana ini-itu, dia malah menyuruhku untuk bersantai. Kalau sedang terlihat serius, aku malah disuruh bermain. Awalnya aku bingung, tetapi ternyata aku memang sudah mengalami kelelahan mental (burnout). Tiga menit lagi azan subuh berkumandang, dan aku malah menangis. Film atau serial yang kutonton tidak selalu sedih, tetapi entah mengapa air mataku selalu jatuh, bahkan untuk adegan yang sebenarnya biasa saja. Kali ini aku tidak sedih, aku justru bahagia sekali. Mungkin selama ini aku lupa bahwa diriku apa adanya pun tetap berharga. Tanpa seluruh pencapaian (achievement) dan kemampuan itu, aku tetaplah Wilda yang asik dan baik hati. Ada hari-hari di mana aku tidak perlu berpikir keras dan memikirkan segalanya.
Ibarat komputer, selama ini performa CPU-ku selalu berjalan 100%, bahkan dipaksa overclock sampai batas maksimal GHz-nya. Mba tidak butuh aku yang sempurna, tapi Mba butuh aku yang sehat dan bahagia. Mba percaya, ketika cache RAM-ku sudah tuntas bersih, nantinya aku bisa berjalan bahkan berlari sendiri. Setelah mengosongkan wadah tersebut, rasanya lega sekali. Hambatan mental (mental block) itu hilang, bahkan otakku bisa berpikir lebih jernih dari sebelumnya. Menurutku, ini bukan hanya persoalan fresh from the oven, tetapi aku sedang mengalami sesuatu yang disebut pertumbuhan pascatrauma (post-traumatic growth). Aku sendiri bahkan terkejut, "Apa iya dari dulu otakku seencer ini?" Mungkin aslinya iya, tetapi selama ini tertutup oleh panas berlebih (overheat) di otakku sendiri.
Jadi begini, otak manusia itu sebenarnya adaptif. Selama ini, otakku fleksibel tetapi hanya untuk bertahan hidup. Atas segala kejadian buruk, tuntutan, dan ekspektasi, akhirnya aku memfokuskan otak untuk pemenuhan ekspektasi yang sebenarnya menghabiskan stok ketahanan mental. Secara fungsionalitas, otakku tetap bisa dipakai untuk berpikir, belajar, dan bekerja, tetapi tidak pernah maksimal. Itulah yang membuatku sering berhenti di tengah jalan. Hal itu juga yang membuatku "mandek" karena saat akhirnya sampai di tahap implementasi ilmu, otakku tidak sanggup. Selain alokasi energi yang sudah habis, energi tersebut ternyata tersedot untuk amigdala (amygdala). Akibatnya, aku terus-menerus mentok pada rasa traumatis, stres, minder, bingung, dan takut (stres kronis dan burnout berkepanjangan). Setelah aku memutuskan untuk mengosongkan semua memori tersebut (secara medis memori tidak dihapus, namun emosinya yang dilepas) akhirnya kini alokasi otakku sudah beralih menuju korteks prefrontal (prefrontal cortex).
Ketenangan diri ternyata membuat kerja otakku lebih efisien. Kini, otakku akhirnya fleksibel digunakan untuk perkembangan hidupku sendiri, sebuah positive neuroplasticity. Sekaranglah saatnya bagiku untuk memberi stimulus, membentuk "jalan tol" baru di otak yang akhirnya siap digunakan kembali. Keren, ya? Ternyata gunanya belajar adalah untuk hal-hal seperti ini; aku memakai ilmu yang didapat untuk membenahi otak dan diriku sendiri.
Akhirnya, aku benar-benar tersadar bahwa aku tidak pernah kurang apa pun; bahkan aku lebih dari cukup. Aku senang sekali, sungguh senang. Di hidup yang hanya sekali ini, aku ingin melakukan banyak hal seru. Meski hidupku selama ini sudah seru, aku ingin lebih seru lagi. Mungkin ini keserakahanku, tetapi aku lelah dibatasi ini-itu sampai di titik aku sendiri bingung harus melangkah seperti apa. Dari dulu aku adalah anak yang baik, tetapi aku hanya tertekan. Kalau Allah memberiku kesempatan untuk menikah nanti, aku ingin menjadi ibu yang bisa menjadi sahabat dan pendukung (supporter) terbaik bagi anak-anakku kelak.
Minggu lalu aku ke kampus untuk bimbingan. Di sana, aku ditawari dosenku untuk ikut menonton dan menguji mahasiswa yang sedang mempresentasikan tugas besar mereka. Awalnya aku hanya menonton, tetapi kemudian aku memutuskan untuk ikut menilai dan memberi saran. Saat itu, aku mendapati bahwa tidak ada satu pun mahasiswa di sana yang benar-benar paham dengan apa yang mereka presentasikan. Akhirnya, aku maju untuk menguraikannya panjang lebar. Aku menjelaskan sampai di tahap, "Kalian tahu tidak, sebenarnya kalian sedang belajar apa?" dan mereka terdiam. Setelah selesai menjelaskan, aku benar-benar kaget melihat wajah mereka yang berbinar dan takjub. "Kak... keren banget..." ucap mereka. Awalnya aku mengelak karena menurutku itu biasa saja, tetapi setelah melihat kembali apa yang baru saja kulakukan, ternyata tidak semua orang bisa melakukannya. Andaikan ini film, adegan tadi akan menjadi sebuah momen realisasi (realization): apa yang menurutku biasa ternyata tidak biasa. Sebenarnya aku sudah lama tidak memegang teori itu, tetapi entah mengapa aku bisa menjabarkan semua rumus dan implementasinya dengan baik. Apakah aku tiba-tiba punya kemampuan baru? Tidak, karena sebetulnya itu adalah hasil usahaku bertahun-tahun yang sudah tersimpan di dalam diri sejak awal. Saking seringnya aku belajar, semua hal tersebut sekarang sudah tertata rapi di dalam diriku. Namun, meski tahu faktanya, aku sendiri tetap terkejut.
Semakin aku jelaskan, mereka ternyata makin kagum. Kata mereka, "Sama Kakak kok jadi gampang, ya?" atau "Kak, jujur aku baru mengerti sekarang setelah dijelaskan sama Kakak." Aku sampai tak bisa berkata-kata (speechless) mendengarnya. Memangnya iya, ya? Masa, sih? Aku tidak percaya. Belakangan ini CV-ku selalu ditolak, sehingga aku memiliki pola pikir bahwa aku ini kurang. Aku selalu merasa bodoh dan takut, sampai akhirnya banyak melewatkan kesempatan bagus. Padahal, yang harus dibenahi dariku adalah caranya. Aku sekarang mengerti kekuranganku sebenarnya apa. Bukan di ilmunya, melainkan cara menunjukkannya. Selama ini aku terlalu tertutup dan minder dengan diri sendiri. Aku takut kalau unjuk gigi (show off) dibilang sombong, tetapi kalau hobinya memendam potensi (gatekeeping) terus, kapan orang akan tahu? Lucu memang. Hal yang sulit dilakukan itu adalah menjadi rendah hati tanpa harus merendahkan diri, dan menunjukkan diri tanpa harus menyombongkan diri (balance). Susah, sampai detik ini aku juga masih berjuang. Aku sebenarnya kompeten, tetapi aku tidak bisa "menjual" kemampuan tersebut.
Pulang dari kampus, aku sampai termenung sendiri. Wil... ternyata kamu pintar, ternyata kamu sepintar itu. Menurutku, orang jahat di hidupku adalah orang-orang yang mencoba menihilkan dan berusaha mengecilkan aku. Kalau mahasiswa-mahasiswa di kelas itu saja bisa tahu dalam sekali lihat, berarti seharusnya mereka juga tahu. Kalian tahu aku punya potensi, tetapi kalian malah mau mengecilkan hal tersebut dengan alasan ini-itu? Jahat. I can do something more than this. Aku sampai merasa terhenti sejenak (glitch) ketika mencoba mengingat memori dua tahun ke belakang ini. Maaf kalau aku masih mengungkit hal ini, tetapi jujur saja harga diriku (self-esteem) pernah serendah itu. Kerusakannya benar-benar parah dan sangat berdampak padaku.
Orang mungkin tidak paham, dan aku juga tidak mau meminta orang lain untuk paham. Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku 2 tahun terakhir itu adalah pembunuhan karakter. Selama ini aku sudah mendedikasikan hidupku untuk hal tersebut, blog ini menjadi saksi bisu bagaimana setiap harinya aku harus terus tekun dan konsisten, bagaimana aku harus selalu memupuk rasa semangat dan menjaga ritme tersebut. I was literally dedicating my whole life for that momentum. Hanya orang yang cinta mati pada impiannya yang akan merasa hancur lebur saat impian itu terancam. Rasa sakit ini adalah bukti seberapa besar dedikasi yang aku berikan, sebuah tanda kesungguhan. Tahun kemarin aku sempat tidak sanggup karena kehilangan banyak hal yang telah menjadi hidup dan perjuanganku, kalau bukan ini maka apa yang harus aku lakukan? dan pilihanku hanya tetap maju. Setidaknya aku merasa bahwa di sini adalah blogku, dan apa yang aku rasakan itu valid-valid saja haha. Dibanding melakukan emotional dumping dan melemparkan opini ke sosmed, aku rasa ini alternatif terbaik.
Tapi itu kan sudah lewat. Dan aku juga sudah "sembuh." Maksudku menulis di sini adalah agar aku selalu mengingat fase apa saja yang aku lewati dalam hidup. Ini bukanlah sebuah peratapan kegagalan atau berlarut-larut dalam kesedihan. Tidak, memang ini sedang fasenya saja. Justru dengan memahami masa dan fase aku jadi lebih "merasa," bahwa sekarang aku adalah manusia yang hadir utuh di setiap kejadiannya. Aku berhasil melakukan sesuatu yang sulit: Menghadapi Masalah. Ada hari di mana aku kecewa sekali, atau marah sekali, atau malu sekali. Tapi fakta bahwa aku menerima masa sulit, hadir di saat tersebut, dan berusaha mencari jalan keluarnya; aku tidak lari, dan aku sudah dewasa. Suatu hari nanti ketika aku membaca kembali postingan ini aku akan tersenyum dan bangga dengan aku yang mampu menghadapi dan menyikapi permasalahan yang ada. Yup, i'm taking my time wisely.
Ternyata kemampuanku tidak ke mana-mana. Mimpiku masih ada di tempatnya, menunggu untuk kujemput dan kuperjuangkan lagi. Bahkan, hati dan jiwaku makin matang dalam melihat dunia. Setelah selama ini terus-menerus minder dan merasa rendah diri, mulai sekarang aku akan belajar dengan cara yang berbeda. Karena aku akhirnya sadar dengan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness) yang dimiliki, aku jadi tahu apa yang aku mau dan harus lakukan.
Aku benar-benar masih sering memikirkan hari itu, saat melihat bagaimana anak-anak di kelas seantusias itu mendengarkan aku berbicara. Aku bahkan bisa santai saat menjelaskannya. Gila, rasanya otakku mengalir lancar sekali, semuanya terjadi tanpa beban (effortless). Dosenku bahkan mengatakan langsung di depan mataku, "Ibu tahu kamu bisa sepintar apa kalau lingkungannya benar." Di situ aku kembali tersadar mengapa aku bisa suka belajar: karena aslinya memang semenyenangkan itu sebelum akhirnya pola pikir beracun menggerogoti diri. Selama perjalanan pulang dari kampus, aku hanya bisa tertawa getir di motor. Gila, rasanya seseru ini kalau diri yang asli sudah kembali. Just my two cents, dulu pernah ada masa di mana aku merasa semua ini percuma dan tidak ada artinya. Buat apa aku terus-terusan jadi ranking 1 kalau ternyata tidak pernah dianggap cukup? Buat apa aku punya hafalan sampai 20 juz di usia 18 tahun kalau ujung-ujungnya selalu dihakimi? Punya 7 publikasi di usia 23 tahun sebenarnya untuk apa? Buat apa aku melakukan semua itu bertahun-tahun kalau pada akhirnya aku saja tidak didengar, tidak punya kuasa, dan tidak punya kendali atas pilihan hidupku sendiri? Aku kalut sampai meledak sendiri. Aku sekarang mengerti kenapa psikolog menyuruhku untuk membuat papan visi (vision board), karena dia juga sudah melihat hal itu.
Aku ingin mengucapkan rasa syukur dan rasa terima kasih aku kepada orang-orang yang masih menyayangi dan mempercayai diriku hingga detik ini. Aku sangat bersyukur bahwa saat Aku terjatuh masih ada orang-orang yang hadir, mendukung dan mendoakan kesuksesan serta kebahagiaanku. Terima kasih karena telah menyadarkan bahwa terlepas apa yang pernah terjadi, aku adalah manusia yang pantas dihargai dan dicintai sepenuh hati. Aku bisa merasakan kebaikan yang diberikan seseorang terhadapku, dan hal-hal itulah yang membuat aku bisa kembali berjalan dan menata ulang semuanya. Aku itu suka mengingat hal yang baik apalagi membahagiakan. Bahkan meski postingan aku terkadang memuat kesedihan, tapi percayalah bahwa selalu ada titik rasa syukur yang aku rasakan dari tulisan-tulisan tersebut. Selain Allah Yang Maha Segalanya, kembalinya diriku juga tak luput dari kepercayaan dan kebaikan yang tersampaikan baik lewat kata atau perbuatan. Aku mengingatnya dengan baik, sangat baik, bahkan lebih baik dari yang orang-orang kira.
Manusia itu pohon yang harus disiram agar tumbuh, bukan batu yang bisa dipahat sesuka hati. Kalau dia tidak sadar itu, siapa pun yang bersamanya akan berubah menjadi layu.
.jpg)
.png)
0 Komentar